Nicole Queen Berkat Youtube Aku Bersujud

nicole-mualaf-yang-menemukan-islam-dari-youtube-_121015182445-790KisahMuallaf.com - “Teman-temanku menunjukkan tayangan kuliah di Youtube. Aku pun lalu melihat dan mencari tahu segala hal tentang Islam,” ungkap Nicole Queen mengawali kisahnyanya.

Ia melanjutkan, ”Dari situ, aku justru ketagihan untuk terus menonton. Aku terus di depan komputer menontonnya hingga jam lima pagi,” tutur Nicole Queen, mualaf asal Dallas, Amerika Serikat.

Nicole Queen tak pernah menyangka, berkat tayangan sederhana di Youtube itu akan membawanya pada pintu hidayah, memeluk agama Islam.

Sudah hampir enam tahun Nicole menjalani hidup sebagai sosok baru, seorang Muslimah. Sebelumnya, ia adalah seorang anak baptis dan tumbuh besar dalam agama Kristen baptis.

Ia pun seorang yang taat dalam memeluk agamanya itu. “Agama pembaptis itu baik, saya pergi ke gereja dan saya selalu mengikuti tuntunan agama,” ujarnya.

Meski taat beragama, Nicole mengakui kehidupannya tak jauh berbeda dengan muda-mudi Amerika kebanyakan. Ia biasa menenggak minuman beralkohol, ke diskotik, dan hal-hal lain yang biasa dilakukan anak muda Amerika.

Terlebih, profesinya menuntut dia untuk sering pergi ke tempat-tempat hiburan malam. Ia adalah fotografer di sebuah klub malam.

Hingga suatu hari, banyak pertanyaan menghantuinya. Ia yang rutin beribadah mulai mempertanyakan hakikat ibadah. Ia mulai mempertanyakan tujuan hidup dan kehidupan mendatang. Apakah surga itu benar-benar ada? Apakah neraka memang benar adanya?

Jika benar, lalu apa yang akan terjadi? Apa yang akan dikatakan kepada Tuhan saat bertemu dengan-Nya? Pertanyaan-pertanyaan itu terus saja mengharu biru benak Nicole.

Berawal dari pertanyaan-pertanyaan itu, ia merasa harus ada yang berubah dalam hidupnya. Ia merasa membutuhkan sesuatu untuk perubahan itu.

Hanya saja, ia tak tahu apa yang ia butuhkan. Ia pun mencurahkan kegelisahan hatinya pada teman-temannya. Dari sinilah, Nicole mulai membuka video-video dalam Youtube.

Mulailah ia menonton tayangan tentang kisah para mualaf Amerika dalam menemukan hidayah Islam. Nicole merasa, apa yang mereka rasakan dan alami amat mirip dengan kehidupannya.

”Jadi, aku merasa seperti berhubungan dengan mereka. Mereka menghadapi tantangan dan menemukan jawaban atas apa yang mereka cari. Dan, itulah yang aku inginkan. Aku ingin jawaban.”

Berkeinginan mendapat jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya, Nicole pun terus menonton tayangan Youtube. Ia bahkan tak merasakan kantuk karena begitu antusias.

Tak terasa, ia menontonnya semalam suntuk hingga pukul lima pagi. “Aku menjadi kecanduan. Tapi, hal itu karena aku ingin jawaban. Aku tidak ingin seseorang memberi tahu apa yang seharusnya aku yakini. Aku hanya ingin tahu mengapa,” tuturnya.

Berkat tayangan Youtube tersebut, Nicole mulai tertarik pada Islam. Awalnya, ia berusaha mencari sendiri segala hal tentang Islam. Namun kemudian, ia memutuskan pergi ke masjid untuk mendapatkan apa yang ia cari.

Beberapa buku dan literatur Islam pun ia dapatkan dari sana. Ia tekun mempelajarinya hingga sampailah ia pada keputusan mahapenting, yakni bersyahadat. Tak banyak keraguan melandanya. Ia pun mantap untuk memeluk Islam. Ia bersyahadat di masjid tersebut.

Setelah memeluk Islam, Nicole benar-benar mengubah kehidupannya menjadi lebih baik. Ia tinggalkan segala kegiatannya dengan teman-teman. Ia pun meninggalkan pekerjaannya sebagai fotografer di klub malam. Gaya busananya pun ia ganti menjadi busana Muslimah.

“Ketika aku mengucap syahadat, aku tak pernah melihat lagi ke belakang. Aku mengubah segala hal dalam hidupku, baik teman, pakaian, pekerjaan, semuanya,” ujarnya.

”Aku segera berubah dan itu tidak sulit karena aku tahu itu semua adalah hal benar untuk dilakukan. Aku bersyukur kepada Allah karena berislam,” kisah Nicole dengan wajah berseri.

Segala perubahan itu diketahui sang ibu. Awalnya, Nicole dianggap tak serius dengan pilihannya berislam. Namun, ketika melihat putrinya berhijab dan meninggalkan segala hal haram, sang ibu mulai sadar bahwa Nicole serius.

Namun, hal itu tak mengundang masalah. Sebab, sang ibu melihat perubahan positif pada putrinya sehingga ia tak melarangnya.

“Dia melihat hidupku berubah, aku berpakaian berbeda, meninggalkan hal haram, dan dia menyadari bahwa aku lebih dekat pada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, itu membuatnya bahagia.”

Setelah menjadi Muslimah, Nicole kemudian membuat blog pribadi yang mengisahkan perjalanannya menuju Islam. Di blog itu, ia juga mengisahkan perubahan hidupnya setelah bersyahadat.

Tak sedikit teman-temannya yang membaca blog itu. Tak sedikit dari mereka yang mengaku terpesona dengan jalan Islam yang dipilih Nicole.

“Ketika aku menulis tentang kehidupan baruku, mereka merasa, ‘Wow, dia terus bergerak mengubah hidupnya, tapi kami masih melakukan hal yang sama.’ Jadi, teman-temanku pun mengerti, mereka menghormati keputusan yang aku buat.”

Nicole begitu apik mengisahkan perjalanan hidayahnya di blog itu, termasuk perubahan hidupnya yang menjadi amat baik setelah berislam.

”Banyak gadis yang biasa melakukan kebiasan buruk sepertiku dulu, kemudian mereka membaca blogku dan mereka berkomentar bahwa mereka menangis saat membacanya. Mereka bilang, tulisanku menyentuh hati mereka dan membuat mereka berpikir untuk melakukan perubahan juga,” tutur Nicole bahagia.

Selain aktivitas menyenangkan menulis blog, diakui Nicole, ada hal tak mengenakkan yang ia rasakan setelah menjadi mualaf. Ia yang begitu bahagia setelah berislam, menghadapi kenyataan bahwa jilbab yang ia kenakan menghambatnya mendapat pekerjaan.

Hanya karena berjilbab, ia banyak menumbuk kegagalan dalam wawancara pekerjaan. Namun, pantang baginya untuk bersedih dan putus asa. Ia tetap optimistis pada kemampuannya.

Selain masalah pekerjaan, ia pun sering kali ditegur orang saat jalan-jalan di keramaian. Dengan wajah khas Amerika, Nicole yang berjilbab membuat banyak orang terkejut.

”Mereka heran karena aku seorang Amerika. Jika mereka bertanya, aku pun akan memberi tahu alasanku menjadi Muslim. Dan, itu membuat mereka bergumam ‘wow!’.” Nicole pun menutup kisahnya yang dapat disaksikan di Youtube.

Source : Republika

Raquel, Kisah Mualaf Seorang Polisi Wanita Amerika

raquelKisahMuallaf.com – Bila Allah Subhanahu Wa Ta’ala menghendaki, Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan membuka hati seseorang untuk berlapang dada menerima Islam. Dan tak ada yang dapat menghalangi Kehendak Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Hidayah Islam telah menyapa seorang wanita yang memiliki pekerjaan sebagai perwira polisi Amerika Serikat (AS) di Detroit. Dalam sebuah wawancara di Youtube pada September 2011, ia menceritakan bagaimana ia memeluk Islam. Berikut adalah singkat cerita tentangnya yang diterjemahkan dari transkrip Onislam.

