Jeewan Chanicka : Islam Membuatku Paham Tujuan Hidup

15644KisahMuallaf.com – Apa tujuan hidup setiap manusia. Pertanyaan itu selalu mengemuka dalam pikiran Jeewan Chanicka. “Tuhan tidak mungkin menciptakan manusia hanya untuk mengisi seluruh penjuru bumi,” kenang dia, seperti dikutip onislam.net. Selasa (26/3).

Dari pertanyaan itu, Chanicka berusaha keras untuk mencari jawaban. Pencarian itu dimulainya melalui dalam dirinya. Selanjutnya, ia tanya orang-orang di sekitarnya.

Dari sekian banyak pertanyaan, satu jawaban mengemuka, setiap orang memiliki jawabannya sendiri. Kesimpulan itu semakin memotivasinya untuk lebih memahami apa yang dilakukan setiap individu.

Itu pula yang mendorongnya menjalani pencarian spiritual di usianya yang sangat muda. “Saya ingat, perjalanan itu dimulai ketika saya berusia 10 tahun. Memang, saya belum memahami dengan baik, bagaimana parameter pencarian itu,” kata dia.

Seiring perjalanan spritualnya, Chanicka banyak dipengaruhi pemahaman keyakinan Hindu dan Kristen, dua agama yang begitu dekat dengannya. Ia mulai mencari tahu bagaimana dasar hubungan satu mahkluk dengan penciptanya.

Pengetahuan yang ia dapat dari kedua agama itu, Tuhan menginginkan manusia untuk menjadi pemimpin. Satu perjalanan itu selanjutnya berakhir pada ajaran Islam.

Pada usia 11 tahun, Chanicka menjadi Muslim. Saat itu, pilihannya sangat bertolak belakang dengan keyakinan keluarganya. Ia sangat takut dengan reaksi keluarga atas putusannya itu.

Beruntung baginya, keluarga besarnya memahami pilihannya itu. Namun, mereka khawatir keputusannya itu mendekatkan dirinya dengan kelompok militan yang membunuh jiwa-jiwa tak bersalah atas nama Tuhan.

Chanicka butuh tujuh tahun lamanya untuk membuat keluarganya menerima pilihannya itu. Namun, yang membuatnya khawatir justru bukan hal tersebut.

Ia menyadari, menjadi Muslim di era modern bukanlah hal yang mudah. Label kekerasan dan permusuhan melekat dalam stereotip umat Islam. Tapi ia tidak goyah.

Itu karena, sedari awal komitmennya terhadap Allah Subhanahu Wa Ta’ala jauh lebih kuat ketimbang persoalan duniawi yang melekat di sekitarnya.

“Dari awal, saya tegaskan, hidup dan mati saya hanya untuk Allah Subhanahu Wa Ta’ala,” kata dia. Sejak menjadi Muslim, ia mulai memahami hakikat pertanyaan yang muncul dalam pemikirannya. Tujuan hidup ini adalah berbakti kepada Pencipta.

Implementasi dari keyakinan ini tidak hanya dalam hubungan manusia dengan Tuhan tetapi juga mencakup hubungan antar manusia.

“Saya percaya, Tuhan menempatkan manusia di bumi untuk memenuhi misi ilahiah. Sebuah misi membela kebenaran dan keadilan bagi semua orang tanpa memandang apakah mereka Muslim atau Yahudi, hitam atau putih, kaya atau miskin,” ucapnya.

Itu yang diyakini Chanicka sebagai anugerah dari Tuhan. Baginya, anugerah itu juga menyimpan konsekuensi ia harus menjamin Islam adalah rahmat bagi semesta alam harus sampai ke seluruh umat manusia.

“Saya banyak membaca tentang kisah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Ia seorang manusia biasa dengan kepemimpinan dan komitmen yang kuat. Karakter itu juga terlihat dari karakter Nabi-nabi sebelumnya,” kata dia.

Menurut Chanicka, semua Nabi dan orang-orang saleh memiliki pemahaman yang baik tentang hidup. Ini bukan hanya bicara tentang dakwah tetapi juga perubahan. Mereka berdiri untuk kebenaran. Itulah yang mungkin belum dipahami seluruh manusia di bumi.

Pemahaman akan pentingnya perubahan memanggil Chanicka untuk memberikan sumbangsihnya. Ia memilih jalan menjadi guru yang memungkinkan ia membawa perubahan melalui kualitas anak didiknya.

Memang tidak mudah baginya untuk melakukannya. Ada halang rintang mengemuka, tapi ia tak gentar. “Saya berkomitmen untuk menemukan cara bagaimana memberdayakan anak-anak untuk menciptakan lingkungan yang adil dan inklusif,” ucapnya. Tak mau keliru dalam melangkah, Chanicka coba untuk melihat kembali pendidikan yang ia dapat lalu merenungkan kesulitan apa yang dialami gurunya ketika mendidiknya.

Melalui napak tilas itu, Chanicka coba fokus membantu siswa yang melihat kehidupannya dalam kurikulum yang diberikan. “Terlepas dari apa latar belakang mereka, apapun agama yang mereka anut, suara dan pandangan mereka sangat penting,” ucapnya.

Hal tersebut yang kemudian diungkapkan Chanicka perlu dilakukan umat Islam. Menurutnya, umat Islam itu lahir dengan karakter yang kuat. Mereka tahu siapa dirinya, apa yang mereka yakini, dan mereka jaga nilai-nilai spiritual dengan baik.

“Kita perlu bekerja keras untuk memahami diri, komunitas dan dunia. Ini yang kemudian mendorong saya untuk melakukan sesuatu ketika Islam diidentikan dengan kebencian,” kenangnya.

Ketika mendengar Islam diidentikkan dengan kekerasan, Chanicka selalu menangis. Ia merasa belum melakukan apapun guna membantu masyarakat dunia untuk memandang Islam dalam kacamata yang benar.

“Islam membuat saya mengerti apa tujuan hidup saya. Dengan bantuan Tuhan, saya bisa dan akan melakukan perubahan,”
kata dia.

Source : Republika

Veeramallah Anjaiah, Hikmah Kuliah di Jurusan Sejarah

Veeramallah Anjaiah (tengah)

Veeramallah Anjaiah (tengah)

KisahMuallaf.com – Islam bukanlah hal yang baru bagi Veeramallah Anjaiah. Hidup di tengah komunitas Muslim di Andrapradesh, India, membuatnya mengenal Islam sejak kecil.

“Teman-teman saya Islam. Sementara saya Hindu. Saya bahkan sering ikut berpuasa bersama teman-teman ketika Ramadhan. Dari mereka saya mengenal Islam dan saya merasa tertarik,” katanya.

Ia semakin mengenal Islam saat duduk di bangku kuliah. Ketika itu, pria yang kini berusia 51 tahun ini kuliah di jurusan sejarah.

Nah, salah satu yang ia pelajari di jurusan ini adalah tentang agama, Islam salah satunya. “Saya tertarik dengan kisah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang berjuang tak kenal lelah untuk mengenalkan Islam,” ujar ayah dari tiga anak ini.

Dari ruang kuliah di jurusan sejarah ini, ia tahu bahwa Islam bisa berkembang pesat hanya dalam waktu beberapa ratus tahun dan kini menjadi salah satu agama terbesar di dunia.

Dari bangku kuliah pula Anjai tahu bahwa Islam sangat menjunjung tinggi prinsip kesetaraan dan persaudaraan. Agama ini mengajarkan berbagi melalui zakat dan perayaan Idul Adha.

“Muslim harus saling membantu. Orang kaya harus mengeluarkan zakat untuk membantu orang miskin. Dan, kurban yang disembelih pada Idul Adha diberikan pula kepada mereka yang membutuhkan,” kata pria yang kini telah menjadi warga negara Indonesia setelah menunggu selama 16 tahun.

Islam, lanjutnya, juga mengajarkan disiplin yang tinggi. Selain itu, Islam memiliki peraturan lengkap untuk menuntun kehidupan seorang Muslim. Islam tidak mengajarkan kekerasan dan perilaku radikal lainnya, namun menjunjung tinggi perdamaian. “Jadi, rasanya aneh saja bila banyak kelompok radikal yang terbentuk dan mengatasnamakan Islam.”

Pria yang kini bekerja sebagai redaktur senior di sebuah koran berbahasa Inggris ini semakin mengenal Islam setelah pindah ke Indonesia untuk kuliah di Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

“Di sini saya banyak belajar tentang kehidupan seorang Muslim,” katanya. Keinginan untuk menjadi Muslim semakin kuat ketika Anjai menemukan pujaan hatinya. Seorang perempuan Solo yang bekerja sebagai perawat.

“Kami pertama kali bertemu pada 1995. Ketika itu saya harus mengobati kaki saya yang sakit setelah terjatuh dari Banana Boat saat kantor saya mengadakan liburan bersama di Pulau Aer,” ujarnya.

Mereka bertemu beberapa kali dalam sesi fisioterapi. Kebetulan sang perawat yang asli Solo itu sangat tertarik dengan India. “Kami bertukar pengetahuan.”

Mereka pun saling jatuh cinta. Namun, perbedaan agama mengganjal cinta mereka. Salah satu di antara mereka merasa harus ada yang mengalah. “Istri saya yang masuk Hindu, atau saya yang masuk Islam,” katanya.

Suatu ketika, sang istri berusaha untuk mengalah dan memantapkan hati untuk menjadi seorang Hindu. “Namun, saya menghentikannya. Saat itu saya bilang padanya bahwa dia tidak perlu pindah agama. Karena saya yang akan pindah ke Islam. Lagi pula sejak dulu saya sudah mengenal Islam dan saya sebenarnya sudah lama tertarik,” katanya.

Akhirnya beberapa bulan sebelum pernikahan, Anjai memutuskan untuk memeluk Islam pada usianya yang ke-35 tahun. “Istri saya senang sekali dengan kabar tersebut, begitu juga keluarganya.”

Tak ada respons negatif
Tidak seperti kebanyakan mualaf, Anjai tak mendapatkan respons negatif dari keluarganya ketika memutuskan berislam. “Kedua orang tua saya sudah meninggal saat itu,” katanya.

Sementara, adik-adiknya tidak bermasalah dengan keputusan sang kakak. Lagi pula, keluarganya di India sudah lama mengenal Islam. Mereka juga memandang, Islam sebagai agama yang memiliki ajaran positif.

