Angela Collins, Temukan Kebenaran Dalam Islam

angela-collins-mendapatkan-kebenaran-melalui-islam-_130415012210-545KisahMuallaf.com – Benci dan rindu. Begitulah sikap publik di Amerika Serikat (AS) terhadap Islam setelah terjadinya peristiwa 11 September 2001.

Kebencian dan ketakutan terhadap agama Islam melanda sebagian masyarakat di negeri Adidaya itu. Mereka menuding Islam sebagai agama teroris yang telah melahirkan orang-orang jahat dan berhati pembunuh.

Berbeda dengan sebagian masyarakat yang dilanda Islamofobia, Angela Collins, seorang aktris di AS, justru tertarik untuk mempelajari Islam setelah peristiwa runtuhnya gedung kembar World Trade Center (WTC) di New York itu.

Tak perlu lama bagi Angela untuk meyakini kebenaran ajaran Islam. Dua bulan setelah peristiwa 9/11, ia mengucap dua kalimat syahadat.

”Islam adalah satu-satunya agama yang menyuruh kita melakukan penyerahan total kepada Sang Pencipta kita, Pencipta semua orang dan segala sesuatu,”
ujar bintang televisi yang membintangi ”Laguna Beach’‘ itu.

Angela pun haqqul yaqin, Al-Quran adalah firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala. ”Ini (Al-Quran) hanya bisa datang dari pencipta saya.”

Angela dibesarkan dalam keluarga Katolik tradisional. Setiap pekan ia pergi ke gereja bersama keluarganya, membaca dan memahami kitab sucinya, dan berdoa kepada Yesus.

Secara fisik, Angela adalah seorang gadis California tulen yang diberkahi kesempurnaan fisik. Matanya biru, rambutnya pirang, dan bentuk tubuh yang menandakannya sebagai gadis pantai California.

Sebagai bintang televisi, Angela cukup populer. Tak sedikit anak gadis yang mencoba meniru atau ingin menjadi seperti dirinya. Angela adalah pribadi yang unik. Ia mulai mencari jati dirinya ketika berusia 14 tahun.

Saat itu, ia sudah mulai menolak konsep Trinitas. Sepanjang hidupnya, ia berusaha untuk mencari dan memahami segala sesuatu.

Namun ketika sampai pada konsep ketuhanan, Angela benar-benar bingung. ”Terutama mengenai mengapa Tuhan datang sebagai manusia dan membiarkan dirinya mati demi dosa-dosa umatnya,” ungkapnya dalam laman turn to Islam.

Jika memikirkan hal itu, hatinya selalu gundah. Ada rasa ketidakyakinan. Angela pun memutuskan untuk membicarakan masalah-masalah seperti itu dengan pastornya.

Angela pun sering bertanya, ”Mengapa agamanya begitu kompleks.” Ketika beranjak dewasa, ia memutuskan untuk membuatnya lebih sederhana. Hanya ada satu, yaitu Sang Pencipta. Ya, hanya itu.

Menurutnya, tak ada penjelasan lain yang masuk akal dari itu. Dan, setiap orang tidak bisa mengendalikan peristiwa yang terjadi pada diri masing-masing, termasuk dia. ”Ada yang mengendalikan itu semua, Dialah Pencipta (Allah Subhanahu Wa Ta’ala),” ujarnya.

Hingga akhirnya, Angela mengenal Islam. ”Saya mencari kebenaran dan saya menemukannya di dalam Islam. Kini saya memiliki keyakinan itu dan saya menyukainya,” paparnya.

Ia memandang Islam sebagai agama yang datang untuk memperbaiki kesalahan manusia. Menurut Angela, Islam adalah agama sederhana. ”Allah adalah Allah. Dia menciptakan manusia dan manusia menyembah Allah. Itu saja,” ucapnya.

Tuhan, kata dia, mengutus Musa, Yesus (Isa), dan Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam untuk menyampaikan pesan-Nya dan membimbing manusia melalui firman-Nya.

”Dalam Islam, Yesus adalah satu-satunya nabi yang tidak mati, dan karena itulah ia menjadi utusan yang akan datang kembali pada Hari Penghakiman,” papar Angela.

Ia berpendapat, agama adalah pedoman hidup bagi setiap orang untuk berperilaku baik melalui spiritualitas. Esensi Allah Subhanahu Wa Ta’ala (satu-satunya Tuhan) telah membuka hatinya.

Islam memberinya arah dan kini Angela hidup dengan panduan Al-Quran yang dipinjamkan oleh Penciptanya untuk kebahagiaan di bumi dan di akhirat nanti.

Menurutnya, Islam tidak memberikan jalan ke surga hanya karena seseorang mengatakan dia adalah seorang Muslim.

Ia menilai, seseorang juga tidak mungkin langsung masuk surga hanya karena mempercayai Allah Subhanahu Wa Ta’ala bersifat monoteis.

”Anda pergi ke surga berdasarkan niat dan tindakan Anda untuk mengikuti pesan yang diajarkan kepada kita oleh para nabi. Dan, semua itu dapat dikonfirmasi dalam kitab yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala berikan (Al-Quran).”

Pilihan Angela untuk menjadi seorang Muslimah yang dinilai sebagai agama kontroversial, membuat keluarga dan teman-temannya heran.

”Saya melihat Muslim secara umum di mata masyarakat Amerika Serikat. Namun mereka harus tahu, itu bukanlah Muslim yang sebenarnya. Muslim tidak bertindak seperti apa yang mereka pikirkan,”
Angela mengemukakan pendapatnya dalam wawancara dengan NBC.

Setelah menjadi bagian dari Islam, ia dapat mematuhi ajaran di dalam Al-Quran dan Hadis. Baginya, Islam adalah agama yang multibudaya dan merupakan sistem yang dapat diadopsi dalam lingkungan apa pun di setiap titik waktu.

Kini, Angela telah menjadi seorang Muslimah. Tidak terlihat lagi gerai rambut pirangnya. Rambutnya yang indah itu telah ditutup oleh hijab (jilbab) yang membuatnya jauh lebih memesona dari penampilan sebelumnya.

Awalnya, tidak mudah untuk memakai hijab. Menurut dia, orang-orang di sekitarnya banyak berpikir bahwa apa yang dipakainya bukanlah sebuah aksesori keagamaan, tetapi justru sebuah mode pakaian terbaru. Namun, dengan niat yang tulus, Angela menunaikan kewajibannya sebagai seorang Muslimah; berjilbab.

Ia pun memutuskan untuk meninggalkan dunia keartisan yang gemerlap dan glamor. Kini, Angela berkhidmat di dunia pendidikan, sebagai direktur di Islamic School. Angela mencoba untuk memberi kontribusi bagi pengembangan pendidikan Islam di Amerika Serikat.

Source : Republika

Melanie Georgiades, Akibat Depresi Beberapa Kali Coba Bunuh Diri

Melanie GeorgiadesKisahmuallaf.com – Ketenaran dan uang yang melimpah malah membuat penyanyi rap terkenal asal Prancis, Melanie Georgiades atau yang akrab dipanggil Diam, tidak bahagia.

Dia tidak merasa tenteram. Depresi menggerogotinya.

Untuk beberapa waktu, perempuan kelahiran Siprus, 25 Juli 1980 itu menolak bertemu dengan banyak orang, memilih untuk mengisolasi dirinya. Setiap malam dia akan menangis di dalam kamarnya dan sering berhalusinasi, bahkan melakukan upaya bunuh diri.

Sebenarnya Diam sejak kecil telah memiliki kecenderungan untuk mengakhiri dirinya sendiri. Pascaperceraian kedua orangtunya saat ia berusia 15 tahun, Diam pun mencoba apa pun untuk melenyapkan diri dari dunia.

Namun, upaya tersebut tidak berhasil. Tuhan malah membiarkannya hidup hingga usianya 32 tahun saat ini dan memperoleh kesuksesan dalam kariernya sebagai penyanyi.

Karier Diam di dunia musik dimulai bersama grup musik amatiran pada 1994. Berkat suaranya yang khas dan memiliki kekuatan karakter, lagu rap Diam banyak diminati para penikmat musik rap di dalam dan luar Prancis.

diamsPada 2003, Diam mendapatkan penghargaan pertamanya, setelah album “Brut de Femme” yang menjadi debutnya berhasil mendapatkan penghargaan emas atas prestasi penjualan album.