Assalamu’alaykum, Namaku Raquel. Aku masuk Islam sepekan yang lalu. Aku adalah seorang perwira polisi di kota Detroit. Aku bekerja di sana dari 1996 hingga 2004, dan aku ditembak pada tahun 2002. Aku ditembak ketika sedang bekerja pada pekerjaan itu. Aku hampir meninggal dan aku tahu bahwa aku memiliki sebuah awal baru dan sebuah hidup baru. Aku agaknya tidak tahu bagaimana untuk mengikuti Tuhan. Aku hanya tidak tahu agama apa untuk diyakini hingga aku bertemu beberapa teman Muslim yang benar-benar berbicara padaku dan menjelaskan banyak hal kepadaku. Hal itu sangat mengubah hidupku dan aku tidak takut mati lagi. Satu-satunya hal adalah kita untuk takut kepada Allah dan kita tidak pernah tahu kapan hari berikutnya bagi kita, jadi lebih baik kita mengatakan Syahadat sekarang dan memiliki iman itu, karena hanya ada satu Tuhan, dan aku tahu itu.

Aku benar-benar hampir mati, dan jika aku telah mati pada hari itu, aku tidak tahu apakah aku akan pergi ke Neraka atau tidak. Tetapi sekarang, aku telah memiliki kepercayaan diri dan kedamaian serta kebahagaian yang aku tahu kemana aku akan pergi jika sesuatu terjadi padaku hari ini. Sebelum aku menjadi Muslim, aku benar-benar tidak memiliki pendapat yang kuat sejauh ini tentang umat Islam. Aku bukan seorang yang pro-Muslim atau anti-Muslim atau apapun semacamnya. Aku selalu menjadi tipe orang yang seperti itu, aku benar-benar open-minded (berpikiran terbuka). Dan itu adalah satu hal yang sangat berbeda tentangku dari keluargaku, bahwa aku sangat open-minded dan aku menghormati orang-orang atas apa yang mereka yakini.

khgfAku sebenarnya marah dalam pekerjaanku sebagai seorang polisi karena orang-orang menyerang Muslim di Detroit atas kesalahan yang tidak ada alasannya sama sekali, terutama setelah serangan 9/11. Dan itu sangat menyakiti hatiku untuk melihat semua ini dan benar-benar setelah itu aku menjadi sangat tertarik dengan keyakinan Islam setelah 9/11 karena aku sangat terganggu oleh hal-hal yang aku lihat sebagai petugas polisi di jalanan.

Menjadi Seorang Muslim Baru di Las Vegas

Raquel yang kemudian tinggal di Las Vegas sebagai seorang Muslim yang baru, berusaha untuk mempelajari Islam lebih dalam dan berusaha menunjukkan sikap baik seorang Muslim.

Aku di sini di Las Vegas di Masjid ku dan aku memberikan beberapa pakaian kepada orang-orang yang membutuhkan. Apa yang kita lakukan adalah hanya meninggalkannya di atas meja untuk mereka dan mereka datang serta berharap mereka dapat mendapatkan sesuatu yang mereka sukai. Jadi aku hanya pergi untuk meninggalkan pakaian-pakaian untuk lingkungan sekitar dan mereka dapat mengambil apa yang mereka butuhkan, dan berharap ada beberapa sweater yang bagus di sini yang mereka dapat gunakan karena di Vegas cukup dingin.

Sebagai seorang wanita yang baru saja menjadi Muslimah sepekan (ketika itu), Raquel masih belum lancar mengucapkan do’a-do’a atau surat yang harus ia baca ketika shalat. Sehingga ia membaca dari kertas apa-apa yang harus ia baca (yang telah ia salin ke dalam tulisan latin) ketika shalat. Ia hanya belajar melalui internet dengan mendengarkan audio, kemudian ia mencari kalimat yang bertuliskan latin dan terjemahan bahasa inggris.

Aku tahu bagi beberapa orang mungkin berkecil hati untuk belajar bahasa baru. Pada dasarnya ini adalah sebuah budaya. Ini (Islam) bukan hanya sekedar agama, ini adalah jalan hidup. Bagiku, ini tidak menakutkan. Hanya saja bahwa aku ingin belajar lebih cepat dan aku ingin bisa melakukannya sendiri. Tetapi sulit karena aku di rumah sendiri dan aku belajar hampir semuanya melalui internet, bahkan bagaimana aku mengikat (memakai) kerudungku dan segalanya. Aku harus belajar semuanya sendiri. Tetapi ini telah menjadi pengalaman sangat indah dan ada banyak kedamaian padanya dan banyak kebahagiaan yang kalian tidak pernah pelajari dan mendapatkannya. ini adalah sebuah pengalaman yang luar biasa!

Aku sepenuhnya tahu bahwa aku melakukan hal yang benar. Aku telah mempertimbangkannya selama dua tahun. Aku memiliki banyak teologi dan pengetahuan tetapi aku belum pernah mengalaminya. Akut tidak pernah pergi ke sebuah Masjid dan tidak juga berpengalaman, tetapi aku memiliki banyak teman Muslim dan bahkan aku memilik seorang teman kerja Muslima di pasukan kepolisian yang menjelaskan (tentang Islam) banyak kepadaku.

Dalam video itu, Raquel melakukan sholat dengan membaca bacaan-bacaan sholat dengan masih terbata-bata, namun ia terlihat menikmatinya.

Ketika aku sholat, meskipun aku tidak begitu mengerti do’a-do’a itu, apa yang aku lakukan ada di internet, aku mengetahui beberapa situs di mana setelah ada bahasa Arabnya, aku akan mendapatkannya dalam bahasa Inggris (tulisan latin) juga. Jadi aku akan membacanya dalam versi Inggris (maksudnya dalam tulisan latin -red) dan ini begitu kuat dan aku merasa dilindungi, dan aku tahu bahwa di dunia ini tidak ada yang harus aku takutkan kecuali Allah. Sangat menyenangkan. Ini baru dalam hidupku dan aku baru saja mengenal kedamaian dan sebuah kebahagiaan baru yang datang padaku.
Hal yang paling utama yang aku sukai tentang Islam adalah aku benar-benar tertutup (menutup tubuh), aku lakukan. Jujur saja aku benar-benar menikmatinya, terutama di sini di Las Vegas karena para pria melihat kepada wanita dengan sangat menyeramkan dan aku benar-benar merasa aman. Satu hal lainnya yang aku suka adalah bahwa aku belajar banyak. Aku belajar banyak dan aku senang belajar. Dan aku selalu yakin bahwa kehidupan adalah sebuah pengalaman belajar. Dan aku sangat mencintai tentang ini (Islam), aku belajar sesuatu yang baru setiap hari.

Ada banyak kedamaian dan banyak kebahagaiaan yang aku tidak pernah rasakan sebelumnya.

Molly Carlson, Berawal dari Sebuah Novel

molly-carlson-_121011130302-261KisahMuallaf.com – Molly Carlson tak menduga sebuah buku fiksi yang dibacanya di masa kecil akan membuatnya mengenal Islam.

Selanjutnya, perkenalan itu secara tidak sadar membekas di hati, membuatnya diam-diam meyakini bahwa Islam sebagai agama yang paling benar.

Bahwa, semua doa, pelayanan, dan salib yang disilangkan dengan jari di dadanya, hanyalah sebuah ritual yang selama ini tak menyentuh hatinya.

“Saya tidak ingat berapa umur saya ketika membaca buku itu, tapi saya ingat betul satu adegan di buku itu yang membuat saya mengenal Islam dan mempertanyakan identitas saya sebagai Katolik,”
ujar perempuan yang berasal dari Minnesota, Amerika Serikat, itu.

