Assad Jibril Pino: Jadi Muslim, Dosa-dosaku Diampuni

mualaf-ilustrasi-_120619183709-457KisahMuallaf.com – Ada dua pertanyaan yang selalu ditujukan pada sosok Assad Jibril Pino dengan statusnya sebagai Muslim. Pertama, berapa jumlah populasi Muslim di Kuba. Kedua, mengapa anda memilih Muslim.

“Bagiku pertanyaan itu bukanlah beban. Tapi itulah yang terjadi,” kata dia seperti dikutip onislam.net, Senin (15/4).

Assad lahir di Havana, ketika Komunisme Kuba mencapai kejayaannya, Namun, keluarga Assad merupakan pihak yang menentang revolusi Castro. Ini yang membuat Assad harus meninggalkan negaranya untuk mencari kehidupan yang lebih netral.

“Ayahku membuat keputusan untuk pindah. Jelas aku merasakan pengalaman traumatis,” kata dia.

Pindah ke Los Angeles, orang tuanya menyekolahkan Assak ke sekolah paroki. Assad juga sering diikutkan acara misa Minggu. Selama itu, ia merasa tidak betah. Ia pun meminta orang tuanya untuk memindahkan sekolahnya ke sekolah umum.

Selesai sekolah menengah, Assad mendaftar di univerasitas California. Ia berminat studi sejarah. Selama masa kuliah, Assad mengalami satu fase dimana terjadi krisis politik di Amerika Latin. Kala itu, pembunuhan terhadap kalangan latin marak terjadi di AS.

“Secara pribadi masa kuliah adalah masa yang berat. Saya mengalami krisis berkepanjangan,” kata dia.

Selesai kuliah, kehidupannya tak juga kunjung membaik. Ia merasa kesal. Keluarganya Assad salahkan lantaran turut andil dalam minimnya rasa bahagia dalam hidupnya. Berulang kali, ia coba motivasi diri. Nyatanya, sulit bagi Assad untuk meraihnya.

“Saya coba berdoa untuk diberikan kekuatan seperti Yesus, Buddha dan Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam,” kenang Assad.

Kekalutan hidup Assad mencapai puncaknya. Ia merasa membutuhkan seseorang untuk membantunya. Sekelabat terpikirkan untuk kembali berdoa. Pertama yang Assad lakukan kembali ke ajaran lamanya. Tapi, itu tidak lama. Ia mulai beralih ke tradisi mistik.

Suatu hari, Assas membeli buku terjemahan yang berisi tentang kisah hidup Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam. Sayang, setelah membeli buku itu ia tak langsung membacanya. Buku itu baru dibacanya ketika melakukan perjalanan ke Miami.

Selama perjalanan itu, setengah buku telah dibacanya. “Kesan yang ia dapat dalam hal ini, Islam begitu mengharamkan cerai, menghargai hak perempuan. Agama ini benar-benar petunjuk hidup yang benar,” kata Assad.

Sekembalinya dari Miami, Assad mulai mencari komunitas Muslim. Harapannya, ia dapat berdialog dan berdiskusi tentang masalah keislaman. Selanjutnya, Assad coba datangi Islamic Center.

Sebelum itu, ia banyak berdoa kepada Tuhan agar diyakinkan hatinya bahwa Islam layak menerimanya. Ketika datang, Assad dikejutkan dengan banyaknya muka asing baik yang berasal dari Asia, Eropa dan Latin. Hari berikutnya, ia pun mengucapkan dua kalimat syahadat.

“Satu hal yang saya ingat, dosa-dosaku diampuni, aku seperti bayi yang baru lahir. Semua dari awal lagi,” kenang Assad.

Setelah mengucapkan syahadat, langkah berikut yang dilakukan Assad adalah memberitahu orang tuanya. Saat itu, Assad lebih memilih mengirimkan surat. Dalam surat itu, ia jabarkan mengapa ia memilih Islam. Lalu mengapa Islam memberikan inspirasi baru bagi hidupnya.

Source : Republika

Amirah Ibrahim: Hidup Lebih Terarah dengan Islam

proud_to_be_a_muslimKisahMuallaf.com – Mosman merupakan sebuah kota kecil di pinggiran utara Sidney, di negara bagian New South Wales, Australia. Populasi Muslim di kota itu terbilang tak terlalu banyak. Mayoritas penduduk kota itu adalah penganut Yahudi dan Kristen.

Pada 2005 lalu, sempat umat Islam di Kota Mosman berniat membeli gedung bekas gereja untuk dijadikan masjid, seperti diberitakan laman ABC Newsonline. Namun, rencana itu sempat ditentang anggota dewan Kota Mosman bernama Dominic Lopez.

”Mosman adalah wilayah Yahudi-Kristen dan tak akan mengizinkan orang-orang dengan keyakinan lain tinggal di sini,” ujar Lopez seperti dikutip ABC Newsonline. Namun, Wali Kota Mosman, Denise Wilton, tak sependapat dengan pemikiran Lopez.

Wali Kota Wilton menilai pendapat yang dilontarkan Lopez sangat mengerikan. Menurutnya, sangat tak berdasar jika seseorang didiskriminasi hanya karena alasan agama. ”Dalam demokrasi, Anda bisa berbeda pendapat. Saya sangat tak setuju dengan pendapatnya,” papar Wilton.

Masih banyaknya kesalahpahaman tentang Islam di Kota Mosman, tidak menyurutkan niat Amirah Ibrahim untuk menegakkan ajaran agama yang paling benar, yakni Islam. Sejatinya, Amirah merupakan warga asli Mosman. Ia terlahir dan dibesarkan di kota itu.

Keluarganya adalah pemeluk Kristen. Amirah Ibrahim bukanlah nama pemberian dari orang tuanya. Nama itu disandangnya setelah ia resmi memeluk Islam pada Agustus 2003 silam. Sejatinya, kedua orang tuanya memberi nama Lucie Thomson.

Amirah mulai mengenal dan mempelajari Islam pada 2001. Hidayah Allah Subhanahu Wa Ta’ala menerangi kalbu wanita yang awalnya bernama Lucie Thomson itu. Ia mengaku mulai tertarik untuk mengenal Islam. Keputusannya untuk mempelajari Islam diakuinya sebagai sebuah pilihan yang sangat bertentangan dengan orang-orang di sekelilingnya.

Hingga akhirnya, pada 2003, Lucie Thomson mengucap dua kalimat syahadat. Ia resmi memilih Islam sebagai keyakinan barunya. Setelah memeluk Islam, Amirah mengaku tidak memiliki keberanian untuk menyampaikan secara langsung perihal keyakinan barunya itu kepada kedua orang tuanya.

