Luzie Megawati Terpikat Keteladanan Umar bin Khattab

proud_to_be_a_muslimKisahMuallaf.com – Hiasan dinding bertuliskan kalimat Tiada Tuhan Selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang banyak terpampang di toko stationary di Kota Bandar Lampung, menarik perhatian seorang gadis cilik. Saking seringnya melihat tulisan tersebut, bocah perempuan bernama lengkap Luzie Megawati ini mulai bertanya-tanya.

”Selama itu, saya belajar bahwa Tuhan Maha Esa. Lalu, mengapa bisa ada kata-kata demikian?” kata perempuan yang akrab disapa Anis ini kepada Republika.

Saat itu, ungkap Anis, dirinya baru duduk di bangku kelas 5 sekolah dasar (SD). Dalam logika kanak-kanak seumur itu, diakui, masih agak sulit baginya bisa memahami beragam cara melukiskan atau menyebut Tuhan dari agama Katolik yang dianutnya saat itu dan dari tradisi keluarganya yang dominan Kong Hu Cu.

Perempuan kelahiran 14 Januari 1972 ini memang berasal dari keluarga campuran berdarah Tionghoa dan nenek dari pihak ibu yang asli Jawa. Karena itu, tak mengherankan jika kehidupan agama keluarganya cenderung didominasi tradisi Kong Hu Cu. Untuk urusan keyakinan, sejak kanak-kanak, ia memeluk Katolik.

”Tapi, Katoliknya tidak fanatik karena bercampur dengan tradisi keluarga. Saya ke gereja, ke kelenteng, ke wihara, dan juga terbiasa melihat tradisi Jawa kejawen, seperti bakar kemenyan dari pihak nenek.”

Dari seringnya melihat tulisan itu, kemudian mulai terjadi gesekan dalam diri Anis, yang pada akhirnya menimbulkan ketertarikan untuk mempelajari hal tersebut dari sumbernya. Sejak saat itu, ia mulai mencuri-curi waktu berkunjung ke toko buku swalayan yang baru buka di kota tempat tinggalnya, hanya sekadar untuk membaca buku-buku mengenai keislaman.

Buku mengenai Islam yang pertama kali dibacanya berjudul 30 Kisah Teladan. Dari sekian banyak kisah yang terdapat dalam buku tersebut, kisah mengenai Khalifah Umar bin Khattab (khalifah kedua) yang menarik perhatiannya.

Dalam buku tersebut, diceritakan Umar yang merupakan sahabat Rasulullah saw rela membawakan karung gandum untuk rakyatnya yang miskin. Kisah itu, kata dia, sangat menyentuh rasa kemanusiaannya dan sampai hari ini masih ia suka.

Buku lain yang menarik perhatiannya kala itu adalah buku Seratus Tokoh karya Michael H Hart yang menempatkan sosok Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sebagai tokoh nomor satu.

”Yang ada dalam kepala saya saat itu sederhana, kalau sahabatnya saja begitu, bagaimana nabinya? Hingga semua itulah yang menggenapkan ketertarikan saya pada Islam,” ungkap ibu dua orang anak ini.

Kendati memiliki ketertarikan terhadap Islam, Anis mengaku saat itu belum serius mempelajari Islam.

”Saya memang tertarik saja dan mungkin karena saat itu usia masih sangat dini. Maka itu, tidak terlalu saya pikirkan. Saya berkembang sebagaimana remaja pada umumnya saat itu, yang tidak terlalu mendahulukan soal-soal agama,”
paparnya.

Ketika naik kelas dua SMA, bersama sepupunya, Anis memutuskan melanjutkan sekolah ke Bandung. Di Kota Kembang ini, ia mendaftar di SMA Negeri 5, sementara sepupunya memutuskan bersekolah di SMP Katolik.

Kepindahannya ke Bandung didorong cita-citanya untuk masuk perguruan tinggi negeri (PTN). Di sana, ia menyewa sebuah kamar di rumah seorang pemeluk Kristen.

Ketika duduk di bangku kelas 3 SMA, ia bermimpi aneh. Dalam mimpi itu, istri Toto Prima Yulianto ini tengah membaca ayat.

”Seperti bunyi orang mengaji, yang saya tidak tahu persis apakah itu. Tiba-tiba sekeliling saya menjadi terang sekali. Tidak ada kesan istimewa dari mimpi itu karena rasanya seperti orang ‘ketindihan’ biasa,” tuturnya.

