Syarif Tanudjaja, Musibah Membawanya pada Hidayah

Syarif Tanudjaja (tengah berpeci)

Syarif Tanudjaja (tengah berpeci)

KisahMuallaf.com – Etnis Tionghoa menyebar di seluruh penjuru dunia, termasuk di Indonesia.

Meski di Indonesia tergolong minoritas, mereka bisa juga berbaur dengan umat Islam yang merupakan mayoritas.

Salah satu yang membantu proses pembauran itu adalah para Muslim Tionghoa yang rata-rata adalah mualaf.

Dari sekian banyak Muslim Tionghoa, satu di antaranya adalah HM Syarif Tanudjaja SH. Pria yang menjabat Ketua Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) DKI Jakarta ini menjadi Muslim pada 1975 setelah melalui proses ujian hidup.

Pria yang memiliki nama Tionghoa Tan Lip Siang ini mendapat hidayah ketika dibelit kesusahan. Ia terjerat utang yang tidak sedikit. Padahal, utang tersebut diambilnya untuk membantu orang lain.

“Saya saat itu tidak habis pikir saja. Bagaimana mungkin niat baik itu akhirnya memberikan masalah ke dalam kehidupan saya?” kata pria kelahiran Cianjur, 20 Maret 1950 ini.

Hal itu tak seperti teori yang diajarkan agamanya saat itu, yakni perbuatan baik dibalas pula dengan kebaikan. Namun, dalam kasus Syarif, balasan yang diperolehnya hanyalah kesulitan baru.

Ia pun berusaha mencari jawaban atas keraguan tersebut melalui agamanya. Ia selalu percaya, agama bisa membuat seseorang menyelesaikan masalahnya. Setidaknya menemukan kedamaian saat mendapatkan cobaan hidup.

Namun, dia harus kecewa. “Pada ajaran agama Kristen, saya temukan dan saya ketahui adalah ketentuan-ketentuan akan dosa warisan. Maksudnya, akibat dosa Adam dan Hawa mengakibatkan manusia menanggung dosa warisan. Artinya, sekali pun bayi yang baru dilahirkan, sudah harus dianggap tidak suci lagi akibat dosa warisan Adam dan Hawa itu,” terangnya.

Dia berusaha untuk memahami konsep dosa warisan tersebut, namun yang ditemukannya adalah penjelasan yang membuat nya makin bingung. Misalnya, ketika Yesus ditanya oleh seorang Farisi, “Apakah yang menyebabkan anak tersebut menjadi cacat? Mungkinkah karena dosa kedua orang tuanya atau dosa siapa?”

Yesus kemudian menjawab kepada orang Farisi tersebut, “Anak ini menjadi cacat akibat dosa ibu bapaknya dan bukan dosanya sendiri. Tetapi, karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan memperlihatkan kasih-Nya.”

Kisah tersebut membuatnya bertambah bingung.

“Sehingga saat itu saya sempat berpikir, mengapa Tuhannya orang Kristen membuat umatnya menjadi resah, hingga saya merasa kesulitan untuk menyimpulkan makna yang terkandung dalam ayat-ayat Alkitab?” ujar Syarif.

Kegagalan tersebut membuatnya berhadapan dengan tembok tebal. Ia tidak tahu bagaimana caranya menghadapi dan lepas dari permasalahan hidup ini.

Keimanan Syarif tak lagi sama sejak saat itu. “Saya tidak berkonsultasi lagi kepada pendeta karena menurut saya pendeta tidak pernah mampu memberikan solusi untuk permasalahan hidup saya. Pada akhirnya, iman saya kepada Yesus sirna. Kristen tidak mampu membuat hati saya tenteram dan mantap,” ujar anak tertua dari enam bersaudara ini.

Ia kemudian berbalik kepada agama lamanya sebelum Kristen, yaitu Buddha dan Konghucu. Saat lahir, Syarif memang beragama Buddha seperti kebanyakan etnis Cina lainnya. “Namun, saya berubah menjadi Kristiani ketika sekolah karena disekolahkan di sekolah Kristen,” tuturnya.

Kecewa dengan Kristen, Syarif mulai lagi bersembahyang di wihara, belajar meditasi, serta tidak makan daging atau yang bernyawa pada waktu-waktu tertentu.
Ia pun bersembahyang untuk menghormati arwah leluhur di klenteng. “Semua ibadah saya lakukan, namun kedamaian tak juga saya temui. Sementara permasalahan terus mendekati saya.”

Kenal Islam
Perkenalan Syarif dengan Islam terjadi ketika dirinya bekerja sebagai pemborong penjual bahan bangunan dan alat tulis kantor. Saat itu, ia mempunya banyak relasi orang Islam. Dari mereka,Syarif mulai mengenal tata cara ibadah Islam.

Misalnya, sebelum menunaikan shalat, seseorang harus terlebih dulu mengambil air wudhu (bersuci). Dan, yang lebih menarik perhatiannya adalah kewajiban umat Islam menunaikan ibadah puasa dan zakat. Juga tentang pokok ajaran ketuhanan dalam Islam, yakni tauhid (mengesakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala).

“Allah itu Subhanahu Wa Ta’ala Mahaesa (tunggal). Ia tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan- Nya,” kata dia.

Syarif pun mulai mempelajari hakikat musibah dalam agama Islam.

“Ternyata saya malah menemukan solusi yang tepat di dalam Islam,” katanya.

Dalam Islam, Syarif mengetahui bahwa musibah yang ditanggung oleh seorang manusia adalah hasil “tangannya” sendiri. Bahwa ujian yang diterima seseorang adalah ujian atau sebuah hukuman.