Kini, Anjai merasa bahagia dengan keislamannya. Dia merasa bangga menjadi bagian dari salah satu komunitas agama terbesar di dunia. Di usianya yang semakin tua, dia berusaha meluangkan lebih banyak waktu untuk mempelajari Islam.

Islam Hadapi Tantangan Besar
Tantangan besar sedang dihadapi Islam saat ini. Tantangan besar itu, menurut Anjai, adalah radikalisme yang telah menumbuhkan citra buruk bagi Islam di mata dunia.

Radikalisme, menurutnya, timbul karena kesalahan dalam menginterpretasikan Islam. “Akhirnya mereka memahami Islam secara berbeda,” katanya.

Karena itu, menurutnya, nilai-nilai agama yang benar harus diberikan kepada setiap Muslim sejak kecil. Anak-anak harus dibuat mengerti bahwa Islam bukanlah satu-satunya agama di dunia ini.

“Kita boleh bilang agama kita paling benar. Namun, bukan berarti menganggap agama orang lain salah. Kita harus mengajarkan anak-anak agar bisa menghargai penganut agama lain,” ujarnya.

Tantangan Islam lainnya adalah ilmu pengetahuan. Anjai melihat, umat Islam saat ini tertinggal dalam hal ilmu pengetahuan. Padahal, di masa lalu, utamanya di abad pertengahan, Islam pernah berjaya di berbagai bidang ilmu pengetahuan, mulai dari sastra, matematika, kedokteran, sampai astronomi.

“Sekarang kita ketinggalan jauh. Coba lihat jumlah pemenang Nobel beberapa tahun ke belakang, tidak ada yang beragama Islam. Begitu juga di Olimpiade Sains. Padahal, jumlah Muslim di dunia mencapai dua miliar orang,” katanya.

Karena itu, menurutnya, dari pada kelompok radikal tersebut berjihad untuk sesuatu yang salah akan lebih baik bila mereka berjihad untuk mempromosikan pentingnya pendidikan dan ilmu pengetahuan. Dengan begitu, umat Islam bisa lebih maju. “Kita harus bekerja lebih keras untuk ini.”

Ida Bagus Mayura, Menjadi Brahmana Muslim

ida bagus mayura (kiri) dan ketua kispa ustaz ferry

ida bagus mayura (kiri) dan ketua kispa ustaz ferry

KisahMuallaf.com – Menjadi bagian dari kasta Brahmana dalam sistem sosial masyarakat Bali adalah sesuatu yang istimewa.

Namun, bagi Ida Bagus Mayura, kasta tidak berarti apa-apa. Tidak membuatnya bahagia.

Sebaliknya, Islam bisa memberikan cara pandang yang lain dalam hidup Mayura. Sesuatu yang menjawab rasa penasarannya akan Tuhan dan pertanyaan-pertanyaan sulit tentang hidup.

Mayura merasakan ketertarikan akan Islam sejak kecil. “Itu karena sekolah saya dekat masjid. Saya perhatikan pola penyembahan Tuhan dalam Islam sangat mudah. Tidak perlu repot-repot menyediakan bunga atau membakar dupa. Di Islam tinggal pakai sajadah, tanpa ada perantara apa pun lagi,” katanya.

Dia juga menyukai suara azan. “Saya merinding setiap kali mendengar azan,” kata pria kelahiran 4 Desember 1964 tersebut.

Kesederhanaan ibadah dalam Islam juga tampak dari proses penguburan jenazah. “Kalau meninggal cukup pakai kafan lalu langsung dimakamkan. Tidak perlu tunggu hari baik untuk menguburkan jenazah. Kalau hari baik baru ada tiga bulan ke depan, bagaimana ruhnya. Sudah jadi mayat saja masih repot. Namun, Islam berbeda,” jelasnya.

Begitu tertariknya dia akan Islam, Mayura bahkan pernah diam-diam mengikuti acara sunatan massal yang diadakan di kampungnya saat itu. “Tapi, ketahuan oleh keluarga, saya diusir,” tuturnya.

Mayura kemudian pindah dari satu mushala ke mushala yang lain untuk istirahat setiap malam hari. Namun tak berapa lama, keluarga menemukannya dan mengajaknya pulang. Sesampai di rumah ia dinasihati panjang lebar, ia tetap bergeming.

Meski sudah diceramahi macam-macam, Mayura tetap teguh dalam pendirian. Dia tetap secara diam-diam mempelajari Islam.

Ia belajar tata cara shalat dari sebuah buku tuntutan shalat. Sampai sekarang, buku itu masih ia simpan.

Meski demikian, dia menahan keinginannya untuk pindah agama karena masih tinggal dengan orang tua. Mayura baru mendeklarasikan keislamannya ketika duduk di kelas tiga SMA.

Tentu saja, keluarga Mayura kaget. Bagi mereka, ini adalah masalah serius. Ia adalah anak laki-laki pertama dari keluarga berkasta Brahmana, tak aneh bila keluarganya marah besar.

Sebagai seorang dari kasta Brahmana, seharusnya Mayura tetap pada keyakinan lamanya. Berpegang pada tradisi yang telah turun temurun diajarkan dalam keluarganya.

Menurut Mayura, jarang sekali seorang Brahmana keluar dari agamanya. Karena itu, keislaman Mayura ditakutkan akan berpengaruh buruk bagi keluarga besarnya.

Akhirnya, Mayura memutuskan untuk meninggalkan rumah. “Saya menghidupi diri saya sendiri. Untungnya, dari dulu saya senang usaha,” tutur alumnus SMA 17 Agustus 1945, Jakarta, ini.

Menikahi Muslimah pada usia 28 tahun, Mayura menikahi perempuan yang dicintainya. Saat itu, sang calon mertua belum yakin apakah calon menantunya sudah masuk Islam atau belum. Akhirnya, mereka meminta Mayura untuk membaca syahadat lagi.

Setelah menikah, Mayura dan istrinya harus menanti cukup lama untuk memiliki anak. Hingga delapan tahun usia perkawinan, buah hati yang ditunggu-tunggu tak kunjung hadir.

Kabar itu pun sampai ke keluarganya. “Mereka langsung berkata bahwa itu adalah karma bagi saya karena telah pindah agama,” ujar Mayura.

Namun, Mayura tak memedulikan ucapan itu. Dia terus bersabar dan berikhtiar untuk memperoleh keturunan. Hingga pada satu titik, Mayura merasa ingin menyerah. Dia telah melakukan segala cara untuk memperoleh keturunan, baik dengan cara medis maupun nonmedis.

“Saya lelah fisik dan juga uang. Saya mulai pasrah dan berniat mengangkat seorang anak. Namun pada saat itulah, Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan saya seorang anak perempuan,” katanya.

Dua tahun kemudian, Mayura mendapatkan seorang anak lagi. Kali ini berjenis kelamin laki-laki. “Lengkaplah rasanya hidup saya.”

Memiliki anak membuat Mayura semakin dewasa dan semakin taat beribadah. Kehidupannya mulai berubah.

Rezeki tambah lancar dan anak-anaknya tumbuh dengan baik. ”Mereka saya ajarkan hidup secara Islam,” kata pria yang kini menjabat sebagai direktur di PT Sentra Hima Putra (SHP) ini.

Selain di PT SHP, Mayura juga mengelola sejumlah perusahaan dan yayasan lain. Kini, ia pun hidup dengan kondisi yang sangat baik.

Secara tak langsung, hal ini mematahkan prediksi keluarganya bahwa Mayura tak akan bisa hidup dengan baik setelah keluar dari agama lamanya.

“Saya bisa menunjukkan bahwa seorang Ida Bagus bisa tetap hidup dengan sangat baik meskipun dia Islam,” ujarnya mantap.

Sampaikan Walau Satu Ayat sebagai seorang Muslim, Mayura begitu ingin memberikan sesuatu bagi agamanya. Ia tak mau berdiam diri dan ingin berkontribusi untuk Islam.

Untuk itu, ia memulai dari diri dan keluarganya. Mayura mengerti betul bahwa hal utama yang harus dilakukan seorang Muslim bagi agamanya adalah dengan menjadi Muslim yang baik. Baru kemudian turut mendakwahkan Islam. “Sampaikan walau satu ayat,” tegas Mayura.

Maka, kepada kedua anaknya, Hima Kania (13) dan Tohpati Putra (10), Mayura berusaha untuk memberikan contoh yang baik. Sejak kecil, Mayura memberi mereka pemahaman bahwa mereka harus hidup sesuai dengan perintah agama.

“Untungnya tidak sulit untuk membuat mereka paham. Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberi saya anak-anak yang cerdas dan pengertian,” kata Mayura penuh syukur.

Pada umur lima tahun, anaknya telah melaksanakan puasa Ramadhan selama sebulan tanpa ‘bolong’. Saat ini, mereka juga telah khatam Al-Quran. Sedangkan anaknya yang perempuan, mengenakan jilbab sejak kecil.

Anak laki-lakinya pun, menurut Mayura, telah paham buruknya merokok. “Saya membuat dia paham lewat contoh yang saya berikan. Saya tidak pernah merokok,” katanya.

Menurutnya, rokok tidak cocok dengan kehidupan seorang Muslim. Karena, lebih banyak membawa pengaruh buruk terhadap kesehatan dan kantong. Islam tidak mengajarkan umatnya untuk menjadi seorang yang boros.

Selain pada anak-anaknya, Mayura pun berusaha mendakwahkan Islam ke teman-teman sekerjanya.

Ia berusaha mengingatkan mereka untuk mengenakan jilbab dan berhenti merokok.

Selain itu, ia pun mengajak teman-teman sekantornya dan kantor-kantor lainnya yang berada di gedung yang sama untuk mengumpulkan zakat.

Dia bahkan membentuk Yayasan Al-Baroqah gedung Cyber untuk mengelola dana zakat yang terkumpul. “Dana yang terkumpul akan disalurkan kembali kepada mereka yang membutuhkan di internal gedung dan masyarakat sekitar tanpa pandang bulu,” ujarnya.

Tak hanya di kantor, Mayura pun berusaha mendakwahkan Islam di kampung halamannya, Bali. “Ini tidak mudah karena masih ada orang yang kadang menjauhi saya, takut ‘terkontaminasi’,” ujarnya.

Mayura masuk dari bisnis pertanian yang dibangunnya di Negara, Bali. Negara dikenal sebagai daerah kantong Muslim di Pulau Dewata.

