Home Insinyur Insinyur Amerika Ini Berislam Di Indonesia

Insinyur Amerika Ini Berislam Di Indonesia

16377
0
SHARE

Yusuf BurkeKisahmuallaf.com – Yusuf Burke dibesarkan di New York. Sebagian besar hidupnya ia jalani sebagai penganut Kahtolik, mulai dari sekolah Katholik hingga universitas. Namun, saat itu ia pun sudah memahami sedikit tentang Islam.

“Ayah saya dulu sempat bepergian ke Malaysia beberapa kali, jadi ia memiliki teman-teman Muslim,” tuturnya. Kadang keluarga Yusuf menerima mereka sebagai tamu.

Yusuf selalu memiliki ketertarikan untuk melihat dunia luar, menyaksikan keragaman budaya, begitu pula perbedaan agama. Rasa ingin tahunya itu pun yang membuat ia mempelajari sedikit dasar-dasar Islam saat memeluk Katholik.

“Saat itu saya bersiap mengambil mata kuliah agama dan saya mengenal dasar-dasar Islam. Namun saya tidak benar-benar paham banyak hingga saya pergi ke Indonesia,” ungkapya. “Saat itu adalah kali pertama saya pindah dan tinggal di negara bermayoritas Muslim,” akunya.

Yusuf belajar kelistrikan di bangku kuliah dan 2 tahun setelah itu ia keluar lalu bergabung bersama tim energi dari General Electric sebagai ahli teknis lapangan. Ia pun mulai kerap bepergian ke luar negeri untuk mengerjakan proyek-proyek tenaga dan membangun pembangkit listrik.

Saat pertama kali ke Indonesia pada 1994, ia pun pergi dalam rangka mengerjakan proyek pendirian pembangkit listrik. Di Indonesia ia mengaku menikmati bertemu dengan orang-orang lokal. “Mereka adalah orang-orang yang sangat ramah dan sangat terbuka serta antusias untuk terlibat obrolan dengan anda karena anda berbeda,” katanya menuturkan pengalamannya.

Tinggal di Indonesia ia pun mulai belajar mengenai Islam. Dua tahun berselang, 1996, ia mengikrarkan keislamannya. Saya menikah tak lama setelah itu, kami bepergian lagi, lalu menetap kembali di New York pada 2002 setelah sempat tinggal sebentar di Malaysia, Singapura, Australia dan Thailand pula.

Mengapa ia tertarik Islam? “Saya memiliki pemahaman mendalam tentang Katholik. Saya pikir yang membawa saya pada Islam ialah sifatnya yang logis. Sebagai insinyur, saya sangat mengapresiasi sesuatu yang logis,” ungkap Yusuf.

“Itulah yang saya rasakan ketika saya berdiskusi tentang Islam dan tinggal di antara Muslim. Saya merasakan pula persaudaran yang mereka bagi dan itu benar-benar mendorong saya pula.” tutur Yusuf.

Ketika ia pergi ke Australia dan Malaysia setelah menjadi Muslim, ia pun mempelajari Islam lebih dalam. “Saya mengambil kelas dan belajar dari orang lain, dan cara mereka membawakan kepada saya benar-benar menusuk dan menggugah kesadaran bahwa seperti inilah cara yang benar.”

Mengadvokasi dan membantu sesama Muslim jadi santapan rutin Setelah memeluk Islam, Yusuf Burke pun mengakui keluarganya begitu terkejut. “Namun saya pikir mereka bisa memahami keputusan saya,” ucapnya. Keluarga Yusuf memiliki pikiran terbuka dan mereka selalu menghormati semua orang, terutama dari keyakinan monotheis.

“Saya pikir mereka memandang saya beribadah berdasar cara yang saya yakini dan mereka mengapresiasi itu,” ungkapnya. Namun Yusuf pun merasa perlu menjelaskan kepada keluarganya mengapa ia memutuskan memeluk Islam. “Mungkin itu bisa menyingkirkan pula selip pemahaman yang kita miliki di Amerika Serikat mengenai Islam, dan luar biasa mereka sangat mendukung.”

Kini Yusuf tak hanya seorang Muslim, ia pun aktif dalam kegiatan dan organisasi Islam. Saat ini ia menjadi direktur salah satu cabang Dewan Hubungan Amerika-Israel (CAIR) di AS. “Kami, bagian dari grup advokasi untuk Muslim Amerika, pada dasarnya berupaya mencoba menghapus beberapa selip pemahaman sekaligus membantu Muslim dalam kasus kebebasan atau hak-hak sipil,” kata Yusuf. “Kami mencoba membawa Muslim duduk semeja dengan masyarakat AS dan mengenalkan mereka ke komunitas lebih luas.”

Saat terjun berdakwah, ia mengakui bersama koleganya selalu berupaya mengusung cita rasa Islam ke Amerika. Perjuangan terhadap hak-hak dan kebebasan sipil warga Muslim adalah kegiatan utama. “Setiap Muslim yang didiskriminasi karena mereka Muslim baik di tempat kerja atau lembaga pemerintah, kami mencoba memantu mereka. Kini kami tengah menangani beberapa kasus semacam.”

Meski ia mengakui diskriminasi terhadap minoritas kerap dijumpai, namun satu hal besar yang ia acungi jempol atas hidup di Amerika adalah hukum tentang kebebasan beragama dan akomodasi terhadap ibadah sesuai agamanya, terutama di tempat kerja.

“Namun masalahnya, banyak pekerja tak tahu ini dan kami membuat mereka paham apa itu ibadah dan seperti apa bentuk akomodasi terhadap agama, seperti ibadah shalat atau jilbab atau jenggot untuk pria. Kami terus sosialisasikan itu untuk memastikan mereka memahami dan mereka boleh meminta hak itu di tempat kerja,” tutur Yusuf.

Dalam pengertian lain, banyak Muslim yang menghadapi masalah di tempat kerja karena atasan tak mengizinkan mereka shalat, berjilbab, atau bahkan menumbuhkan jenggot. “Itulah yang terjadi, seperti mengenakan jilbab dalam lingkungan kerja yang memiliki kebijakan mengenakan seragam. Padahal undang-undang berpihak pada kita dan itulah yang coba kami edukasikan,” ujar Yusuf.