Islam juga mengajarkan cara menghadapi masalah tersebut dengan ikhlas dan sabar. Bahwa segala cobaan akan ada jalan keluarnya.

“Itu yang menurut saya sangat logis, tidak dikaitkan dengan kehidupan masa lalu, reinkarnasi, atau dosa warisan. Sejak itu, saya sadar bahwa Islam adalah susunan hidup yang benar,” katanya.

Meskipun demikian, Syarif butuh waktu untuk yakin benar berpindah agama. Hingga pada suatu malam dirinya bermimpi. Dalam mimpi tersebut, Syarif dikejar-kejar oleh lima orang bersenjata. Mereka hendak membunuhnya. Ia pun terpojok di suatu sudut.

Para penjahat itu makin mendekat ke arah Syarif dan tanpa ia sadari tangannya terasa menggenggam senjata sejenis keris. Lalu, dengan satu dorongan, entah mendapat kekuatan dari mana, ia berteriak, ‘Allahu Akbar’ sebanyak tiga kali. “Sungguh menakjubkan, kelima penjahat bersenjata itu semuanya musnah dan hangus bagaikan lembaran-lembaran kertas terbakar,” tutur Syarif.

Mimpi tersebut semakin membulatkan tekadnya untuk menganut Islam. Tepatnya pada 1975, Syarif mengucapkan dua kalimat syahadat di depan kelompok pengajian yang dipimpin oleh Guru Erwin Saman.

Dia pun mengganti namanya dari Tan Lip Siang menjadi Syarif Siangan Tanudjaya. Setelah menganut Islam, masalah yang membelitnya memang tidak langsung pudar. “Namun, menjalani ujian tersebut secara Islam membuat beban saya terasa berkurang. Saya merasa lebih tenang,” ungkapnya.

Bimbing Para Mualaf
Kini, disamping meneruskan profesinya sebagai notaris, Syarif menjalankan aktivitasnya sebagai Ketua Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) DKI Jakarta.

Di lembaga ini, ia berusaha membimbing para mualaf yang mayoritas beretnis Cina untuk memahami Islam dengan lebih baik.

Dia pun selalu mengajarkan kepada para mualaf bahwa menjadi mualaf bukanlah keputusan main-main. Karena itu, PITI tidak melayani mereka yang ingin menganut Islam hanya karena ingin menikah.

“Banyak yang seperti ini. Mereka berdalih akan mempelajari Islam setelah menikah. Namun, tetap tidak akan kami layani dan meminta mereka mencari tempat lain untuk dibacakan syahadatnya,” kata Syarif.

Menurutnya, dengan mengenal Islam lebih baik sebelum membaca syahadat, maka para mualaf akan bisa menjaga keislamannya dan mampu bertingkah laku selayaknya Muslim. Selain itu, agar mereka bisa menghadapi sejumlah tantangan yang mungkin dihadapi setelah memeluk Islam.

Kebanyakan mualaf, lanjutnya, akan bermasalah dengan keluarga mereka. Apalagi bagi mereka yang berasal dari keluarga Tionghoa, keputusan pindah agama akan menjadi sangat rumit. Masih banyak keluarga Tionghoa yang pemikirannya masih terpengaruh sistem sosial kuno, meskipun zaman sudah berubah.

“Mereka akan merasa malu bila ada salah satu keluarganya pindah ke Islam. Karena, Islam dianggap sebagai agama pribumi. Sehingga bila memeluknya, maka jatuhlah martabatnya,” ujar ayah dari dua putra; Ustadz Andrew Fateh dan Ustaz Kelvin Ikhwan ini.

Pemikiran tersebut bertambah buruk dengan kurang baiknya citra Islam belakangan ini. “Aksi pengeboman dan radikalisme lainnya, membuat mereka menganggap Islam adalah agama yang buruk,” katanya.

Pandangan ini, lanjut Syarif, harus diubah. Mereka harus sadar bahwa Islam akan menjadi rahmat di tengah keluarga mereka. Dengan menganut Islam, akhlaknya akan baik dan sopan santunnya terjaga.

Veeramallah Anjaiah, Hikmah Kuliah di Jurusan Sejarah

Veeramallah Anjaiah (tengah)

Veeramallah Anjaiah (tengah)

KisahMuallaf.com – Islam bukanlah hal yang baru bagi Veeramallah Anjaiah. Hidup di tengah komunitas Muslim di Andrapradesh, India, membuatnya mengenal Islam sejak kecil.

“Teman-teman saya Islam. Sementara saya Hindu. Saya bahkan sering ikut berpuasa bersama teman-teman ketika Ramadhan. Dari mereka saya mengenal Islam dan saya merasa tertarik,” katanya.

Ia semakin mengenal Islam saat duduk di bangku kuliah. Ketika itu, pria yang kini berusia 51 tahun ini kuliah di jurusan sejarah.

Nah, salah satu yang ia pelajari di jurusan ini adalah tentang agama, Islam salah satunya. “Saya tertarik dengan kisah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang berjuang tak kenal lelah untuk mengenalkan Islam,” ujar ayah dari tiga anak ini.

Dari ruang kuliah di jurusan sejarah ini, ia tahu bahwa Islam bisa berkembang pesat hanya dalam waktu beberapa ratus tahun dan kini menjadi salah satu agama terbesar di dunia.

Dari bangku kuliah pula Anjai tahu bahwa Islam sangat menjunjung tinggi prinsip kesetaraan dan persaudaraan. Agama ini mengajarkan berbagi melalui zakat dan perayaan Idul Adha.