Novel yang dibacanya adalah “King of the Wind” karangan Marguerite Henry. Novel ini berisi tentang kisah seorang anak laki-laki yang berasal dari Maroko dan kudanya.

Adegan yang dikenang Molly dalam buku itu adalah ketika si anak dikisahkan berpuasa saat Ramadhan. “Entah mengapa setelah membaca kisah tersebut, hati saya tiba-tiba tergerak,” ungkapnya.

Sejak itu, benih ketertarikan pada Islam mulai bersemi di dalam hati. Rasa penasaran menuntunnya untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tentang Islam dan agamanya saat itu.

Lalu, beberapa mimpi menuntunnya untuk mengenal Islam lebih dalam. “Pada umur 12 tahun, saya mendapatkan mimpi misterius yang tidak benar-benar saya mengerti. Tidak menakutkan, tapi mimpi itu seperti merefleksi hati saya ketika itu,” kenang Molly.

Dalam mimpi itu, Molly berdiri di sebuah ruangan kotak yang dindingnya terbuat dari kayu dan memiliki karpet berpola di lantainya. Ruangan tersebut diterangi oleh lentera.

Molly berdiri di tengah ruangan tersebut. Di sebelah kirinya terdapat sebuah pintu kayu berukir untuk masuk ke ruangan lainnya. Meskipun terpisah pintu, dalam mimpi, Molly melihat banyak perempuan di dalam ruangan tersebut. Mereka semua menggunakan kain penutup kepala. Sementara, ruangan tempat dia berdiri saat itu adalah ruangan yang dipenuhi laki-laki.

Dalam mimpi itu, Molly sadar bahwa apa yang dilakukannya salah.

Seyogianya dia tidak berada di ruangan tersebut. Seharusnya dia bergabung dengan para perempuan di ruangan sebelahnya.

Dalam mimpi itu pula dia menyadari keberadaan sebuah kekuatan besar yang kemudian dipahaminya sebagai sosok Tuhan.

Molly merasa, Tuhan kecewa kepadanya karena berada di ruangan tersebut. Entah mengapa, mengetahui hal tersebut, Molly merasa sangat sedih. Mimpi tersebut membuat Molly kecil semakin bertanya-tanya.

Di lain waktu, mimpi lain menyerbunya. Saat itu, Molly telah cukup dewasa untuk membuat keputusan atas dirinya. Dalam mimpi tersebut, Molly melihat seorang perempuan berdiri di sebelahnya.

Perempuan itu lagi-lagi menggunakan kain hitam yang menutupi tubuhnya dari kepala hingga ujung kaki, seperti seorang ninja. Molly hanya bisa melihat mata perempuan itu.

Dia pun merasa takut melihat sosok tersebut. Namun, dia memberanikan diri untuk mendekat kepada perempuan tersebut. Molly melihat mata perempuan tersebut lebih saksama. Dia terkejut ketika mengetahui bahwa perempuan yang berada di depannya itu adalah dirinya sendiri.

“Saya bisa tahu dari mata itu. Itu mata saya. Kami seperti cermin. Sejenak saya berpikir bahwa mimpi tersebut adalah masa depan saya kelak,” ujarnya.

Kejadian demi kejadian tak lantas membuatnya menyeberang batas keyakinan untuk menjadi orang Islam. Eksplorasinya tentang Islam yang lebih mendalam baru dilakukan setelah peristiwa 9/11 lebih satu dekade silam.

Saat itu, Molly sedang menempuh semester pertama kuliahnya. Usianya menginjak 18 tahun. Ketika peristiwa runtuhnya menara WTC di New York terjadi, Molly memiliki sejumlah teman dekat yang beragama Islam.

Namun, selama ini pertemanan mereka tidak banyak menyinggung soal agama. “Kami tidak membahas agama setiap kali bertemu. Mereka tidak pernah mempertanyakan keyakinan saya dan tidak pernah memaksakan keyakinan mereka kepada saya,” katanya.

Peristiwa 9/11 yang diwarnai aroma terorisme gerakan jihad telah menyebarkan kebencian publik Amerika terhadap Muslim.

Namun, tidak demikian dengan Molly. Penilaiannya tentang teman-temannya yang Muslim tidak berubah. Mereka tetap menjadi sahabat baik bagi Molly. Tak ada kebencian.

Justru, yang muncul adalah simpati, bukan pada korban yang meninggal karena peristiwa tersebut, melainkan pada teman-teman Muslim yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan tragedi itu. Tetapi, dihakimi masyarakat hanya karena mereka Muslim.

“Saya tidak tega melihat teman saya diperlakukan tidak baik pascakejadian tersebut. Saya sudah mengenal mereka sejak lama. Mereka orang yang sangat baik. Bukan teroris ataupun ekstremis,” ujarnya.

Suatu kali, Molly pernah meminjam hijab, abaya, dan niqab milik seorang temannya dan datang ke kampus dengan penampilan tersebut. Hal tersebut dilakukannya hanya untuk mencari tahu bagaimana rasanya menjadi Muslim.

“Kenyataannya, saya benar-benar diperlakukan secara berbeda. Perlakuan yang keras bagaikan membuat saya menangis.”

Perlakuan tersebut tak menyurutkan keputusannya untuk memeluk Islam di kemudian hari. Pada 2005, ketika usianya 22 tahun, di ruang tamu sebuah keluarga Muslim kenalannya, Molly membaca syahadat.

“Saya masih ingat betul perasaan saya saat itu. Saya merasakan tangan Tuhan merangkul saya dan mencabut dosa saya, serta membuat saya menjadi orang yang baru,”
tuturnya.

Sejak saat itu, Molly tidak pernah melihat lagi ke belakang. “Saya tidak pernah menyesali keputusan saya. Saya menemukan lebih banyak arti dan kesenangan dalam hidup saya setelah menjadi Muslim.”

Ramadhan Pertama dan Sebuah Pengakuan
Tujuh bulan berselang setelah Molly membaca syahadat. Peristiwa pengubah hidupnya itu tak pernah diceritakan kepada keluarganya, terutama kepada sang ibu yang saat itu tinggal bersamanya.

Alhasil, Ramadhan pertamanya adalah bulan yang tak terlupakan baginya. Ia harus sembunyi-sembunyi berpuasa karena khawatir ketahuan sang ibu.

Hal yang paling berat bagi Molly adalah saat sahur. Karena, ia harus mencari alasan yang rasional untuk ibunya, mengapa ia harus bangun pukul empat dini hari untuk memasak dan makan.

Dia masih berpikir untuk tidak memberi tahu sang ibu soal agama barunya. Akhirnya, Molly mencari cara lain. Setiap hari dia akan menyimpan persediaan makanan di bawah tempat tidurnya. Saat sahur, dia akan memakannya.

Beberapa kali sang ibu memergokinya sedang makan sahur. “Saya berusaha meyakinkannya dengan mengatakan bahwa saya agak susah tidur malam itu,” kata Molly.

Sang ibu juga pernah curiga ketika memergokinya tidak makan pagi ataupun siang. “Pernah dua kali saya terpaksa membatalkan puasa karena keluarga kami mengadakan perayaan dan saya tidak bisa menghindar,” kenangnya.

Namun, pada 10 hari terakhir Ramadhan, Molly sadar, dia tidak bisa lagi menutupi keislamannya. Saat itu, sang ibu harus menjalani operasi dan Molly sangat takut sesuatu yang buruk menimpanya. Sang ibu tidak pernah tahu bahwa putrinya telah berpindah agama. Dalam perjalanan ke rumah sakit, Molly memutuskan untuk menceritakan hal tersebut pada ibu.

Di luar dugaan, sebelum Molly sempat mengatakan apa pun, ibunya tiba-tiba berkata, “Tak perlu menceritakannya padaku, kamu seorang Muslim, bukan?”