“Hal yang utama saya lakukan memang bukan berdakwah namun berbisnis. Namun, ujung-ujungnya juga dakwah. Saya terlebih dahulu ingin mengubah wacana pertanian di sana agar produksi padi semakin meningkat. Keuntungan yang diperoleh akan disisihkan untuk membangun yayasan sosial,” prinsip Mayura.

Kini, Mayura mulai merintis usaha perjalanan umrah. Dalam hal ini, ia berniat membuat perjalanan umrah yang terjangkau bagi masyarakat. Tak masalah bila nanti margin keuntungan yang diperoleh kecil.

Sebab, niatnya adalah membantu lebih banyak Muslim agar bisa beribadah ke Tanah Suci, bukan mencari keuntungan. ”Jangan dibalik. Ini salah satu bentuk ibadah saya,” tandasnya.

Veeramalla Anjaiah, Hikmah Kuliah di Jurusan Sejarah

Veeramalla AnjaiahKisahMuallaf.Com – Islam bukanlah hal yang baru bagi Veeramallah Anjaiah. Hidup di tengah komunitas Muslim di Andrapradesh, India, membuatnya mengenal Islam sejak kecil.

“Teman-teman saya Islam. Sementara saya Hindu. Saya bahkan sering ikut berpuasa bersama teman-teman ketika Ramadhan. Dari mereka saya mengenal Islam dan saya merasa tertarik,” katanya.

Ia semakin mengenal Islam saat duduk di bangku kuliah. Ketika itu, pria yang kini berusia 51 tahun ini kuliah di jurusan sejarah.

Nah, salah satu yang ia pelajari di jurusan ini adalah tentang agama, Islam salah satunya. “Saya tertarik dengan kisah Nabi Muhammad SAW yang berjuang tak kenal lelah untuk mengenalkan Islam,” ujar ayah dari tiga anak ini.

Dari ruang kuliah di jurusan sejarah ini, ia tahu bahwa Islam bisa berkembang pesat hanya dalam waktu beberapa ratus tahun dan kini menjadi salah satu agama terbesar di dunia.

Dari bangku kuliah pula Anjai tahu bahwa Islam sangat menjunjung tinggi prinsip kesetaraan dan persaudaraan. Agama ini mengajarkan berbagi melalui zakat dan perayaan Idul Adha.

“Muslim harus saling membantu. Orang kaya harus mengeluarkan zakat untuk membantu orang miskin. Dan, kurban yang disembelih pada Idul Adha diberikan pula kepada mereka yang membutuhkan,” kata pria yang kini telah menjadi warga negara Indonesia setelah menunggu selama 16 tahun.

Islam, lanjutnya, juga mengajarkan disiplin yang tinggi. Selain itu, Islam memiliki peraturan lengkap untuk menuntun kehidupan seorang Muslim. Islam tidak mengajarkan kekerasan dan perilaku radikal lainnya, namun menjunjung tinggi perdamaian. “Jadi, rasanya aneh saja bila banyak kelompok radikal yang terbentuk dan mengatasnamakan Islam.”

Pria yang kini bekerja sebagai redaktur senior di sebuah koran berbahasa Inggris ini semakin mengenal Islam setelah pindah ke Indonesia untuk kuliah di Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

“Di sini saya banyak belajar tentang kehidupan seorang Muslim,” katanya. Keinginan untuk menjadi Muslim semakin kuat ketika Anjai menemukan pujaan hatinya. Seorang perempuan Solo yang bekerja sebagai perawat.

“Kami pertama kali bertemu pada 1995. Ketika itu saya harus mengobati kaki saya yang sakit setelah terjatuh dari Banana Boat saat kantor saya mengadakan liburan bersama di Pulau Aer,” ujarnya.

Mereka bertemu beberapa kali dalam sesi fisioterapi. Kebetulan sang perawat yang asli Solo itu sangat tertarik dengan India. “Kami bertukar pengetahuan.”

Mereka pun saling jatuh cinta. Namun, perbedaan agama mengganjal cinta mereka. Salah satu di antara mereka merasa harus ada yang mengalah. “Istri saya yang masuk Hindu, atau saya yang masuk Islam,” katanya.

Suatu ketika, sang istri berusaha untuk mengalah dan memantapkan hati untuk menjadi seorang Hindu. “Namun, saya menghentikannya. Saat itu saya bilang padanya bahwa dia tidak perlu pindah agama. Karena saya yang akan pindah ke Islam. Lagi pula sejak dulu saya sudah mengenal Islam dan saya sebenarnya sudah lama tertarik,” katanya.

Akhirnya beberapa bulan sebelum pernikahan, Anjai memutuskan untuk memeluk Islam pada usianya yang ke-35 tahun. “Istri saya senang sekali dengan kabar tersebut, begitu juga keluarganya.”

Tak ada respons negatif

Tidak seperti kebanyakan mualaf, Anjai tak mendapatkan respons negatif dari keluarganya ketika memutuskan berislam. “Kedua orang tua saya sudah meninggal saat itu,” katanya.

Sementara, adik-adiknya tidak bermasalah dengan keputusan sang kakak. Lagi pula, keluarganya di India sudah lama mengenal Islam. Mereka juga memandang, Islam sebagai agama yang memiliki ajaran positif.

Kini, Anjai merasa bahagia dengan keislamannya. Dia merasa bangga menjadi bagian dari salah satu komunitas agama terbesar di dunia. Di usianya yang semakin tua, dia berusaha meluangkan lebih banyak waktu untuk mempelajari Islam.

Mangat Ram: Ramadhan Membawaku Memeluk Islam

mangat ramkisahmuallaf.com – Ramadhan 1433 Hijriyah adalah bulan puasa pertama bagi Mangat Ram. Enam bulan lalu, pria 34 tahun itu memutuskan berhijrah menjadi seorang muslim dan mengganti namanya menjadi Ali Abdullah.

Kini, mualaf yang berasal dari Thar, Selatan Provinsi Sind, Pakistan itu, tengah menjalani puasa Ramadhan pertama dalam hidupnya. “Saya sangat bersemangat untuk menjalani puasa. Ini pengalaman baru buat saya,” kata Abdullah seperti dikutip onislam.net, Senin (23/7).

Ramadhan sebelumnya, ia menghabiskan waktunya di kamp penampungan setelah hujan lebat dan banjir bandang menghanyutkan rumah dan ternaknya tahun lalu. Namun, waktu itu ia masih beragama Hindu. “Ramadhan lalu, saya belum menemukan kebenaran Islam. Tapi saya tidak kehilangan semuanya, berkah Ramadhan membawaku pada Islam,” sebutnya.

Sekarang, ia mantap menjalani puasa. Ia mengaku terinspirasi dengan saudara-saudaranya sesama muslim. “Di tengah bencana hebat, mereka tetap saja menjalankan ibadah puasa. Saya kagum dengan semangat saudara-saudaraku,” puji dia.

Abdullah dan keluarganya, saat ini menetap di kamp penampungan yang didirikan Al-Khidmat Foundation di pinggiran Karachi. “Saya terinspirasi dengan bagaimana pengungsi diperlakukan. Ketika agama lama saya membagi masyarakat dalam sejumlah kasta, masyarakat seperti kami pasti diabaikan,” kata Abdullah yang mengucapkan dua kalimat syahadat di sebuah masjid lokal.

Selama setahun terakhir, ratusan umat Hindu telah memeluk Islam di berbagai belahan Sindh. Pun dengan sejumlah orang Kristen di Punjab, yang memutuskan kembali kepada Islam.

Jeremy Boulter: Allah Itu Maha Perkasa, Tak Butuh Perantara

jeremy boulterkisahmuallaf.com – Dalam beragama Jeremy Ben Royston Boulter, seorang penganut Katolik, berkeyakinan bahwa Tuhan sebagai pencipta alam semesta tidak membutuhkan medium untuk berkomunikasi dengan ciptaan-Nya.

Dan sebaliknya, manusia tidak membutuhkan medium untuk berkomunikasi dengan-Nya. Prinsip itu ia jaga saat mencari kebenaran hakiki.

Jeremy dilahirkan memang dilahirkan dalam keluarga Katolik. Akan tetapi ia tidak memercayai Yesus sebagai Tuhan, dan Maria sebagai Ibu Tuhan. Menurutnya, Yesus dan Bunda Maria hanyalah penghubung Sang Pencipta.

“Saya merasa frustasi dengan Perjanjian Lama. Terlalu banyak kejanggalan. Misalnya saja, Tuhan menganggap Yerusalem sebagai istrinya, dan apa yang dipercaya membuat keduanya berposisi sejajar. Tetapi, Tuhan memanggilnya pelacur, dan memintanya agar bertobat. Bagaimana ini?”
kata dia.

Jeremy menduga Alkitab merupakan dalih gereja untuk tujuan tertentu. Merasa tak menerima logika yang dibangun Alkitab, ia memilih untuk mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya.

Ia pelajari sejarah Perang Salib, termasuk manuver Paus saat membangun kekuatan dan kekuasaan di Eropa melalui Portugis dan Spanyol. Ia juga mempelajari pemerintahan teror ala Machiavelli.

“Dari apa yang saya baca, saya melihat upaya gereja menahan dan menolak kemajuan ilmu pengetahuan. Saya percaya Tuhan versi Alkitab adalah palsu, dirancang untuk membohongi banyak orang demi kekuasaan,”
ucapnya.

Dalam pemahaman Jeremy, Tuhan versi Alkitab adalah sosok yang tidak memiliki kekuatan dan kekuasaan. Ia membutuhkan medium untuk berkomunikasi dengan ciptaan-Nya. Jadi, Jeremy sulit menerima logika ini.

Pemahaman itu kian menguat ketika ia banyak membaca fiksi ilmiah dan teori konspirasi primitif. Menurutnya, pemikiran Erich Von Daniken (Chariots of The Goods) dan Charles Berlitz dan William Moore (The Philadelphia Experiment) membuka pikirannya bahwa ada semacam konpirasi yang dilakukan kalangan elit dan pemerintah terhadap masyarakat awam.

Namun, tidak setiap negara dan pemerintahan terlibat dalam konspirasi besar. “Saya membutuhkan perbandingan guna mendapatkan kesimpulan yang pasti. Maka saya jadikan Hindu dan Buddha sebagai bahan perbandingan,” kata dia.