“Muslim harus saling membantu. Orang kaya harus mengeluarkan zakat untuk membantu orang miskin. Dan, kurban yang disembelih pada Idul Adha diberikan pula kepada mereka yang membutuhkan,” kata pria yang kini telah menjadi warga negara Indonesia setelah menunggu selama 16 tahun.

Islam, lanjutnya, juga mengajarkan disiplin yang tinggi. Selain itu, Islam memiliki peraturan lengkap untuk menuntun kehidupan seorang Muslim. Islam tidak mengajarkan kekerasan dan perilaku radikal lainnya, namun menjunjung tinggi perdamaian. “Jadi, rasanya aneh saja bila banyak kelompok radikal yang terbentuk dan mengatasnamakan Islam.”

Pria yang kini bekerja sebagai redaktur senior di sebuah koran berbahasa Inggris ini semakin mengenal Islam setelah pindah ke Indonesia untuk kuliah di Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

“Di sini saya banyak belajar tentang kehidupan seorang Muslim,” katanya. Keinginan untuk menjadi Muslim semakin kuat ketika Anjai menemukan pujaan hatinya. Seorang perempuan Solo yang bekerja sebagai perawat.

“Kami pertama kali bertemu pada 1995. Ketika itu saya harus mengobati kaki saya yang sakit setelah terjatuh dari Banana Boat saat kantor saya mengadakan liburan bersama di Pulau Aer,” ujarnya.

Mereka bertemu beberapa kali dalam sesi fisioterapi. Kebetulan sang perawat yang asli Solo itu sangat tertarik dengan India. “Kami bertukar pengetahuan.”

Mereka pun saling jatuh cinta. Namun, perbedaan agama mengganjal cinta mereka. Salah satu di antara mereka merasa harus ada yang mengalah. “Istri saya yang masuk Hindu, atau saya yang masuk Islam,” katanya.

Suatu ketika, sang istri berusaha untuk mengalah dan memantapkan hati untuk menjadi seorang Hindu. “Namun, saya menghentikannya. Saat itu saya bilang padanya bahwa dia tidak perlu pindah agama. Karena saya yang akan pindah ke Islam. Lagi pula sejak dulu saya sudah mengenal Islam dan saya sebenarnya sudah lama tertarik,” katanya.

Akhirnya beberapa bulan sebelum pernikahan, Anjai memutuskan untuk memeluk Islam pada usianya yang ke-35 tahun. “Istri saya senang sekali dengan kabar tersebut, begitu juga keluarganya.”

Tak ada respons negatif
Tidak seperti kebanyakan mualaf, Anjai tak mendapatkan respons negatif dari keluarganya ketika memutuskan berislam. “Kedua orang tua saya sudah meninggal saat itu,” katanya.

Sementara, adik-adiknya tidak bermasalah dengan keputusan sang kakak. Lagi pula, keluarganya di India sudah lama mengenal Islam. Mereka juga memandang, Islam sebagai agama yang memiliki ajaran positif.

Kini, Anjai merasa bahagia dengan keislamannya. Dia merasa bangga menjadi bagian dari salah satu komunitas agama terbesar di dunia. Di usianya yang semakin tua, dia berusaha meluangkan lebih banyak waktu untuk mempelajari Islam.

Islam Hadapi Tantangan Besar
Tantangan besar sedang dihadapi Islam saat ini. Tantangan besar itu, menurut Anjai, adalah radikalisme yang telah menumbuhkan citra buruk bagi Islam di mata dunia.

Radikalisme, menurutnya, timbul karena kesalahan dalam menginterpretasikan Islam. “Akhirnya mereka memahami Islam secara berbeda,” katanya.

Karena itu, menurutnya, nilai-nilai agama yang benar harus diberikan kepada setiap Muslim sejak kecil. Anak-anak harus dibuat mengerti bahwa Islam bukanlah satu-satunya agama di dunia ini.

“Kita boleh bilang agama kita paling benar. Namun, bukan berarti menganggap agama orang lain salah. Kita harus mengajarkan anak-anak agar bisa menghargai penganut agama lain,” ujarnya.

Tantangan Islam lainnya adalah ilmu pengetahuan. Anjai melihat, umat Islam saat ini tertinggal dalam hal ilmu pengetahuan. Padahal, di masa lalu, utamanya di abad pertengahan, Islam pernah berjaya di berbagai bidang ilmu pengetahuan, mulai dari sastra, matematika, kedokteran, sampai astronomi.

“Sekarang kita ketinggalan jauh. Coba lihat jumlah pemenang Nobel beberapa tahun ke belakang, tidak ada yang beragama Islam. Begitu juga di Olimpiade Sains. Padahal, jumlah Muslim di dunia mencapai dua miliar orang,” katanya.

Karena itu, menurutnya, dari pada kelompok radikal tersebut berjihad untuk sesuatu yang salah akan lebih baik bila mereka berjihad untuk mempromosikan pentingnya pendidikan dan ilmu pengetahuan. Dengan begitu, umat Islam bisa lebih maju. “Kita harus bekerja lebih keras untuk ini.”

Denis : Al-Quran Mengingatkanku Untuk Ucapkan Dua Kalimat Syahadat

denis

denis

KisahMuallaf.com – Sebagai penganut Katolik, Denis rutin ke gereja setiap pekan, dan aktivitas keagamaan lainnya. Rutinitas itu segera berubah ketika ia bekerja di Alberta. Di pekerjaan barunya itu, ia memiliki rekan seorang Muslim. Selama berinteraksi dengan rekannya, ia terlibat dialog yang menarik.
Pembicaraan itu memicu ketertarikan Denis terhadap Islam. Untuk membenarkan apa yang dikatakan rekannya itu, ia ambil Al-Quran dan membacanya. Semakin dalam membaca Al-Quran, Denis merasa butuh informasi tentang ajaran Islam. Ia enggan menyentuh dunia maya, meski banyak informasi yang dibutuhkan tersedia tanpa batas.