Pada 2005, Diam memulai debutnya sebagai penulis lagu dengan karyanya yang berjudul “Ma Philosophie”. Lagu “Ma Philosophie” ini dipopulerkan oleh bintang pop idola Prancis, Amel Bent.

Pada tahun yang sama, ia juga diketahui pernah berkolaborasi dengan penyanyi berdarah Indonesia, Anggun C Sasmi, untuk lagunya “Juste etre Une Femme (Just to be a Woman)”, yang sering dimunculkan dalam versi Prancis.

Kesuksesan terus diraihnya hingga pada 2006 ia memenangkan penghargaan untuk “Best French Act” dalam ajang “MTV Europe Music Awards”. Albumnya “Dans Ma Bulle” sukses besar hingga terjual satu juta kopi. Sejak itu, Diam tidak mampu menolak kepopuleran yang mengikutinya.

Namun, tidak pula bisa merasa bahagia akan hal itu. Ketenaran hanya membuatnya jatuh semakin dalam dan mengganggunya. Meskipun jutaan orang mengelu-elukan namanya, dia merasa kosong dan kesepian.

Depresinya semakin menggila. Diam pun melakukan berbagai cara untuk mengusir gangguan mental yang dihadapinya itu.

Dia bahkan mendaftarkan dirinya sendiri ke rumah sakit jiwa dan membuat janji konsultasi dengan sejumlah psikolog hampir setiap saat.

“Namun, saya tidak menemukan solusi untuk penyelesaian masalah yang selama ini dihadapi,” ujarnya pada majalah Paris Match.

Namun, Tuhan yang penyayang menuntun Diam untuk menemukan ketenteraman dalam Islam. Suatu kali, seorang teman datang mengunjunginya di rumah sakit. Setelah beberapa lama, sang teman pamit untuk mengerjakan shalat.

Diam kemudian bertanya, mengapa dia harus melakukan shalat. Sang teman menjawab dengan tenang. Bahwa dia seorang Muslim dan hal itu adalah kewajiban baginya. Selain itu, dalam shalat pula dia merasakan ketenteraman. “Saya bilang, saya juga ingin mencoba shalat,” tutur Diam.

Ketertarikannya akan shalat membuat Diam mencari tahu lebih jauh tentang Islam. Diam sedikit demi sedikit mulai mengenal Islam. Teman-teman artisnya yang juga imigran membantunya untuk memahami Islam lebih baik.

Diam memang berteman dekat dengan sejumlah artis perempuan keturunan Maroko, seperti Amel Bent, dan artis gaek Jamal Dabouz. Mereka telah banyak mendukung karier keartisannya selama ini.

Tak sampai di situ saja, Diam mulai melahap buku-buku agama dan membaca Alquran. Dia bahkan memutuskan untuk berhenti sementara dalam bermusik dan pindah ke Mauritius untuk belajar membaca Alquran.

Dalam Alquranlah dia paham bahwa Islam bukan seperti yang dituduhkan orang-orang selama ini. “Dalam Islam tidak diperbolehkan membunuh orang yang tidak bersalah, seperti yang kita lihat sekarang ini. Kita tidak bisa melakukan generalisasi kepada keseluruhan agama hanya karena aksi individual orang-orang yang tidak bertanggung jawab,” ujarnya.

Setelah memahami Islam beberapa waktu, akhirnya Diam memutuskan untuk memeluk Islam pada 2009. “Ketika bersujud untuk pertama kalinya dan menyentuhkan dahi saya ke lantai, saya sadar dan yakin bahwa sebagai manusia kita hanya harus tunduk kepada Allah bukan kepada manusia lainnya,” katanya.

Sejak saat itu, Diam mengaku, hidupnya terasa lebih tenang dan tenteram. “Saya juga tahu tujuan sebenarnya kita diciptakan Allah,’’ katanya. Kini dia hidup bahagia sebagai seorang Muslimah, seorang istri bagi laki-laki Muslim yang dinikahinya, bernama Aziz, dan seorang ibu untuk anaknya.

Tetap Bermusik

Sejak memeluk Islam. Diam tidak pernah meninggalkan rumah tanpa menutupi rambutnya. Jilbab kini menjadi aksesori kepala yang wajib baginya.

Diam menolak bersalaman dan berciuman dengan selain muhrimnya. Untuk beberapa waktu, Diam menolak sejumlah wawancara tentang alasannya memeluk Islam.

Meskipun media di Prancis sibuk mencari tahu tentang fakta keislamannya, bahkan mengikutinya saat beribadah. Namun, Diam memilih bungkam.

Sejumlah majalah Perancis melaporkan aktivitas Diam yang tengah mengikuti shalat Jumat di Masjid Gennevilliers yang selama ini terkenal menyebarkan Islam secara toleran sehingga dapat diterima oleh masyarakat setempat.

Sebelumnya, majalah berita mingguan pernah memuat foto Diam yang mengenakan jilbab dan keluar dari sebuah masjid di wilayah Ibu Kota Paris.

Foto tersebut diambil secara sembunyi-sembunyi oleh fotografer majalah tersebut pada 8 September 2009 lalu, ketika Diam baru keluar dari Masjid Gunfille dengan ditemani suaminya. Dalam foto itu, Diam berpenampilan sebagai seorang Muslimah tulen dengan mengenakan baju kurung dan jilbab panjang berwarna hitam.

Baru beberapa waktu ini, Diam menerima tawaran wawancara dengan stasiun televisi Perancis, TF1. Dalam wawancara itu, Diam menceritakan bagaimana Islam telah menyelamatkan hidupnya.

Kisah artis yang memutuskan untuk menjadi Muslim memang kerap menjadi isu seksi bagi media Perancis. Mengingat, negara tersebut terkenal kerap mendiskreditkan Muslim. Sorotan yang sama oleh media massa Prancis juga menimpa pemain sepak bola Franck Ribery yang memilih Islam sebagai agama barunya dan menikah dengan perempuan keturunan Maroko.

Abd Al-Malik, Kisah Musisi Rapper Prancis yang Bersyahadat di Jalanan

Abd al-Malik

kisahmuallaf.com – Menjadi penjahat yang lihai mencuri mobil dan mengedarkan narkoba, Abd al-Malik bisa saja tak punya masa depan. Beruntung ia memiliki rasa ingin tahu yang begitu besar, yang menghadiahinya nilai-nilai terbaik di sekolah dan membawanya pada sebuah pencarian spiritual.

Sebagai seorang rapper, di awal keislamannya, Abd al-Malik sempat kalut saat mendengar Islam tak sejalan dengan seni musik yang dipilihnya. Dalam otobiografinya yang berjudul Sufi Rapper (2009), Abd al-Malik mengatakan budaya rap Prancis lahir dalam konteks rasisme dan xenofobia (ketakutan berlebihan pada orang asing) yang meluas.

Ia hidup di sebuah ghetto (lingkungan tempat tinggal para kaum imigran minoritas) di Prancis. “Saat aku masih sekolah, aku sering melihat politisi berkata ‘Kita semua adalah Prancis,’ tapi aku tak pernah melihat seorang pria kulit hitam pun di televisi. Tak ada politisi Prancis yang berkulit hitam,” katanya.

Ia masih ingat betapa ia mengecam kurangnya kesempatan bagi anak-anak imigran, juga iklim kemiskinan dan kejahatan di tempat tinggalnya. Hal itu semakin diperparah diskriminasi yang terjadi dalam berbagai hal, juga pelecehan yang dilakukan para polisi. Karena itu, ketika mulai populer pada 1990-an, musik rap dikritisi sebagai seni yang mengagungkan kekerasan dan mempertinggi ketegangan rasial.

***

Sebelum memeluk Islam, ia bernama Regis. Dilahirkan di Paris pada 14 Maret 1975 dengan nama Régis Fayette-Mikano . Pada 1977, Regis kecil yang berdarah Kongo dibawa orang tuanya kembali ke negara asalnya dan tinggal di Brazzaville (ibukota sekaligus kota terbesar di Republik Kongo). Régis menghabiskan masa kecilnya di sana, sebelum akhirnya ia dan keluarganya kembali ke Prancis dan menetap di distrik ghetto bernama Neuhof (selatan Kota Strasbourg) pada 1981.