”Ketika itu, saya tidak berani untuk bertatap muka dengan mereka dan mengatakan langsung bahwa saya telah menjadi seorang Muslim. Yang bisa saya lakukan saat itu adalah menyampaikan kabar tersebut melalui surat,” ungkap Amirah seperti dilansir harian Sidney Morning Herald.

Kepada surat kabar Australia itu, Amirah mengisahkan pengalamannya dalam menemukan hidayah. Sebelum memeluk Islam, Amirah tergolong umat Kristiani yang taat. Dia tidak pernah meninggalkan acara keagamaan yang diselenggarakan oleh Gereja Anglikan di sekitar tempat tinggalnya. Ia adalah jemaat yang rajin.

”Saya selalu percaya, Tuhan itu ada, tetapi tidak pernah yakin mana iman agama yang tepat untuk saya”, ujar Amirah. Terdorong oleh keinginan kuat untuk mencari keyakinan yang dirasakan sesuai dengan hatinya, Amirah pun memutuskan mempelajari kitab suci umat Islam, Al-Quran.

Keinginan untuk mempelajari Al-Quran juga dikarenakan pacarnya pada waktu itu mengikuti ajaran Druze, sebuah keyakinan agama yang banyak dianut oleh sejumlah kalangan di beberapa negara di Timur Tengah.

Para pengikut ajaran ini kebanyakan tinggal di Lebanon meskipun ada pula komunitas mereka dalam jumlah yang kecil di Israel, Suriah, dan Yordania.

Menurut laman Wikipedia, kelompok itu muncul dari Islam dan mendapat pengaruh dari agama-agama dan filsafat-filsafat lain, termasuk filsafat Yunani. Kaum Druze menganggap dirinya sebagai sebuah sekte di dalam Islam meskipun mereka tidak dianggap Muslim oleh kebanyakan Muslim di wilayah tersebut.

Seperti halnya pemeluk Islam, kaum Druze ini juga menggunakan Al-Quran sebagai sumber ajaran mereka. Bahkan, mereka juga berbicara dalam bahasa Arab, papar Amirah berkisah. Di tengah perjalanan membina hubungan, Amirah dan sang pacar memutuskan untuk berpisah.

Namun, berakhirnya hubungan asmara tersebut tidak membuat keinginan perempuan kelahiran 27 tahun silam itu untuk mempelajari Al-Quran dan Islam surut.

Berkat bantuan dari salah seorang kenalan Muslimnya, ia kemudian dipertemukan dengan seorang guru agama Islam. Dari guru tersebut, Amirah kemudian banyak mempelajari tentang Islam.

”Setelah banyak berdiskusi dengan orang ini, saya merasa ini (Islam–Red) adalah keimanan yang selama ini diinginkannya. Apa yang diajarkan di dalamnya rasanya benar. Saya pikir, saya tidak dapat menyangkalnya (lagi),” tutur Amirah.

Dengan bantuan seorang kenalannya di Asosiasi Muslim Australia (Australian New Muslims Association) cabang Lakemba, Amirah kemudian mengucapkan syahadat. Saat itu usianya masih terbilang remaja, 18 tahun. Setelahnya, kehidupanku menjadi lebih baik, ungkapnya.

Amirah yang dulu dikenal sangat pemarah dan kurang agresif ini kini mengaku memiliki tujuan hidup setelah menjadi seorang Muslimah. Saya ingin menjadi Muslimah yang lebih baik yang selalu menjalankan perintah Allah dan menjadi pelayan-Nya.

Memutuskan Berjilbab

Keputusan Amirah menjadi seorang Muslimah begitu kokoh dan bulat. Pencariannya telah menemukan sebuah jawaban Islam adalah agama yang paling benar. Ia mencoba menjalankan syariat Islam dengan sebaik-baiknya, salah satunya mengenakan jilbab.

”Mungkin aku satu-satunya perempuan di Mosman yang mengenakan jilbab pada saat itu. Sebab, aku sendiri belum pernah melihat satu orang perempuan pun di Mosman yang mengenakannya,” ujar Amirah berkisah.

Tak hanya mengenakan jilbab. Amirah juga mengubah cara berpakaiannya dari yang sebelumnya serbaterbuka dan menampilkan lekuk tubuh berganti dengan mengenakan gamis longgar dan panjang. Penampilan barunya tersebut, menurutnya, sempat membuat adik laki-lakinya merasa malu di hadapan teman-temannya.

”Sementara sahabatku, pada awalnya sulit menerima kenyataan bahwa aku mengenakan penutup kepala,” paparnya. Namun, tantangan itu tak menyurutkan niatnya untuk tetap menutup aurat. Tak mudah memang menjalankan syariat di tengah masyarakat non-Muslim.

Amirah mengaku merasakan orang-orang di sekitarnya melihatnya dengan tatapan aneh dengan gaya berbusananya. ”Orang-orang banyak yang mengangguk dan tersenyum saat saya lewat di hadapan mereka. Bahkan, tak jarang anak-anak kecil tertawa ke arahku,” ungkap Amirah.

Kendati mendapat perlakuan kurang menyenangkan dari orang-orang di sekelilingnya, namun diakui Amirah, dirinya tidak pernah memiliki keinginan untuk membalas semua tindakan buruk tersebut. Ia menyadari betul bahwa sulit untuk hidup sebagai seorang muslim di tengah-tengah masyarakat yang sudah memberikan cap buruk terhadap Islam dan umat Islam.

Komunitas Muslim memang kerap menjadi korban dan mendapat perlakuan tidak adil. ”Tapi, perlakuan buruk mereka kepada kami tentunya akan dinilai oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan hanya Allah yang pantas memberikan balasan yang setimpal dengan perbuatan mereka,” ucapnya.

Source : Republika

Aisha Uddin: Demi Islam, Kuhadapi Segala Tantangan

aisha-uddin-_130409190841-510KisahMuallaf.com - “Keluargaku tak senang. Mereka terus memprotes identitas Muslimku, terus menginterogasi jika aku mengenakan jilbab,” keluh Aisha Uddin.

Laura, demikian nama lamanya sebelum menjadi Muslimah. Namun, demi meleburkan hatinya pada jalan Islam yang lurus, ia kini enggan menggunakan nama itu.

Ketulusan dan keikhlasannya menjadi Muslimah rupanya tak berbanding lurus dengan respons orang tua dan keluarganya. Mereka menolak keras keislamannya. Namun, wanita Inggris ini tetap setegar karang.