Denis lebih mempercayai informasi langsung dari sumbernya. Satu malam, ia terus teringat dengan satu ayat dalam Al-Quran. Dalam ayat itu dikatakan jangan menunda apa yang harus dikerjakan hari ini karena seseorang tidak akan mengetahui apa yang terjadi di masa depan. Ingatan itu mendorongnya untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Saat mengucapkan itu, tak ada orang lain. Denis coba membaca kalimat itu dengan sebaik yang ia bisa.
Keesokan harinya, Denis bertemu dengan sekolompok Muslim yang membantunya untuk mengetahui lebih dalam lagi ajaran Islam. Di awal, memang ia merasa bingung. “Aku berada dalam satu persimpangan, aku tidak tahu harus kemana dan apa yang harus dilakukan,” kata Denis seperti dikutip onislam.net, Jumat (22/2).

Usai mengucapkan dua kalimat syahadat, ada satu hal yang mengganjalnya, yakni reaksi keluarganya. Pasalnya, kedua orang tuanya tidak memahami dengan baik ajaran Islam.
Selama masa itu, Denis mencoba untuk menyakinkan diri untuk berbicara dengan orang tuanya. Beruntung baginya, koleganya sesama Muslim membantunya mempersiapkan diri.
“Aku cuma khawatir, orang tua melihatku menjadi orang yang berbeda. Padahal aku tidak berubah sama sekali,” kenang dia.

Kekhawatirannya sirna, hati dan pikirannya satu suara. Denis pun siap untuk memberitahu orang tuanya. Selain orang tuanya, ia merasa lingkungan tempat ia tinggal menjadi ganjalan lain.
Denis ingin meyakinkan lingkungannya, untuk mendukung keputusannya itu. “Aku hanya membayangkan bagaimana bisa melewatinya. Ini yang menjadi pemikiran saya,” kata dia.
Kini, Denis tak lagi ragu. Ia tahu bagaimana posisinya sekarang ini. Satu hal yang pasti muncul dalam pemikirannya bahwa pilihannya terhadap Islam merupakan hal yang tepat.
“Di sekitar saya terdapat orang-orang yang luar biasa. Aku tidak lagi gundah akan posisiku,” kata Denis.

Kematian Sang Tunangan Membawa Maria pada Islam

dua-kalimat-syahadat-ilustrasi-_120202110003-821KisahMuallaf.com – “Saya berkencan dengan seorang pria asal Pakistan, itu jadi kali pertama saya mengenal Islam. Dia adalah tunangan saya,” ujar Maria mengawali kisahnya saat mengenal Islam.

Namun bukan karena pria itu, Maria memeluk Islam. Ia benar-benar tertarik pada agama rahmatan lil alamin ini. Buktinya, ia justru mantap untuk memeluk agama Islam setelah tunangannya meninggal. “Ketika dia mengunjungi saya di Arizona, dia tewas dalam kecelakaan,” ujar Maria dengan raut penuh duka.

Sebelum mengenal pria itu dalam hidupnya, Maria merupakan seorang atheis. Ia sangat tak percaya akan eksistensi Tuhan. Agama merupakan hal asing, keimanan sangat jauh dari hatinya. Seperti halnya Maria, orang tuanya pun berpaham atheis. Dengan paham tersebut, mereka membesarkan Maria.

“Saya dibesarkan dengan apa yang orang tua saya ajarkan, jadi saya benar-benar tidak percaya akan Tuhan. Saya benar-benar tidak percaya pada agama apapun itu,” tutur Maria dalam acara “They Chose Islam” The Algerian TV via youtube.

Orang tua Maria berasal dari Afrika Selatan yang kemudian bermigrasi ke Boulder, Colorado AS. Adapun Maria lahir dan dibesarkan di Colorado. Acapkali membicarakan tentang agama, keluarga Maria selalu memandangnya negatif. Tak heran jika Maria tumbuh besar dengan sikap anti agama.

“Sebelumnya, saya benar-benar melihat agama bukanlah hal yang baik. Saya pikir agama adalah sesuatu yang menyebabkan banyak masalah, seperti perang di dunia dan segala sesuatu,” ujarnya.

Pandangan negatif Maria pada agama berubah sudah setelah ia mengenal seorang pria asal Pakistan. Pria itu adalah tunangannya dan ia beragama Islam. “Saya berkencan dengan pria Pakistan dan itu jadi kali pertama saya mengenal Islam. Ia seorang yang baik hati. Mungkin karena ia seorang Muslim, ia benar-benar baik hati,” kisah Maria mengenang.

Sifat baik hati si pria-lah yang pertama kali memesona Maria. Pada pertemuan pertama, Maria sama sekali tak menyangka pria yang ia cintai tersebut merupakan seorang religius. “Ketika saya bertemu tunangan saya, kita tak pernah berbicara tentang agama”.

“Saya tidak memandangnya sebagai seorang muslim atau seorang religius. Saya rasa hanya menganggapnya sebagai seorang yang mulia nan baik hati. Dia adalah salah satu orang yang sangat baik yang pernah kukenal. Ia memiliki karakter yang baik dan bersikap baik pada semua orang,” kenang Maria.