Saat Regis memasuki usia remaja, ayahnya pergi meninggalkan rumah. Sejak itu, ibunya harus berjuang seorang diri membesarkan dan mendidik Regis orang anaknya. Dan sejak itu pula, Regis mulai tumbuh menjadi penjahat kecil.

Di lingkungan barunya yang keras, tanpa sosok ayah, Regis belajar memenuhi keterbatasan dan kekurangan yang didapatinya di rumah. Dari kejahatan-kejahatan kecil yang dilakukannya, ia terus tumbuh menjadi penjahat yang berhasil membangun dominasi bersama beberapa temannya.

Ia menjambret dan mencuri mobil, demi untuk menghasilkan uang yang tidak bisa diperolehnya dari rumah. Dalam kondisi itu, Regis menjalani tiga peran kehidupan sekaligus. Ia adalah seorang seorang anak yang berjuang mempertahankan hidup keluarganya, siswa yang berprestasi di sekolah, serta penjahat jalanan yang lihai.

Regis pun memilih musik rap untuk menyalurkan frustasinya, juga bercerita dan menyampaikan kritik sosial atas semua yang dialaminya. Terinspirasi rap Amerika pada tahun 1980-an, Abd al-Malik bergabung dengan saudara dan sekelompok temannya dan menciptakan New African Poets, disingkat NAP.

Di tengah kekritisannya, Régis terpikat pada gerakan Black Power dan mengidolakan Malcolm X sebagai seorang pahlawan Muslim kulit hitam yang telah berani menentang ketidakadilan. Baginya dan sejumlah pemuda imigran di Prancis kala itu, Islam menawarkan sebuah identitas yang menantang.

Pengetahuan tentang Islam diperolehnya dari para dai Islam yang berceramah di jalan-jalan. Pada usianya yang ke-16, Regis memutuskan memeluk Islam dan mengganti namanya menjadi Abd al Malik. Selama beberapa tahun setelahnya, bersama para Muslim tersebut, ia berkeliling Prancis untuk menyeru pria-pria muda agar pergi ke masjid, menumbuhkan dan memanjangkan jenggot, serta berhenti meminum alkohol dan mengkonsumsi narkoba.

Beberapa lama terlibat, Abd al Malik melihat ajaran yang populer di ghetto-ghetto Prancis itu bukan sesuatu yang secara eksplisit keras. Namun, katanya dalam Sufi Rapper, ajaran tersebut secara fanatik mendorong para imigran muda untuk mencerca segala sesuatu yang sekular, modern, dan kebarat-baratan. “Dan itu justru memperdalam rasa keterasingan kami,” ujarnya.

Di situlah ia kembali menemukan gejolak dalam batinnya. Sebagai remaja, Abd al Malik merasakan ketulusan dan semangatnya pada Islam sama besarnya dengan hasratnya pada rap, sebuah seni yang harus ia cerca dan jauhi. “Karena rap adalah musik modern, dan ia kebarat-baratan.”

Abd al Malik terjebak dalam paradoks itu hingga beberapa tahun. “Itu menyakitkan,” katanya. Perasaan sakit itu semakin menjadi karena ia membiayai musiknya dengan melakukan kejahatan dan menjadi pengedar narkoba. “Perbuatan-perbuatan itu sangat tidak agamis.”

Hingga pada akhirnya, suatu hari, Abd al Malik pergi ke seorang pemimpin penjahat lokal dan meminta pinjaman. Setelah itu, sambil memegang sebuah kantong sampah penuh uang, Abd al Malik terduduk dan menangis seorang diri di apartemennya.

***

Kekacauan batin itu mendorongnya untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang keimanannya. Dalam pencarian itu, ia memperoleh jawaban dari tasawuf, cabang sufisme Islam yang kontemplatif.

Ia menemui seorang guru spiritual dari Afrika Utara yang mengajarkannya bahwa inti agama adalah cinta dan kesadaran akan sifat rohani setiap manusia. “Maka, Islam adalah agama cinta. Islam adalah berdamai dengan dirimu dan orang lain,” katanya.

Ia sampai pada satu kesimpulan, bahwa memposisikan Islam sebagai agama kelompok minoritas sama dengan menjadi minoritas dalam Islam itu sendiri. “Dan itu bukanlah Islam yang sesungguhnya.”

Pergeseran pola pikir itu memperluas pandangan Abd al Malik tentang musik rap dan perannya melalui seni tersebut. Ia mulai menulis lagu untuk album solonya, dengan mengusung pesan yang menyerukan pemahaman antar ras. Salah satu lagunya, “12 September 2001,” adalah permohonan untuk memisahkan politik dan agama. Sebuah lagu lainnya, “God Bless France,” menggambarkan evolusi pribadinya dari kebencian pada patriotisme.

Dalam otobiografinya, Abd al Malik menuliskan bahwa dalam musiknya, ia hanya berupaya menerjemahkan bahasa hati. Ia pun memutuskan untuk meninggalkan rap keras dan mulai berkolaborasi dengan berbagai musisi untuk mengembangkan sebuah suara baru yang mencampurkan musik jaz, nyanyian, dan puisi kecaman yang estetis.

Ketika para rapper lain terus menciptakan ‘musik amarah’ dan–beberapa diantaranya–dituduh menghasut kekerasan, Abd al Malik tetap dengan pilihannya. Alih-alih mengkritik sistem Prancis, Abd al Malik mendorong negaranya untuk hidup sesuai dengan cita-cita demokrasi. Melalui musiknya yang telah meraih berbagai penghargaan, ia menunjukkan bahwa Muslim tak harus menjauhi hal-hal modern. “Terlebih jika kita bisa berbuat sesuatu dengan itu.”

Dawud Wharnsby, Musisi, Peroleh Inspirasi Lewat Al-Qur’an

Dawud Wharnsbykisahmuallaf.com – Selalu mencari cara untuk mengekspresikan diri. Seperti itulah hidup David Wharnsby. Pria yang lahir dan dibesarkan di Ontario, Kanada itu sedari kecil lebih senang mengekspresikan apa yang dia rasakan terhadap banyak hal, daripada harus mendengarkan pelajaran-pelajaran di sekolahnya. Ketika itu, dia lebih senang menulis cerita dan menggambar kartun.

Beranjak remaja, cara David mengekspresikan diri berkembang menjadi fotografi dan teater. Melalui jalur teater itulah bakat bermusik dan menulisnya terasah dengan baik. Di umurnya yang masih belasan, dia mulai mencari apa sebenarnya yang menjadi tujuan hidupnya. Remaja keras kepala ini mulai membaca bermacam-macam kitab suci dan berbagai tulisan yang berhubungan dengan kajian spriritual.

Pada umur 18 tahun, remaja introvet itu betah melek sepanjang malam hanya untuk menulis, mendengarkan musik, dan mempelajari buku-buku berisi ajaran Hindu, Budha, dan Taoisme. Beragam konsep spiritual pun mulai menjejali kepala David. Hal itu kemudian dia keluarkan dalam ekspresi bermusiknya.

David pun mulai banyak menulis lagu dan puisi. Secara otodidak, ia belajar berbagai macam instrumen musik yang kemudian digabungkan dengan lirik-liriknya yang bernada instrospeksi serta suaranya yang sederhana. Lewat lagu-lagunya itu, dia mulai banyak tampil di berbagai cafe, universitas, dan festival rakyat.

Pada 1991, David mulai mencemplungkan dirinya dalam berbagai kegiatan sosial. Mulai dari menjadi pemain boneka dan pengajar untuk anak-anak, penyanyi keliling, hingga membantu orang-orang cacat. Kegiatannya ini membuatnya berpetualangan ke berbagai daerah.

Ia pun mulai melintasi Kanada, Amerika Serikat, bahkan sampai ke Inggris. Melalui caranya bermusik, David mulai menunjukan ketertarikannya terhadap filosofi dan ajaran spiritual negara kawasan Timur. Ia pun mencari bentuk filosofi spiritual yang sesungguhnya.

Menginjak usia 20 tahun, David akhirnya menemukan Alquran dan kemudian memutuskan untuk memeluk agama Islam. Setelah mengucapkan dua kalimah syahadat, ia pun menggunakan nama Islamnya, yakni Dawud Wharnsby Ali. Agama baginya bukan sekedar institusi untuk manusia. Tetapi sesuatu yang harus diterapkan dalam kehidupan.