Jeremy mulai mempelajari Hindu. Ia ikuti ritual dalam agama tersebut seperti meditasi. Selama meditasi ia merasa tenang, tapi ketika bicara bagaimana dunia dan manusia tercipta, ia merasa aneh.

“Mereka bicara tentang kosmos, evolusi dan reinkarnasi. Jelas, saya segera meninggalkan agama ini,”
tuturnya.

Usai mendalami ajaran Hindu, ia eksplorasi ajaran Buddha. Dalam kepercayaan Buddha, Jeremy menyimpulkan, setiap manusia mencari pencerahan dan kebebasan dari siklus kelahiran dan kematian.

Pencerahan ini meniadakan ego. “Saya melihat agama ini lebih banyak bicara filsafat,” kata dia.

Jeremy menyimpulkan ajaran Budha seperti konsep dalam pemikiran Karl Marx. Menurut Marx, agama itu adalah candu bagi masyarakat. Karena sifat candu itu, mereka (umat beragama) dikendalikan oleh kelompok elit dalam masyarakat.

Merasa telah memahami ajaran Buddha, ia dalami Toteisme. Jeremy perlu melihat sistem kepercayaan kuno ini guna menarik benang merah dari proses beragama di dunia. Dalam Totemisme, semua hal memiliki penghubung.

Dalam buku James Lovelock, The Revenge of Gaia, disebutkan bahwa bumi adalah sosok yang harus dihormati, mampu membimbing dan melindungi manusia. Namun bagi Jeremy, bumi itu terlalu sempit. Sebab, di luar bumi terhadap langit yang begitu luas.

Guna mendapatkan esensi “penghuni” langit. Jeremy banyak membaca tentang astrologi. Melalui astrologi, ia berusaha memahami mengapa posisi benda langit akan menentukan nasib makhluk. “Untuk sementara, saya menjadi peramal amatir,” ujarnya sembari tersenyum.

Suatu ketika, Jeremy bertemu dengan seorang pria. Ia tak ingat siapa namanya. Yang pasti, pria itu berasal dari Irlandia, penganut Katolik Roma. Ketika bertemu dengannya, Jeremy tengah membaca buku karya Stewart Farrar, Omega. Sepanjang hari mereka berdua berbicara panjang lebar tentang konsep Tuhan.

Pria Irlandia itu setuju dengan pemahaman Jeremy soal kekuatan dan kekuasaan Tuhan. Jeremy berpendapat segala isi alam memiliki sistemnya sendiri, tetapi ada satu hukum yang membuatnya berjalan seiring sejalan dan harmonis. Sebuah hukum semesta yang dikendalikan sosok yang berkuasa dan berkekuatan Mahadahsyat.

Di tahun pertama penikahannya dengan Anabela, perempuan Portugis penganut Katolik, Jeremy berteman dengan pria pecinta alam.

Suatu hari, Jeremy dan istrinya diajak pria itu mengunjungi tempat favoritnya. Jeremy dan istri sengaja membawa anak mereka, Andrei Micael guna menjalani pembaptisan.

“Saya tidak ingin anak saya dibaptis dengan air suci oleh pastor. Saya memilih untuk membaptisnya dengan air sungai, serupa dengan apa yang dialami Yohannes. Kala itu, ia dibaptis dengan air suci sungai Yordan,” ujarnya.

Dalam hatinya, Jeremy merasa aneh dengan konsep baptis. Sebab, ia meyakini bahwa setiap anak yang lahir ke dunia pada dasarnya tidak membawa dosa apa pun. Sebaliknya, orang dewasalah yang seharusnya dibaptis lantaran terlalu banyak melakukan perbuatan dosa.

Usai membaptis anaknya, Jeremy dan keluarga kecilnya kerap dikunjungi ibu mertua setiap musim panas. Seperti istrinya, ibu mertua Jeremy merupakan penganut Katolik Roma. Ia seorang yang antusias dengan konsep trinitas. Hal itu terlihat dari kalung salib yang sering ia gunakan. Sang ibu mertua juga rutin menyambangi tempat-tempat suci.

“Bagi saya, apa yang diperlihatkan ibu mertua adalah hal yang aneh dan menjijikkan. Ia masih saja menerapkan konsep primitif. Sudah jelas, Tuhan itu perkasa. Dari situ, saya bertekad membujuk ibu mertua untuk tidak lagi bertuhan pada sosok yang masih tergantung oleh mediator,”
ungkap Jeremy.

Pikiran Jeremy segera terbang menuju alam logika. Apa yang ditunjukkan ibu mertua, memicu dirinya untuk kembali mengasah kemampuan berpikirnya. “Saya selalu berpikir, bagaimana orang mati apakah masih bisa mendengar? Bagaimana kita tahu tingkat kesalahan mereka? Banyak pertanyaan dalam otak saya. Spontan saja, saya ambil Alkitab,” tuturnya.

Usai membaca Alkitab, Jeremy menyimpulkan, Tuhan membawa umat Yahudi keluar dari Mesir, melepaskan mereka dari perbudakan. Karena itulah, Tuhan melarang umat Yahudi untuk bertuhan selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala, tidak bertuhan pada patung berhala atau mahkluk Tuhan yang hidup di langit dan bumi.

Menurut Jeremy, jika itu benar, maka akan banyak bukti bahwa Allah itu satu. Hanya Dia yang bisa mendengar setiap harapan dari umat manusia. “Saya semakin menyadari bahwa apa yang dikatakan Alkitab bertentangan dengan ajaran gereja. Jelas, Alkitab mengatakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah satu. Saya merasa takut, bahwa saya benar,” ujarnya.

Sejenak pemikiran kritis Jeremy teralihkan dengan persoalan keuangan keluarga. Semenjak putranya lahir. Kebutuhan terus meningkat. Celakanya, pendapatan Jeremy tak kunjung bertambah.

Pada periode inilah, ia mulai menerima cobaan dari Yang Mahakuasa. Cobaan itu sejatinya akan membawa Jeremy pada kekuatan Tuhan seperti apa yang ia yakini selama ini.

Jeremy mulai terjerat utang. Itu terjadi karena ia memutuskan keluar dari pekerjaannya di British Council dan sekolah bahasa di Braga. Alasannya, ia ingin fokus membesarkan putranya. Guna mengimplementasikan niatan itu, ia putuskan membeli rumah karena enggan menetap di apartemen sewa.

Ia sadar bahwa kondisi keuangannya tidak memungkinkan. Oleh sebab itu, ia nekad memijam uang di bank guna membeli rumah dan membuka bisnis kecil-kecilan sebagai guru les bahasa Inggris.

Perlahan tapi pasti, usahanya itu merangkak naik. Sedikit demi sedikit, utangnya berkurang. Tapi Jeremy merasa butuh pemasukan lebih besar. Oleh istrinya, ia disarankan untuk mencari pekerjaan di luar negeri.

Kebetulan, Anabela memiliki banyak kenalan suami teman-temannya yang mencari nafkah di luar negeri. “Saya melihat hanya itu peluang untuk hidup lebih baik,” kata Jeremy.

Suatu malam, Jeremy berlutut menghadap ke timur. Ia curahkan masalah yang ia hadapi kepada Sang Khalik. “Saya katakan pada-Nya, saya merasa putus asa. Saya merasa kesulitan memberi nafkah istri dan anak. Saya meminta pertolongan-Nya. Selama itulah, saya merasa nyaman, dan akhirnya terlelap dalam tidur,” kenangnya.

Keesokan hari, Jeremy menerima kejutan. Dalam kolom surat kabar hari itu, terdapat lowongan pekerjaan di tempat kerjanya yang lama. British Council membutuhkan tenaga untuk ditempatkan di luar negeri. Melihat iklan itu, Anabela menyarankan suaminya agar bekerja di Timur Tengah. Di kawasan itu, menurut pemikiran Anabel, suaminya bakal mendapatkan gaji relatif tinggi.

Awalnya, Jeremy memilih Taiwan. Sayang, ia gagal mendapatkan posisi itu. Dari pilihan yang ada, tersisa Universitas Arab Saudi. Tak disangka, Jeremy diterima untuk mengajar bahasa Inggris. “Segala puji bagi Allah. Ia menjawab doaku. Tapi itu barulah awal, karena Allah memberikan sesuatu yang lebih padaku,” tuturnya.

Jeremy akhirnya berangkat menuju Teluk. Oleh teman-temanya, ia diperingati bahwa di negara itu, Arab Saudi, ia tidak bebas melakukan apa pun.

Bahkan ada koleganya yang menasihati Jeremy agar mengurungkan niatnya itu. “Saya mencoba untuk tidak memikirkan apa yang dikatakan teman-teman. Saya hanya fokus memikirkan bagaimana beradaptasi dengan lingkungan baru,” paparnya.

Benar saja, apa yang diungkapkan teman-temanya itu tidak sesuai fakta. Tiba di bandara, ia disambut dengan hangat. Jeremy memberi poin khusus untuk sambutan ramah tersebut. Awalnya, Jeremy belum merasa tertarik untuk segera mencari tahu seperti apa budaya masyarakat Arab.

Perwakilan kampus segera menjemput dan membawanya. Namun, ia terlebih dahulu harus melalui pemeriksaan paspor dan mengisi formulir kedatangan. Lalu, ia dikirim ke kepala Departamen Bahasa Inggris. Ketika masuk ruangan, ia berhadapan dengan pria berjubah, layaknya pakaian yang dikenakan pria Saudi.

“Ia tidak terlihat seperti orang Arab. Ia pasti merasa tidak nyaman dengan tatapan mataku. Ternyata ia berasal dari Wales, tapi ia telah menjadi Muslim saat bekerja di Brunei, sebelum pindah ke Arab Saudi,” kata Jeremy.

Oleh pria itu, Jeremy diminta untuk beradaptasi selama lima hari sebelum ia resmi mengajar. Lalu, ia diantar menuju rumahnya. Selama perjalanan itu, ia teringat betul pertemuan dengan pria itu. Ingatan itu kembali mendorong Jeremy untuk kembali ke alam logika. Kemampuan berpikirnya kembali diuji.

Jeremy mulai menyadari bahwa Injil dan Taurat saling berhubungan. Tapi ia belum sepenuhnya membaca kitab lain, seperti Talmud, dan Al-Quran. Entah mengapa, ia merasa asing dengan kedua kitab itu. Terlebih, kedua kitab itu menggunakan bahasa berbeda dengan kitab yang pernah ia baca.