Tunangannya pun kemudian membuka pintu bagi Maria mempelajari agama Islam. Ia yang anti agama justru merasa penasaran dengan agama pasangannya. Maria seringkali berdiskusi tentang Islam dengan pasangannya.

Fakta-fakta tentang Islam pun kemudian dikumpulkan Maria tak hanya dari tunangannya, tapi juga dari muslimin lain yang dikenalnya. Ia bahkan membeli Al-Quran terjemahan bahasa Inggris kemudian rutin membacanya. “Saya lebih terbuka untuk belajar tentang Islam dan tidak berfikir bahwa hal itu adalah negatif,” kata Maria.

Pada awalnya, Maria berfikir sifat baik pasangannya memang sudah menjadi tabiatnya. Namun setelah mempelajari Islam, ia mulai tahu bahwa sikap baik tunangannya karena menerapkan ajaran Islam. Maria terus berfikir hingga menyadari Islam lah yang membuat pria belahan jiwanya itu memiliki kualitas sifat yang sedemikian luar biasa baik.

Meski demikian, Maria belum memutuskan untuk memeluk Islam meski telah mempelajarinya. Banyak hal yang perlu dipertimbangkan. Kemantapan hati untuk berislam aru dirasakan Maria setelah mengalami peristiwa yang mengejutkan dan menyadihkan. Tunangannya meninggal akibat kecelakaan.

Maria menceritakan, saat itu ia tengah bersekolah di Arizona. Tunangannya bermaksud mengunjunginya ke Arizona. Mengendarai mobil dari Boulder ke Arizona, pria baik hati tersebut mengalami kecelakaan hingga menewaskannya. Perginya sang tunangan rupanya membuat Maria tahu makna kehidupan.

“Itu adalah pengalaman pertama saya tentang kematian dan itulah yang benar-benar mengilhami saya untuk melihat lebih dekat tentang Islam karena saya berfikir, ada sesuatu yang lebih penting baginya dari sekedar kematian yang seperti ini dengan sebuah alasan ataupun meski tanpa alasan, terdapat sesuatu seperti sebuah kekuatan yang lebih besar yang mendiktenya,” tuturnya.

Dua bulan pasca kematian sang tunangan, Maria makin rajin membaca buku-buku keislaman. Hingga suatu hari, ia membuka Al-Qur’an yang menjawab segala keraguannya dan menjawab segala hikmah dibalik peristiwa yang menimpanya. Segala hal menjadi masuk akal bagi Maria. Segala hal tentang dirinya dan peristiwa menyedihkan yang menimpanya diyakininya sebagai sebuah kebenaran. Sejak itulah, akhirnya Maria memutuskan untuk bersyahadat.

Keputusan berislam kemudian disampaikan Maria kepada teman-temannya yang muslim. Mereka pun menyarankan agar Maria menemui seorang ulama di Denver. “Saya pun berbicara dengan syaikh di Denver. Ia memastikan bahwa apa yang akan saya lakukan adalah benar-benar apa yang saya inginkan. Dia ingin memastikan bahwa saya melakukannya bukan karena seseorang, bukan karena tunangan saya. Kami membicarakan hal ini dan saya mengatakan bahwa ini untuk diriku sendiri,” cerita Maria.

Maria pun kemudian bersyahadat dihadapan syaikh dengan dua orang teman sebagai saksi. Setelah memeluk Islam, Maria semakin banyak memiliki teman terutama dari kalangan muslim. Ia pun bersyukur dapat mengenal tunangannya. Karena melalui pria itulah hidayah datang pada Maria.

“Saya kira jika saya tidak bertemu dengan tunangan saya, saya tidak mungkin belajar tentang Islam seperti yang saya lakukan. Saya tidak mungkin membuat keputusan untuk memeluk agama Islam seperti yang saya lakukan. Saya pikir, kematiannya membawa saya pada keputusan yang tegas untuk berislam,” tuturnya bersyukur.

Selain itu, memeluk Islam membuat Maria merasakan lahir kembali sebagai seorang yang bersih. Ia merasa lahir kembali sebagai sosok yang berbeda. Segala hal buruk yang pernah ia lakukan serasa dihapus setelah memeluk agama rahmatan lil alamin ini.

Mengenai tunangannya, Maria tentu sangat merindukannya. Seringkali ia berfikir tentang pernikahan, namun ia khawatir tak dapat menemukan sosok yang tepat, sebaik tunangannya yang telah membawakannya hidayah. Ia tak berkeinginan untuk berkencan. Namun Maria berharap dapat memperoleh pasangan muslim.

Setelah menjadi muslimah, Maria tentu harus menghadapi keluarganya yang atheis. Awalnya, mereka tak menganggap kelutusan Maria sebagai hal yang serius. Hingga ketika bulan Ramadhan tiba, keduanya baru melihat kesungguhan Maria berislam. Mereka kagum dengan tekad putri mereka untuk menjalankan ibadah puasa meski sangat berat.

“Saya tidak pernah benar-benar berbicara banyak tentang keislaman saya pada orang tua karena saya tahu mereka tidak benar-benar tertarik pada agama. Saya pikir, mereka menyadarinya pertama kali bahwa saya serius berislam ketika bulan Ramadhan lalu. Aku berpuasa sepanjang bulan. Itu adalah Ramadhan pertama saya dan itu benar-benar sangat sulit. Tapi saya melakukannya dan mereka menyadari, ‘woah, dia serius’. Mereka baru menyadari bahwa saya sangat serius,” kisah Maria.