Usia Aisha baru menginjak 20 tahun saat memutuskan memeluk Islam. Sejatinya, jauh sebelum itu ia telah merasa penasaran dengan Islam. Saat remaja, ia sering diam-diam ke masjid di dekat rumahnya.

Ia menyelinap dan bertanya tentang Islam kepada siapa saja yang ada di sana. Namun, belum lengkap pengetahuan Aisha tentang Islam, ia dan keluarganya pindah ke kota lain, Birmingham.

Kepindahan keluarganya justru membawa hal positif bagi Aisha. Di Birmingham, Aisha mengenal beragam agama. Ia pun lebih banyak bertemu Muslimin di kota tersebut.

“Islam telah menarik minat saya. Islam telah tertangkap mata saya dan saya ingin melihatnya lebih jauh ke dalam. Saya ingin melihat orang-orangnya, budayanya, dan sebagainya,” jelasnya.

Ia menambahkan, ”Saya pun terus belajar dan belajar. Bahkan, setelah sekolah dan tinggal di Birmingham, saya benar-benar dikelilingi agama,” ujar Aisha dengan mata berbinar, seperti dikutip Islam Today.

Butuh waktu bertahun-tahun bagi Aisha untuk mempelajari agama Islam. Hingga memasuki usia 20 tahun, Aisha kian mantap dengan agama akhir zaman ini. Ia pun bersyahadat dan berkomitmen untuk terus memegang teguh keimanan Islam walau apapun yang terjadi.

Dari awal, Aisha telah memiliki firasat keputusannya ini akan ditentang banyak pihak, terutama keluarga. Meski demikian, hal itu sama sekali tak mengurangi tekadnya untuk berislam, termasuk mengubah penampilannya menjadi Muslimah berjilbab.

“Saya sangat senang akan perubahan itu. Sebelum menjadi Muslim, saya selalu menggunakan celana jeans, hoodies, dan make-up yang menor,” kata Aisha malu-malu. Mata birunya bersinar bahagia. Parasnya cantik berbalut jilbab hitam meski tanpa make-up.

Kebahagiaan itu sempat meredup tatkala Aisha menemui kenyataan keluarganya menolak keras keputusannya berislam. Bayangkan, tiba-tiba ia dimusuhi keluarganya.

Orang tuanya menuding Aisha sebagai anak yang durhaka dan tak berbakti. “Keislaman saya dianggap sebagai penolakan, tak balas budi, tak menghormati orang tua yang telah membesarkan saya,” ungkap Aisha sedih.

Meski sedih, Aisha tak mau melepaskan hidayah yang telah diraihnya. Ia terus bertahan meski rumahnya seakan penjara baginya. Ia tak diizinkan pergi ke luar rumah untuk mempelajari Islam. Pada saat yang sama, orang tuanya terus berusaha membujuk Aisha agar kembali pada agama sebelumnya.

Ketegangan kian memuncak saat Aisha mengenakan jilbab. Menurut Aisha, ia akan diteror dan diamuk keluarganya jika ketahuan mengenakan jilbab. Namun, Aisha bertekad untuk terus berjilbab. Meski keluarga terus meneror, Aisha diam-diam tetap mengenakan busana yang menutup aurat tersebut.

Akhirnya, hal yang ditakutkan Aisha pun terjadi. Ia diusir dari keluarga. Ia tak diizinkan lagi menggunakan nama keluarga. Aisha, yang dulu bernama Laura, memilih menggunakan nama Islam selamanya.

Penolakan keras dari keluarga tentu membuat Aisha sedih. Namun, ia tak marah. Buktinya, ia terus berusaha memperbaiki hubungan dengan keluarga dan memberi pengertian kepada mereka meski tak pernah membuahkan hasil.

Dalam wawancara dengan BBC, Aisha mengaku sedang giat mempelajari Al-Quran. Ia belajar membaca dan menulis huruf Arab. Meski masih terbata-bata, kini Aisha telah mampu membaca Kitabullah.

Saat ini, Aisha berusia 22 tahun. Artinya, sudah dua tahun ia bertahan di atas tantangan-tantangan yang menguji keimanannya. Terbukti, ia mampu bertahan. Ia masih berislam hingga kini.

Ia pun menemukan seorang pria Muslim yang kini menjadi suaminya. Ia memang kehilangan keluarganya. Namun kini, ia memiliki keluarga baru yang senantiasa mendukung keislamannya.

Islam menjadikan Aisha sebagai pribadi yang lebih baik. Ia merasa kehidupannya berubah sangat drastis. Namun, hal ini bukan karena tantangan yang melandanya, melainkan karena rasa bahagianya hidup sebagai Muslimah.

“Saya sebelumnya seorang pemberontak. Saya selalu mendapatkan masalah di rumah, pergi keluar dan tinggal di luar. Saya juga malas belajar di sekolah,” aku Aisha polos.

Setelah memeluk agama Allah, Aisha menjadi lebih kalem, merasa sangat tenang dan damai. Tak pernah ia merasa bahagia seperti setelah berislam.

Aisha pun lebih senang membaca buku dan mempelajari Al-Quran. Ia tak lagi liar seperti dulu. Sikapnya lebih lembut dan tak suka berbicara keras, apalagi memberontak.

Meski banyak tantangan yang dihadapi dan keluarga terus menentangnya, Aisha tak pernah menyesal memeluk Islam. Sebaliknya, ia merasa amat bersyukur merasakan manisnya hidayah.

Ia pun amat bangga memiliki identitas sebagai seorang Muslimah. “Saya bangga dengan diri saya sekarang,” ujarnya penuh syukur.

Source : Republika

John Webster Jadi Mualaf Setelah Melihat Masjid

proud_to_be_a_muslimKisahMuallaf.com – Mohammad John Webster dibesarkan dalam keluarga Protestan. Di usia remajanya, ia memiliki banyak pertanyaan soal kepercayaan yang dianutnya.

“Yang menjadi pertanyaan saya, di Inggris, banyak kemiskinan dan ketidakpuasan sosial. Agama saya seperti tidak berusaha untuk menyelesaikannya,” kenang dia seperti dikutip Arabnews.com, Senin (8/4).

Sejak itu, Webster muda tidak lagi menerima Protestan dan beralih menjadi penganut komunis. Baginya, komunisme menciptakan kepuasan tersendiri. Tapi itu tidak berlangsung lama. Selanjutnya, ia beralih pada filsafat dan agama.

“Dari apa yang saya alami ini mendorong saya mengidentifikasi diri dengan apa yang disebut panteisme,” katanya.

Webster mengakui peradaban Barat membuat masyarakatnya begitu asing dengan Islam. Ini terjadi karena sejak Perang Salib berakhir, banyak hal yang menyimpang terkait informasi tentang Islam dan Muslim.