‘’Saat mengucapkan kata Islam, saya melihatnya sebagai kata kerja, sebuah kata yang merujuk pada aksi,’’ papar Dawud dalam wawancaranya dengan sebuah majalah pada tahun 2006. Menurut dia, Islam seharusnya menjadi sesuatu yang dilakukan oleh pemeluknya, bukan sesuatu yang hanya dimiliki saja. ‘’Islam harus diimplementasikan dalam kehidupan.’’

Bagi Dawud, Islam sepertinya tidak hanya sebuah agama yang ditempelkan padanya. Dia ingin menerjemahkan bahasa-bahasa keIslaman itu melalui perilaku dan caranya berekspresi. Alquran menjadi inspirasinya dalam bermusik. David banyak menulis lagu-lagu dengan perkusi sebagai instrumennya, menjadi bentuk nasyid.

Dia juga banyak menulis lagu-lagu anak yang terinspirasi dari Alquran. Lagu-lagu anak itu pada awalnya hanya direkamnya dengan sebuah gitar saja. “Itu saya lakukan agar berbagai macam pendengar bisa merasa nyaman dengan materi-materi lagunya,’’ paparnya.

Pada tahun 1995, Dawud berhasil menelurkan sebuah album berjudul Blue Walls and The Big Sky. Pada tahun berikutnya, dia meluncurkan album keduanya berjudul A Whsiper of Peace. Pada album keduanya, ia sudah mulai menunjukan unsur-unsur religi dalam lagunya.

Sebut saja, lagu Al Khaliq, The Prophet, atau Takbir/Days Of Eid. Lagu-lagu bernuansa religi itu terus berlanjut ke album-albumnya selanjutnya, Colours of Islam (1997), Road to Madinah (1998), Sunshine, Dust and The Messenger (2002), The Prophet’s Hands (2003), A Different Drum (featuring The Fletcher Valve Drummers) (2004), Vacuous Waxing (featuring Bill Kocher) (2005), The Poets And The Prophet (2006), Out Seeing The Fields (featuring Idris Phillips) (2007).

Album-album itu, bagi Dawud merupakan hasil dari salah satu caranya untuk menginterpretasi Al Quran. ‘’Bagi saya sangat penting untuk bisa jujur pada diri sendiri terhadap pendapat saya tentang musik dan kegunaannya’’ ujar Dawud. Dalam bermusik, dia banyak bersentuhan dengan musisi mualaf lain seperti, Yusuf Islam (Cat Stevens) dan Idris Philip (Philip Bubel).

Dawud_WharnsbyMeskipun caranya menginterpretasi Alquran melalui musik ditentang oleh beberapa kalangan. Akan tetapi dia merasa bahwa sebagaian besar penganut Islam tidak keberatan dengan caranya itu. ‘’Bagi saya ini penting untuk bisa berbagai tentang nilai-nilai melalui musik dan lagu,’’ kata Dawud.

Para penikmat musiknya di Turki, Malaysia, Pakistan, Australia, Perancis, Amerika Serikat, dan Inggris sangat menyukai perkembangan karya-karya. Selain sibuk dengan proyek-proyek album pribadinya, pada tahun 1998, Dawud juga bergabung dengan perusahaan multimedia yang berbasis di Chicago, Amerika Serikat, Sound Vision.com.

Di tempat itu, Dawud bekerja sebagai konsultan pendidikan, pengarah audio, dan menjadi asisten produksi untuk lebih dari 15 dalam dokumentar dan program televisi untuk anak-anak. Saat ini Dawud sedang mengerjakan dua proyek albumnya yang akan muncul di tahun 2011 dan 2012.

Abdullah Rolle, Perjalanan Panjang Musisi Inggris Menuju Cahaya Islam

Abdullah Rolle

kisahmuallaf.com – Lahir di Inggris, sejak kecil ia sudah terlibat dalam berbagai produksi musik, bisa memainkan beberapa alat musik dan aktif menyanyi. Hingga ia beralih ke lagu-lagu nasyid dan meluncurkan CD nasyid pertamanya bertajuk “Peace” dalam Konferensi “Global Peace and Unity” di London pada tahun 2008.

Dia adalah Abdullah Rolle. Ia masuk Islam tujuh tahun yang lalu. Perjalanannya menuju Islam seiring sejalan dengan karirnya yang terus berkembang sebagai artis lagu-lagu nasyid. Inilah kisah perjalanan Rolle menemukan cahaya Islam dan menjadi seorang muslim hingga saat ini;

Suatu pagi, Rolle sedang berjalan di pasar. Tiba-tiba seorang muslim datang padanya dan bertanya apakah ia bisa bicara dengan Rolle sebentar saja. Laki-laki muslim itu bertanya apakah Rolle tahu tentang Islam dan Nabi Muhammad Saw, dan Rolle menjawab bahwa ia tahu bahwa Tuhan adalah pencipta segala sesuatu tapi selama ini ia diajarkan tentang Yesus, bukan tentang Nabi Muhammad Saw. Rolle berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Saya tidak pernah serius dengan masalah agama. Beberapa tahun kemudian, saya berbincang dengan seorang muslim tentang Allah yang Mahakuasa, tapi masih belum siap untuk mempertimbangkan apapun tentang Islam atau menjadi seorang seorang muslim,” ujar Rolle.

“Saya belum pernah bertemu dengan orang seperti itu. Orang-orang yang saya jumpai adalah mereka terlibat dalam bisnis musik dan mereka punya gaya hidup sendiri-sendiri. Makanya, waktu itu, saya tidak melihat peluang untuk tertarik pada Islam. Tapi rupanya, waktunya saja yang belum tiba,” sambung Rolle mengenang pengalamannya bertemu dengan muslim.

Toko Buku dan DVD yang Mengubah Hidupnya

Ketika pindah ke London Timur, Rolle sering berkunjung ke toko buku Dar Assalam di kawasan West End. Rolle senang mengikuti perkembangan dunia, membaca tentang hal-hal yang bernuansa konspirasi dan kejadian-kejadian di dunia.

“Beberapa hal yang saya baca, ada yang benar dan ada yang tidak. Tapi itu tidak juga membawa saya lebih dekat pada Sang Pencipta. Jiwa saya selalu mencari dan mencari, meski saya tidak menyadari itu seratus persen,” tuturnya.

Pegawai di toko buku selalu memberikan buklet pada Rolle. Ia menerimanya dan hanya menyimpannya di lemari. Ia baru merasa simpati pada umat Islam ketika AS menginvasi Irak dan Rolle membaca semua buklet yang disimpannya. Rolle bertanya pada dirinya sendiri, mengapa dunia selalu menyerang Islam dan umat Islam. Rolle menyaksikan bagaimana media massa menggambarkan umat Islam sebagai teroris. Rolle tahu bahwa media massa belum tentu benar dan tidak selalu menyampaikan kebenaran. Rolle ingin tahu mengapa ada pihak yang menyerang umat Islam. Dalam kebingungannya mencari jawaban, Rolle masuk kamar, bersujud dan berdoa.

Suatu hari, di depan toko buku Dar Assalam yang biasa dikunjunginya, Rolle berkata pada anak lelakinya, “Aku butuh sesuatu untuk memberi makan jiwa saya. Buku-buku yang lain tidak memberi dampak apapun buat saya.” Anak lelaki Rolle lalu menunjuk sebuah DVD berjudul “What Is The Purpose of Life?” oleh Khaled Yasin. Rolle membeli DVD itu. Di rumah, usai menyaksikan DVD yang dibelinya, Rolle merasa sangat terinspirasi.

“Semua hal yang dijelaskan dalam DVD itu, saya merasa sudah tahu semua. Saya tahu apa yang dikatakan di dalamnya adalah kebenaran,” kenang Rolle.

Dari DVD itu, Rolle mengetahui bahwa umat Islam menunaikan salat lima waktu sehari. Karena saat itu Rolle masih berkecimpung di jalur musik yang umum, Rolle merasa ia tidak bisa melakukan salat seperti yang dijelaskan dalam DVD tersebut, tapi hatinya yang paling dalam mengakui kebenaran akan perintah salat itu.

Waktu terus berjalan. Rolle jadi sering berkumpul dengan komunitas Muslim dan ia merasakan betapa sahabat-sahabat muslimnya sangat perhatian padanya. “Saya menghabiskan waktu bersama mereka selama dua tahun. Mereka mengajarkan, meluruskan dan mengingatkan saya. Kebanyakan dari mereka adalah pegawai di toko buku itu. Sejak itu saya jadi akrab dengan mereka,” ujar Rolle.