Tapi ia tidak menyerah, ia cari kedua kitab itu dalam terjemahan bahasa Inggris. “Saya menuju pusat kota untuk mencari terjemahan itu. Saya menuju bangunan bertingkat di kawasan Ha’il. Lalu saya menemukan bangunan bertingkat bernama Al-Bourj. Di bangunan itu, saya melihat semua toko ditutup pada sore hari,” tuturnya.

Gagal menemukan apa yang ia cari, Jeremy kembali untuk mencari kitab terjemahan itu. Sayang, tak satu pun dari mereka yang memiliki kitab terjemahan. Ia kembali menuju Al-Bourj, kali ini ia beruntung toko yang dicari tidak tutup. Yang membuatnya terkejut, pengunjung toko kebanyakan berasal dari Asia Tenggara dan Oseania.

Namun, Jeremy tetap saja tidak dapat menemukan buku dicari. Merasa frustasi, ia keluar sejenak dari toko. Di luar toko buku, Jeremy melihat ada anak tangga. Ia bermaksud mencari tempat membaca. Kemudian, ia bertemu dengan petugas polisi.

Oleh polisi itu, Jeremy diarahkan ke sebuah ruangan baca. Memasuki ruangan itu, Jeremy melihat rak berisi buku usang. “Saya merasa putus asa dengan apa yang saya alami. Saya sulit menemukan buku dalam bahasa Inggris,” kenangnya.

Beruntung, ada salah seorang staf British Council yang menemukannya. Jeremy lalu meminta bantuan staf itu untuk membimbingnya menemukan buku yang ia cari. Selang beberapa saat, pria berjanggut datang menghampiri Jeremy. “Saya menyapanya, dengan mengatakan saya ingin membaca Al-Quran,” kata Jeremy, yang selanjutnya terlibat diskusi dengan pria tersebut.

Pria berjanggut itu membawa buku tebal dengan sampul mengilap. Pria itu lalu mengatakan pada Jeremy bahwa buku ini bukan terjemahan, melainkan penjelasan dari setiap ayat Al-Quran dalam bahasa Inggris.

“Saya kembali bingung. Saya mengulangi permintaan sebelumnya. Saya ingin terjemahan. Tapi ia ngotot bahwa itu adalah terjemahan,”
kata Jeremy. Akhirnya, ia menerima buku itu, meski sedikit jengkel.

Jeremy merasa pria tersebut tidak peka dengan apa yang tengah dialaminya. Pria itu selalu saja bertanya kepadanya soal alasan di balik keinginan membaca Al-Quran.

Pria tersebut lantas meminta Jeremy agar tidak meletakkan Al-Quran di atas lantai atau kursi. Dilarang pula, menduduki atau menginjak Al-Quran. Larangan lain, jangan membaca Al-Quran di lokasi tidak suci, seperti kamar mandi.

Pria itu juga segera memberi syarat tambahan, yakni selepas membaca Al-Quran diharapkan agar ditaruh kembali di atas rak. Serta tidak membiarkan Al-Quran terbuka dalam kondisi terbalik. “Kenapa begitu?” tanya Jeremy.

Pria itu menjelaskan, Al-Quran berisi firman yang Mahakuasa, jadi seharusnya menghadap ke atas bukan ke bawah. Selepas dibaca, sebaiknya halaman terakhir jangan pula dilipat melainkan diberikan pembatas. Jeremy pun menerima syarat yang diajukan.

Setelah berkutat dengan pria itu, Jeremy mendapatkan apa yang ia inginkan. Ia tak sabar untuk segera pulang ke rumah dan membacanya. Sayang, masa adaptasi segera berakhir. Disamping itu, di Arab Saudi, Kamis dan Jumat adalah hari libur.

Tapi itu tidak masalah buatnya. Sepekan berikutnya, ia kembali meminjam Al-Quran dan membacanya. Entah mengapa, Jeremy merasa membaca intisari Injil dan Taurat. Padahal bukan kedua kitab itu yang ia baca.

“Hal yang menarik dalam Al-Quran, tidak ada sebutan “Nabi Berkata” atau “Kata Allah Subhanahu Wa Ta’ala”. Jadi, saya merasa seperti membaca apa yang disampaikan Tuhan kepadaku,” ucapnya.

Segera saja Jeremy menangis. Hatinya merasa pilu, sakit dan takut. Ia melihat dirinya, keluarganya, dan teman-temannya mencerminkan sikap orang kafir, munafik dan musyrik. “Saya baca Surah Al-Baqarah (2), Ali-Imran (3), An-Nisa (4), Al-Ma’idah (5) dan Al-An’am (6), tiba di bagian akhir, saya melihat isinya padat dan ringkas,” tuturnya.

Tiba-tiba, pada satu surah, yakni Al-Ikhlas yang berbunyi, “Katakanlah: Dia-lah Allah, Yang Mahaesa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.” Jeremy sangat terkejut.

Namun, ia mempertanyakan apakah memang benar, umat Islam benar-benar percaya Tuhan itu Esa. Jika benar, berarti ia telah mengabaikan masalah ini. “Saya terus bertanya-tanya. Saya harus mengkonfirmasi masalah ini dengan temanku yang Muslim,” ujarnya.

Lalu, Jeremy pun berdialog dengan temannya yang bernama Ismail Rostron—mualaf kulit putih—dan Jamal, Muslim asal Pakistan.

Jeremy tak berhenti takjub dengan apa yang ia alami. Namun, dalam hatinya ia sudah mantap memeluk Islam.

Akan tetapi, ada tiga hal penting yang harus diselesaikan. “Istri saya tentu harus menerima agama ini, lalu ia setuju meninggalkan pekerjaannya dan tinggal bersama saya di Saudi,” kata Jeremy.

Dengan kata lain, Jeremy sebenarnya sudah mantap dengan apa yang ia simpulkan. Hanya saja, ia tidak mau meninggalkan masalah apa pun. Mulailah ia mengajak bicara istrinya. Ia berusaha menjelaskan semuanya tanpa berlebihan.

Anabela terkejut bukan kepalang ketika mengetahui apa yang telah diputuskan suaminya. “Sepertinya kau telah berpindah agama,” kata Anabela dalam surat elektronik yang dikirimkan kepada Jeremy.

Dalam surat balasannya, Jeremy mengaku telah memutuskan untuk memeluk Islam. Anabela sempat kesal lantaran Jeremy tidak berkonsultasi dengannya. Namun, Jeremy meyakinkan sang istri bahwa dirinya belum menjadi Muslim.

“Tapi hati saya telah mejadi Muslim,” ungkap Jeremy. “Saya sempat merasa ragu dengan hal ini, tapi masalah itu sempat lenyap sementara saat Natal tiba.”

Berpaling sejenak dari persoalan dengan istrinya, Jeremy tergerak untuk melihat bagaimana seorang Muslim melaksanakan shalat. Saat itu, ia tengah berjalan-jalan di pusat kota. Spontan saja, ia membeli pakaian tradisional Timur Tengah. Ia kenakan baju itu, lalu ia mengikuti ummat Muslim yang berjalan mengikut asal suara adzan.

Sepanjang jalan, Jeremy sedikit gelisah. Ia berhenti sejenak. Rupanya, shalat sudah dimulai. Ia lihat seluruh orang mengangkat tangannya lalu melipatnya di atas dada mereka. Berada pada barisan belakang, Jeremy langsung saja memasuki shaf yang masih kosong. Ia tiru setiap gerakan shalat.

Selesai shalat, Jeremy dihampiri dua anak-anak. Mereka menyapa Jeremy, “Anda Muslim?”

Mendengar sapaan anak-anak itu, Jeremy gelisah. Tapi dengan tenang ia balas sapaan itu. Tanpa diduga, anak-anak itu memberitahunya bagaimana gerakan shalat yang benar. Mereka mengarahkan bagaimana seharusnya ia bersujud dan rukuk. “Anak-anak itu segera menarik tanganku, entah saya mau dibawa kemana,” kenang Jeremy.

Tak lama, ia sampai di sebuah rumah. Di dalamnya, terdapat remaja berusia 15-16 tahun. Ia lalu menyapa Jeremy. Lantaran tidak mengerti apa yang diucapkannya, Jeremy hanya mengangguk. Remaja itu beranjak dari tempat duduknya, lalu memasuki ruangan lain. Lima menit kemudian, ia sajikan secangkir kecil kopi Arab. Jeremy dan remaja itu lalu terlibat perbincangan.

Remaja itu hanya bisa membalas pertanyaan Jeremy dengan bahasa isyarat. Dari isyarat itu, Jeremy mengartikan bahwa ia harus menunggu. Tak lama berselang, datang seorang pria dewasa. Dia tampak terkejut ketika melihat saudaranya bersama Jeremy.

“Amerika?”
tanya Pria itu.

“Tidak, Saya Inggris,” jawab Jeremy.

“Selamat datang,”
sapa pria itu. Lalu pria itu mengucapkan “Tawadha!”, yang artinya ambil wudhu. Ia ingin Jeremy bersiap-siap menuju masjid guna melaksanakan shalat Isya. Seperti sebelumnya, Jeremy meniru setiap gerakannya.

Kian mantap Jeremy memeluk Islam. Ia datangi kantor Perkembangan Dakwah Islam. Kepada mereka, Jeremy mencari informasi resmi terkait perpindahan agama.

Beberapa langkah memasuki kantor itu, Jeremy begitu terkejut ketika begitu banyak warga Eropa. Duduk sejenak, ia disapa pria India bernama Syekh Farooq. “Ada yang biasa saya bantu?” tanya si syekh.

Mendengar suara Farooq yang lembut, Jeremy begitu lega. Sebab, ia merasa gelisah sedari awal sebelum memasuki gedung. Namun, ternyata prosesnya tidak semudah yang dibayangkan. Oleh Farooq, ia diminta mengikuti sejumlah pelatihan sebelum menjadi Muslim.

Saat itu, tak hanya Jeremy saja yang mendatangi kantor tersebut. Ada dua orang lain. Yang pertama berasal dari Filipina, namanya Daud. Ia seorang Kristen yang bekerja di apartemen tempat Jeremy tinggal. Yang kedua, John. Ia menjadi Muslim karena istrinya seorang Muslim. Keduanya merupakan teman dekat Jeremy.