Setelah mimpi itu, keesokan paginya Anis memutuskan menceritakannya kepada teman sekolahnya. Namun, kalimat pertama yang terlontar dari mulutnya bukan mengenai mimpi yang dialaminya, melainkan keinginannya untuk masuk Islam. ”Saya ingin masuk Islam,” ujarnya.

Sontak, kalimat tersebut membuat temannya yang seorang Muslim kaget. Bahkan, sang teman menyebutnya gila saat itu. Kepada temannya, Anis minta dicarikan jalan masuk Islam.

Pilihan yang diberikan kepadanya ada dua: Pertama, ia disarankan masuk Islam melalui pengajian seorang ustaz di Kota Bandung. Kedua, di Masjid Salman ITB. ”Saya pilih yang kedua, di ITB,” ujarnya.

Akhirnya, setelah ditanya kesungguhan dan disepakati waktunya, 16 April 1990, yang juga bertepatan dengan 20 Ramadhan 1410 H, bertempat di Masjid Salman ITB serta dibimbing dan disaksikan pengurus masjid, beberapa teman sekolah, dan seorang teman dari kampung halaman yang juga menuntut ilmu di Bandung, Anis memutuskan masuk Islam.

”Semua terjadi begitu saja, di luar kendali saya. Setelah pengucapan ikrar, dibacakan doa untuk keselamatan dan kemampuan saya menjalani hidup sebagai warga baru dari sebuah agama,” ungkapnya haru.

”Saya seperti tersadar, saya baru saja membuat masalah yang besar dalam hidup saya. Rasanya lemas, tapi harus saya hadapi segala yang mungkin akan terjadi,”papar Anis mengenang momen bersejarah dalam hidupnya itu.

Semula, Anis menginginkan keputusannya memeluk Islam, tidak diketahui keluarga. Secara usia, ia merasa belum siap menghadapi banyak masalah dan terlebih lagi ia masih ingin bersekolah. Namun, apa mau dikata, kabar ke-Islamannya sampai juga ke telinga kedua orang tuanya.

Reaksinya, sudah bisa diduga. Keluarganya marah besar. Oleh keluarga, Anis dicap sebagai anak durhaka, bukan lagi bagian dari keluarga.

Parahnya, ia diboikot secara ekonomi dan tidak saling bertegur sapa dengannya selama lima tahun. ”Saya sungguh tidak memperkirakan pindah agama akan menuai badai begitu besarnya,” ungkapnya.

Dengan tegar, ia menghadapi semua itu. ”Saya harus kuat dan saya ingin menunjukkan pilihan saya sudah benar,” ujarnya menegaskan. Sejak saat itu, kehidupan Anis berubah. Ia kehilangan semua fasilitas yang biasa dinikmatinya dan masa-masa indah anak seusianya.

Dalam pandangan keluarganya, Islam adalah agama yang identik dengan masalah: suka nikah dan suka perang. Karena itu, jika sudah dihadapkan kepada berbagai macam stigma negatif, ia kerap merasa seperti berada di sebuah persimpangan.

Namun, setelah mempelajari Islam, gambaran itu laksana pungguk merindukan bulan atau jauh api dari panggang. Semua tak terbukti. Islam justru mengajarkan umatnya menjadi manusia yang berakhlak mulia.

Pengalaman Pertama sebagai Muslimah

Sebagai seorang mualaf, Anis harus banyak belajar Islam, termasuk shalat. ”Awalnya, canggung juga karena banyak yang salah dalam hal bacaan shalat. Bahkan, pernah tertidur dan mengantuk saat shalat. Juga, basah kuyup saat wudhu,” kenangnya.

Bersamaan dengan keislamannya pada bulan Ramadhan, Anis pun belajar puasa. ”Bibir saya kering dan banyak berliur karena kehausan,” ungkapnya.

Pengalaman lainnya, tahun pertamanya sebagai seorang mualaf yang hingga kini masih diingatnya adalah ia menjalankan shalat di rumah orang tuanya.

Saat itu, ia melaksanakan shalat dengan arah kiblat yang bersamaan dengan menghadap meja dupa. ”Luar biasa rasanya membawakan hati, pikiran, dan perasaan di suasana demikian.”

Dari sekian banyak pengalaman pada masa awal keislamannya ini, menurut Anis, keputusannya mengenakan jilbab adalah yang paling berkesan. Ketika memutuskan berjilbab Agustus 1990, ia menuai kecaman keras dari orang tuanya, terutama sang ibu.