Perkataan ibu menyentaknya. Lalu, di luar dugaan, sang ibu ternyata bisa menerima keputusan Molly meskipun dengan jujur dia mengaku tidak terlalu menyukai hal itu. Namun, sang ibu tetap menghormati pilihan Molly dan akan terus mencintai Molly sebagai putrinya.

Bahkan, pada hari raya Idul Fitri, sang ibu menyampaikan ucapan selamat kepadanya. “Mulai hari itu, ibu menjadi segalanya buat saya,” tutur Molly.

Sejak itu, hambatan utama Molly bukan lagi pengenalan agama barunya, melainkan kebiasaan berpakaian. Ternyata, membaurkan Islam dengan budaya Amerika tak sesulit perkiraannya. Akhirnya, dia pun berani memakai hijab.

Andre Carson: Al-Quran itu Indah

Andre D. Carson

Andre D. Carson

KisahMuallaf.com – Nama Andre D Carson mungkin tidak setenar Keith Ellison, anggota Muslim pertama dalam Kongres Amerika Serikat (AS).

Namun demikian, kiprah Andre Carson dalam dunia politik negeri Paman Sam itu sudah tidak diragukan lagi. Seperti halnya Ellison, Carson tercatat sebagai salah satu anggota senat (DPR) AS. Hebatnya lagi, ia adalah seorang Muslim.

November 2010 menjadi awal periode kedua bagi Carson menduduki kursi anggota legislatif AS menyusul kemenangan yang diraihnya dalam pemilu sela yang digelar 2 November tahun 2009 lalu.

Dalam pemilu sela tersebut, Carson yang merupakan wakil dari negara bagian Indiana, unggul 58,9 persen suara atas penantangnya, Marvin Scott yang hanya memperoleh 37,8 persen.

Perjuangan Carson untuk bisa meraup 58,9 persen suara tersebut tidaklah mudah. Selama masa kampanye, Carson kerap diserang dari sisi keislamannya oleh sang rival. Scott kerap menjadikan kemusliman Carson sebagai target serangannya.

Dalam situs pribadinya, Scott menulis pernyataan anti-Islam yang menyatakan bahwa elemen radikal Islam sedang mendanai dan membangun masjid-masjid di seluruh Amerika.

Bahkan, Scott yang mengklaim dirinya sebagai orang yang menghormati kebebasan beragama berujar, “Saya membela hak Carson untuk menjadi seorang Muslim… tapi mereka (Muslim), tidak berhak mengganti hukum AS dengan hukum Islam, hukum para ekstremis.”

Namun, pernyataan keras Scott itu tak ditanggapi serius oleh Carson. Menurut dia, pernyataan itu merupakan bentuk kekesalan Scott karena tak mampu memenangkan pemilu sehingga melakukan black campaign terhadap dirinya.

Menjadi Muslim

Ketertarikan Carson terhadap Islam sudah berlangsung sejak usia remaja. Tapi, ia mulai membaca buku-buku mengenai Islam dan masuk Islam sekitar 14 tahun lalu.

Satu hal yang paling memengaruhinya adalah karya-karya penyair sufi Rumi dan buku autobiografi tokoh Muslim Afro-Amerika, Malcolm X.

Ketertarikannya terhadap Islam diakuinya karena nilai-nilai kedamaian dan kasih sayang yang diajarkan dalam Al-Quran.

“Bagi saya, daya pikat Islam adalah pada aspeknya yang universal. Semua agama mengajarkan universal. Tapi dalam Islam, saya melihatnya secara teratur di masjid-masjid di mana orang dari berbagai ras ikut shalat bersama,” ujarnya.

Carson kerap terlihat menunaikan shalat di Masjid Nur-Allah, sebuah masjid Suni yang banyak dikunjungi orang Amerika keturunan Afrika.

Sebagai politikus Muslim di negara yang mayoritas penduduknya non-Muslim, Carson kerap menghadapi berbagai kritikan yang menghubungkannya dengan pemimpin Nation of Islam, Louis Farrakhan.

Sekalipun menyangkal bahwa kelompok Islam itu ada hubungannya dengannya, namun ia mendukung beberapa aktivitas yang dilakukan kelompok itu, seperti memerangi penggunaan narkotika.

Kendati sikapnya ini ditentang, Carson tetap memiliki banyak pendukung. Sejak memutuskan untuk terjun ke kancah politik, ayah dari seorang putri bernama Salimah ini tidak menganggap agama yang dianutnya bakal menghambat kariernya. Sekalipun saat ini umat Islam masih berjuang keras untuk meningkatkan citra mereka di Amerika.

Politisi yang beristrikan Mariama Shaheed, seorang pendidik di Pike Township School ini menegaskan, sekalipun ia menghormati Islam, agama yang dianutnya tidak akan pernah memengaruhi keputusan yang diambilnya. Karena ia beranggapan keputusan tersebut harus diambil berdasarkan kebutuhan para pemilihnya.

“Bagi saya, agama memberi informasi untuk saya. Anda perlu menghormati orang-orang tanpa melihat ras, agama, atau jenis kelamin,” tandasnya.

Muslim Kedua di Senat AS
Sejak 2008, Carson telah menduduki kursi anggota DPR AS. Politikus dari Partai Demokrat ini kali pertama terpilih sebagai anggota Kongres AS pada Maret 2008 lalu.

Kala itu, ia ikut serta dalam pemilu khusus yang digelar pada 11 Maret 2008.

Niatnya untuk ikut serta saat itu hanyalah karena terdorong oleh keinginan untuk meneruskan mendiang neneknya, Julia Carson, yang mewakili distrik ketujuh negara bagian Indiana.

Sang nenek meninggal dunia akibat kanker paru-paru di tahun 2007 dan Carson memutuskan untuk mengisi posisinya yang akan berakhir pada Maret 2008.

Terpilihnya Carson dalam pemilu khusus tersebut menjadikannya sebagai politikus Muslim kedua di jajaran Kongres AS. Lahir di Indianapolis, Indiana, pada 16 Oktober 1974, Carson bukan berasal dari keluarga Muslim.

Pria keturunan Afro-Amerika ini dibaptis dan dibesarkan sebagai seorang pemeluk Kristen oleh neneknya yang menginginkannya menjadi seorang pendeta saat ia dewasa kelak. Hal ini pula yang mendorong sang nenek untuk memasukkan Carson ke sekolah Katolik.

Di usia yang masih kanak-kanak, Carson sudah ikut dilibatkan dalam berbagai kegiatan sosial dan pelayanan publik yang diselenggarakan oleh neneknya.

Lingkungan tempat tinggalnya yang terbilang keras secara tidak langsung telah mengasah kepekaannya terhadap masalah-masalah seputar pendidikan, keamanan publik, dan kesempatan ekonomi.

Carson mengenyam pendidikan dasar dan menengah di Sekolah Umum Indianapolis. Setelah tamat, ia melanjutkan ke Sekolah Tinggi Teknik Arsenal.

Ia memperoleh gelar sarjana di bidang manajemen peradilan pidana dari Universitas Concordia Wisconsin dan master dalam bidang manajemen bisnis dari Universitas Indiana Wesleyan.

Selepas lulus dari Universitas Indiana Wesleyan, Carson memulai karier profesionalnya sebagai penegak hukum di Kepolisian Negara Bagian Indiana.

Ia bertugas di sana sebagai seorang penyelidik selama 9 tahun lamanya. Ia kemudian bergabung dengan Departemen Keamanan Dalam Negeri Indiana. Di kantor barunya ini, ia ditempatkan di bagian intelijen dan bertugas mengawasi unit antiterorisme.

Setelah tidak lagi bertugas di Departemen Keamanan Dalam Negeri Indiana, Carson sempat bekarier dalam bidang marketing. Ia tercatat pernah menjadi tenaga pemasaran di sebuah biro jasa arsitek dan insinyur di Indianapolis.