Ketiganya akhirya dimasukkan dalam program yang sama. Mereka dibimbing oleh dua orang Muslim yang bernama Syekh Ehad atau Abu Abdurrahman dan Syekh Farooq. Keduanya menjelaskan Islam dengan rinci dan sederhana. “Mereka mengatakan Islam adalah agama monoteisme. Menjadi Muslim merupakan langkah besar dalam hidup kalian,” kata Jeremy menirukan dua pembimbingnya.

Dari setiap penjelasan yang diberikan, kata Jeremy, ada satu hal yang menarik perhatian, yakni setiap Muslim di mata Allah itu sama, yang membedakan adalah kualitas iman dan takwa.

Selain itu, setiap Muslim mungkin saja masuk neraka apabila melakukan perbuatan yang dilarang oleh Allah. Pertanyaannya, manusia tidak pernah tahu kapan waktu kematiannya. “Saya langsung terdiam. Menurut pembimbing, karena itulah setiap Muslim harus berbuat baik,” kata Jeremy.

Tak lama kemudian terucaplah kalimat syahadat, “Asyhadu an laa ilaha illa Allah, wa asyhadu ana Muhammad nabiyyan wa rasulullah.” Jeremy resmi menjadi Muslim. Selanjutnya, salah seorang pembimbing meminta Jeremy mengganti nama.

“Nama apa yang anda inginkan. Sekarang anda telah menjadi Muslim. Anda seperti bayi yang baru lahir,”
kata Jeremy menirukan ucapan pembimbingnya. Jeremy sempat bingung. Sebab, ia tidak pernah berpikir mengganti namanya.

Sore hari, tepatnya pukul empat sore, ia bersama pembimbing lainnya, Yusuf, belajar cara berwudhu. Ia tunjukkan kepada Jeremy bagaimana berwudhu yang baik. Ia memastikan tidak ada kesalahan urutan dan gerakan. “Ketika anda shalat, anda harus bebas dari lapar atau haus atau keinginan buang air kecil,” pesan Yusuf kepada Jeremy.

Namun, Jeremy spontan saja membersihkan diri. Ia ingin melaksanakan shalat Mahgrib dengan kondisi tubuh bersih. Ia mengingat apa yang dilakukan seperti proses pembaptisan Yohanes.

“Sebenarnya jauh berbeda. Dalam Islam ada urutan yang harus dipenuhi. Pertama yang dilakukan membersihkan bagian pribadi. Lalu lakukan wudhu. Selanjutnya, basuh tubuh dengan air dimulai dari kanan, selanjutnya kepala,” tuturnya.

Selesai mandi dan berwudhu, pembimbingnya kembali memanggil. Ia memberitahu Jeremy untuk melaksanakan shalat yang pertama kali, sebenarnya yang kedua bagi Jeremy. Ia menghadap kiblat, lalu kedua tangan ke atas lalu melipatnya di dada. Lalu membungkukkan badan, sujud dan duduk di antara dua kaki. “Saya merasakan kualitas spiritual yang luar biasa. Alhamdulillah,” ucap Jeremy penuh syukur.

Pandit Bane Musalmaan, Terimalah Islam Agar Selamat Dunia Akhirat

Pandit Bane Musalmaankisahmuallaf.com – Pandit bane Musalmaan, 42 tahun, warga negara India, duduk dengan pulpen dan pikiran penuh dengan sesuatu. Ia menulis kisah hidupnya, Pandit bane Musalmaan nama panggilan di tempat kelahirannya, ia sebelumnya adalah seorang Pendeta Hindu dari India yang memeluk Islam. Namanya pun berganti Abdur Rahman.

Warga negara India ini bekerja sebagai penjaga toko di Saudi Bin laden BTAT, pada Proyek King Abdul Aziz Endowment, salah satu perusahaan konstruksi yang menangani proyek di sebrang masjidil Haram Mekkah.

Sebelum datang ke Jeddah dan memeluk Islam, Abdur Rahman dikenal sebagai Sushil Kumar Sharma. Kampung halamannya di Amadalpur, sebuah desa kecil di Haryana, negara bagian India sebelah utara. Ia lahir dalam keluarga Hindu ortodoks dengan keistimewaan memimpin ritual keagamaan di kuil desa.

Saat tinggal di tempat penampungan perusahaan di Jeddah, seorang kawan memberinya beberapa buku Islam dalam bahasa Hindi. Ia kemudian dipindahkan ke Riyadh untuk bekerja pada sebuah proyek di kampus perempuan Universitas Putri Noura. “Di tempat penampungan itulah saya bertemu sejumlah Muslim dari India dan Pakistan yang menjelaskan tentang agama Islam kepada saya,” tutur Sharma.

Salah satu di antara mereka adalah sahabat karib Sharma. Namanya Salim, berasal dari Rajasthan—sebuah negara bagian di barat laut India. Mereka berdua tinggal dalam satu kamar. Saat-saat senggang, Salim menceritakan kisah-kisah nabi dalam Islam dan membacakan hadis Rasulullah SAW. “Hati saya bergetar. Dan saya mulai bertanya-tanya pada diri sendiri. Apa yang akan terjadi padaku setelah mati? Apakah aku akan masuk neraka selamanya karena dosa-dosaku? Saya takut dengan azab kubur bagi orang-orang berdosa dan kafir,” ungkap Sharma.

Ia pun mulai menghabiskan malam tanpa dapat memejamkan mata. Ia merasa sudah waktunya untuk memeluk Islam dan menjadi seorang pengikut Nabi Muhammad yang setia. Akhirnya, pencarian panjang Sharma akan kebenaran menemui ujungnya. “Keesokan harinya, saya mengungkapkan niat untuk memeluk Islam kepada Salim dan rekan-rekan lain di penampungan. Ada sorak kegirangan di tempat kerja kami. Semua orang bahagia, mereka mengucapkan selamat dan memelukku,” kenang Sharma.

“Bagi saya, Islam itu adalah sistem persaudaraan universal yang tidak mengenal kasta, perbedaan, warna kulit, atau ras. Inilah yang membuat saya tertarik pada Islam,” ujarnya.

Esok harinya, digelar pertemuan dengan para anggota Kantor Koperasi untuk Panggilan dan Bimbingan di Al-Batha, Riyadh. Imam masjid di penampungan menuntun Sharma mengucapkan dua kalimat syahadat. “Saya mengucapkan dua kalimat syahadat dengan sepenuh hati, menerima Allah sebagai Tuhan dan Muhammad SAW sebagai Rasul-Nya. Imam masjid juga menyarankan saya untuk mengganti nama menjadi Abdur Rahman. Saya pun menerimanya,” kenang Sharma.

Setelah itu, Sharma alias Abdur Rahman dipindahkan ke Bahra, sebuah kota yang terletak di dekat jalan raya Makkah-Jeddah. Mandor proyek juga senang mengetahui dirinya telah memeluk Islam. Sang mandor pun bersikap baik padanya dan kerap mengulurkan bantuan. “Namun, saya ingin dekat dengan Tuhan,” kata Rahman. “Saya berdoa kepada Allah agar memindahkan saya ke Makkah. Alhamdulillah, doa saya dikabulkan. Saya pun dipindahkan ke tempat kerja yang dekat dengan Masjidil Haram.”

Pulang kampung dan berdakwah

Kini, Abdur Rahman memiliki tugas besar; menyampaikan pesan-pesan Islam kepada anggota keluarganya. Ia memiliki seorang istri dan dua putra; tujuh tahun dan 16 enam belas tahun.

Ia pun telah memberitahu keluarganya via telepon, bahwa dirinya telah memeluk Islam dan menjadi seorang Muslim. Awalnya, mereka tidak percaya. Istrinya mengatakan akan menentukan sikap setelah Rahman pulang kampung saat libur nanti. “Tiap hari saya berdoa dan bermunajat kepada Allah SWT agar membimbing keluarga saya ke jalan yang lurus, dan melembutkan hati mereka untuk menerima Islam,” kata Rahman dengan air mata berlinang.

Rahman juga sadar—sebagai bekas pendeta yang dihormati—akan menghadapi banyak tentangan dari saudara, teman dan kerabat satu desanya. Namun, ia bertekad menghadapi mereka dengan dakwah dan hikmah. “Saya yakin Allah akan membantu saya,” ujarnya.

Abdur Rahman juga berpesan kepada semua orang, “Saya ingin menyampaikan pesan ke seluruh non-Muslim di dunia untuk menerima Islam, agar mereka selamat di dunia dan akhirat.”

Dr. Maharaj, Telah Mempelajari 10 Ajaran Agama Sebelum Memutuskan Masuk Islam

RELIGIONkisahmuallaf.com – “Ini adalah nikmat Allah yang tiada tara. Dia telah melimpahkan kekayaan yang tak ternilai harganya pada saya, sebuah agama yang benar, yaitu Islam. Saya merasa menjadi orang yang paling beruntung dan paling sukses di dunia,” demikian ungkapan Dr. Saroopji Maharaj saat ditanya bagaimana perasaannya setelah masuk Islam.

Dr. Maharaj adalah seorang tokoh Hindu terkemuka di Achariya Mahant, India. Ia beserta istri dan anak perempuannya masuk Islam pada bulan Ramadhan tahun 1986 di kota Bhopal, India. Setelah menjadi muslim, Maharaj menggunakan nama islami Islamul Haq.

“Setelah bersyahadat dan menjadi seorang muslim, saya merasa menemukan kehidupan yang lebih terarah dan terlepas dari liarnya kehidupan duniawi selama ini,” ujarnya.

Tokoh terpandang, kaya dan berpendidikan di lingkungannya ini mengaku masuk Islam atas kemauan sendiri, setelah melakukan pencarian dan mempelajari beragam ajaran agama. Dalam pencariannya itu, Dr Maharaj akhirnya menemukan kebenaran Islam dan ia ingin menjadikan dirinya contoh untuk menolak pandangan masyarakat dunia yang selama ini menuding Islam disebarluaskan dengan kekerasan, dengan pedang.

Dr. Maharaj lahir dan dibesarkan di tengah keluarga Hindu yang taat. Ia sendiri pernah bekerja sebagai pendeta agama Hindu di beberapa institusi agama Hindu di India. Tugasnya, selain menyebarkan ajaran Hindu, mendata dan melatih para siswa calon pendeta.