Satu fase baru dalam kehidupannya dimulai ketika ia menetap di Australia. Di sana, ia membaca Al-Quran di sebuah perpustakaan umum di Sydney. Saat itu, kefanatikan Webster terhadap Islam coba ia tutupi. Padahal, ia sangat antusias untuk mengkaji lebih dalam terkait isi Al-Quran. Satu hari, ia temukan salinan Al-Quran terjemahan Inggris.

Pada satu surat, ia temukan satu hal tentang kehidupan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Ia habiskan berjam-jam untuk menemukan apa yang diinginkannya. Ketika keluar dari perpustakaan, Webster merasakan kelelahan. Kebimbangan muncul dalam pemikirannya.

Hal itu coba ia tangguhkan dengan berjalan menyusuri keramaian. Langkahnya terhenti ketika ia melihat tulisan yang menyebut ‘Masjid’. Hatinya bergetar seketika. Wajahnya segera memucat.

“Inilah kebenaran.Spontan Webster mengucapkan syahadat. Tiada Tuhan selain Allah, Muhammad adalah utusan Allah. Alhamdulillah, aku menjadi seorang Muslim,” kata dia yang kini menjabat Presiden The English Muslim Mission.

Source : Republika

Abdul Aziz: Islam Adalah Agama yang Aku Cari

proud_to_be_a_muslimKisahMuallaf.com – Abdul Aziz, 28 tahun, besar di Charleston, West Virginia, AS. Tradisi Kristen yang kental mewarnai perjalanan spiritualnya.

“Saya seperti kebanyakan anak-anak diusianya, rutin mengunjungi Gereja. Lalu, semuanya berubah ketika memasuki remaja,” kenang dia seperti dikutip arabnews.com, Sabtu (6/4).

Memasuki usia remaja, Aziz terlibat dalam kelompok pengedar obat-obatan. Ia mulai kehilangan arah. Setiap harinya yang ia lihat hanyalah orang yang ketagihan narkoba, orang-orang yang tewas karena terkena tembakan polisi dan peristiwa buruk lainnya.

“Saya ingin sekali berubah. Saya selalu teringat Tuhan ketika aku selalu berbuat salah,” kata dia.

Satu momen kemudian didapat Aziz ketika ia ditangkap. Di penjara ia mulai berpikir untuk menjadi orang baik. Ia mulai baca Alkitab dan berdoa setiap malam sebelum tidur. Namun, ada yang mengganjal dalam hatinya. Ia merasa ragu. Tapi Aziz coba mengabaikan itu dan terus menjalani hidup sebagai penganut Kristen.

Keluar dari penjara, Aziz kembali mengunjungi gereja. Di sana, ia mendapatkan kesempatan untuk bertanya. Ia mencoba untuk menghilangkan keraguan dalam hatinya. Tapi tidak ada jawaban yang memuaskan. Terpikir olehnya untuk mencoba pelajari agama lain.

Selanjutnya, ia berkenalan dengan seseorang yang kebetulan Muslim. Namun, ia bukanlah seorang Muslim yang taat. Kendati begitu, Aziz tampak antusias dengan ajaran Islam yang dipaparkan temannya itu. Apalagi ketika ia mendengar salah satu ayat dari Al-Quran.

“Saat itu, saya merasa Islam adalah agama yang aku cari,”
kata dia.

Karena ketertarikannya itu, ia beberapa kali mengikuti shalat Jumat. Itu ia lakukan guna memantapkan pilihannya pada Islam. Setidaknya selama sembilan bulan, Aziz bolak-balik ke masjid untuk tahu tentang Islam dan Muslim.

“Perlahan Islam mulai merasuki hatiku. Aku ucapkan syahadat. Alhamdulillah, hidupku berubah sejak itu,” tutup dia.

Source : Republika

Belasan Tahun Murtad, Al-Fatihah Menuntunnya Kembali ke Pelukan Islam

raya-shokatfard-_130403165348-165KisahMuallaf.com – Dia pernah menjadi Muslim. Tapi, impian duniawi membawanya pada kesibukan dan kealpaan hingga melupakan Allah. Raya Shokatfard, wanita asal Iran itu melanglang ke negeri Paman Sam untuk memenuhi ”impian Amerika”-nya yang menggebu.

Namun, setelah kesuksesan diraih, hatinya terasa kosong. Ia pun kembali mencari eksistensi Tuhan. Tak langsung kembali kepada Islam, ia lebih dulu mempelajari agama Buddha, Hindu, lalu Kristen. Tapi, hasil kajiannya terhadap tiga agama itu justru mengantarnya kembali kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ia pun mendapatkan kembali hidayah keislaman yang pernah ia tinggalkan. Air mata menderas di pipi Raya saat mengisahkan perjalanan panjangnya itu.

Kisah pilu Raya bermula saat ia hijrah dari Iran ke Amerika pada 1968. Saat itu usianya masih sangat belia, 19 tahun. Tak hanya meninggalkan negaranya, Raya pun menanggalkan gaya hidupnya sebagai orang Iran, termasuk keislamannya. “Aku meninggalkan Iran, pindah ke AS. Aku tinggalkan pula Islam dan identitas sebagai Muslim,” kisahnya, seperti dikutip dari kanal milik Raya di Youtube.

Saat tinggal di AS, ia pun hidup seperti remaja AS pada umumnya: bersenang-senang dan diliputi kilau duniawi. Raya kemudian memulai ”impian Amerika”-nya dengan merintis bisnis di Manhattan, Kalifornia Selatan. Butuh beberapa tahun bagi Raya untuk mencapai impiannya menjadi kaya dan sukses. Wanita yang meraih gelar sarjana dari Southern Oregon University (SOU) itu berhasil menggapai mimpinya di usia yang terbilang amat muda. Berawal dari bisnis toko pakaian, ia meraih puncak kesuksesan saat beralih ke bisnis real estate. Ia menjadi maestro real estate di kawasan Pantai Manhattan. “Alhamdulillah, saya sangat sukses di bisnis real estate. Saya sangat beruntung,” ujarnya bersyukur.

Menjadi pebisnis sukses, mudah bagi Raya membeli segala kemewahan dunia. Ia punya mobil Rolls Royce dan tinggal di rumah megah di tepi pantai. Kebunnya amat luas dengan aneka ternak hidup di dalamnya. Jalan-jalan keliling dunia pun amat gampang dilakoninya. Namun, setelah gemerlap dunia ia dapatkan, Raya justru merasakan kekosongan jiwa. Alih-alih bahagia, ia merasa hatinya begitu hampa. “Saya mulai merasakan sesuatu yang hilang, terasa sangat kosong,” ujar Raya dengan mata sayu.

