Beranda Hindu Pandit Bane Musalmaan, Terimalah Islam Agar Selamat Dunia Akhirat

Pandit Bane Musalmaan, Terimalah Islam Agar Selamat Dunia Akhirat

7048
21
BAGIKAN

Pandit Bane Musalmaankisahmuallaf.com – Pandit bane Musalmaan, 42 tahun, warga negara India, duduk dengan pulpen dan pikiran penuh dengan sesuatu. Ia menulis kisah hidupnya, Pandit bane Musalmaan nama panggilan di tempat kelahirannya, ia sebelumnya adalah seorang Pendeta Hindu dari India yang memeluk Islam. Namanya pun berganti Abdur Rahman.

Warga negara India ini bekerja sebagai penjaga toko di Saudi Bin laden BTAT, pada Proyek King Abdul Aziz Endowment, salah satu perusahaan konstruksi yang menangani proyek di sebrang masjidil Haram Mekkah.

Sebelum datang ke Jeddah dan memeluk Islam, Abdur Rahman dikenal sebagai Sushil Kumar Sharma. Kampung halamannya di Amadalpur, sebuah desa kecil di Haryana, negara bagian India sebelah utara. Ia lahir dalam keluarga Hindu ortodoks dengan keistimewaan memimpin ritual keagamaan di kuil desa.

Saat tinggal di tempat penampungan perusahaan di Jeddah, seorang kawan memberinya beberapa buku Islam dalam bahasa Hindi. Ia kemudian dipindahkan ke Riyadh untuk bekerja pada sebuah proyek di kampus perempuan Universitas Putri Noura. “Di tempat penampungan itulah saya bertemu sejumlah Muslim dari India dan Pakistan yang menjelaskan tentang agama Islam kepada saya,” tutur Sharma.

Salah satu di antara mereka adalah sahabat karib Sharma. Namanya Salim, berasal dari Rajasthan—sebuah negara bagian di barat laut India. Mereka berdua tinggal dalam satu kamar. Saat-saat senggang, Salim menceritakan kisah-kisah nabi dalam Islam dan membacakan hadis Rasulullah SAW. “Hati saya bergetar. Dan saya mulai bertanya-tanya pada diri sendiri. Apa yang akan terjadi padaku setelah mati? Apakah aku akan masuk neraka selamanya karena dosa-dosaku? Saya takut dengan azab kubur bagi orang-orang berdosa dan kafir,” ungkap Sharma.

Ia pun mulai menghabiskan malam tanpa dapat memejamkan mata. Ia merasa sudah waktunya untuk memeluk Islam dan menjadi seorang pengikut Nabi Muhammad yang setia. Akhirnya, pencarian panjang Sharma akan kebenaran menemui ujungnya. “Keesokan harinya, saya mengungkapkan niat untuk memeluk Islam kepada Salim dan rekan-rekan lain di penampungan. Ada sorak kegirangan di tempat kerja kami. Semua orang bahagia, mereka mengucapkan selamat dan memelukku,” kenang Sharma.

“Bagi saya, Islam itu adalah sistem persaudaraan universal yang tidak mengenal kasta, perbedaan, warna kulit, atau ras. Inilah yang membuat saya tertarik pada Islam,” ujarnya.

Esok harinya, digelar pertemuan dengan para anggota Kantor Koperasi untuk Panggilan dan Bimbingan di Al-Batha, Riyadh. Imam masjid di penampungan menuntun Sharma mengucapkan dua kalimat syahadat. “Saya mengucapkan dua kalimat syahadat dengan sepenuh hati, menerima Allah sebagai Tuhan dan Muhammad SAW sebagai Rasul-Nya. Imam masjid juga menyarankan saya untuk mengganti nama menjadi Abdur Rahman. Saya pun menerimanya,” kenang Sharma.

Setelah itu, Sharma alias Abdur Rahman dipindahkan ke Bahra, sebuah kota yang terletak di dekat jalan raya Makkah-Jeddah. Mandor proyek juga senang mengetahui dirinya telah memeluk Islam. Sang mandor pun bersikap baik padanya dan kerap mengulurkan bantuan. “Namun, saya ingin dekat dengan Tuhan,” kata Rahman. “Saya berdoa kepada Allah agar memindahkan saya ke Makkah. Alhamdulillah, doa saya dikabulkan. Saya pun dipindahkan ke tempat kerja yang dekat dengan Masjidil Haram.”

Pulang kampung dan berdakwah

Kini, Abdur Rahman memiliki tugas besar; menyampaikan pesan-pesan Islam kepada anggota keluarganya. Ia memiliki seorang istri dan dua putra; tujuh tahun dan 16 enam belas tahun.

Ia pun telah memberitahu keluarganya via telepon, bahwa dirinya telah memeluk Islam dan menjadi seorang Muslim. Awalnya, mereka tidak percaya. Istrinya mengatakan akan menentukan sikap setelah Rahman pulang kampung saat libur nanti. “Tiap hari saya berdoa dan bermunajat kepada Allah SWT agar membimbing keluarga saya ke jalan yang lurus, dan melembutkan hati mereka untuk menerima Islam,” kata Rahman dengan air mata berlinang.

Rahman juga sadar—sebagai bekas pendeta yang dihormati—akan menghadapi banyak tentangan dari saudara, teman dan kerabat satu desanya. Namun, ia bertekad menghadapi mereka dengan dakwah dan hikmah. “Saya yakin Allah akan membantu saya,” ujarnya.

Abdur Rahman juga berpesan kepada semua orang, “Saya ingin menyampaikan pesan ke seluruh non-Muslim di dunia untuk menerima Islam, agar mereka selamat di dunia dan akhirat.”