Sebagai seorang doktor di bidang ilmu agama dan orientalisme, Dr Maharaj pernah diundang Paus Santo Paulus VI berkunjung ke Vatikan. Dalam kunjungannya, ia mengaku mendapat tekanan kuat agar ia mau menerima ajaran Katolik. Ia diminta untuk memberikan ceramah dengan tujuh topik berbeda. Namun ia berhasil menyelesaikan tugasnya dengan baik. Paus memberikan penilaian terbaik atas topik kekristenan yang dipaparkan Maharaj, dan untuk itu ia diberi penghargaan kehormatan berupa pengakuan sebagai warga kota Vatikan.

“Meski demikian, saya sama sekali tidak tertarik dengan ajaran Kristen. Saya pulang ke India dan melanjutkan pekerjaan saya sebagai pendeta agama Hindu,” ujar Maharaj yang menguasai 12 bahasa asing ini.

Dr. Maharaj mempelajari 10 ajaran agama yang ada di dunia. Tapi, jauh sebelum memutuskan masuk Islam, Maharaj mengakui kebenaran ajaran Islam. Pada tahun 1981, ia diundang oleh Dada Dharam, seorang tokoh agama Hindu yang cukup dikenal masyarakat internasional. Dhram tiba-tiba menanyakan pada Maharaj, “Engkau sudah mempelajari berbagai agama di dunia. Agama mana yang menurutmu terbaik untuk manusia?” Jawaban Maharaj atas pertanyaan itu adalah “Islam”.

Dharam lalu berkata, “Tapi Islam adalah agama yang terlalu mengekang umatnya”.

Maharaj menjawab, “Agama yang disebut sangat mengekang itu, juga memberikan kebebasan. Justru agama yang dianggap tidak mengekang manusia malah memperbudak manusia. Manusia membutuhkan agama yang tetap ‘mengekang’nya, agama yang mengatur manusia dengan ketat dalam masalah kehidupan duniawi, tapi membebaskannya dalam kehidupan akhirat kelak. Menurut saya, cuma Islam yang memenuhi kualifikasi sebagai agama yang paling baik.”

“Islam memiliki akar yang kuat dan abadi. Takkan ada kekuatan di bumi yang bisa menghancurkan atau melenyapkannya. Islam mungkin bisa hilang dari kehidupan seorang muslim yang imannya lemah. Tapi Islam, biar bagaimanapun juga, akan terus tumbuh dan berkembang sepanjang masih ada seorang muslim yang memiliki semangat hijrah dan kemenangan, sepanjang dalam diri seorang muslim masih ada antusiasme untuk bersyukur dan bertakwa,” papar Maharaj.

Setelah menjadi seorang muslim, Dr Maharaj melepas semua kekayaan harta benda dan kenyamanan hidup yang ia miliki selama ini. Ia rela melepas itu semua demi Islam. “Menjadi orang terkaya tidak akan memberikan kebahagiaan dan kepuasan pada diri saya, seperti yang saya dapatkan dari agama Islam,” ujarnya.

Ditanya soal pendapatnya tentang sosok muslim yang baik. Maharaj menjawab bahwa tidak ada muslim yang lebih baik daripada Nabi Muhammad Saw. Namun ia mengatakan bahwa muslim yang baik seperti lebah yang hanya mau hinggap di bunga-bunga yang indah dan wangi, bukan di tempat-tempat yang kotor. Lebah memberikan madu, dan bukan racun. Madu yang bermanfaat bukan hanya untuk mereka sendiri, tapi juga makhluk lain seperti manusia dan hewan lainnya.

“Itulah sebabnya, saya bersungguh-sungguh mengajak semua muslim di dunia agar tetap berpegang dan mematuhi apa yang telah diwariskan oleh Nabi Muhammad Saw, berjalan menyeberangi sungai dunia dan sampai ke seberang dengan aman …”

“Masih banyak waktu bagi kaum Muslimin untuk memperbaiki diri dan berkonsentrasi pada visi mereka pada kebenaran. Jika kaum Muslimin memiliki sikap seperti itu, Insha Allah, kita akan sukses dalam hal apapun yang kita lakukan,” tukas Maharaj.

Dr Maharaj berencana untuk membuat gerakan dakwah yang kegiatannya mencakup upaya membela dan melindungi Islam, memberikan dukungan dan menggalang persatuan kaum Muslimin dan menyebarkan ajaran Islam yang mulia ke seluruh dunia dengan damai.

Abdallah, Sulit Menerima Gagasan Banyak Tuhan Untuk Disembah

abdallahkisahmuallaf.com – Ketika memutuskan memeluk Islam, ia tak mendapat dukungan dan panduan khusus dari Muslim lain. Namun tekadnya bulat untuk tetap belajar dan berkontribusi dalam dakwah demi bisa membantu mualaf lain menjalani transisinya dengan lebih mudah.

Itulah Abdallah, lelaki berdarah India yang lahir dan besar di Toronto. Kehidupan dia sebelum Muslim adalah campuran antara India, agama Hindu dan budaya barat ala Kanada. “Sehingga ketika saya besar, saya masih mengenal baik budaya, bahasa saya dan juga agama orang tua,” tuturnya.

Ia juga kerap mendatangi kuil, selalu pergi ke kemah musim panas, sekolah Minggu dan mengikuti kegiatan keagamana. “Jadi saya melalui semua adat istiadat dan ritual baik milik orang tua saya di rumah maupun di sekolah,” ungkapnya.

Sewaktu menjadi pelajar, Abdallah mengaku tipe yang serius, terutama saat duduk di bangku SMA. Namun ia juga tetap suka bersenang-senang. “Saya sangat suka musik, bahkan pada usia 11 tahun saya bisa bermain gitar,” katanya.

Perjalanannya menuju Islam, menurut Abdallah jauh dari kebanyakan mualaf lain. “Saya merasa tidak memiliki masalah secara emosional yang mendorong saya menuju kebenaran,” tuturya. “Hanya saja sewaktu muda saya sudah merasa tidak cocok dengan agama orang tua,” imbuhnya.

Meski, ungkapnya, ada suatu saat ia begitu membela dan taat terhadap agama orang tuanya. “Saya begitu taat seperti kerang. Namun saat itu yang terasa kosong, karena saya sadar bahwa saya hanya mencoba membela diri dan berpikir orang-orang akan menyerang keyakinan ini dari berbagai aspek,” ujarnya.

Abdallah sulit menerima gagasan banyak tuhan untuk disembah. “Itu rasanya tidak cocok untuk saya. Selain itu banyak pemaparan berbeda yang sama sekali tak logis apalagi ilmiah,” ujarnya. “Saya tidak puas dengan kebenaran yang saya yakini saat itu.”

Ia pun memutuskan untuk meninggalkan agama orang tua pada usia remaja. Keluar dari Hindu ia pun menuju Injil. “Saya membaca kitab itu dan begitu indah karena saat itu ada konsep satu Tuhan. Kalau tidak salah saya temukan itu pada Kitab Perjanjian Lama,” tutur Abdallah.

Tuhan yang Abdallah kenal dari Injil, menurutnya sangat baik hati dan di saat bersamaan, hadir konsep nabi, seorang manusia pembawa pesan tuhan dan ia bukanlah entitas Esa. “Bisa saya bilang konsep itu sangat menarik hati saya. Setelah itu pencarian saya terus berjalan.”

Ia pun membuka bagian Kitab Perjanjian Baru. “Lagi-lagi saya bahagia dengan nilai-nilai yang saya temukan. Saya jatuh cinta dengan karakter Yesus. Namun sosok dia sebagai entitas lain Tuhan, sulit saya terima dalam hati, tidak cocok bagi saya,” tuturnya.

Saat itulah ia mulai menolak semua agama dan menjadi atheis untuk beberapa saat. Namun ia pun sulit untuk bisa menerima konsep atheisme. “Karena saya tahun, dari dalam hati ataupun dari logika yang saya temukan di sekitar, semua ini pasti diciptakan oleh sesuatu yang luar biasa. Jadi saya pun terus berjalan dari satu agama ke agama lain, Budha, Katholik, kuil Sikh, bahkan juga kembali berdoa bersama orang tua saya,” ungkapnya.

Satu-satunya agama yang tak pernah ia usik dan ia lihat saat itu adalah Islam. Mengapa? “Orang tua saya dari India dan tinggal d kota Muslim di sana. Jadi ketika kami dewasa kami bersentuhan dengan Islam, meski mungkin bukan ajarannya, melaikan gaya hidup Muslim di sana,” tutur Abdallah.

Ia merasa memiliki pehamaman selip. “Setiap kali berpikir tentang Islam maka saya memiliki pandangan mereka adalah teroris, atau menindas hak wanita. Itulah yang menahan saya untuk melihat agama itu lebih jauh,” ujarnya.

Sebenarnya ia memiliki beberapa teman Muslim di SMA, bahkan ada yang menjadi teman baiknya. Namun karena mereka bukan tipe yang taat beribadah, Abdallah mengaku tak menangkap pesan-pesan Islam lewat perilaku mereka.

Akhirnya saat ia masuk universitas, Abdallah menemukan tempat di mana ia bisa membuka diri dari gagasan apapun. “Saya bisa mempertanyakan apapun dan bahkan diri saya,” ujarnya. Hingga akhirnya ia menemukan buku tentang sains dalam Al Qur’an saat hendak menulis tugas akhir untuk gelar sarjana. “Baru itulah saya benar-benar mengkritisi dan melihat apa yang diajarkan oleh Islam.”

Saat mengkaji, Abdaallah mengaku dalam kondisi sangat rasional. Ia ingin berpikir berdasar fakta alih-alih emosi. “Karena saya telah melibatkan banyak emosi dalam aktivitas keagamanan sebelumnya dan tak ada yang mengena, sementara yang saya pahami, kebenaran bukan hanya perkara emosi, tapi juga mengandung komponen logis dan rasional,” paparnya.

Pada momen penentuan itulah justru Abdallah menemukan pencerahan. “Semua bahan bacaan mengenai sains dalam Al Qur’an mulai mendorong saya dengan kuat. Tapi yang pasti momen penentuan itu terjadi ketika akhirnya saya mengucapkan syahadat,” aku Abdallah.