Kekosongan hati terus melandanya. Wanita bergelar master bidang jurnalisme dan komunikasi publik ini pun kemudian mencari tahu penyebab kekosongan hatinya. Ia mengikuti beragam workshop dan kuliah, tapi tak menjawab permasalahannya. Entah mengapa, kemudian tumbuh keinginannya untuk mencari eksistensi Tuhan. Maka itu, dimulailah perjalanannya mencari Tuhan.

Perjalanan itu ia awali dari agama Hindu. Ia amat tertarik dengan kedamaian dalam ajaran agama tersebut. Dia pun menjadi penganut Hindu. Merasa kurang puas, ia lalu mencari Tuhan di agama lain. Kali ini, pilihannya jatuh ke agama Buddha. Ia pun menjadi umat Buddha. Tak lama, ia keluar dari agama ini karena kembali gagal menemukan eksistensi Tuhan.

Raya lalu bergabung dengan gerakan New Age, sebuah gerakan yang mengajarkan kebebasan diri tanpa Tuhan. Gerakan yang pamornya amat mencorong di Amerika kala itu membawa Raya pada kehidupan yang bebas dan mandiri tanpa Tuhan. “Anda adalah master dalam kehidupan Anda, Anda memiliki takdir sendiri, Anda adalah Tuhan dalam kehidupan Anda, dan banyak elemen lain yang saya pelajari di sana. Tapi, kemudian saya berpikir, saya tak mampu menjadi master dalam perjalanan hidup saya. Saya tidak dapat membayangkan ke mana hidup saya akan pergi. Saya pun tak nyaman di sana,” demikian Raya berkisah.

Menjadi Kristiani

Dari New Age, Raya kemudian menjadi penganut Kristiani. Ia bertahan cukup lama sebagai seorang Kristen, yakni tujuh setengah tahun. Ia begitu tertarik dan terpesona dengan kebersamaan dan persaudaraan umat Kristiani yang kuat. Lalu, jadilah Raya penganut Kristen yang taat ke gereja, mempelajari Alkitab, bahkan mengajarkannya. Ia juga belajar teologi Kristen di sebuah universitas. Tapi, lagi-lagi Raya merasa gelisah. Ia merasa belum menemukan Tuhan yang diinginkannya.

Nah, di titik inilah ia mulai tertarik kembali pada Islam. Sebelum memantapkan diri kembali ke pangkuan Islam, ia sempat pamit pada pastur yang selama ini membimbingnya dalam agama Kristen. Raya sangat gembira karena sang pastur amat terbuka dan membebaskannya memilih agama yang diyakini.

Selama 15 tahun, Raya jatuh bangun mencari eksistensi Tuhan. Beragam agama sudah ia anut. Namun, siapa sangka, ia justru kembali pada agama yang dianutnya saat masih tinggal di Iran, Islam.

Raya amat pilu saat mengenang perjalanannya hingga kembali kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Linangan air mata membasahi pipinya karena menyesal pernah melupakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ia merasa bodoh pernah melepaskan hidayah yang begitu nikmat, hidayah Islam. Namun, Allah Subhanahu Wa Ta’ala begitu mencintai hamba-Nya sehingga Raya diberi kesempatan kedua untuk kembali mendapatkan hidayah itu.

Sungguh indah kisah kembalinya Raya ke pangkuan Islam. Ia hanya membaca Surah Al-Fatihah saat pertama kali membuka Al-Quran setelah kemurtadannya selama belasan tahun. Hanya dengan tujuh ayat dalam surah pembuka Kitabullah, Raya sudah menyadari kesalahannya dan menyadari bahwa Allahlah satu-satunya Tuhan, tiada yang berhak disembah selain Allah.

Baru saja membaca Basmalah, Raya sudah merinding. Ayat pertama al-Fatihah membuatnya menyadari bahwa Allahlah Tuhan segala sesuatu, Tuhan semesta alam. Sedangkan, manusia hanyalah bagian kecil dari alam semesta itu. Membaca ayat kedua, air matanya tak kuasa lagi terbendung. “Saya melupakan-Nya, tapi Dia tak pernah melupakan saya.” Ia sungguh merasa malu pada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Setiap ayat dalam Al-Fatihah benar-benar meresap ke jiwa Raya. Saat tiba di ayat yang berbunyi, “Hanya kepada-Nya kami menyembah dan hanya kepada-Nya kami memohon pertolongan,” hati Raya serasa tercambuk. Ia tak habis pikir mengapa bisa melupakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan justru mencari pertolongan kepada selain-Nya. “Saat membaca ayat ini, saya merasa sebuah batu besar dari langit jatuh dan memukul saya,” ujar Raya dengan air mata yang tak henti mengalir.

Ayat berikutnya hingga terakhir, benar-benar membuat Raya menemukan jalan kembali pada Islam. Jalan lurus yang disebut dalam al-Fatihah sangat diinginkan Raya. Ia pun merasa Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menunjukkan “Sirath al-Mustaqim” tersebut kepadanya. “Terakhir, saya meminta padanya jalan yang lururs dan Dia membimbing saya pada jalan lurus tersebut,” pungkas Raya bersyukur.

Maka, kembalilah Raya pada agamanya, agama yang lurus yang diridhai Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yakni Islam. Saat ini, Raya berusia 62 tahun. Meski tak muda lagi, ia sangat aktif dalam menyebarkan ajaran Islam. Berbekal pendidikannya, ia pernah menjadi asisten editor di SOU untuk situs islam yang berbasis di Los Angeles.

Ia pun menjadi koresponden asing, penulis, editor dan produser film dokumenter untuk web onislam.net. Ia juga pernah menjabat sebagai pemimpin redaksi dan konsultan untuk situs Reading Islam. Melalui jurnalistik, Raya aktif menyuarakan perdamaian dan hak asasi perempuan.

“Bajingan Kulit Putih” Julukan Yang Pernah disandang karena Ia Muslimah

dxxKisahMuallaf.com – “Sebagai seorang remaja saya pikir semua agama adalah menyedihkan. Pandangan saya saat itu adalah: apa gunanya menempatkan pembatasan pada diri sendiri? Anda hanya hidup sekali di dunia ini,” kata Lindsay Wheeler, peraih BSc bidang psikologi pada De Montfort University mengisahkan masa mudanya.