Namun, profesi tersebut ia jalani hanya sebentar karena kemudian ia memilih untuk berkecimpung di dunia politik. Partai Demokrat menjadi kendaraan politik yang dipilihnya selain juga karena faktor sang nenek adalah salah seorang kader di partai ini.

Sebelum terpilih menjadi anggota DPR, Carson tercatat sebagai salah satu anggota komite Partai Demokrat di Indianapolis.

Pada tahun 2007, ia menang dalam kaukus khusus Partai Demokrat di wilayah Marion, negara bagian Alabama. Berkat kemenangan tersebut, ia ditunjuk menjadi penasihat wilayah kota untuk distrik ke-15 wilayah Marion.

Morales: Islam Agama yang Mengajarkan Perdamaian

KisahMuallaf.com – Morales sempat hidup sebagai imigran gelap di Amerika Serikat. Ia pergi mengadu nasib ke AS dari Meksiko untuk mendapat penghidupan yang lebih baik. Sayang, ia kurang diterima di Negeri Paman Sam tersebut.

Meski akhirnya ia sukses mendapatkan kewarganegaraan AS, Morales kesulitan berkomunikasi. Ia tidak memiliki teman.

“Aku benar-benar kesulitan,” kisahnya seperti dikutip Muslimvillage.com, Sabtu (18/1).

Sempat ada keinginan dari Morales untuk kembali ke negeri kelahirannya. Tapi itu tidak menjamin masa depannya. Sebabnya, ia mencoba untuk lebih mandiri dan bekerja keras.

Perjuangan itu pun berbuah. Ia mampu menyelesaikan kuliahnya.

Perkenalannya dengan Islam bermula saat Morales menjadi saksi tragedi 9/11 yang menggemparkan dunia. Ia mendengar banyak hal tentang Islam dan umat muslim melalui pemberitaan televisi. Namun, ia lebih banyak mendengar informasi negatif.

Karena penasaran, ia coba melakukan riset sederhana. “Islam itu agama yang mengajarkan perdamaian. Saya kira, apa yang terjadi tidak masuk akal,” kenang dia.

Ia mulai membaca Al-Quran. Ia juga banyak berdiskusi dengan temannya yang muslim.

Akhirnya, Morales memberanikan diri mengunjungi sebuah masjid. Keyakinan akan Islam membuatnya memutuskan menjadi mualaf pada 2003.

“Alhamdulillah, kini aku aktif berdakwah di North Hudson Islamic Educational Center,” kata dia.
Sejak resmi menjadi seorang muslim, Morales aktif berdakwah. Selain berdakwah di North Hudson Islamic Educational Center, ia juga bekerja di lembaga Islamic Center Amerika Utara (ICNA).

Semenjak ICNA menjalankan proyek ‘Why Islam’, lembaga yang didirikan sebagai tempat berkonsultasi atau pertanyaan seputar Islam dan muslim, boleh dikatakan begitu bekerja keras. Karena kewalahan, lembaga ini membutuhkan tenaga bantuan.

Morales kemudian ditunjuk sebagai kordinator dakwah di kalangan Hispanik. Ia mengaku begitu gembira berdakwah lewat proyek ‘Why Islam’.

Ajaibnya, proyek itu membuatnya rutin mengunjungi Meksiko. di di negeri kelahirannya, Morales mengemban misi penting.

Ia merasa sudah saatnya bertugas menyampaikan pesan Islam kepada komunitasnya. Di Meksiko, ia membawa literatur tentang Islam untuk diperkenalkan kepada warga pribumi.

“Aku kira, banyak perempuan Hispanik yang telah menjadi muslim kembali ke negara kelahirannya, lalu memperkenalkan keindahan Islam kepada saudara-saudaranya,”
kata dia seperti dikutip Muslimvillage.com, Sabtu (18/1).

Sayangnya, setiap kali pulang kampung, keluarga besarnya belum bisa menerima keputusannya memeluk Islam. Namun, perlahan tapi pasti, Morales akhirnya memutuskan berbicara tentang identitas barunya.

“Aku kira, Islam masih sangat asing di Meksiko. Tapi sebagian dari mereka sangat tertarik memeluk Islam,” aku Morales.

Ke depan, tugas Morales tentu akan kian menantang. Stereotif negatif, perkembangan kelompok anti-Islam dan pemberitaan negatif media Amerika Serikat, masih menjadi tugas berat umat Islam AS yang perlu diselesaikan.

Tentunya, Muslim AS akan menanti sumbangsihnya dan muslimah-muslimah Hispanik lainnya.

Pekerja Asing di Saudi Memilih Islam

pekerja-as-yang-memeluk-islamKisahMuallaf.com – Jumlah pekerja asing khususnya di bidang teknologi memang banyak di Arab Saudi. Menariknya, sebagian dari mereka akhirnya memutuskan untuk menjadi Muslim.

Seorang insinyur teknologi asal AS, Stuart Elby (33 tahun), misalnya, menjadi Muslim setelah cukup lama mempelajari Islam. Ia mengaku terkesan dengan cara setiap Muslim menghormati orang yang lebih tua.

“Jujur, saya tertarik ketika orang-orang mencium kening orang yang lebih tua. Itulah cara mereka yang menandakan rasa hormat,” ujarnya seperti dikutip 247emirates.com, Senin (21/1).

Tak hanya itu, ia juga tertarik dengan cara Muslim berdoa. Yaitu dengan filosofi jari telunjuk Muslim yang mengarah ke atas ketika berdoa. Ia baru tahu kalau telunjuk itu menandakan keesaan Tuhan.

“Saya selalu mengajukan pertanyaan terkait apa yang saya tidak ketahui itu membuat saya menjadi lebih baik,” ucap dia yang mengucapkan syahadat di Riyadh, Jumat kemarin.

Langkah Elby diikutip koleganya, seorang insinyur asal Italia. Ketertarikannya memeluk Islam berawal ketika ia terlibat diskusi bersama seorang ulama saat menghadiri pertemuan dengan pengusaha lokal. “Saya awalnya tidak menyadari. Tapi itulah hidayah yang diberikan Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada saya,” ungkap Giani Morana (75).

Setelah diskusi itu, Giani melanjutkan pembicaaan dengan kepala Pusat Bimbingan Islam di Riyadh, Sheikh Fouad Al-Rashid. Ketika obrolan itu berakhir, Giani mengutarakan niatnya untuk memeluk Islam.

Oleh Sheikh Fouad, ia dibawa ke masjid terdekat dan mengucapkan dua kalimat syahadat. “Jujur, saya menganggumi Islam selama berada di negara ini,” ungkap dia.

Lain hal dengan kisah pekerja asing asal Cina yang tengah membangun mega proyek Metro-Arab Saudi. Keputusannnya menjadi Muslim berawal dari diskusi dengan seorang polisi. Ketika itu, sang pekerja tengah duduk di luar masjid. Oleh seorang polisi ia ditegur mengapa tidak melakukan shalat.

“Ia bertanya padaku, mengapa saya duduk di sana. Lalu, saya katakan, saya tertarik dengan Islam namun masih ada keraguan dalam diri saya,” kata pekerja tersebut.

Pekerja asal Cina itu pun akhirnya diajak berkeliling oleh si polisi. Setelah berdiskusi hangat tentang Islam, ia pun semakin yakin untuk mengucapkan dua kalimat syahadat.

Robert Salaam: Al-Quran Menjawab Pertanyaanku

KisahMuallaf.com – Delapan tahun silam, Robert Salaam memutuskan untuk menjadi Muslim. Keputusan itu dilalui melalui proses pencarian yang panjang. Kini, ia menjadi salah satu pejuang Muslim AS yang bekerja keras meluruskan kesalahpahaman tentang Islam di negeri kelahirannya.