Melihat kesungguhan putrinya, kedua orang tua Maria pun akhirnya menerima keputusannya berislam. Sikap keduanya pun kemudian berubah. Islamnya Maria membuat keduanya tak lagi khawatir akan putrinya. Mereka yakin putrinya berubah setelah berislam. Maria dianggap lebih dapat dipercaya dan tak akan melakukan hal-hal bodoh meski ditinggal sendirian di rumah. Maria berperilaku baik setelah memeluk agama Islam.

Selain orang tua, tantangan lain juga dihadapi Maria ketika memutuskan untuk berhijab. Meski ia bukanlah wanita satu-satunya yang mengenakan jilbab di AS, namun Maria merasa sangat asing dan terkucil. “Ketika pertama kali mengenakan jilbab, itu sangat sulit. Setiap orang menatapku. Ada gadis-gadis lain disini yang mengenaka hijab, tapi saya merasa saya lah satu-satunya gadis Amerika yang mengenakan jilbab,” akunya.

Meski demikian, hal tersebut tudaklah mengurungkan niatnya menutup aurat. Ia pun kemudian justru merasa bangga karena dapat berjilbab sebagai kaum minoritas. Ia pun kini merasa jilbab adalah bagian dari dirinya sehingga tak akan mungkin dilepas. Maria merasa lebih baik tentang dirinya setelah memakai jilbab.

-Selesai-

Surah Al-Ikhlas Mengantar Royston Boulter kepada Islam

jeremy-ben-royston-boulterKisahMuallaf.com – Jeremy Ben Royston Boulter percaya bahwa Tuhan semestinya tak membutuhkan perantara agar bisa berkomunikasi dengan manusia. Namun, agama yang dianutnya saat itu, sama sekali tak mendukung pemikiran itu. Tuhan yang dikenalnya seakan tidak memiliki kekuatan dan kekuasaan hingga dia membutuhkan seorang manusia suci untuk membantunya.

Keraguan mengusiknya. Jeremy pun berusaha mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya itu. Semua buku sejarah bahkan buku-buku teori konspiratif tentang agama dan peradaban manusia dilahapnya. Ia pelajari sejarah Perang Salib, termasuk manuver Paus saat membangun kekuatan dan kekuasaan di Eropa melalui Portugis dan Spanyol.

Ia juga mempelajari pemerintahan teror ala Machiavelli. Demikian pula pemikiran Erich Von Daniken (Chariots of The Goods) dan Charles Berlitz dan William Moore (The Philadelphia Experiment) tentang teori konspirasi primitif.

Dia pun banyak membaca fiksi ilmiah. Semua bacaan tersebut meyakinkan dia bahwa ada yang salah dengan konsep ketuhanan yang dikenalnya selama ini. “Saat itu aku berpikir, aku membutuhkan perbandingan agama lainnya,” kata dia.

Dia pun mulai mempelajari beberapa agama lain, seperti Hindu dan Buddha dan mengikuti ritual yang ada di dalamnya. Tapi lagi-lagi Jeremy menemukan pertanyaan yang membuatnya ragu untuk melangkah lebih jauh. “Ketika bicara tentang bagaimana dunia dan manusia tercipta, aku merasa aneh,” tuturnya.

Tak puas, Jeremy kemudian mulai mempelajari astrologi demi mendapatkan esensi Tuhan. Melalui astrologi, ia berusaha memahami mengapa posisi benda langit akan menentukan nasib makhluk hidup. “Aku lalu menjadi peramal amatir,” katanya.

Dia pun kemudian sadar bahwa segala isi alam memiliki sistemnya sendiri, tetapi ada satu hukum yang membuatnya berjalan seiring, sejalan, dan harmonis. Sebuah hukum semesta yang dikendalikan sosok yang berkuasa dan berkekuatan mahadahsyat.

Di tengah pencariannya terhadap Tuhan, Jeremy malah ditimpa masalah keuangan. Dia terjerat utang setelah memutuskan keluar dari pekerjaannya di British Council dan sekolah bahasa di Braga, Portugal. Di masa sulit itu, ia nekat meminjam uang di bank guna membeli rumah dan membuka usaha kecil-kecilan sebagai guru les bahasa Inggris.

Perlahan tapi pasti, usahanya merangkak naik. Sedikit demi sedikit, utangnya berkurang. Namun, Jeremy merasa butuh pemasukan lebih besar. Oleh istrinya, ia disarankan mencari pekerjaan di luar negeri. Merasa galau, Jeremy suatu malam berlutut dan berdoa kepada Tuhan yang tak didefinisikannya.

Ia curahkan segala masalah yang dihadapi. “Aku katakan pada-Nya, saya merasa putus asa. Aku merasa kesulitan menafkahi istri dan anak. Aku meminta pertolongan-Nya. Saat itu entah mengapa, aku merasa nyaman, dan akhirnya terlelap tidur,” kenangnya.

Bekerja di Arab Saudi
Seakan doanya terjawab, esok harinya Jeremy menemukan sebuah lowongan pekerjaan di koran pagi. British Council membutuhkan tenaga untuk ditempatkan di luar negeri. Melihat iklan itu, sang istri menyarankan suaminya bekerja di Timur Tengah. Menurut sang istri, suaminya bakal mendapatkan gaji relatif tinggi di negara itu. Awalnya, Jeremy memilih Taiwan. Namun dia gagal. Dari pilihan yang ada, yang tersisa hanya universitas di Arab Saudi. Tak disangka, Jeremy diterima bekerja di negara itu.