Bagi wanita yang kini berusia 26 tahun, hidup sekali harus diisi dengan “kebahagiaan”. Yang dilakukannya untuk bahagia saat itu adalah: mabuk-mabukkan, berpenampilan mengikuti tren terkini, dan melakukan apa saja yang ingin dilakukan.

Namun ketika pola pikirnya makin tertata saat memasuki bangku universitas, ia mulai mencari makna hidup. “Minum-minum, clubbing, dan kebiasaan lama lainnya makin menjadi aktivitas yang membosankan. Apa gunanya semua itu?” ia menyatakan pikirannya saat itu.

Saat dalam kondisi penuh tanda tanya, wanita yang kini tinggal di Leichester, Inggris ini bertemu Hussein. “Saya tahu dia seorang Muslim, dan kami saling jatuh cinta. Saya mencoba memasukkan seluruh masalah agama ‘di bawah karpet’, tapi tak bisa,” ujarnya.

Ia pun makin rajin melahap buku-buku keislaman. “Saya ingat, saat itu tangis saya meledak ketika saya berpikir, ‘Ini bisa jadi arti seluruh kehidupan’. Menjadi Muslim artinya menjalani hidup secara terarah,” ujarnya.

Ia mencoba masuk dalam komunitas Muslim. Berada di tengah mahasiswi berjilbab, ia merasa tenteram. “Mereka benar-benar mengubah pandangan saya. Mereka berpendidikan, cerdas, dan sukses. Saya menemukan jilbab yang membebaskan,” ujarnya. Tak perlu pikir panjang, tiga pekan kemudian ia bersyahadat dan resmi masuk Islam.

“Ketika saya bilang pada ibu saya beberapa minggu kemudian, dia menerima. tapi dia membuat beberapa komentar seperti, “Mengapa kau mengenakan kerudung itu? Kau punya rambut indah,” ujarnya.

Teman saya yang terbaik di universitas sepenuhnya dihidupkan saya: dia tidak bisa mengerti bagaimana satu minggu saya keluar clubbing, dan berikutnya aku diberi segalanya dan masuk Islam. Dia terlalu dekat dengan kehidupan lama saya, sehingga saya tidak menyesal kehilangan dia sebagai teman.

Begitu menjadi Muslimah, ia memilih nama Aqeela untuk dipasang di depan nama lamanya. “Aqeela berarti ‘masuk akal dan cerdas’ – dan itulah yang saya cita-citakan ketika masuk Islam enam tahun lalu. Saya menjadi seseorang yang baru: semuanya harus dilakukan Lindsay di masa lalu, sudah terhapus dari ingatan saya,” ujarnya.

Apa yang tersulit setelah menjadi Muslim? Ia menggeleng. Semuanya bisa disesuaikan, kecuali mengubah cara berpakaian. “Saya selalu sadar mode. Pertama kali saya mencoba jilbab, saya ingat duduk di depan cermin, berpikir, “Apa yang aku harus meletakkan sepotong kain di atas kepalaku?” Tapi sekarang saya akan merasa telanjang tanpa itu.”

Memakai jilbab, katanya, mengingatkan dirinya bahwa semua yang perlu dilakukannya setiap saat adalah melayani Tuhan dan rendah hati. Jilbab juga mengingatkan bahwa ia adalah duta Islam dimanapun dia berada.

Cobaan paling berat dialami setelah bom meledak di London. Saat itu, Muslim berada di titik terendah dalam hubungan sosial di Inggris. “Saat berjalan di luar rumah, selalu saja ada teriakan, atau bahkan ada yang menyebut saya “bajingan kulit putih”. Saya pernah merasa takut keluar rumah karenanya,” ujarnya.

Kini, ia menjadi Nyonya Hussein dengan satu putra berusia 1 tahun, Zakir. Ia masih menyimpan cita-cita sebagai psikolog, “Tapi saya menunggu Zakir siap ditinggal di rumah sementara saya bekerja,” ujarnya.

Source : Eramuslim

Ismail Sloan : Al-Quran Menjawab Setiap Pertanyaanku

ismail-sloan-_130328122921-626KisahMuallaf.com – Ismail Sloam besar dan tumbuh sebagai penganut Protestan. Ia rutin menghadiri kebaktian di Gereja St. John Episcopal, Lynchburg, Virginia.

Hanya saja selama menjalani rutinitas itu muncul pertanyaan dipikirannya. “Jika Yesus anak Tuhan mengapa ia mati disalib,” ujarnya mengenang pemikirannya dulu.

Seiring bertambahnya usia, pertanyaan Sloam kian spesifik dan detail. Ia pun tak ragu untuk bertanya langsung kepada guru sekolah minggu-nya.

Dengan jawaban yang diberikan, ia tak pernah merasa puas. Lalu, ia memberanikan diri bertanya kepada Uskup Mormon.

Pertanyaan demi pertanyaan mulai terlupakan sampai ia mengunjungi Afganistan. Di negara itu, Sloam untuk kali pertama berinteraksi dengan Muslim.

Ia sendiri tidak begitu paham tentang Islam. “Saya mulai membaca dan mulai tertarik ketika Alquran punya jawaban atas pertanyaan dirinya,” kata dia.

Dari Al-Quran, ia merasa banyak informasi yang lebih detail konsep hubungan manusia dengan Tuhan dan manusia dengan manusia. Al-Quran juga mengakui kitab-kitab sebelumnya.

Setelah kunjungan ke Afganistan, Sloam mulai mempelajari Islam. Ia banyak membaca buku. Selama itu, banyak kejutan yang didapatnya, seperti bahwa agama dan teknologi bisa berjalan beriringan. Saat mempelajari Islam pula ia mengetahui bahwa agama itu menganjurkan setiap Muslim untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.

Cuma, satu hal penting yang mengejutkannya. Islam menyatakan Yesus seorang manusia biasa. Demikian pula dengan Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, yang juga manusia biasa.

Begitu juga Nabi Adam ‘Alaihissalam, Nabi Nuh ‘Alaihissalam, Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam dan Nabi-nabi sebelumnya, mereka manusia biasa. Mereka justru yang mengajarkan risalah ilahi.

Setelah mantap, Sloam mengucapkan dua kalimat syahadat. Ia bersyukur telah mendapatkan hidayah yang Maha Kuasa untuk menjadi Muslim. Alhamdulillah.

Source : Republika

Jeewan Chanicka : Islam Membuatku Paham Tujuan Hidup

15644KisahMuallaf.com – Apa tujuan hidup setiap manusia. Pertanyaan itu selalu mengemuka dalam pikiran Jeewan Chanicka. “Tuhan tidak mungkin menciptakan manusia hanya untuk mengisi seluruh penjuru bumi,” kenang dia, seperti dikutip onislam.net. Selasa (26/3).