Sebelum menjadi Muslim, Robert begitu kagum dengan Al-Quran. Setiap membacanya, ia merasa termotivasi untuk terus berpikir. Motivasi itu sangat membantunya untuk menemukan Tuhan yang ia cari.

“Dalam Al-Quran, umat Islam diminta untuk mengimani kitab-kitab dan Nabi terdahulu, menyerukan kesabaran, kesimbangan, dan doa,” kenang dia.

Setiap membaca Al-Quran, ia seperti berbicara langsung dengan Yang Maha Kuasa, tanpa perlu melalui pihak ke-3 atau ke-4. Untuk setiap pertanyaan dalam dirinya, Al-Quran selalu memberikan jawaban. Al-Quran sendiri bahkan memberikan pertanyaan padanya.

“Al-Quran benar-benar kitab diskusi,” kata dia.Apa yang ia baca membuatnya bingung. Ia seperti linglung untuk melakukan sesuatu. Disatu sisi, ia percaya teks tersebut dan ingin menjadi bagian dari Al-Quran.

Di sisi lain, terlalu banyak kekerasan. Padahal, apa yang dibacanya sama dengan pihak-pihak yang melakukan kekerasan. Tapi itu tidak serta-merta menghalanginya untuk lebih dalam mengkaji Al-Quran.

“Saya juga heran, darimana mereka mendapatkan pembunuhan dan intoleransi. Saya mencintai Tuhan, manusia dan perdamaian. Saya percaya seluruh umat manusia diminta mengasihi setiap orang bukan memilih kelompok,” kata dia.

Pemikiran itu menambah kegundahan Robert. Apalagi, ia dibesarkan dalam keluarga dengan tradisi Kristen yang kuat. Kakeknya seorang pendeta. Ia menyadari apa yang dilakukannya ini akan membuatnya merasa bersalah.

Tapi, ia percaya Islam merupakan jalan kebenaran, seperti halnya Yahudi dan Kristen. Hanya saja jalan itu berbeda-beda. “Saya hanya bisa menyerahkan keputusan ini kepada Tuhan. Saya percaya Dia tahu apa yang terbaik bagi umatnya,” kenang dia.

Seminggu setelah tragedi 9/11, ia memutuskan untuk menjadi Muslim. Banyak hal yang berubah dalam hidupnya. Identitasnya, tradisi yang selama ini jalani berubah total. Itulah kehebatan iman. Jika kita percaya, maka kita akan mampu menghadapi apapun, kata dia.

Memang, banyak yang mempertanyakan kesetiannya kepada negara dan masyarakat. Tapi ia tidak peduli. Ia merasa bangga menjadi Muslim. Namun, ada tugas berat di pundaknya. Masih banyak warga AS yang membenci Islam dan Muslim.

Satu kekuatan dalam dirinya, umat Islam AS tetap mempertahankan iman dan diri mereka sendiri. Ia hanya bisa berdoa. Kelak, warga AS akan menghargai perbedaan. “Saya selalu berdoa agar umat Islam dapat mengatasi prasangka dan warga AS mau bekerjasama dengan umat Islam. Saya berdoa agar umat Islam dan warga AS bersama-sama melawan radikalisme dan ekteremis,” kata dia.

Ia juga berdoa agar warga AS menghargai perbedaan. Seperti yang dikatakan dalam Al-Quran surah Al-Hujurat ayat 13, yang mengatakan sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala menciptakan manusia dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikannya berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara manusia di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala ialah orang yang paling bertakwa.

“Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal,” tutup dia.

Darrick Abdul Hakim: Kutemukan Islam dari Al-Quran

KisahMuallaf.com – Hidayah bisa datang kapan saja dan ke siapa pun termasuk kepada Darrick Abdul Hakim, warga Amerika Serikat. Dia mulai mendapat hidayah setelah mempelajari dan membaca Al-Quran.

Rasa penasarannya semakin muncul saat tragedi peledakan gedung World Trade Center (WTC) di New York pada 11 September 2001 lalu.

”Pada 11 September, aku melihat pusat perdagangan dunia runtuh. Aku bertanya-tanya pada diri sendiri, apakah ajaran Islam memprovokasi tindakan semacam itu? Mungkinkah Islam sedemikian buruk?” kata Darrick.

Namun, pertanyaan ini pun terjawab setelah Darrick membaca dan mempelajari Al-Quran secara mendalam.

”Semakin aku baca, semakin aku menemukan bahwa Islam adalah agama yang mengecam segala bentuk ekstremisme. Islam mengajarkan kedamaian,”
ujarnya.

Darrick pun membeli dan membaca 10 biografi tentang Nabi Muhammad. ”Aku kagum dengan hidupnya. Aku tidak melihat Muhammad dari perspektif Kristen, tetapi dari perspektif sejarah, politik dan budaya,” kata dia.

Selanjutnya, Darrick memutuskan untuk menjadi mualaf pada 12 Oktober 2001. Pencariannya tentang Islam telah membawanya menuju kebahagiaan. Sebelumnya, Darrick adalah seorang penganut Kristen yang taat dan dibesarkan dalam lingkungan Kristen. Keyakinannya mulai goyah saat usianya menginjak 17 tahun.

Dia mulai mengamati rekan-rekannya yang beragama Kristen secara mendalam. Darrick terkejut setelah mengetahui ternyata teman-temannya tidak mempraktikkan 100 persen keimanan Kristen.

Ia semakin tidak puas dengan kehidupannya saat itu. ‘‘Aku menjadi semakin tidak puas dengan kitab suci Alkitab. Misalnya, keyakinan bahwa Yesus diklaim sebagai Tuhan adalah tambahan dari gereja. Yesus pasti tidak pernah mengaku dirinya Tuhan,” kata dia seperti dikutip Arab News.

Darrick pun mencoba menyelamatkan iman Kristennya. Tapi, seiring berjalannya waktu, dia mulai meragukan kepercayaannya. Dia pun meninggalkan gereja, dan menjadi seorang agnostik. ”Aku bukan atheis, hanya bingung tentang siapa tuhanku,” ujarnya.

Darrick kemudian mempelajari buku-buku yang membahas agama di dunia. Saat mempelajari Al-Quran pemberian dari seorang pria, ia tertegun dan kagum setelah membaca isinya.

“Ini (Al-Quran) sesuatu yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Al-Quran begitu mudah dipahami dan begitu jernih untuk orang awam sepertiku,” ungkapnya.

Lynette Wehner, Berkah Mengajar di Sekolah Islam

KisahMuallaf.com – Lynette Wehner tak menyangka ia diterima bekerja di sekolah Islam. Itu adalah satu-satunya tawaran mengajar yang ia terima seusai meraih gelar sarjana pendidikan.

“Seperti takdir, padahal aku memasukkan lamaran ke hampir semua sekolah yang ada di Michigan, baik lokal maupun swasta. Namun, hanya sekolah Islam itu yang memanggilku,” kisahnya.

Tadinya, Lynette ragu menerima tawaran tersebut. Apalagi, saat itu dia seorang Katholik dan Islam tidak menarik hatinya. Namun, akhirnya ia menyanggupi tawaran tersebut atas alasan yang sederhana.

“Aku pikir, lebih baik menjadi guru di sekolah Islam yang bertanggung jawab atas sebuah kelas daripada mengajar di sekolah umum, tapi hanya menjadi guru pengganti. Hal ini menantangku dan aku merasa bersemangat memulainya. Sejak saat itu, hidupku tak pernah sama lagi,” lanjut Lynette.

Ketika pertama kali mengajar di sekolah tersebut, kepala sekolah mengajukan sebuah pertanyaan pada Lynette. “Apa yang kamu ketahui soal Islam?”

Tanpa pikir panjang, ia menjawab dengan semua pehamaman yang dimilikinya tentang Islam.

Saat itu, Lynette berasumsi, dalam Islam perempuan hanya boleh bicara ketika diizinkan dan mereka harus berjalan di belakang laki-laki. Dia menganggap perempuan dalam Islam bak warga kelas dua. “Kepala sekolah tertawa mendengarkan jawabanku,” kata Lynette.