Jilbab yang ia kenakan ditarik paksa sang ibu. Saat itu, ibunda Anis mengatakan, ”Karena tanpa jilbab pun, sejak kecil kamu sudah diajarkan sopan santun dalam berpakaian.”

Source : Republika

Abdurrahman Al Gonzaga Temukan Cinta Kasih Islam

proud_to_be_a_muslimKisahMuallaf.com – Rupanya, takdir membawa pria kelahiran Kupang Nusa Tenggara Timur (NTT) itu pada hidayah Islam. Ia pun menjadi mualaf. Namun setelah itu, ia dihadapkan pada tantangan yang sangat berat sebagai seorang Muslim.

Tahun-tahun pertama usai mengucap dua kalimat syahadat, Abdurrahman menghadapi aneka kendala. Tidak mudah menjalani hari-hari lantaran kesulitan pada berbagai aspek. Begitu pula ketika berniat lebih mendalami Islam. Padahal, ia sangat ingin menjadi Muslim yang sebenarnya.

Berbagai kendala dan tantangan tidak menggoyahkan imannya. Abdurrahman terus berjuang. Ia menimba ilmu agama, walau terkadang harus dicapainya sendiri.

Hingga suatu saat, ia sampai pada kesimpulan. Selaku mualaf, ia harus proaktif, tidak bisa hanya menunggu. Itulah kunci suksesnya. Kini, ia aktif membina para mualaf.

Abdurrahman mendirikan komunitas mualaf di Yogyakarta dan rutin mengadakan kegiatan agama. Ia berharap, para mualaf memperoleh pembinaan, perhatian, serta bimbingan, sehingga mereka bisa mempertebal kecintaannya kepada Islam.

Abdurrahman menginjakkan kaki di Tanah Jawa, tepatnya di Yogyakarta, 20 tahun silam. Tujuannya satu, yakni menempuh studi di Seminari Tinggi Misionaris Keluarga Kudus di Jalan Kaliurang.

”Saya dikirim keluarga dan keuskupan agung Kupang ke seminari untuk dididik khusus menjadi imam atau pastor,” paparnya, beberapa waktu lalu. Ia pun tekun belajar agama.

Maklum, menjadi pastor adalah dambaan keluarga besarnya karena ayah serta beberapa kerabatnya adalah tokoh agama di Kupang. Sehingga, ia diharapkan bisa mengikuti jejak langkah mereka pula.

Hanya setelah lima tahun berjalan, Abdurrahman merasa tidak sanggup menjadi pastor. Dirinya belum siap untuk selibat, hidup sederhana, berkaul, dan lainnya. Sehingga, ia memutuskan keluar dari biara, tutur pria kelahiran tahun 1971 itu.

Selanjutnya, ia tinggal di kos-kosan, di Kampung Lelet, di sebelah selatan Condong Catur, lingkungan komunitas Muslim. Bahkan, pemilik rumah kosnya orang Muslim. Memang kebetulan. ”Awalnya, saya tidak berpikir macam-macam, apakah harus kos di rumah yang pemiliknya Nasrani?” tanyanya dalam hati.

Kebetulan tersebut membawanya berkenalan lebih dekat dengan Islam. Kampung Lelet membuat Abdurrahman berinteraksi dengan umat Islam. Dia pun mengaku baru mengenal sosok kaum Muslim, kehidupan ibadahnya, dan lain-lain di sana.

Lama-kelamaan, hadir perasaan yang mengganjal. Sebelumnya, ia lebih banyak mendengar cerita dan kisah tentang umat Islam yang berkonotasi negatif.

Islam identik dengan kekerasan, membawa pedang, dekat kemiskinan, terbelakang, dan sebagainya. Kenyataannya, tak seperti itu. Apa yang dilihatnya di Kampung Lelet sungguh sangat berbeda.

Orang Islam sangat ramah dan baik. ”Saya merasa akrab berbaur di antara mereka,” aku Abdurrahman yang bernama asli Arnold al Gonzaga itu.

Sampai datang bulan suci Ramadhan. Tiada satu warung makan yang buka. Abdurrahman yang masih Nasrani, kesulitan dapat makan siang. Terpaksa ia harus berjalan jauh agar menemukan warung yang buka.

Langkah kaki membawanya ke sebuah kedai makan kecil di dekat rumah orang tua angkatnya di Condong Catur. Dia pun mampir dan makan di sana.

