Home Unik Sukapno, Sejak Kecil Ingin Menjadi Muslim

Sukapno, Sejak Kecil Ingin Menjadi Muslim

2884
0
SHARE
Kisah Muallaf

Sejak masih duduk di bangku sekolah dasar, saya sudah tertarik untuk shalat bersama dengan teman-teman sebaya, terutama bila melihat mereka shalat berjamaah, baik di tempat tinggal saya maupun di sekolah pada saat pelajaran agama. Tapi, hasrat untuk melakukan shalat itu sempat terbendung, karena saya sadar, saya bukan seorang muslim. Harap maklum, saya anak ketiga dari enam bersaudara. Ibu saya Karma dan ayah Dwijo Samino adalah pemeluk Katolik. Saya sendiri lahir di Sleman, Yogyakarta, 3 Agustus 1967.

Sejak kecil, saya sudah ditanamkan ajaran Katolik yang dipeluk kedua orang tua. Namun, entah mengapa, hati saya menolak menerimanya. Tentu saja, penolakan itu harus saya pendam di dalam hati. Kadang-kadang saya suka nekat. Tanpa sepengetahuan orang tua, saya sering meminta teman-teman yang muslim untuk mengajarkan saya tata cara mengambil wudhu dan shalat. Ternyata, mereka dengan senang hati mau mengajari, hingga saya dapat melakukan gerakan shalat, walaupun belum bisa sepenuhnya membaca ayat ataupun bacaan-bacaan lainnya.
Keinginan besar itu tidak pernah padam hingga saya diterima bekerja sebagai pegawai negeri sipil (PNS) di instansi TVRI Semarang. Dalam menjalankan tugas sebagai seorang kamerawan TVRI, bila meliput kegiatan keislaman, saya begitu tertarik.
Bila ada waktu luang akan saya pergunakan untuk menambah wawasan tentang Islam dengan bertanya kepada para kiai yang saya temui di lapangan. Dari masukan yang saya dapatkan itu, semakin memperkokoh hasrat saya untuk memeluk Islam. Tapi, tentu tidak semudah itu untuk melaksanakan keinginan itu. Orang tua saya pasti akan menentang.
Sebenarnya, bisa saja saya langsung menjadi seorang muslim. Sebab bila kemungkinan terburuk, misalnya saya dikucilkan dari keluarga, tentu sudah tidak menjadi masalah. Sebagai seorang PNS, saya merasa sudah dapat membiayai kehidupan saya sendiri tanpa harus terus bergantung kepada orang tua.
Tapi, saya bukan tipe orang sombong, yang mentang-mentang sudah mandiri, lantas dengan begitu saja membuat keputusan tanpa memikirkan perasaan orang tua yang sudah melahirkan dan membesarkan. Saya mencari waktu yang tepat, sehingga tidak mengecewakan orang tua terlalu besar. Walau bagaimanapun, mereka tentu kecewa kepada saya. Sebagai orang tua, mereka tentu merasa kehilangan anaknya.

Menikah
Saya sempat bimbang, antara keinginan untuk memeluk Islam dan menjaga perasaan orang tua. Saya merasa sudah cukup dewasa untuk menentukan pilihan. Termasuk dalam hal memilih pasangan hidup. Muncul ide dalam benak saya untuk memuluskan jalan menjadi seorang muslim, paling tidak, saya harus beristrikan seorang muslimah.
Ternyata, Tuhan mempertemukan saya dengan wanita yang juga seorang PNS asal Sukoharjo. Sri Supatmi, namanya. Saya kenal ia sekitar satu tahun yang lalu. Calon istri yang saya idamkan dari keluarga muslim ini, tentu akan memperlancar jalan saya untuk menjadi seorang muslim.
Namun, keinginan saya untuk menikahi Sri tertunda karena saya mendapat panggilan tugas belajar ke Yogyakarta selama satu tahun. Tugas belajar dimulai awal April 1999 lalu danberakhir Januari 2000. Waktu yang cukup panjang untuk dapat menikahi gadis pilihan saya itu.
Saat masuk asrama inilah saya bertemu teman-teman yang berasal dari seluruh Indonesia dan mayoritas beragama Islam. Secara resmi saya memang belum memeluk Islam, tapi saya sudah merasa sebagai pemeluk Islam. Bersama teman-teman satu asrama, saya melaksanakan shalat berjamaah dan sekaligus mendapat bimbingan dari mereka.
Teman-teman di asrama telah lebih dulu mengakui saya sebagai seorang muslim, walaupun secara resmi belum disaksikan masyarakat luas dan disahkan secara hukum. Atas bimbingan dan pandangan teman-teman serta motivasi mereka, membuat saya memutuskan untuk menikahi gadis idaman saya itu saat tugas belajar. Hal ini dipercepat dari rencana semula. Sebenamya saya baru akan menikah setelah pendidikan tahun 2000 mendatang.
Allah SWT telah mendatangkan jodoh bagi saya, sekaligus mempercepat proses saya menjadi seorang muslim secara resmi. Termasuk di sini saya memberanikan diri untuk menyatakan bahwa agama yang terbaik bagi saya adalah Islam, kepada orang tua dan saudara-saudara saya.
“Bapak sedih, tapi bapak tidak bisa apa-apa, kamu sudah dewasa dan kamu sendiri yang menentukan jalan hidupmu sendiri, ” kata bapak saat saya menyampaikan niat saya masuk Islam. Perasaan sedih juga terpancar dari wajah ibu. Mungkin beliau kecewa.
Kebulatan tekad memberanikan diri saya berterus terang. Saya anggap ini adalah saat yang paling tepat untuk mengutarakan serta memintakan restu orang tua melamar gadis pilihan saya itu. Mereka pun tak bisa menolak.
Saya diislamkan di Masjid Syuhada Yogyakarta, usai shalat Jumat, 6 April 1999. Suatu peristiwa bersejarah dalam hidup saya, disaksikan rekan-rekan satu pendidikan, para dosen, pimpinan perguruan tinggi kedinasan. Dan yang paling membahagiakan, sebagian besar jamaah Masjid Syuhada yang baru usai shalat Jumat tidak mau beranjak menyaksikan pengislaman saya.
Alhamdulillah, saya mengucapkan dua kalimat syahadat dengan lancar, dituntun imam Masjid Syuhada. Tiba-tiba saat selesai mengucapkan syahadat, saya tak mampu menahan haru yang teramat sangat, sehingga berkucuran air mata. Tangis saya meledak saat melihat rekan saya yang hadir turut larut haru dan mengucurkan air mata. Syahadat menggetarkan sesuatu dalam batin yang tak dapat saya lukiskan dengan kata-kata. Saya pun resmi menjadi seorang muslim.
Sekitar satu bulan lebih setelah resmi memeluk Islam, saya dipertemukan jodoh oleh Allah SWT dengan Sri Supatmi, dan akhimya kami menikah pada 27 Mei 1999. Kebahagiaan ganda pun saya rasakan. Keingginan saya memeluk Islam dan menikah dengan seorang muslimah terwujud sudah. Puji syukur ke hadirat Allah SWT untuk semua limpahan ini.
Sesuatu yang tidak saya duga sebelumnya, dan ini merupakan kebahagiaan yang lain lagi. Saya rasa limpahan rahmat ini menambah kebahagiaan bagi saya, karena salah seorang adik saya berniat akan masuk Islam. Insya Allah.