Ia juga ingat, pada hari pertama bekerja, setiap guru non-Muslim akan diberikan pelatihan mengenakan jilbab. Setiap guru non-Muslim umumnya tertawa melihat penampilan mereka dengan jilbab.

Tak ada rasa tegang seperti yang dibayangkan sebelumnya. Suasana saat itu begitu mengalir dan santai. Dari situ, Lynette menemukan pelajaran penting, yakni masyarakat AS terjebak dalam kesalahpahaman tentang jilbab dan Islam secara keseluruhan.

Hari demi hari, Lynette kian mengenal Islam. Dia mulai sering bertukar pikiran dengan guru-guru Muslim di sekolah tersebut tentang Islam.

Dia juga kerap membaca buku agama milik muridnya yang tertinggal di sekolah. Ia mulai membaca Alquran.

Seusai membaca kitab suci itu, muncul pertanyaan dalam benaknya, bagaimana bisa Al-Quran ini berasal dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Namun, semakin ia membaca, ia semakin tahu jawabannya. “Al-Quran seolah dibuat untukku. Aku tak berhenti menangis,” kata dia haru.

Ketika itu, Lynette mulai sadar bahwa ajaran Islam sangat masuk akal. Banyak pertanyaan dalam dirinya terjawab. Dia pun kemudian memutuskan menjadi Muslim.

Saat itu, ia merasa telah menemukan apa yang selama ini dicari. Karenanya, ia tak ragu lagi untuk masuk Islam. ”Aku tahu inilah jalan yang benar. Semuanya terasa masuk akal. Aku sangat bahagia.”

Pengaruhi cara berpikir Islam memberikan pengaruh besar dalam hidup Lynette. Agama Allah Subhanahu Wa Ta’ala ini memengaruhi cara dia berpikir dan berinteraksi dengan suami dan keluarga serta orang-orang di sekitarnya.

”Juga berpengaruh besar dalam hubungan saya dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sangat sulit mengungkapkannya dalam kata-kata,” ungkapnya.

Tak seperti kebanyakan mualaf lainnya, Lynette merasa cukup beruntung. Sebagai seorang mualaf, dia bisa berada di lingkungan yang sangat Islami sehingga proses transisi yang dijalaninya tidak terlalu berat.

Menurut Lynette, pendukung utama dia adalah teman-temannya di sekolah Islam. Dan, ia menghabiskan banyak waktunya di lingkungan yang Islami itu. Lebih menggembirakan lagi, keluarganya tak mempermasalahkan keputusannya menjadi Muslimah.

Namun, ia tak memungkiri ada penolakan dari beberapa teman dan neneknya. Teman-teman non-Muslimnya mulai menjauh. ”Mereka kerap berbisik sinis ketika dijelaskan alasanku berjilbab dan masuk Islam.”

Sang nenek pun demikian. Selama beberapa tahun, Lynette merasa jauh dari sang nenek. Namun syukurlah, lambat laun dia bisa menerima keputusan cucunya. Kini, mereka malah sangat dekat. ”Dia menghargai aku, begitu pula aku,” ungkapnya.

Damai Menjadi Muslim di Amerika
Lynette merasa beruntung menjadi Muslimah, di saat kebanyakan mualaf tidak mengalaminya.

Tidak ada sistem yang mendukung mereka sehingga tidak aneh bila banyak mualaf yang kemudian berpaling kembali dari Islam.

“Kebanyakan mualaf, terutama yang tidak berada di negara Islam, seperti Amerika, tidak memiliki orang-orang di sekelilingnya yang juga Muslim. Akibatnya, mereka tidak mendapatkan bantuan dan dukungan untuk mendalami Islam,” kata Lynette.

Ketiadaan sistem itu pula yang membuat para mualaf acap merasa kesepian. Misalnya, ketika harus merayakan hari raya sendirian. Hal itu terasa sangat berat.

Sebagai Muslim satu-satunya di keluarganya, Lynette harus tetap terbuka dan fleksibel. “Agar saya tetap berhubungan baik dengan keluarga saya dan tetap menjaga keislaman saya,” prinsipnya.

Selain itu, begitu banyak acara kumpul-kumpul seusai kerja yang terpaksa ia lewatkan karena teman-temannya tidak merasa nyaman atas kehadirannya. Mereka tidak mengundang Lynette ke pesta ataupun hanya mengobrol di bar.

Sementara kalaupun diajak, Lynette juga tidak nyaman karena yang dilakukan di pesta bisa saja bertentangan dengan Islam.

Lynette pun mengisahkan, saat pertama kali menjadi Muslimah, dia sama sekali tidak memiliki informasi mengenai tempat ataupun orang yang bisa didatangi untuk mendalami Islam.

Hal ini sangat menyedihkan hatinya. Sebab, ketika menjadi mualaf, seseorang memerlukan bantuan Muslim lainnya untuk memberi tahu dan mengingatkan mengenai apa yang harus dilakukan. Misalnya, cara berpakaian atau apa yang harus dikatakan.

Tanpa adanya pemasok informasi, para mualaf akan mudah melakukan kesalahan dalam memahami Islam. “Banyak yang berpikir, ketika menjadi seorang Muslim, dia harus semirip mungkin dengan orang Arab. Ini salah,” tegas Lynette.

Amerika, bagi Lynette, adalah tempat yang sangat luas dan bebas bagi para Muslim untuk mempraktikkan keislamannya. “Kami bebas beribadah, bebas berpakaian seperti yang aku inginkan. Aku merasa damai. Aku merasa keislamanku dan identitas Amerika-ku bisa berjalan bersamaan secara harmonis,” ujarnya.

Dalam pandangan Lynette, budaya Amerika tidak jauh berbeda dengan negara lain. Ada yang baik dan buruk. “Yang penting aku mendengar Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan mengikuti-Nya dan tidak terpengaruh atas apa pun,” tegasnya.

Abdullah Hakim Quick: Islam tak Mengenal Perbedaan Ras

KisahMuallaf.com – Baginya, ajaran Islam sangat memukau, terutama bahwa Islam tidak mengenal perbedaan ras.

Abdullah Hakim Quick lahir dari keluarga Kristiani yang sangat taat beribadah dan pekerja keras.

Dengan demikian, sejak kecil pria yang dilahirkan di Boston, Amerika Serikat (AS), ini mempelajari nilai-nilai kebaikan yang diberikan keluarganya.

Sejak muda pun dia telah percaya akan kehadiran Tuhan, sementara banyak pemuda seusianya menolak percaya bahwa ada kekuatan yang lebih besar dibanding alam semesta.

“Saya berdoa sepanjang waktu dan menerima konsep Tuhan yang diajarkan Kristen dengan baik,” tuturnya.

Namun, jiwa mudanya tak luput dari keinginan yang luar biasa besar untuk mengetahui lebih dalam makna penghambaan akan Tuhan. Seiring berjalannya waktu, Quick yang saat itu baru berusia 17 tahun mulai mempertanyakan Tuhan yang dia sembah.

Sejumlah ritual yang diselenggarakan oleh agamanya saat itu mulai tidak masuk akal baginya. “Banyak orang menerima saja apa yang harus dilakukan sebagai penganut sebuah agama. Mereka menganggap pertanyaan yang tidak mampu dijawab oleh agamanya sebagai misteri. Sehingga, tidak perlu dicari jawabannya,” katanya.

Quick bukanlah orang yang senang mengesampingkan rasa penasaran dalam dirinya. Keinginannya yang besar untuk mengetahui lebih banyak tentang agamanya dan konsep ketuhanan yang sesungguhnya membuat dia berhadapan dengan tumpukan buku, film dokumenter, dan ratusan informasi dari majalah ataupun koran yang dibacanya.