Terdorong rasa penasaran, usai makan Abdurrahman bertanya kepada si pemilik warung. Namanya Bu Sarjono, pensiunan pegawai TVRI. ”Ibu puasa tidak?” tanya dia. Lantas dijawab, ”ya.” Abdurrahman bertanya lagi, ”Apakah saat saya makan, ibu terganggu?” Bu Sarjono menjawab, ”Saya memang puasa, Mas. Tetapi, sewaktu melayani orang makan, ya tidak masalah.”

Seketika jawaban itu mengagetkan Abdurrahman. ”Saya terpana, tapi heran. Itu pengalaman luar biasa bagi saya. Bagaimana tidak, ada orang sedang berpuasa, lantas melihat orang makan, dia tidak terganggu. ”Ini sulit saya pahami,” dia menuturkan. Sepanjang perjalanan pulang ke kos, dia masih terngiang kata-kata Bu Sarjono.

Bahkan hingga menjalani ibadah ke biara, baik pagi, siang, petang, maupun malam, apa yang didengarnya itu tetap membekas. Ditambah dengan pengalamannya bersama komunitas Muslim di Kampung Lelet.

Abdurrahman merasa tambah dekat dengan Islam. Setiap upaya untuk mencoba mengabaikan rasa itu, termasuk dengan aktif di kegiatan gereja, tidak juga menolong. Akhirnya, ia berkesimpulan, dalam Islam juga ada cinta kasih.

Awal 2000, rasa gelisahnya semakin kental. Ia tak khusyuk lagi beribadah di gereja. Kepada orang tua angkatnya yang juga tokoh gereja, ia lantas ungkapkan unek-uneknya, namun mendapat reaksi keras.

Ia diminta tidak lagi berbaur dengan keluarga Sarjono atau umat Islam lainnya. Ia tidak boleh keluar rumah, dan diminta memperbanyak meditasi.

Abdurrahman mengaku tidak bisa membohongi kata hatinya, sehingga ia pergi dari rumah orang tua angkatnya dan pindah kos. Sejumlah tokoh agama Islam ia sambangi untuk berkonsultasi.

Temannya yang mualaf membawanya pada Ustaz Jatnika. Lantas, ia dipertemukan dengan Kakanwil Depag DIY, Sugiyono. Sejak itu, dia kerap ikut ke masjid, melihat umat Muslim yang sedang shalat.

Ia pun jadi ingin shalat. Pada 1 April 2000, ia bersyahadat. Pengucapan dua kalimat syahadat berlangsung di Masjid Kakanwil Depag. ”Hati saya plong. Di tengah bahagia, ujian berat muncul,” ujarnya mengenanag.

Dia tidak mungkin kembali ke gereja, rumah orang tua angkatnya, terlebih keluarganya di Kupang. Untuk sementara waktu, ia tinggal di rumah temannya, dan bekerja sebagai sales dan bisnis jaringan.

Tidak mudah menjadi mualaf. Itu ia rasakan lima tahun pertama. Selama itu, Abdurrahman mengaku belum menemukan model pembinaan seperti diharapkan. Ia membayangkan, pembinaan bagi mualaf terprogram, punya tahapan jelas.

Beberapa lembaga dan majelis taklim yang didatangi ternyata belum sesuai harapan. ”Kita ingin dibimbing untuk belajar ibadah dasar, mengaji Al-Quran, mengkaji maknanya, dan sebagainya,” ujarnya penuh harap.

”Intinya, pembinaan yang terarah. Namun, itu belum saya temukan,” ucapnya. Dia sempat putus asa dengan kondisi ini. Tapi, tekadnya bulat, tantangan tersebut tidak sampai melemahkan semangatnya berislam.

Abdurrahman meniatkan belajar mandiri, bertanya pada teman, atau dari ustaz ke ustaz. Alhamdulillah, Allah Subhanahu Wa Ta’ala membukakan jalan. Dia dipertemukan dengan orang-orang yang bisa memberikan ilmu serta menjadi panutan.

”Buat saya, Islam seperti ini. Allah Subhanahu Wa Ta’ala tunjukkan beberapa alternatif, tinggal saya kemudian memilih,” ungkapnya penuh syukur.

Credit : Republika

Kisah Islamnya Sang Anak Adopsi

dua-kalimat-syahadat-ilustrasi-_120202110003-821KisahMuallaf.com – “Tidaklah setiap anak yang lahir kecuali dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orangtuanya lah yang akan menjadikannya sebagai Yahudi, Nasrani, atau Majusi,” sabda Rasul riwayat Imam Malik, Imam Ahmad, Imam Bukhari dan Imam Muslim.