Ia terkesan dengan perilaku teman-teman barunya itu. “Saya selalu melihat bahwa kebanyakan muslim sikapnya sopan, baik hati dan suka membantu. Mereka sendiri menghadapi berbagai problematika umat di berbagai belahan dunia, tapi sebagai pribadi, muslim yang saya jumpai selalu bersikap ramah pada saya. Saya ingin berusaha agar menjadi orang yang taat, dan saya terus berusaha. Saya ingin seperti mereka,” komentar Rolle tentang muslim.

Pada saat itu, Rolle sudah meyakini Islam, punya dasar pengetahuan yang lumayan tentang agama Islam dan sedang terus belajar tentang Islam. Teman-teman muslimnya bilang bahwa Rolle harus mendeklarasikan dua kalimat syahadat jika ingin menjadi seorang muslim. Teman-teman muslimnya juga mengingatkan Rolle bahwa kematian selalu mengintai setiap manusia, apalagi yang ditunggunya jika tidak segera menjadi seorang muslim. Tapi, lagi-lagi Rolle merasa dirinya belum siap menjadi seorang muslim.

Di tengah kebimbangannya, Rolle menyaksikan DVD berjudul “One Islam” oleh Syaikh Fiez di Australia. Dari DVD itu, Rolle belajar tentang tentang Hari Kiamat dalam ajaran Islam. Rasa takut pada Tuhan tiba-tiba mengusik hatinya, jika ia bisa masuk Islam sebelum Hari Akhir itu, maka Rolle akan melakukannya.

Keesokan harinya, ia menghubungi teman-teman muslimnya, dan mengatakan bahwa ia siap untuk menjadi seorang muslim. Sahabat-sahabatnya menyambut gembira keputusan Rolle dan menyiapkan acaranya di akhir pekan.

Setelah resmi menjadi seorang muslim. Rolle kadang merasa iri melihat para ulama muslim. Ia berharap sudah masuk Islam ketika usianya jauh lebih muda. Tapi Allah Maha Tahu yang baik bagi hamba-hamba-Nya.

“Teman-teman membantu saya pelan-pelan. Di masa awal saya masuk Islam, mereka tidak bilang bahwa musik itu haram. Jika mereka mengatakannya pada saat itu, saya mungkin tidak mau menjadi seorang muslim, karena sedang mengerjakan sejumlah proyek musik. Mereka meyakinkan saya, bahwa sementara itu saya boleh tetap terus bermusik, asalkan saya punya niat sewaktu-waktu saya akan keluar dari dunia musik,” tutur Rolle.

Rolle ingat, tantangan terbesar baginya setelah masuk Islam adalah belajar bahasa Arab dan belajar bacaan salat dan doa-doa dalam bahasa Arab. Ia merasa kembali ke bangku sekolah. Tapi Rolle senang karena akhirnya ia berhasil menghapal beberapa surat Al-Quran dan bisa membacanya. “Sehingga saya bisa salat. Saya hal yang sangat ingin bisa saya lakukan lebih dari apapun juga,” tukas Rolle yang belajar praktek salat dan membaca Al-Quran juga dari berbagai DVD.

Abdullah Rolle

Menjadi Artis Nasyid Internasional

Saat baru masuk Islam, Rolle masih bekerja sebagai guru musik untuk anak-anak di beberapa sekolah dan menulis beberapa lagu untuk anak-anak yang kabur dari rumah dan ditampung di pusat belajar di kota tempatnya tinggal. Ia jadi banyak tahu kisah-kisah sedih anak-anak itu, dan ingin menolong mereka. Rolle juga aktif di pusat kegiatan masyarakat dan berbisnis dengan menawarkan jasa mengajar musik pada anak-anak muda.

Lama kelamaan Rolle berpikiri adakah berkah Allah Swt dengan apa yang dikerjakannya. “Jika saya harus berdiri di hadapan Allah, apa yang akan saya katakan tentang diri saya dan kegiatan saya mengajar musik? Saya akhirnya memutuskan untuk menghentikan aktivitas saya; di sekolah, pusat kegiatan masyarakat dan kegiatan lainnya yang berhubungan dengan musik. Sebagian orang menghormati keputusan saya, sebagian lagi mengatakan bahwa tindakan saya salah,” kisah Rolle.

Kala itu, Rolle tidak berpikir untuk beralih ke musik nasyid, meski ia punya studio rekaman sendiri. Rolle lalu bicara dengan seorang muslim yang ayahnya seorang ulama di Arab Saudi dan pemilik Masjid Tauhid di London. Rolle minta nasehat sahabat muslimnya itu dan akhirnya mulai merintis karir di bidang musik nasyid.

Sekarang, selain aktif dalam berbagai kegiatan bersama komunitas Muslim di Inggris, Rolle memfokuskan karirnya sebagai artis nasyid bertaraf internasional, dan meluncurkan CD lagu-lagu nasyidnya bertajuk “Peace” di Afrika Selatan pada tahun 2009.

Jason Newman, Islam dan Musik menjadi Misi Hidupnya

Jason Newman

kisahmuallaf.com – “Rasul benar-benar contoh berjalan tentang keunggulan manusia dan beliau menunjukkan seluruh potensi dalam diri yang mungkin dilakukan sesorang,” ujar Ali. Ia memiliki pemaparan menarik tentang alasan yang mengubah dirinya: seorang remaja pemarah yang berjuang hidup di Midwest menjadi bintang Hip-Hop yang akhirnya keliling dunia dengan musiknya.

“Ada banyak peristiwa yang berperan mengubah hidup saya,” ujar Ali. Beberapa peristiwa besar itu ialah terlibat dengan Islam dan terlibat dengan musik.

Ali terlahir dengan nama Jason Newman. Ia memiliki kelainan genetika pigmen, Albino yang juga kerap disertai gangguan penglihatan.

Masa kecilnya diwarnai dengan sikap kejam dan penolakan dari teman-teman kulit putihnya. “Saat anak-anak saya seperti orang buangan,” kenangnya. Ia justru menemukan rumah ketika bersama teman-temanya Afro-Amerika.

“Ketika saya lewat melintas kerumunan kulit putih dan mendengar semua kata-kata rasisme dan supremasi kulit putih, sungguh membuat saya bingung dan kesal.”

Namun Ali, 33 tahun, mengatakan Islam yang ia peluk pada usia 15 tahun telah membantunya melalui masa-masa sulitnya. Ia berpisah dengan istrinya yang ia nikahi selama 10 tahun, sempat menjadi gelandangan dan kini tengah mencoba mengamankan hak asuh atas anak lelakinya. “Islam telah membantu saya dari banyak hal tadi. Agama ini membantu saya memahami diri saya dan dunia lebih baik,”

Jason Newman

Misi

Bagi Ali, yang baru-baru ini membungkus tur keliling dunia untuk mempromosikan album ‘US’, menjadi solid dengan keyakinannya di tengah kaum elit Hip-Hop bukanlah hal mudah. Namun, begitu ia mengingat Rasul Muhammad, ia bisa menjadi pribadi lebih sabar dan teguh.

“Salah satu pesan utama lewat Al Qur’an dan dari tradisi Rasul Muhammad adalah ide keunggulan, bahwa semua yang Muslim lakukan, mereka ingin melakukan dengan sempurna dan selalu ingin berkualitas. Saya sangat terinspirasi oleh itu,” ujarnya. Ali pun meyakini dengnan musiknya dan keyakinan Islam-nya, ia menjalankan misi tersebut.

“Saya percaya inilah alasan mengapa saya dilahirkan, ini pekerjaan saya dan tujuan saya sebagai Muslim, untuk melakukan terbaik yang bisa saya lakukan.” ujarnya. Lirik lagu-lagunya menyoal semua perjuangan hidupnya, mulai masalah rasisme di Amerika hingga perang. Khusus dalam album terakhir ia menulis sebuah lagu tentng perang.

“Kita sebagai warga Amerika dibuat untuk melekat dengan patriotisme buta. Saya membuat lagi tentang perasaan ini, tentang sisi bawah Amerika yang kita tak pernah benar-benar dengar,” paparnya.