Akhirnya, ia pun berangkat. Sebelum itu, beberapa temannya memperingatkan bahwa di Arab Saudi, ia tak akan bebas melakukan apa pun. Bahkan, sejumlah temannya menyarankan Jeremy agar mengurungkan niatnya bekerja di sana. Nyatanya, apa yang ditakutkan orang-orang itu tidak benar. Ketika menapakkan kaki di negara yang panas itu, Jeremy malah disambut hangat oleh masyarakat setempat.

Arab Saudi kemudian menjadi jalan baginya untuk menemukan jawaban atas pertanyaannya selama ini. Di sanalah, dia berkenalan dengan Islam yang kemudian menjawab seluruh keraguannya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala ternyata punya maksud lain atas takdir yang dijalani Jeremy.

Jawaban dari Surah al-Ikhlas
Jeremy tak langsung mengenal Islam ketika pertama kali menjejak Timur Tengah. Ketertarikannya pada agama Allah Subhanahu Wa Ta’ala ini baru dimulai ketika sadar bahwa dia belum sepenuhnya membaca kitab lain, seperti Al-Quran dan Talmud (kitab kaum Yahudi). Selama ini, dia tak menyentuh kedua kitab itu karena perbedaan bahasa. Dia pun memutuskan untuk mencari Al-Quran terjemahan bahasa Inggris di negara yang menjadi pusat peradaban Islam itu.

Jeremy akhirnya meminjam Al-Quran dengan terjemahan bahasa Inggris di sebuah perpustakaan. Ketika meminjam, Jeremy diingatkan untuk memperlakukan kitab tersebut secara terhormat. Dia diingatkan untuk tidak meletakkan Al-Quran di atas lantai atau kursi. Dilarang pula, menduduki atau menginjak Al-Quran. Larangan lain, jangan membaca Al-Quran di lokasi tidak suci, seperti kamar mandi. Diingatkan pula untuk tidak membiarkan Al-Quran terbuka dalam kondisi terbalik.

Petugas perpustakaan itu juga memberi syarat tambahan, yakni selepas membaca Al-Quran diharapkan segera mengembalikannya ke atas rak. Usai dibaca, sebaiknya halaman terakhir jangan pula dilipat melainkan diberikan pembatas.

Jeremy merasa sedikit terganggu dengan aturan tersebut, lalu bertanya apa alasannya. Petugas perpustakaan menjelaskan bahwa Al-Quran berisi firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang Mahakuasa. Mendengar penjelasan itu, Jeremy bertekad memperlakukan Alquran sebaik mungkin.

Jeremy langsung jatuh cinta dengan apa yang dibaca lewat Al-Quran. Dia merasa sedang membaca intisari Injil dan Taurat. Padahal, bukan kedua kitab itu yang ia baca.“Hal yang menarik dalam Al-Quran, tidak ada sebutan”Nabi Berkata” atau “Kata Allah Subhanahu Wa Ta’ala”. Jadi, aku merasa seperti membaca apa yang disampaikan Tuhan kepadaku,” ucapnya.

Ia mengaku sangat terenyuh ketika membaca surah al-Ikhlas. “Katakanlah, Dialah Allah, Yang Mahaesa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.” Jeremy sangat terkejut. Inilah jawaban tentang Tuhan yang diinginkannya sejak dulu.

Tak lama kemudian terucaplah kalimat syahadat. Jeremy resmi menjadi Muslim. Tak lama setelah bersyahadat, ia melaksanakan shalat untuk pertama kalinya. Ia menghadap kiblat, lalu mengucap, ”Allahu akbar.”

Dia kemudian mengangkat kedua tangan ke atas lalu melipatnya di dada. Lalu membungkukkan badan, sujud, dan duduk di antara dua kaki. “Aku merasakan kualitas spiritual yang luar biasa saat itu. Alhamdulillah.”

David Sanford Scherer: Takbir yang Menggetarkan

david-schererKisahMuallaf.com – Gema takbir di malam Idul Fitri 20 tahun silam, menggetarkan hati David Sanford Scherer. Kalimat yang mengagungkan sang Khalik itu membuatnya merinding.

Cahaya iman pun menyala dalam hatinya. Seketika itu pula, pria kelahiran Yokohama, Jepang itu memutuskan memeluk Islam.

”Langsung saya bilang mau masuk Islam. Alhamdulillah, di malam takbiran itu saya memeluk Islam,” ujar ayah dua anak itu kepada Republika di sela-sela acara pengajian yang digelar Mushala Al-Muhajirin, Denpasar, Bali, beberapa waktu lalu.

Tak hanya gema takbir yang membuatnya memeluk Islam. Suara adzan yang berkumandang lima kali sehari juga menjadi pembuka pintu hidayah. Pengusaha catering terkemuka di Pulau Dewata itu mengaku selalu merinding setiap kali mendengar takbir di malam hari raya.

”Makanya, malam takbiran saya nggak di Bali. Biasanya ke Jakarta. Mertua saya di Ciputat,”papar suami dari Indriani Kuntowati itu menjelaskan.

David hijrah ke Indonesia bersama orang tuanya pada 1980-an. Kedua orang tuanya mencoba berbagai usaha hingga akhirnya menetap di kawasan Menteng Dalam.

Seperti halnya Presiden Amerika Serikat Barack Obama, David pun mulai mengenal puasa, shalat, serta takbir dari lingkungan masyarakat Menteng Dalam.

Ia amat bersyukur menjadi seorang Muslim. Menurut David, umumnya orang Indonesia terlahir sebagai seorang Muslim. Namun, kata dia, mualaf umumnya lebih cepat memahami, menjiwai serta mengamalkan ajaran Islam.