Hadist tersebut seakan mewakili apa yang terjadi dalam kehidupan Linda. Jikalau tak diadopsi keluarga Muslim, bisa jadi Linda kini bukanlah seorang yang kaffah dalam berislam, bukanlah seorang yang berkenan menghabiskan waktunya untuk memperdayakan saudara-saudaranya sesama mualaf.

Menyedihkan, itulah yang dirasakan Linda saat menghadapi realitas sebagai anak adopsi. Namun saat itu pula, ia merasa bersyukur karena dari keluarga yang mengadopsinya, ia mengenal agama Islam.

“Di satu sisi, menyadari kalau anak adopsi, merasa tidak tinggal dengan keluarga kandung, tentu sedih, merasa tersisih. Mengapa orang tua kandung gak menyayangi. Tapi di sisi lain, bersyukur. Dengan jalan ini saya menjadi Muslim,” ujarnya.

Linda lahir dari keluarga Tionghoa beragama Konghuchu. Namun kelahirannya dianggap pembawa sial keluarga. Pasalnya, saat ibunda mengandung Linda, usaha keluarga tiba-tiba bangkrut. Linda pun diyakini akan membawa dampak negatif bagi keluarga jika tidak diadopsi.

“Bapak ibu saya Tiongkok, saya diadopsi keluarga Melayu. Alasannya mungkin faktor ekonomi, kemudian faktor adat. Kalau ibu hamil mengalami kondisi tertentu atau kejadian tertentu, maka harus diadopsi. Kalau saya, waktu ibu hamil, usaha bangkrut. Jadi dari segi ekonomi tertekan karena bangkrut ditambah menurut kepercayaan itu harus diasuh orang lain,” kisah Linda.

Secara adat, di kota tempat kelahiran Linda, Bagansiapiapi Riau, adopsi anak dari etnis Cina merupakan hal lumrah yang banyak terjadi. Keluarga Melayu-lah yang banyak menjadi rekan “transaksi” adopsi tersebut.

“Kebetulan di tempat saya, dan tentu juga takdir, banyak keluarga Melayu yang gak punya anak. Kebiasaan di tempat saya, mereka adopsi dari keluarga Tionghoa,” ujar Linda.

Sejak diadopsi oleh keluarga Melayu itulah, Linda dididik dan dibesarkan dengan agama Islam. Ia mendapat pendidikan agama yang memadai, hingga mengenyam bangku kuliah.

Saat ini Linda bahkan menjadi guru Bahasa Arab di sebuah sekolah dasar Islam terpadu (SDIT) di Yogyakarta. Kefaqihan Linda dalam beragama patut diacungi jempol.

Namun untuk sampai pada keimanan yang kuat hingga kini, Linda tak lepas dari berbagai ujian dan cobaan. Saat menginjak usia dewasa dulu, Linda menyadari bahwa menjadi kewajiban baginya untuk menemukan orang tua kandung. Namun di kota tempat Linda lahir dan dibesarkan, hal tabu bagi anak adopsi untuk mencari orang tua kandung.

“Kalau sudah diadopsi Melayu, dianggap anak sendiri. Hubungan dengan keluarga kandung benar-benar putus. Kalau ada upaya menghubungkan kembali dengan keluaga kandung maka dianggap pamali,” ujarnya.

Ketika Linda duduk dibangku SMA, seorang guru agama mengingatkannya untuk berbakti pada orang tua. Meski telah diadopsi, Linda seharusnya tak melupakan orang tua kandungnya. Namun saat itu Linda tak berani mencari kedua orang tua kandungnya, mengingat hal tersebut dianggap sebagai pamali di daerahnya. Hingga kemudian sang ibu Melayu meninggal dunia. Linda pun baru memiliki keberanian, meski sedikit, untuk mencari orang tua kandungnya.

“Rasa takut ada, takut karena sebetulnya dianggap tabu anak adopsi mencari orang tua kandung, dianggap tidak balas budi, tidak berbakti, seperti melupakan jasa orang tua yang menggadopsi. Diberi tahu guru agama di SMA, bahwa sebagai anak, bagaimanapun juga saya harus mengenal orang tua kandung apapun agama mereka. Kemudian dibantu pak guru, bu guru, saya mencari jejak orang tua,” kenang Linda yang kini telah berumah tangga dan memiliki dua orang putra.