“Karena lagu ini saya kehilangan satu kesempatan tur yang selama ini saya tunggu. Ketika kami di Australia, Departemen Keamanan Dalam Negeri membekukan semua data kami. Saya duga lagu tersebut dan kontroversinya yang menyebabkan itu semua,” tutur Ali.

Namun Ali, ayah dari Seorang putra Fahim, 9 tahun, dan putri, Soulaila, 2 tahun, mengaku tidak ingin mengompromikan keyakinannya. “Apa yang penting ketika menerapkan Islam dalam kehidupan adalah tidak berpura-pura menjadi orang lain. Itulah mengapa dalam musik saya, saya mencoba tidak bersikap munafik dan mengekspresikannya dengan cara paling paling jujur.”

Leslie Pridgen, Islam adalah Hidup Saya

Leslie Pridgen

kisahmuallaf.com- “Agama saya adalah segalanya buat saya. Agama yang membuat saya selalu bergerak setiap hari,” kata Freeway, penyanyi rap terkenal di AS, berkomentar tentang agama Islam yang dipeluknya dari usia remaja hingga sekarang.

“Islam adalah hati saya, Islam adalah jiwa saya,” kata lelaki yang sekarang sudah memiliki dua putra itu dalam wawancara dengan CNN.
Freeway yang bernama asli Leslie Pridgen mengucapkan dua kalimat syahadat saat usianya masih 14 tahun. Sejak menjadi seorang muslim, sifatnya yang temperamental layaknya seorang anak ABG (Anak Baru Gede) banyak berubah dan mengantarnya menjadi seorang bintang penyanyi rap seperti sekarang ini.
Freeway menyatakan sangat bangga menjadi seorang muslim. Baginya, Islam sudah menjadi bagian hidupnya. Meski ia mengakui, keimanannya berubah-ubah ketika ia dewasa dan menjadi seorang artis. Ia harus menyeimbangkan antara kehidupannya sebagai seorang muslim dan kredibilitasnya sebagai seorang artis hip-hop,
Setiap hari Jumat, Freeway bergegas ke masjid Al-Aqsa Islamic Society di North Philadelphia untuk menunaikan salat Jumat. Ia juga sangat selektif memilih kata-kata untuk syair lagunya dan selalu menanamkan dalam pikirannya bahwa para penggemarnya bisa mengambil manfaat dari lagu-lagunya.
“Para penggemar saya bisa mendapatkan lebih dari sekedar musik, karena saya menyampaikan banyak pesan. Sekarang saya makin peduli dengan apa yang saya katakan, karena dalam Islam, kami meyakini bahwa kami akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang kami ucapkan,” kata Freeway.
Leslie Pridgen
Pengalaman hidup telah membentuk Freeway menjadi seorang lelaki dewasa yang matang, seorang ayah, seorang artis dan seorang muslim. Ia pernah kehilangan seorang sepupu dan seorang sahabat dekat dalam sebuah peristiwa kekerasan bersenjata. Sejak itu pendekatannya berubah dan membuatnya menjadi lebih dewasa.
“Saya tentu saja tidak berada dalam situasi yang sama ketika saya pertama kali memulainya, ketika saya masih berkeliaran di jalan, luntang lantung melakukan hal-hal yang gila. Setiap hari adalah kerja, setiap hari adalah godaan,” tukasnya.
Meski sudah menjadi seorang artis rap terkenal, Freeway tetap menempatkan agamanya di atas segalanya. Dan ia bukan satu-satunya artis rap muslim di Philadephia yang bersikap demikian.
“Ada Lupe Fiasco, Q-Tip, Mos Def–mereka semua secara terbuka mengakui sebagai muslim,” kata Amir Abbasy, manager Freeway.
Sebagai seorang publik figur, Freeway tidak segan-segan untuk berbagi pengalam hidupnya dengan orang lain. Ia misalnya, menjadi pembicara dalam sebuah workshop tentang bullying di sekolah Philadelphia pada hari yang sama ketika Kongres AS menggelar dengar pendapat tentang radikalisasi Muslim Amerika yang digagas oleh Senator Peter King, ketua Komite Keamanan Dalam Negeri di Senat AS.
Freeway menilai dengar pendapat itu sudah dengan tidak adil menyoroti Muslim di Amerika. “Itu sebuah kebodohan, sebuah omong kosong. Anda tidak bisa menilai seluruh masyarakat hanya dari segelintir orang yang melakukan kesalahan,” tandas Freeway yang selalu menjaga salat lima waktunya.
Managernya, Amir Abbasy mengakui kesungguhan Freeway untuk menjadi seorang muslim yang taat. “Suatu saat, ketika ia memutuskan untuk berhenti menyanyi, agamanya tetap bersamanya. Agamanya, itulah hidupnya. Ia akan bangun tanpa mikrofon di tangannya, tapi ia akan bangun untuk salat,” tukas Abbasy.