Kehidupan seusai Memeluk Islam

“Setelah menjadi Muslim, Abdallah bercerita kepada orang tuanya dan orang-orang di dekatnya. Ia juga mulai memelihara janggut. “Mereka pun memiliki pandangan selip terhadap saya, seperti yang pernah saya punya,” ungkapnya.

Namun Abdallah tak menyalahkan mereka. “Sebenarnya itu disebabkan murni ketidaktahuan dan tak ada seorang pun yang menjelaskan kepada mereka, tak ada yang merangkul mereka untuk memaparkan seperti apa kebenaran dan betapa indahnya Islam itu,” kata Abdallah.

Begitupun saat orangtuanya sedikit bereaksi negatif, Abddalah melihat itu sekedar reaksi  emosi. “Mereka toh akhirnya tidak memandang rendah ketika saya akhirnya menjadi orang lebih baik dan mengapa saya memutuskan berubah,” ujarnya.

Saat menjadi Muslim, Abddalah tidak menemukan jaringan dukungan atau bahkan web sosial yang bisa memandunya sebagai Mualaf. “Tak ada mesin besar untuk menyebarluaskan kebenaran tentang agama. Karena itu saya berpikir kontribusi pribadi saya akan bermanfaat, sekaligus jalan bagi saya untuk memahami agama ini setiap hari,” ujanya.

“Saya melakukan ini agar bisa memberi panduan pula bagi mualaf lain, membantu mereka melakukan transisi semulus dan semudah mungkin dan membuat mereka memahami bahwa ketika mereka menjadi Muslim, mereka tak akan kehilangan identitas.”

Abdallah ingin memastikan bahwa mereka masih tetap diri mereka yang dulu dengan kesukaan, ketertarikan dan hobi masing-masing.

“Saya pikir hal terbesar yang saya dapat dari Islam adalah kepuasan dalam hati. Saya akhirnya memahami mengapa saya di sini dan mengapa alam semesta diciptakan. Saya merasa menyatu dan sejalan dengan alam di sekitar saya, menyatu dengan setiap manusia, bahkan makhluk-makhluk tuhan,” ungkap Abdallah.

“Sungguh menimbulkan perasaan indah setiap kali bangun pagi, mengingat Tuhan dan mengingat anugerah yang telah Ia berikan kepada manusia. Itulah yang memunculkan sikap hormat saya terhadap setiap manusia, setiap makhluk, hewan, tumbuhan, apa saja. Islam adalah sistem kebenaran di banyak hal. Saya kini belajar untuk lebih menghormati orang tua, tetangga saya, orang-orang dari keyakinan lain dan dari budaya lain,

“Saya kira ini adalah jenis rasa hormat yang diperlukan, terutama di kekinian di mana kita masih perlu menyembuhkan luka dari masa lalu,”

sumber: Republika.co.id

Noor, Dari Hindu Menuju Cahaya Islam

Hindu Masuk Islam
kisahmuallaf.com – Sebut saja namanya Noor. Ia adalah muslimah, berlatar belakang pendidikan Universitas Essex, Inggris, jurusan biologi. Sebelum menjadi muslimah, Noor seorang penganut agama Hindu.
Sebagai anak perempuan yang lahir dari keluarga Hindu, ia dididik untuk meninggikan harga dirinya. Keluarga mengatur dengan siapa ia harus menikah–tak peduli ia suka atau tidak– punya anak dan mengurus suami. Lebih dari itu, sebagai perempuan, ia menyaksikan banyak aturan Hindu yang menindas perempuan.
Jika seorang perempuan Hindu berstatus janda, maka ia harus selalu mengenakan baju sari warna putih, rambutnya harus dipangkas pendek, makannya pun hanya boleh sayur-sayuran dan ia tidak boleh menikah lagi.
Seorang perempuan Hindu yang akan menikah, harus membayar mahar pada keluarga calon suaminya. Si calon suamin bisa meminta apa saja sebagai mahar, tak peduli jika calon isterinya bakal kesulitan memenuhi permintaan mahar itu.
Jika setelah menikah, isterinya tidak mampu melunasi maharnya, si suami berhak menindas isterinya baik secara emosional maupun secara fisik, yang biasanya berujung pada tindak kekerasan dalam rumah tangga. Sang isteri bahkan bisa kehilangan nyawa dan menjadi korban “dapur kematian”, sebuah istilah untuk perempuan-perempuan Hindu yang menjadi korban suami dan ibu mertuanya, dimana seorang suami atau suami dan ibunya membakar seorang isteri saat ia sedang memasak di dapur, tapi kondisinya dibuat seolah-olah itu sebuah kecelakaan tak sengaja.
Peristiwa ini banyak menimpa perempuan Hindu yang tidak mampu melunasi mahar suaminya. Noor menyaksikan sendiri, bagaimana anak perempuan teman ayahnya menjadi korban insiden “dapur kematian.”
Sementara kaum lelaki dalam masyarakat Hindu, diperlakukan ibarat “dewa”. Dalam sebuah perayaan agama Hindu, gadis-gadis Hindu yang belum menikah diwajibkan berdoa pada Dewa Shira, agar mendapat suami yang seperti dewa itu. Setiap kali memperingati hari raya itu, Noor juga diperintahkan melakukan hal yang sama oleh ibunya.
“Saya melihat bahwa agama Hindu berdasarkan atas takhayul dan hal-hal yang tidak nyata, hanya berdasarkan pada tradisi semata, yang menindas kaum perempuan. Sesuatu yang menurut saya tidak benar,” kata Noor.
Selanjutnya, ketika tinggal di Inggris untuk kuliah, Noor berpikir bahwa Inggris setidaknya negara yang menghormati persamaan hak antara lelaki dan perempuan, tidak menindas kaum perempuan dan perempuan di Inggris bebas melakukan apa saja yang diinginkannya.
“Saya berpikir begitu setelah saya mulai bertemu dengan banyak orang, dengan teman-teman, belajar dari masyarakat yang baru ini dan mengunjungi banyak tempat yang oleh teman-teman menjadi tempat ‘bersosialisasi’ seperti bar, tempat-tempat dansa, dan sejenisnya. Sampai saya menyadari, pada prakteknya ‘persamaan hak’ cuma teori saja,” tukas Noor.
Tentu saja, di masyarakat Barat, perempuan diberi hak dalam bidang pendidikan, pekerjaan dan lain sebagainya. Tapi kenyataannya, kaum perempuan masih mengalami penindasan dalam bentuk yang berbeda, dan dengan cara yang lebih halus.
“Ketika saya pergi bersama teman-teman ke tempat-tempat bersosialisasi itu, saya merasa orang-orang senang ngobrol dengan saya, dan saya pikir itu hal yang normal. Tapi kemudian, saya sadar betapa naifnya saya, dan saya bisa melihat apa sebenarnya yang mereka cari.”
“Saya pun mulai merasa tak nyaman. Saya merasa bukan diri saya sendiri. Saya harus berbusana dengan cara tertentu agar orang menyukai saya. Saya harus bicara dengan cara tertentu untuk membuat mereka senang. Saya merasa makin tak nyaman. Saya makin kehilangan jati diri, tapi saya tidak bisa keluar dari situasi itu. Kalau orang lain bilang melakukan itu semua untuk menyenangkan diri mereka sendiri, saya tidak menganggapnya seperti itu,” papar Noor.
Menurutnya, perempuan dengan cara hidup seperti itu adalah perempuan yang tertindas. Mereka memilih busana dan cara berbicara agar disukai dan menarik perhatian kaum lelaki. Noor lalu merasa bahwa ia harus mulai melakukan sesuatu, untuk menemukan sesuatu yang membuatnya aman, nyaman, bahagia tapi tetap dihormati. Sesuatu itu, pikir Noor, adalah sebuah keyakinan yang benar, karena seseorang hidup berdasarkan keyakinannya itu.
Apa yang terlintas di benak Noor itu terbukti ketika ia masuk Islam. “Agama yang saya yakini ini sangat lengkap dan jelas mengatur semua aspek kehidupan. Saya menemukan rasa aman dengan memeluk agama Islam,” ujar Noor.
“Selama ini, banyak orang yang salah menafsirkan Islam. Islam mereka anggap sebagai agama yang menindas perempuan, karena mewajibkan seorang perempuan menutup tubuhnya dari ujung kepala hingga ujung kaki, tidak memberikan kebebasan dan tidak menghargai hak perempuan. Padahal, Islam memberikan banyak hak pada kaum perempuan, bahkan sejak 1.400 tahun yang lalu jika dibandingkan dengan isu hak perempuan non-Muslim di Barat yang relatif masih baru. Sampai sekarang, masih banyak kaum perempuan yang tertindas dalam masyarakatnya, contohnya dalam masyarakat Hindu yang saya ceriakan tadi,” sambung Noor.
Kaum perempuan dalam masyarakat Islam, ungkap Noor, berhak atas harta warisan, boleh mengelola bisnis dan usaha mereka sendiri, berhak atas pendidikan bahkan berhak menolak lamaran seorang lelaki sepanjang alasannya kuat dan bisa dibenarkan. “Banyak ayat dalam Al-Quran yang menegaskan tentang hak-hak perempuan itu dan perintah agar para suami memperlakukan isterinya dengan baik. Islam adalah agama yang sempurna,” tukas Noor.
“Pada akhirnya, saya ingin mengatakan bahwa saya menerima Islam tidak dengan cara yang buta atau atas paksaan. Al-Quran sendiri mengatakan, tidak ada paksaan masuk Islam. Saya masuk Islam atas dasar sebuah keyakinan. Saya sudah menyaksikan dan mengalami sendiri kehidupan dua masyarakat, masyarakat Hindu dan masyarakat Barat, dan saya tahu apa yang saya lakukan adalah hal yang benar. Islam tidak menindas perempuan, bahkan membebaskannya dari penindasan, memberikan penghormatan dan kemuliaan bagi perempuan,” tandas Noor.
Setahun lebih setelah memeluk Islam, kehidupan Noor banyak berubah. Apalagi setelah ia mengenakan
jilbab. Noor mengaku merasakan sensasi yang membuatnya puas dan bahagia karena ia sudah mematahi salah satu perintah Allah Swt. “Saya merasa aman dan terlindungi. Orang-orang jadi lebih menghormati saya. Saya benar-benar bisa melihat perbedaan sikap mereka terhadap saya, setelah saya mengenakan jilbab,” pungkas Noor.
Plugin from the creators of Brindes Personalizados :: More at Plulz Wordpress Plugins