Dari pertanyaan itu, Chanicka berusaha keras untuk mencari jawaban. Pencarian itu dimulainya melalui dalam dirinya. Selanjutnya, ia tanya orang-orang di sekitarnya.

Dari sekian banyak pertanyaan, satu jawaban mengemuka, setiap orang memiliki jawabannya sendiri. Kesimpulan itu semakin memotivasinya untuk lebih memahami apa yang dilakukan setiap individu.

Itu pula yang mendorongnya menjalani pencarian spiritual di usianya yang sangat muda. “Saya ingat, perjalanan itu dimulai ketika saya berusia 10 tahun. Memang, saya belum memahami dengan baik, bagaimana parameter pencarian itu,” kata dia.

Seiring perjalanan spritualnya, Chanicka banyak dipengaruhi pemahaman keyakinan Hindu dan Kristen, dua agama yang begitu dekat dengannya. Ia mulai mencari tahu bagaimana dasar hubungan satu mahkluk dengan penciptanya.

Pengetahuan yang ia dapat dari kedua agama itu, Tuhan menginginkan manusia untuk menjadi pemimpin. Satu perjalanan itu selanjutnya berakhir pada ajaran Islam.

Pada usia 11 tahun, Chanicka menjadi Muslim. Saat itu, pilihannya sangat bertolak belakang dengan keyakinan keluarganya. Ia sangat takut dengan reaksi keluarga atas putusannya itu.

Beruntung baginya, keluarga besarnya memahami pilihannya itu. Namun, mereka khawatir keputusannya itu mendekatkan dirinya dengan kelompok militan yang membunuh jiwa-jiwa tak bersalah atas nama Tuhan.

Chanicka butuh tujuh tahun lamanya untuk membuat keluarganya menerima pilihannya itu. Namun, yang membuatnya khawatir justru bukan hal tersebut.

Ia menyadari, menjadi Muslim di era modern bukanlah hal yang mudah. Label kekerasan dan permusuhan melekat dalam stereotip umat Islam. Tapi ia tidak goyah.

Itu karena, sedari awal komitmennya terhadap Allah Subhanahu Wa Ta’ala jauh lebih kuat ketimbang persoalan duniawi yang melekat di sekitarnya.

“Dari awal, saya tegaskan, hidup dan mati saya hanya untuk Allah Subhanahu Wa Ta’ala,” kata dia. Sejak menjadi Muslim, ia mulai memahami hakikat pertanyaan yang muncul dalam pemikirannya. Tujuan hidup ini adalah berbakti kepada Pencipta.

Implementasi dari keyakinan ini tidak hanya dalam hubungan manusia dengan Tuhan tetapi juga mencakup hubungan antar manusia.

“Saya percaya, Tuhan menempatkan manusia di bumi untuk memenuhi misi ilahiah. Sebuah misi membela kebenaran dan keadilan bagi semua orang tanpa memandang apakah mereka Muslim atau Yahudi, hitam atau putih, kaya atau miskin,” ucapnya.

Itu yang diyakini Chanicka sebagai anugerah dari Tuhan. Baginya, anugerah itu juga menyimpan konsekuensi ia harus menjamin Islam adalah rahmat bagi semesta alam harus sampai ke seluruh umat manusia.

“Saya banyak membaca tentang kisah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Ia seorang manusia biasa dengan kepemimpinan dan komitmen yang kuat. Karakter itu juga terlihat dari karakter Nabi-nabi sebelumnya,” kata dia.

Menurut Chanicka, semua Nabi dan orang-orang saleh memiliki pemahaman yang baik tentang hidup. Ini bukan hanya bicara tentang dakwah tetapi juga perubahan. Mereka berdiri untuk kebenaran. Itulah yang mungkin belum dipahami seluruh manusia di bumi.

Pemahaman akan pentingnya perubahan memanggil Chanicka untuk memberikan sumbangsihnya. Ia memilih jalan menjadi guru yang memungkinkan ia membawa perubahan melalui kualitas anak didiknya.

Memang tidak mudah baginya untuk melakukannya. Ada halang rintang mengemuka, tapi ia tak gentar. “Saya berkomitmen untuk menemukan cara bagaimana memberdayakan anak-anak untuk menciptakan lingkungan yang adil dan inklusif,” ucapnya. Tak mau keliru dalam melangkah, Chanicka coba untuk melihat kembali pendidikan yang ia dapat lalu merenungkan kesulitan apa yang dialami gurunya ketika mendidiknya.

Melalui napak tilas itu, Chanicka coba fokus membantu siswa yang melihat kehidupannya dalam kurikulum yang diberikan. “Terlepas dari apa latar belakang mereka, apapun agama yang mereka anut, suara dan pandangan mereka sangat penting,” ucapnya.

Hal tersebut yang kemudian diungkapkan Chanicka perlu dilakukan umat Islam. Menurutnya, umat Islam itu lahir dengan karakter yang kuat. Mereka tahu siapa dirinya, apa yang mereka yakini, dan mereka jaga nilai-nilai spiritual dengan baik.

“Kita perlu bekerja keras untuk memahami diri, komunitas dan dunia. Ini yang kemudian mendorong saya untuk melakukan sesuatu ketika Islam diidentikan dengan kebencian,” kenangnya.

Ketika mendengar Islam diidentikkan dengan kekerasan, Chanicka selalu menangis. Ia merasa belum melakukan apapun guna membantu masyarakat dunia untuk memandang Islam dalam kacamata yang benar.

“Islam membuat saya mengerti apa tujuan hidup saya. Dengan bantuan Tuhan, saya bisa dan akan melakukan perubahan,”
kata dia.

Source : Republika

Nicole Queen Berkat Youtube Aku Bersujud

nicole-mualaf-yang-menemukan-islam-dari-youtube-_121015182445-790KisahMuallaf.com - “Teman-temanku menunjukkan tayangan kuliah di Youtube. Aku pun lalu melihat dan mencari tahu segala hal tentang Islam,” ungkap Nicole Queen mengawali kisahnyanya.

Ia melanjutkan, ”Dari situ, aku justru ketagihan untuk terus menonton. Aku terus di depan komputer menontonnya hingga jam lima pagi,” tutur Nicole Queen, mualaf asal Dallas, Amerika Serikat.

Nicole Queen tak pernah menyangka, berkat tayangan sederhana di Youtube itu akan membawanya pada pintu hidayah, memeluk agama Islam.

Sudah hampir enam tahun Nicole menjalani hidup sebagai sosok baru, seorang Muslimah. Sebelumnya, ia adalah seorang anak baptis dan tumbuh besar dalam agama Kristen baptis.