Kisah Monica Oemardi Masuk Islam

Monica Oemardikisahmuallaf.com – Bulan suci Ramadhan merupakan bulan yang penuh hikmah buat saya. Saat itu, saya memulai hidup baru sebagai seorang muslimah. Ini adalah hidayah Allah pada saya dan saya sangat mensyukurinya. Sekarang, saya semakin mantap dengan pilihan hati nurani saya itu. Saya siap lahir batin. Termasuk menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Saya ingin segera bisa menunaikan ibadah umrah. Insya Allah.
Nama saya Monica Oemardi, lahir di Jakarta, 24 tahun lalu. Papa saya berasal dari Blitar dan beragama Islam. Sedangkan mama berasal dari Cekoslowakia dan beragama Kristen Protestan. Mungkin, sebagian pembaca tak asing lagi dengan debut saya selama ini di dunia sinetron. Di antara sinetron yang telah saya bintangi adalah Delima, Takhta, Intrik, Warteg, Misteri Gunung Merapi, Angling Darma, dan lain sebagainya.
Saya berasal dari keluarga Kristen Protestan yang cukup taat. Meskipun demikian, keluarga kami sangat demokratis dalam masalah agama. Setelah menikah, saya pindah agama ke Kristen Katolik, mengikuti suami saya yang pertama. Sebenarnya, agama Islam tak asing lagi bagi saya. Sebab, kebanyakan keluarga papa beragama Islam. Pada waktu kecil, pernah saya ikut-ikutan shalat Id pada Hari Raya Idul Fitri di Bandung. Walaupun hanya sekadar gerakan shalat saja, tapi kegiatan ritual itu sangat berkesan di dalam hati saya.
Mulai Tertarik
Memang, saya sudah lama ingin masuk Islam, tepatnya sekitar bulan Februari-Maret 1998 lalu. Ketika itu, sahabat saya sesama artis, Vinny Alvionita dan Dian Nitami, mengunjungi saya di rumah kos. Ketika kami sedang asyik ngobrol, tiba-tiba terdengar suara adzan magrib dari masjid sekitar rumah kos.
Sahabat saya, Dian Nitami yang muslimah itu, langsung ingin shalat. Tapi, terlebih dulu ia meminta izin kepada saya. Saya dan Vinny beringsut dari tempat duduk untuk menggelar sajadah, karena tempat kos memang sempit. Di dalam kamar kos yang kecil itu, saya perhatikan Dian ketika usai mengambil air wudhu, ia mengeluarkan mukenah putih, kemudian memakainya. Hal itu membuat saya terkesima dan berpikir, Islam itu amat suci, mau menghadap Allah harus menyucikan diri terlebih dulu. Saya amati terus saat Dian melakukan shalat. Hingga tiba-tiba dari mulut Saya terlontar permintaan kepada sahabat saya, Vinny, untuk mengajarkan saya tata cara shalat.
Tentu saja Vinny terkejut mendengar permintaan saya itu. Saya pun tak mengerti apa yang mendorong saya hingga melontarkan ucapan demikian. Dengan wajah tak percaya, Vinny memandangi saya. Saya disuruhnya mengulangi lagi permintaan saya tadi itu.
Mungkin Vinny tak percaya, karena selama ini saya tak pernah minta diajari shalat kepada teman-teman yang sering datang ke tempat kos saya. Tetapi, tiba giliran Dian yang shalat, saya malah minta diajari. ini mungkin hidayah bagi saya melalui kedua sahabat saya itu.
Sejak itu, Vinny memberi saya beberapa buku bacaan. Salah satunya berjudul, “Lentera Hati” yang ditulis oleh Prof. Dr. H. Quraish Shihab, MA. Setelah membaca buku tersebut, saya semakin terpukau dan mengagumi Islam. Saya pun semakin mendalami Islam lewat buku-buku yang diberikan Vinny, di samping bertanya kepada mamanya Dian Nitami dan keluarga Vinny.
Walaupun saya terus mempelajari Islam melalui buku-buku yang diberikan oleh Vinny, saya masih sering ke gereja. Bahkan, yang mengantarkannya adalah Vinny sendiri. Memang, dalam bersahabat kami saling menghargai, terutama soal agama. la pernah berpesan kepada saya bahwa tak ada paksaan dalam Islam. Kalau ingin masuk Islam, harus dengan pikiran dan hati yang bersih dan sesuai dengan hati nurani.
Hari demi hari, saya terus mempelajari Islam secara mendalam, hingga setelah tak ada keraguan sedikit pun di hati, pada bulan puasa, Januari 1998, hati saya semakin bergetar. Saya menunggu-nunggu kapan waktu yang tepat untuk memeluk Islam.
Gelora hati untuk memeluk Islam mengalahkan segala kesibukan dan persiapan untuk menyambut Hari Natal. Dulu, saya paling suka mempersiapkannya. Bahkan, sebulan sebelumnya saya sudah sibuk merapikan rumah, mencari kado buat mama dan keluarga, dan selalu siap membantu mama mempersiapkan kue-kue Natal. Tetapi, pada saat itu, saya tak melakukan semua itu. Walaupun saya belum memeluk Islam, tapi saya sudah menjalani ibadah puasa.
Masuk Islam
Pada malam menjelang Tahun Baru, 31 Desember 1998 lalu, saya mengucapkan ikrar dua kalimat syahadat dibimbing oleh Prof.Dr. H. Quraish Shihab di kediaman seorang pengusaha elektronik, Rachmat Gobel, di kawasan Jalan Saharjo, Jakarta Selatan, dalam acara buka puasa bersama.
Setelah membaca rukun Islam yang pertama itu, saya tak dapat menahan rasa haru, sehingga saya tak mampu lagi membendung air mata. Rasanya dada ini plong sekali, seperti bayi yang baru lahir. Jadi, tahun 1999 itu, buat saya, merupakan tahun untuk memulai “hidup baru” sebagai seorang muslimah.
Walaupun sudah resmi masuk Islam, tapi Pak Quraish Shihab dalam kesempatan itu, juga berpesan agar saya segera meresmikan status keislaman saya itu. Katanya, mengucapkan dua kalimat syahadat berkali-kali, tak apa-apa. Maka, pada hati Jumat tanggal 8 Desember 1999, dengan dilengkapi prosedur administratif, saya mengucapkan ikrar dua kaliniat syahadat di hadapan para saksi di Masjid Sunda Kelapa, Jakarta Pusat.
Mengetahui saya masuk Islam, mama sempat marah. Bukan apa-apa, tapi karena beliau ingin supaya saya dalam hidup ini mempunyai prinsip. Setelah saya jelaskan, beliau pun akhimya menerima keputusan saya itu. Beliau berpesan supaya saya benar-benar menjaga keislaman saya. Tidak simpang siur dan tidak boleh main-main.
Setelah masuk Islam, kehidupan saya terasa lebih tenang. Apalagi setelah perceraian dengan suami pertama yang membawa kabur anak saya, Antonius Joshua (6 tahun). Selama bulan suci Ramadhan tersebut, saya terus menjalankan ibadah puasa. Dan ternyata, puasa dengan dilandasi niat, berbeda sekali dengan puasa tanpa niat. Saya rasakan puasa tanpa niat itu terasa sangat berat. Jangankan menjalaninya, untuk bangun sahur saja berat sekali. Tapi, setelah masuk Islam, saya selalu membaca niat puasa setiap sahur, puasa pun menjadi terasa ringan.
Selama ini saya sahur sendiri. Anehnya, saya bisa dengan mudah terbangun, tanpa ada perasaan yang berat. Dan setelah sahur, saya tidak langsung tidur. Saya hidupkan TV dan mengikuti kuliah subuh. Dari siaran tersebut, saya banyak memperoleh masukan-masukan yang bermanfaat. Saya bertekad untuk menjadi muslimah yang baik, tentunya dengan diiringi doa para pembaca. Insya Allah.

Bilal Philips, Mantan “Dewa Gitar” yang Kini Menyerukan Islam

Philips Masuk Islam
Dulu, Bilal Philips pernah dijuluki “Dewa Gitar” di negerinya, Kanada. Kini, ia justru menyerukan agar kaum Muslim sesedikit mungkin mendengarkan petikan gitar, karena “terlalu banyak musik akan menutup hati dari seruan Allah.”
Philips menyatakan, larangan itu bukan hanya untuk gitar, tapi semua aliran musik. “Hati yang diisi dengan musik tidak akan memiliki ruang untuk kata-kata Tuhan,” tulisnya dalam bukunya, Contemporary Issues. Buku ini membahas persoalan-persoalan aktual umat islam, mulai dari perkawinan anak di bawah umur, pemukulan istri, poligami, dan membunuh kaum murtad, hingga homoseksualitas.
Philips berpendapat, Islam tidak melarang semua musik. Namun, musik yang dianjurkan adalah yang dinyanyikan kaum pria dan anak perempuan belum dewasa. Lagu-lagunya pun berisi konten yang dapat diterima umum. “Instrumen senar sebaiknya dihindari,” ia melanjutkan.
Philips adalah imigran asal Jamaika. Masuk ke Kanada di usia 11 tahun, ia mengambil pendidikan gitar. Ia bermain di klub malam selama belajar di Universitas Simon Fraser di British Columbia. Namanya makin terdongkrak setelah itu.
Bilal PhilipsDi puncak kepopulerannya, jiwanya gelisah. Ia memutuskan mengasingkan diri dari hiruk-pikuk musik negerinya dan menyusul sang ayah yang juga tenaga ahli di Canadian Colombo Plan berpindah ke Malaysia, menjadi penasihat menteri pendidikan. Di negeri jiran itu, ia dikenal sebagai “Jimi Hendrix dari Sabah”.
Tapi setelah memeluk Islam pada tahun 1972, ia meletakkan gitarnya untuk selamanya. Dalam biografi di situs web ia mengatakan, “ketika saya menjadi seorang Muslim, saya merasa tidak nyaman melakukan hal ini dan menyerah baik secara profesional maupun pribadi.”Bagi banyak orang, musik menjadi sumber hiburan dan harapan dari Allah. Musik membawa mereka untuk sementara, seperti obat. “Quran, kata-kata Allah yang penuh dengan bimbingan, juga bisa memainkan peran itu.”
Dalam bukunya, ia juga mengatakan wanita dewasa dilarang untuk bernyanyi. “Pria lebih mudah terangsang daripada perempuan sebagai telah sepenuhnya didokumentasikan oleh studi klinis Masters dan Johnson. “
Tetapi Institut Islam Toronto mengatakan pada situs webnya yang banyak sarjana tidak setuju dengan penafsiran itu, dan mempertimbangkan musik diperbolehkan asalkan tidak mengandung “sensual, menduakan Tuhan, atau tema tidak etis dan pesan subliminal.
“Jadi untuk mengatakan bahwa semua musik dilarang dalam Islam tampaknya tidak tepat. Islam menempatkan kehidupan dunia dan akhirat secara seimbang,” tulis situs ini.
Sohail Raza, juru bicara Kongres Muslim Kanada, mengatakan klaim bahwa Islam tidak mengijinkan musik adalah “benar-benar tak berdasar” dan benar-benar merupakan upaya untuk mencegah imigran Muslim dari integrasi ke dalam masyarakat Kanada.
“Ini adalah orang-orang yang memiliki keengganan untuk sukacita,” kata Raza. “Kami memiliki situasi yang sangat menyedihkan dimana orang-orang seperti Philips yang membawa hal-hal dalam Islam yang benar-benar tidak benar, dan menumbuhsuburkan Islamophobia.”
Philips, yang memiliki gelar dari Universitas Islam Madinah dan Universitas Riyadh, dan mendirikan Universitas Islam Online, tinggal di Qatar tapi tetap menjadi pembicara konferensi yang populer di Kanada. Dia memberikan kuliah tentang “musik dan kencan” di sebuah masjid Toronto April lalu.
Dalam video online-nya, mantan musisi panggilan musik kecanduan jahat. “Intinya adalah bahwa jika musik itu bermanfaat, maka musisi akan menunjukkan manfaat yang dalam hidup mereka,” katanya dalam sebuah video YouTube.
“Apa yang Anda lihat justru adalah bahwa beberapa elemen yang paling korup masyarakat yang ditemukan di antara para musisi. Obat-obatan, penyimpangan dan homoseksualitas, hal ini jenis dan semua korupsi yang ada di sana, orang bunuh diri, “katanya. “Kenyataannya adalah bahwa hal itu sebenarnya tidak membawa sisi, jahat gelap yang memproduksi jenis korupsi antara mereka sendiri dan, pada akhirnya, berakhir sampai merusak elemen masyarakat.”

