Home Atheis Louise: Banyak Hal Indah dalam Islam

Louise: Banyak Hal Indah dalam Islam

14057
1
SHARE

LouisKisahMuallaf.com – Kematian ibunya akibat kanker memperkuat putusannya untuk tidak lagi beragama. Ia merasa agama tidak banyak membantu dirinya mencapai kehidupan yang lebih baik.

“Saya ingat, saya banyak berdoa untuk kesembuhan ibuku. Tapi ternyata itu tidak membantu,” kenang Louise.

Sejak itulah, ia tidak lagi beragama. Namun, ia memiliki teman seorang Muslim dan Kristen. Hubungannya dengan mereka cukup akrab. Dalam pertemanan itu, ia mulai mengenal Islam.

Ada satu kesimpulan menarik dari dirinya tentang Islam. “Islam adalah agama yang logis,” katanya. Memasuki jenjang sekolah menengah, Louise belajar banyak agama.

Ia lakukan itu hanya sekedar menambah ilmu saja tidak lebih. Tanpa ia sadari, secara perlahan ia mulai menaruh minat pada Islam. Penilaian terhadap Islam tidaklah berubah. Islam merupakan agama yang logis.

Memang, awalnya ia sempat takut mempelajari Islam lantaran stereotip negatif.“Aku sempat berpikir hal buruk tentang Islam. Nyatanya, tidak ada hal buruk dari agama ini, banyak hal indah yang dapat ditemukan,” kata dia.

Satu ketika, Louise bertemu dengan seorang pria Arab-Amerika. Ia jatuh cinta padanya. Bagi Louise, pertemuan itu seperti memperkuat dugaanya bahwa Tuhan menginginkannya untuk menjadi Muslim. “Aku tidak tahu, tapi aku semakin yakin menjadi Muslim,” ungkapnya.

Sayang, hubungan itu tidak bertahan lama. Setahun setelah perpisahan itu, Louise belum mempraktikkan ajaran Islam seutuhnya.

Ia berpuasa tapi tidak pernah shalat. Ia sendiri belum memahami makna bacaan dalam shalat.

Ia juga belum mengenakan hijab. Namun, Louise tidak lagi mengkonsumsi babi atau minuman beralkohol.“Yang sulit adalah shalat lima waktu dan berhijab,” akunya.

Mendengar keputusan Louise menjadi Muslim, keluarganya terkejut. Mereka mencoba menyakinkan dirinya untuk berpikir ulang. Beruntung, ayahnya sangat menghormati keputusannya itu.

Namun, adiknya belum bisa menerima keputusannya menjadi Muslim. “Aku percaya mereka menerima apa yang kuputuskan. Itu terlihat ketika mereka tidak lagi menyajikan babi ketika datang ke rumah,” tutur Louise.

Selesai dengan urusan pribadi dan keluarganya, perlahan tapi pasti ia mulai untuk kembali belajar. Ia mulai berpikir untuk mengenakan hijab. Tapi keluarganya seperti tidak bisa menerima niatan itu.

“Mereka bertanya padaku, apakah itu perlu. Lalu, aku katakan pada mereka, jilbab adalah bentuk komitmenku terhadap Islam,”
kata Louise.

Butuh enam bulan, bagi Louise untuk mengenakan jilbab. Tepat bulan Ramadhan, ia mulai mengenakannya. Setiap memakainya, ia selalu berdoa agar setiap orang mau menerima putusannya mengenakan hijab.