Ia pun seorang yang taat dalam memeluk agamanya itu. “Agama pembaptis itu baik, saya pergi ke gereja dan saya selalu mengikuti tuntunan agama,” ujarnya.

Meski taat beragama, Nicole mengakui kehidupannya tak jauh berbeda dengan muda-mudi Amerika kebanyakan. Ia biasa menenggak minuman beralkohol, ke diskotik, dan hal-hal lain yang biasa dilakukan anak muda Amerika.

Terlebih, profesinya menuntut dia untuk sering pergi ke tempat-tempat hiburan malam. Ia adalah fotografer di sebuah klub malam.

Hingga suatu hari, banyak pertanyaan menghantuinya. Ia yang rutin beribadah mulai mempertanyakan hakikat ibadah. Ia mulai mempertanyakan tujuan hidup dan kehidupan mendatang. Apakah surga itu benar-benar ada? Apakah neraka memang benar adanya?

Jika benar, lalu apa yang akan terjadi? Apa yang akan dikatakan kepada Tuhan saat bertemu dengan-Nya? Pertanyaan-pertanyaan itu terus saja mengharu biru benak Nicole.

Berawal dari pertanyaan-pertanyaan itu, ia merasa harus ada yang berubah dalam hidupnya. Ia merasa membutuhkan sesuatu untuk perubahan itu.

Hanya saja, ia tak tahu apa yang ia butuhkan. Ia pun mencurahkan kegelisahan hatinya pada teman-temannya. Dari sinilah, Nicole mulai membuka video-video dalam Youtube.

Mulailah ia menonton tayangan tentang kisah para mualaf Amerika dalam menemukan hidayah Islam. Nicole merasa, apa yang mereka rasakan dan alami amat mirip dengan kehidupannya.

”Jadi, aku merasa seperti berhubungan dengan mereka. Mereka menghadapi tantangan dan menemukan jawaban atas apa yang mereka cari. Dan, itulah yang aku inginkan. Aku ingin jawaban.”

Berkeinginan mendapat jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya, Nicole pun terus menonton tayangan Youtube. Ia bahkan tak merasakan kantuk karena begitu antusias.

Tak terasa, ia menontonnya semalam suntuk hingga pukul lima pagi. “Aku menjadi kecanduan. Tapi, hal itu karena aku ingin jawaban. Aku tidak ingin seseorang memberi tahu apa yang seharusnya aku yakini. Aku hanya ingin tahu mengapa,” tuturnya.

Berkat tayangan Youtube tersebut, Nicole mulai tertarik pada Islam. Awalnya, ia berusaha mencari sendiri segala hal tentang Islam. Namun kemudian, ia memutuskan pergi ke masjid untuk mendapatkan apa yang ia cari.

Beberapa buku dan literatur Islam pun ia dapatkan dari sana. Ia tekun mempelajarinya hingga sampailah ia pada keputusan mahapenting, yakni bersyahadat. Tak banyak keraguan melandanya. Ia pun mantap untuk memeluk Islam. Ia bersyahadat di masjid tersebut.

Setelah memeluk Islam, Nicole benar-benar mengubah kehidupannya menjadi lebih baik. Ia tinggalkan segala kegiatannya dengan teman-teman. Ia pun meninggalkan pekerjaannya sebagai fotografer di klub malam. Gaya busananya pun ia ganti menjadi busana Muslimah.

“Ketika aku mengucap syahadat, aku tak pernah melihat lagi ke belakang. Aku mengubah segala hal dalam hidupku, baik teman, pakaian, pekerjaan, semuanya,” ujarnya.

”Aku segera berubah dan itu tidak sulit karena aku tahu itu semua adalah hal benar untuk dilakukan. Aku bersyukur kepada Allah karena berislam,” kisah Nicole dengan wajah berseri.

Segala perubahan itu diketahui sang ibu. Awalnya, Nicole dianggap tak serius dengan pilihannya berislam. Namun, ketika melihat putrinya berhijab dan meninggalkan segala hal haram, sang ibu mulai sadar bahwa Nicole serius.

Namun, hal itu tak mengundang masalah. Sebab, sang ibu melihat perubahan positif pada putrinya sehingga ia tak melarangnya.

“Dia melihat hidupku berubah, aku berpakaian berbeda, meninggalkan hal haram, dan dia menyadari bahwa aku lebih dekat pada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, itu membuatnya bahagia.”

Setelah menjadi Muslimah, Nicole kemudian membuat blog pribadi yang mengisahkan perjalanannya menuju Islam. Di blog itu, ia juga mengisahkan perubahan hidupnya setelah bersyahadat.

Tak sedikit teman-temannya yang membaca blog itu. Tak sedikit dari mereka yang mengaku terpesona dengan jalan Islam yang dipilih Nicole.

“Ketika aku menulis tentang kehidupan baruku, mereka merasa, ‘Wow, dia terus bergerak mengubah hidupnya, tapi kami masih melakukan hal yang sama.’ Jadi, teman-temanku pun mengerti, mereka menghormati keputusan yang aku buat.”

Nicole begitu apik mengisahkan perjalanan hidayahnya di blog itu, termasuk perubahan hidupnya yang menjadi amat baik setelah berislam.

”Banyak gadis yang biasa melakukan kebiasan buruk sepertiku dulu, kemudian mereka membaca blogku dan mereka berkomentar bahwa mereka menangis saat membacanya. Mereka bilang, tulisanku menyentuh hati mereka dan membuat mereka berpikir untuk melakukan perubahan juga,” tutur Nicole bahagia.

Selain aktivitas menyenangkan menulis blog, diakui Nicole, ada hal tak mengenakkan yang ia rasakan setelah menjadi mualaf. Ia yang begitu bahagia setelah berislam, menghadapi kenyataan bahwa jilbab yang ia kenakan menghambatnya mendapat pekerjaan.

Hanya karena berjilbab, ia banyak menumbuk kegagalan dalam wawancara pekerjaan. Namun, pantang baginya untuk bersedih dan putus asa. Ia tetap optimistis pada kemampuannya.

Selain masalah pekerjaan, ia pun sering kali ditegur orang saat jalan-jalan di keramaian. Dengan wajah khas Amerika, Nicole yang berjilbab membuat banyak orang terkejut.

”Mereka heran karena aku seorang Amerika. Jika mereka bertanya, aku pun akan memberi tahu alasanku menjadi Muslim. Dan, itu membuat mereka bergumam ‘wow!’.” Nicole pun menutup kisahnya yang dapat disaksikan di Youtube.

Source : Republika