Robin Padilla, Dari Dunia Gemerlap Menuju Islam

Siapa yang tak kenal Robinhood? Seorang sosok ksatria pembela kaum miskin dari tanah Inggris. Ia senantiasa membela kaum lemah dengan mengandalkan panah sebagai senjata utamanya. Tak jauh berbeda dengan Robin Padilla, aktor asal Filipina ini juga pernah membintangi film serupa di negeri asalnya.
Nama lengkapnya adalah Robinhood Fernando Carino Padilla. Namun, ia lebih populer dengan panggilan Robin Padilla. Ia adalah aktor Filipina yang pernah berjaya di era tahun 1990-an. Film-film yang dibintanginya selalu masuk dalam jajaran box office di negaranya. Tak heran bila namanya masuk dalam daftar teratas aktor dan aktris Filipina terlaris.
Nama pesohor kelahiran Kota Manila, 23 November 1967 ini makin meroket setelah membintangi sejumlah film laga di negaranya. Bahkan karena peran yang dimainkannya sebagai seorang gangster berdarah dingin dalam sejumlah film, ia mendapat julukan The Bad Boy of Philippine Action Movies.
Bakat akting memang sudah mendarah daging dalam keluarga besar Robin Padilla, yang merupakan pemeluk Kristen Protestan. Ketiga orang kakak Robin, yakni Rustom Padilla, Royette Padilla dan Rommel Padilla, juga dikenal publik Filipina sebagai aktor. Kehidupan sebagai bintang besar (megastar) membawa Robin dekat dengan dunia malam dan obat-obatan terlarang.
Ia pun akhirnya menjadi pecandu dunia malam. Kariernya sebagai superstar pun meredup. Ia terlibat dalam kehidupan preman jalanan. Akibat sikap dan perilakunya itu, pada tanggal 21 Juli 1994, kepolisian Filipina mengeluarkan surat penangkapan terhadap dirinya. Ia dinyatakan bersalah atas kepemilikan senjata api ilegal dan dijatuhi hukuman selama 21 tahun penjara. Namun, ia dibebaskan pada awal tahun 1998.
Saat menjalani kehidupan dari balik terali besi, Robin berkenalan dengan seorang Muslim bernama Gene Gallopin. Gallopin adalah aktivis pejuang HAM bagi masyarakat Minoritas Muslim di Filipina. Dari Gallopin yang juga merupakan seorang mualaf, Robin mulai mengenal Islam. Keduanya kerap bertukar pikiran. Apa yang disampaikan Gallopin ternyata membekas dalam diri sang aktor.
Setelah melakukan diskusi panjang dengan Gallopin mengenai agama, Robin mantap untuk memeluk Islam. Tak hanya memeluk Islam, ayah lima orang anak ini pun kemudian mengganti namanya dengan Abdul Aziz. Meski dalam keseharian ia masih menggunakan nama Robin Padilla. Tak lama berselang, Liezl, sang istri pun mengikuti jejaknya untuk menjadi seorang Muslimah.
Perihal keislaman Robin, membuat publik Filipina terhenyak. Terutama para fans berat pemeran utama dalam film Bad Boy 2 ini, karena tidak banyak pemberitaan yang mengulas mengenai proses dirinya menjadi seorang Muslim.
Bagi Robi, menjadi seorang Muslim memberikan tantangan tersendiri. Berkali-kali ia diberitakan miring terkait aktivitas keagamaannya. Ia kerap dikaitkan dengan Kelompok Abu Sayyaf, sebuah kelompok Muslim yang kerap dicap sebagai kelompok radikal di Filipina. Salah satunya adalah pemberitaan mengenai penangkapan terhadap seorang petinggi Abu Sayyaf oleh pihak berwenang di Filipina.
Belakangan diketahui jika orang yang ditangkap tersebut merupakan salah seorang pengawal pribadinya. Langkah Robin untuk membantu saudara-saudaranya sesama Muslim pun begitu mengesankan. Pada tahun 2004, ia membentuk sebuah lembaga advokasi yang difokuskan untuk penanggulangan wabah malaria. Melalui lembaga advokasi bentukannya ini, Robin memberikan bantuan secara cuma-cuma kepada masyarakat Muslim Filipina. Atas dedikasinya ini, Departemen Kesehatan Filipina menunjuknya sebagai juru kampanye Gerakan Pemberantasan Malaria.
Robin juga dikenal aktif dalam kegiatan sosial dan pendidikan. Dalam suatu waktu ia berhasil melakukan penggalangan dana sebesar satu juta peso Filipina untuk membangun area pemakaman Muslim di kota Norzagaray, Provinsi Bulacan. Ia juga mendonasikan uang sebesar 2,5 juta peso Filipina kepada sebuah lembaga kemanusiaan di Filipina, Muay Association of the Philippines.
Sementara dalam bidang pendidikan, melalui Yayasan Dindang Kapayapaan yang dibentuknya, ia mendirikan sebuah lembaga pendidikan prasekolah bagi anak-anak Muslim di atas lahan miliknya di Fairview Park, Quezon City. Lembaga pendidikan tersebut telah beroperasi sejak tahun 2007 hingga saat ini.
Robin menjelaskan, para murid yang belajar di sekolah tersebut, nantinya akan mendapatkan bimbingan membaca Alquran dari para tenaga pengajar terpilih. Selama menimba ilmu di sekolah tersebut, tambahnya, para peserta didik akan tinggal di rumah pribadinya yang berada dalam satu lokasi dengan gedung sekolah. “Para murid kita bebaskaan dari uang sekolah, biaya pembelian buku, papan tulis dan biaya asrama,” paparnya sebagaimana dikutip dari laman situs Manila Bulletin.
Meski menyandang status sebagai mantan narapidana, namun hal tersebut tidak membuat karir Robin di dunia akting meredup. Berbagai tawaran untuk tampil di layar lebar datang kepadanya. Namun berbeda dengan sebelum mendekam di penjara, selepas menghirup udara kebebasan ia memutuskan untuk beralih ke film-film bergenre drama dan komedi.
Debutnya di dunia akting selepas keluar dari penjara adalah membintangi film bergenre drama berjudul Tulak ng Bibig, Kabig ng Dibdib. Setelah debut perdananya kembali ke dunia perfilman Filipina, sejumlah tawaran untuk bermain dalam film menghampirinya.
Beberapa film yang pernah ia bintangi setelah dibebaskan yaitu Bakit Ngayon Ka Lang, Hari ng Selda: Anak ni Baby Ama 2, Tunay na Tunay: Gets Mo? Gets Ko, Ooops…, Teka Lang Diskarte Ko To, Kailangan Ko’y Ikaw, You and Me Against The World, Videoke King, dan Pagdating Ng Panahon. Dalam film-film tersebut, ia selalu dipasangkan dengan aktris-aktris ternama Filipina. Sebut saja di antaranya Judy Ann Santos, Angelika dela Cruz, Jolina Magdangal, Claudine Barretto, dan Kris Aquino.
Kiprah ayah dari Ted Matthew (tidtid), Queenie, Kylie, Zhelireen (zhen-zhen), dan Robin Jr (Ali Padilla) dalam dunia akting tidak hanya sebatas di layar lebar, namun juga merambah ke layar televisi. Di antaranya ia pernah membintangi serial TV Asian Treasures produksi GMA Network. Serial televisi yaang dibintanginya ini selalu menempati peringkat atas acara televisi yang selalu ditonton pemirsa.