Beranda Hindu Ni Luh Sunarmi, Islam Agama Pemersatu

Ni Luh Sunarmi, Islam Agama Pemersatu

27368
15
BAGIKAN
Islam Agama Pemersatu
Dengan kekuasaan dan kebesaran Tuhan Yang Maha Esa, pada awal tahun 1975 saya lahir dengan selamat ke alam dunia ini. Saya adalah anak bungsu dari lima bersaudara. Bapak saya bernama Nyoman Bakta, sedangkan ibu saya bernama Nyoman Sembrog. Semua keluarga saya penganut agama Hindu Dharma yang selalu taat mengabdi kepada Tuhan Sang Hyang Widi Washa.
Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa setiap anak yang lahir ke alam fana ini, sudah barang tentu akan mengikuti ajaran agama yang dianut oleh kedua orang tuanya. Demikian pula dengan diri saya yang sejak kecil hidup dalam lingkungan pergaulan masyarakat yang menganut agama Hindu. Tepatnya kami tinggal di Kampung Barnasi, Desa Buduh, Kecarnatan Mongui, Kabupaten Badung, Bali. 
Menengok kehidupan masa kecil saya, teringat pula kehidupan keluarga saya yang tergolong petani miskin. Kendati demikian, perhatian kedua orang tua saya dalam masalah pendidikan buat anak-anaknya cukup membanggakan. Ini terbukti dari keberhasilannya menyekolahkan semua anak-anaknya hingga tamat SUP, termasuk saya.
Sejak masuk usia sekolah, sedikit demi sedikit saya mulai mengenal ajaran agama Hindu yang dianut oleh seluruh keluarga kami, yakni suatu ajaran yang menyembah kepada tuhan Sang Hyang Widi dengan cara melipat kedua tangan tiga kali seraya berdoa kepada Sang Dewa yang menguasai alam jagat raya ini. Konon, menurut para tetua Hindu yang pernah saya dengar, alam ini dikuasai oleh banyak dewa yang bersemayam di mana-mana. Misalnya, di gunung-gunung, di pohon kayu besar, di laut, dan sebagainya.
Setelah saya bisa membaca huruf latin yang diajarkan di sekolah, saya mulai gemar membuka sekaligus mempelajari buku buku yang berkaitan dengan agama Hindu. Kegemaran saya ini seiring dengan ketekunan saya datang ke pura untuk melaksanakan persembahyangan dan acara-acara adat yang dikerjakan oleh penganut Hindu.
Perlu diketahui, terutama dalam hal pendidikan agama bagi anak-anaknya, agama Hindu jauh berbeda dengan agama Islam. Maksud saya, di agama Hindu tidak ditemukan tempat khusus bagi anak-anak untuk memperdalam ilmu agamanya sendiri. Sehingga tidak mengherankan, kalau sebagian penganutnya tidak mengenal ajaran agamanya sendiri. Lain halnya dengan Islam yang setiap waktu saya saksikan anak-anak, para remaja, dan orang tua berbondong-bondong mendatangi tempat pengajian.
Bertemu Pemuda Muslim
Setelah tamat SD, saya melanjutkan studi ke SMP yang ada di tempat tinggal saya. Di SMP inilah saya mulai mengenal beberapa orang teman yang memeluk agama Islam. Mereka selalu ramah, sopan terhadap siapa pun tanpa memandang agama dan kasta.
Sayangnva, setelah saya tamat SMP, ibunda tercinta dipanggil oleh Tuhan Yang Mahakuasa untuk selama-lamanya. Sepeninggal ibu, hidup saya mulai terlunta-lunta tanpa arah dan tujuan. Ketekunan saya datang ke pura pun mulai berkurang. Niat saya ingin melanjutkan studi kandas di tengah jalan, karena tak ada dukungan biaya.