“Beruntung ketika itu saya tinggal di dekat sejumlah universitas besar di AS, seperti MIT atau Cambridge, sehingga saya memiliki akses yang besar terhadap ilmu pengetahuan. Sebab, perpustakaan di universitas-universitas tersebut terbuka untuk umum,” tutur pria yang pernah menjabat sebagai direktur Discover Islam Centre di Cape Town, Afrika Selatan, dan penasihat khusus pada Kementerian Hubungan Islam di Bahrain ini.

Dia pun akhirnya tak sebatas mempelajari agamanya, tetapi menengok agama lain di luar Kristen. Ia pun berusaha mengenal dunia di luar Amerika. Dia mengawali pencariannya dengan mempelajari asal usul nenek moyangnya yang berasal dari Afrika.

“Ketika itu pula saya mengenal tentang Kerajaan Mali. Sebuah kerajaan besar di Afrika yang mengenal Islam sebagai agama utama,” katanya.

Quick kemudian malah penasaran dengan Islam. Mengapa kerajaan hebat itu memilih Islam sebagai landasan spiritualitas mereka.

Ketika Abdullah Hakim Quick mengenal tentang Kerajaan Mali, sebuah kerajaan besar di Afrika dengan Islam sebagai agama utama, ia pun penasaran dengan Islam.

Mengapa kerajaan hebat itu memilih Islam sebagai landasan spiritualitas mereka. Quick kemudian mempelajari tentang Timur Tengah, tempat di mana Islam dilahirkan.

Sebelumnya, ia memang sudah tahu tentang Timur Tengah, di mana masyarakat di sana punya cara berbeda dalam menggambarkan Tuhan. Namun, Quick tidak tahu selebihnya.

Sejak itulah, dia mulai mengenal Islam lebih jauh. Ternyata, agama ini sangat memukau. “Terutama bahwa Islam tidak mengenal perbedaan ras. Bahwa Islam tidak membeda-bedakan seseorang atas status, warna kulit, dan segala nilai sosial yang melekat di diri mereka,” katanya.

Hal semacam itu tidak ditemukannya di AS. Menjadi seorang Afro-Amerika dan hidup pada 1960-an seakan sebuah kutukan saat itu. Bahkan, ketika kuliah pada program studi orang kulit hitam di Universitas Oregon dan Pensylvania, dia tidak menemukan jawaban yang jelas mengapa manusia bisa memiliki hak untuk memberikan label untuk manusia lainnya.

Dia merasa muak. Terlebih ketika itu, AS memulai invasinya ke Vietnam dan mengajak sebanyak mungkin anak muda bergabung dalam perang tersebut.

Hijrah ke Toronto
Ketika itulah, dia memutuskan untuk pindah ke Toronto, Kanada, dan meninggalkan kuliahnya. Quick menjauh dari negaranya yang ia pandang sangat tidak manusiawi. Toronto memang memiliki imigran Muslim yang cukup banyak.

Dari merekalah Quick belajar lebih jauh tentang Islam. “Saya juga pergi ke perpustakaan dan mulai membaca Alquran. Semakin saya membacanya, semakin saya sadar bahwa ajaran inilah yang saya cari,” ujarnya.

Sebuah agama yang hanya mengenal satu Tuhan. Tuhan yang bertanggung jawab atas hadirnya nabi-nabi, seperti Musa, Isa, ataupun Muhammad. Ia juga membaca hadis dan terkesan dengan cara Nabi Muhammad menjalani hidupnya. Yakni, hidup dalam Islam yang penuh tuntunan, disiplin, dan kebajikan untuk mencapai kedamaian.

Terapkan Gaya Hidup Islami
Islam bagi Quick tidak hanya sebagai sebuah agama, tetapi lebih dari itu Islam adalah sebuah gaya hidup.

“Setelah menjadi Islam, saya memiliki pola makan yang baik. Bersikap sesuai dengan yang dicontohkan Nabi dan memimpin keluarga saya dengan cara Islam. Islam mengajarkan semua detail dalam menjalani hidup, A-Z. Ini yang saya inginkan,” ujarnya.

Meski demikian, saat awal menjadi Muslim, ia juga sempat tidak percaya diri dan agak kehilangan semangat. Quick baru menjadi Muslim dua hari sebelum puasa Ramadhan. Sehingga, ia langsung mengerjakan puasa.

“Namun, saya kaget ketika saya datang ke masjid pada malam hari dan saya harus melaksanakan shalat Tarawih sebanyak 20 rakaat. Dulu, saya pemain baseball, tetapi rasanya capek juga shalat dengan rakaat sebanyak itu, membuat lutut saya keram,” kisahnya.

Ketika itulah, Quick agak kehilangan semangat. Muncul pertanyaan dalam dirinya, apakah ia benar-benar bisa menjadi Muslim yang baik? Sementara, ibadah yang harus dijalankan sebagai Muslim sepertinya tidak ringan.

Namun, seorang sahabat Muslimnya memberi tahu bahwa shalat tersebut hanyalah sunah. Seorang Muslim boleh memilih untuk mengerjakan atau tidak mengerjakan shalat tersebut. “Saat itu saya merasa bahwa Islam ternyata sama sekali tidak memberatkan umatnya,” kata Quick.

Bahwa Islam menyediakan banyak pilihan dalam melaksanakan ibadah dan memberikan pengecualian bagi mereka yang memiki keterbatasan fisik. Beruntung, Quick akhirnya bisa juga menyelesaikan puasa selama sebulan penuh dan melaksanakan shalat Tarawih setiap malam pada bulan Ramadhan pertamanya.

Setelah berislam dan melaksanakan ibadah Ramadhan, Quick semakin paham bahwa Islam memberikan hikmah dari setiap ibadah yang dilakukan.

“Tidak semata ibadah fisik. Islam mengajarkan lebih dari itu. Saat itu saya merasa sangat beruntung menemukan Islam,” katanya.

Dia pun mendapatkan kesempatan lebih jauh untuk mengenal Islam. Pada 1973, Quick dan istrinya yang seorang Muslim asal Jamaika pindah ke Madinah. Quick belajar di salah satu universitas atas beasiswa Pemerintah Arab Saudi.

“Ketika itu, Pemerintah Arab Saudi memberikan dua beasiswa kepada dua orang Muslim Kanada dan saya terpilih menjadi salah satunya. Saya juga menjadi orang Amerika pertama yang pernah menamatkan pendidikan di universitas di Arab Saudi,”
tuturnya.

Di sana pula, dia bertemu dengan seorang pemuka Islam, Syekh Abdul Aziz, yang sangat peduli dengan perkembangan Islam. “Dia bertanya pada saya bagaimana Islam dikenal di Amerika dan dia kemudian membiayai riset saya tentang Islam di benua Amerika,” katanya.

Quick pun kembali ke Amerika dan memulai pengembaraannya untuk riset. Ia lalu pergi ke Honduras, Kosta Rika, Panama, Bermuda, Jamaika, dan Bahama untuk mengetahui tentang Islam di wilayah-wilayah itu.

Lalu, dia tinggal sebentar di California sebelum kembali ke Toronto dan menyelesaikan kuliah sejarahnya hingga mendapatkan gelar doktor. Dia lalu bekerja di Pusat Ilmu Pengetahuan Ontario dan Museum Royal Ontario. Quick juga menjadi kolumnis reguler di rubrik agama pada koran terkemuka di Kanada, yaitu Toronto Star.

Riset yang dilakukannya membuat banyak komunitas Muslim di dunia terkesan. Dia pun semakin sering diundang untuk memaparkan hasil risetnya.

Dari riset-riset itu, dia tahu bahwa Islam telah menyebar ke seluruh belahan dunia. Dia pun tahu, manusia pada dasarnya telah mengenal konsep ketuhanan monoteistik seperti yang diajarkan Islam.

Plugin from the creators of Brindes Personalizados :: More at Plulz Wordpress Plugins