”Itu, karena para mualaf menyadari Islam agama terbaik,” ungkap aktivis tadabbur Al-Quran bersama Ar-Rahman Quranic Learning Center Bali. Ia mengatakan untuk dapat menjalankan ajaran Islam dengan baik, para orang tua harus menjadi contoh dan teladan bagi anak-anaknya.

Seringkali, kata dia, orang tua menyuruh anak-anaknya mengaji, sementara mereka tidak melakukannya. Padahal, contoh terbaik dimulai dari orang tua di rumah.

Kebaikan apa saja, kata David, bila dicontohkan orang tua dengan baik, akan diikuti anak. Kalau cuma perintah dan orang tua tidak melakukannya, sulit dilaksanakan dengan baik.

Sebagai seorang Muslim, David berupaya menjadi imam bagi istri dan anak-anaknya. David tak pernah henti bersyukur. Semangat menjalankan ajaran Islam yang dilakukannya diikuti kedua anaknya.

Bersama putranya waktu itu, ia berhasil mewujudkan mushala di sekolah anaknya waktu itu. ”Alhamdulillah, ini semua berkat rahmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sehingga memudahkan siapa pun melaksanapakan ibadah,” ungkap David penuh syukur.

Apa kesan David tentang umat Islam Indonesia? Secara jujur ia mengungkapkan, sebagian besar umat Islam Indonesia masih memandang seseorang dari materi dan penampilan.

”Contohnya, saya pakai gamis, orang pikir saya ustadz. Besoknya, saya pakai celana jeans bolong-bolong, saya ucapkan Assalamu’alaikum, mereka nggak mau menjawab.”

David juga menyayangkan masih banyak umat Islam di Indonesia yang belum memahami dan mengamalkan tuntunan Al-Quran. ”Maaf-maaf kata, berangkat haji dengan uang nggak bersih, nggak malu,” ujarnya.

Ia merasa optimistis, Bali bisa menjadi jendela bagi Islam Indonesia ke dunia. Salah satu contoh, kata David, jamaah shalat Subuh Masjid Baitul Makmur di Denpasar seperti shalat Jumat.

”Bisa jadi, karena Muslim di Bali masih minoritas,” ujar David yang aktif mengikuti pengajian di berbagai masjid dan majelis taklim.

Menurut dia, bukanlah suatu yang mustahil, kelak Bali menjadi jendela Islam Indonesia bagi dunia. Asalkan, setiap Muslim mengamalkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari, tanpa menimbulkan ketersinggungan di kalangan orang-orang di sekitarnya.

Lantas, apa pendapatnya terhadap peristiwa Bom Bali beberapa waktu lalu yang menewaskan banyak orang? David mengaku merasakan sedih yang luar biasa.

”Empat hari saya di kamar jenazah. Sampai mobil pendingin saya pinjamkan untuk menyimpan jenazah. Orang waktu itu bilang, ‘Wah Pak, nanti mobilnya bawa sial!’ Wallahu a’lam. Saya bilang, yang penting saya ingin menolong.”

Dalam pandangannya, peristiwa Bom Bali merupakan kejadian yang sangat berat. Kejadian itu benar-benar sangat berat. Tapi, berkat gotong royong masyarakat di Bali, Alhamdulillah lancar.

Ada kebiasaan menarik yang dilakukan David Scherer dan teman-temannya di Bali. David yang sejak 20 tahun lalu memeluk Islam itu saban Jumat mengunjungi sejumlah masjid yang ada di Denpasar secara bergantian. Tak hanya bersilaturahim dan melaksanakan shalat Jumat, bersama rekan-rekannya yang aktif di pengajian Ar-Rahman Quranic Learning (AQL) Center Bali, pria kelahiran 9 Februari 1972 ini membagikan nasi bungkus.

”Alhamdulillah, secara rutin saya dan kawan-kawan bersilaturahim ke masjid-masjid di Denpasar. Tak hanya itu, dalam setiap kali kunjungan, saya selalu membawa dan membagikan ratusan nasi bungkus buat jamaah shalat Jumat,” papar David penuh syukur.

Apa yang mendorong David dan teman-temannya di Denpasar penuh semangat berbagi usai shalat Jumat? Berdasarkan pengalamannya, kata dia, usai Jumatan banyak orang yang terburu-buru meninggalkan masjid untuk mendapatkan makan siang.

Alasannya, jam istirahat baik dari kantor swasta maupun negeri, tidak terlalu panjang. Akibatnya, banyak jamaah salat Jumat terburu-buru keluar masjid untuk makan siang dan tidak sempat lagi bersilaturahim sesama jamaah.

Dengan kegiatan itu, ia dan kawan-kawannya berusaha mengajak jamaah shalat Jumat untuk tetap di masjid usai shalat, bersilaturahim sekaligus makan siang.

Caranya? ”Nasinya saya bawa ke masjid. Akhirnya, mereka nggak usah buru-buru lagi meninggalkan masjid. Kita bisa silaturahim sambil menikmati makan siang,” ungkap ayah dari Adam Arthur Scherer dan Andrea Kirana Scherer bahagia.

Untuk bisa bersilaturahim ke 200 masjid yang ada di Denpasar, David membutuhkan waktu selama empat tahun. ”Itu pun dengan syarat setiap Jumat saya harus terus keliling. Sedangkan untuk bisa berkeliling ke seluruh masjid di Bali, saya membutuhkan waktu selama delapan tahun.”

David merasakan kenikmatan yang sangat luar biasa bisa bersilaturahim sekaligus makan siang bersama jamaah shalat Jumat di berbagai masjid yang dikunjunginya.