Dengan bermodalkan ijazah SMP, saya mencoba mencari pekerjaan ke kota kabupaten (Badung). Di kota inilah nasib mujur saya raih. Saya diterima bekerja di sebuah toko penjahit pakaian. Di tempat saya inilah saya mengenal beberapa orang teman Hindu yang sudah masuk Islam. Selain itu, saya juga berkenalan dengan seorang pemuda muslim yang berasal dari Lombok dan bekerja sebagai buruh bangunan.
Setelah beberapa bulan berkenalan, saya memberanikan diri untuk mengajak pemuda yang bernama Miswadi ini untuk berdiskusi tentang ajaran agama masing-masing. Secara jujur saya katakan, saya selalu kalah dalam setiap adu argumentasi dengannya. Setiap pertanyaan saya selalu dijawabnya dengan jawaban yang masuk akal.
Pada suatu ketika saya berjalan di dekat sebuah masjid. Ketika itu saya saksikan sebuah pemandangan yang sangat menarik, dan tidak pernah saya lihat dalam agama Hindu. Saat itu umat Islam sedang melaksanakan lbadah pada tengah hari (shalat zuhur). Alangkah indahnya gerakan yang mereka lakukan, yakni suatu gerakan yang sungguh menggetarkan batin saya. Seluruh jamaah di masjid itu melakukan gerakan yang sama, dengan barisan yang lurus teratur, mereka menunduk, lalu kepalanya menyentuh tanah.
Dengan menyaksikan itu, saya berkesimpulan bahwa Islam adalah agama pemersatu bagi umat manusia. Islam adalah agama yang tidak memandang suku, ras, dan kasta. Hal ini dibuktikan dengan cara mereka melakukan ibadah, yakni shalat.
Masuk Islam
Sesudah menyaksikan apa yang dilakukan oleh umat Islam itu, kemudian saya mencoba menemui Miswadi. Di depan pemuda muslim tersebut saya mengutarakan niat saya memeluk agama Islam. Rupanya Miswadi tidak begitu saja menerima niat saya itu. Saya pun kemudian diberondong berbagai pertanyaan. la khawatir, jangan jangan setelah memeluk agama Islam, saya akan murtad lagi, kembali ke agama semula.
Saya berusaha meyakinkan Miswadi. “Aku masuk Islam bukan karena ada paksaan dari orang lain. Tetapi niatku ini benar-benar tulus, datangnya dari Allah SWT,” tegas saya mantap. Setelah mendengar jawaban saya itu, Miswadi pun mengajak saya untuk pergi ke Lombok. Ajakannya ini pun saga ikuti. Di tengah perjalanan pulang ke Lombok, Miswadi pun mengutarakan isi hatinya, yaitu kalau saya sudah masuk Islam, dia bersedia menjadi pendamping hidup sekaligus pembimbing saya.
Singkat cerita, pada tanggal 25 Oktober 1997, saya mengucapkan ikrar dua kalimat syahadat, dibimbing Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Bayan, Bapak Sayid Aqil Alkaff, disaksikan Bapak Mustari, Nurmasari, dan Audi, serta pegawai KUA lainnya. Dan ketika itu juga saya memperoleh nama baru yaitu, Sri Wahyuni.
Alhamdulillah, setelah saya masuk Islam, Miswadi pun memenuhi janjinya. Dan, pada tanggal 26 Oktober 1997 saya resmi menjadi istri Miswadi. Namun ketahuilah, seperti apa yang saya katakan di atas, saya masuk Islam bukan lantaran ingin menikah atau ada paksaan dari orang lain. Ini benar-benar karena kemauan saya sendiri. Sebab, saya yakin seyakin-yakinnya bahwa Islam adalah agama yang hakiki, agama yang m
empersatukan antara sesama, tanpa memandang kasta dan lain sebagainya.
Akhirnya saya berharap semoga keluarga saya diberikan petunjuk oleh Allah Yang Mahakuasa sehingga mereka mau mengikuti jejak saya untuk masuk Islam. Dan, semoga Tuhan Rabbul Izzati memberikan keturunan yang saleh dan salehah. Amin.