Dibantu para guru, Linda pun mencari alamat sang orang tua kandung. Namun rupanya hal tersebut bukanlah hal mudah. Linda mendapat cibiran dari banyak orang atas usahanya tersebut. “Banyak yang mencibir, beratnya disitu, tanggapan keluarga. Karena itu dianggap tabu, aib, pamali,” kata Linda mengenang.

Dengan usaha sungguh-sungguh, tekad Linda akhirnya tercapai, ia bertemu keluarga kandungnya. Kebahagiaan tentu menyelimuti hati Linda, begitu pula sang ibu kandung. Linda pun mendapati bahwa ia memiliki dua kakak laki-laki kandung, sedang dia merupakan anak bungsu di keluarga kandung. Adapun di keluarga Melayu, Linda merupakan anak tunggal. Linda pun kemudian menjaga hubungan baik dengan kedua keluarga, baik keluarga kandung maupun keluarga yang mengadopsinya.

Meski telah bergabung dengan keluarga asli, bukan berarti agama Linda goyah. Ia justru berkeinginan mengenalkan Islam pada keluarga kandungnya. Namun sang bapak kandung lebih dahulu meninggal. Adapun sang ibu kandung masih sangat kolot dan sulit berkomunikasi. Pasalnya, ibu kandung Linda hanya mampu berbahasa hokkian, sehingga menyulitkan Linda berkomunikasi dengannya. Kedua kakaknya lah yang seringkali menjalin komunikasi dengan Linda, hingga kini.

Aktif dalam organisasi mualaf
Meski hidayah Islam diperoleh Linda melalui orang tua asuhnya, namun ia memeluk Islam dengan hati yang lapang dan suka cita. Ia sangat bersyukur dan berterima kasih pada mereka, terutama karena hidayah Islam yang diperoleh melalui perantara mereka.

Selain mengajar di SDIT Salsabila, Linda pun kemudian menghabiskan waktunya untuk membagi kepeduian pada sesama muallaf. Ia aktif dalam Yayasan Ukhuwah Mualaf (Yaumu) dan Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI).

Dengan bergabung dalam dua organisasi muallaf tersebut, Linda bermaksud menyiarkan agama Islam. Ia berkeinginan indahnya Islam dapat dirasakan para “pendatang” baru agama. “Untuk syiar Islam, dakwah Islam. Yang jelas, pembinaan keislaman. Baik di Yaumu maupun di PITI, ikut membina muallaf,” tutur Linda ikhlas.

Di tengah keluarga kandung, Linda pun tak lupa untuk selalu berdakwah. Kakak keduanya memeluk agama Islam. Namun menurut Linda, pernikahan kakaknya hanya berdasarkan atas pernikahannya dengan seorang wanita dari kauman.

Meski demikian, hal tersebut menjadi modal bagi Linda untuk menanamkan Islam sebenarnya ke dalam hati sang kakak. “Kakak kedua menikah dengan perempuan Kauman, jadi muslim. Walaupun muslim dengan pernikahan, tapi harapan saya dia tetap dapat hidayah,”kata Linda penuh harap.

Saat ini Linda hidup bahagia dengan suami dan kedua anaknya. Pendidikan Islam menaungi rumah tangganya. Sang suami pun tak pernah mempermasalahkan latar belakangnya. Linda amat bersyukur atas apa yang ia dapatka, dan selalu ingin berbagi dengan saudaranya sesama muslim, lebih khusus sesama muallaf.

“Suami saya senang dengan keragaman multi, saya disadarkan pada identitas asli saya. Akhirnya saya bergabung dengan komunitas tionghoa muslim disamping Yaumu,” pungkasnya.

David Sanford Scherer: Takbir yang Menggetarkan

david-schererKisahMuallaf.com – Gema takbir di malam Idul Fitri 20 tahun silam, menggetarkan hati David Sanford Scherer. Kalimat yang mengagungkan sang Khalik itu membuatnya merinding.

Cahaya iman pun menyala dalam hatinya. Seketika itu pula, pria kelahiran Yokohama, Jepang itu memutuskan memeluk Islam.

”Langsung saya bilang mau masuk Islam. Alhamdulillah, di malam takbiran itu saya memeluk Islam,” ujar ayah dua anak itu kepada Republika di sela-sela acara pengajian yang digelar Mushala Al-Muhajirin, Denpasar, Bali, beberapa waktu lalu.

Tak hanya gema takbir yang membuatnya memeluk Islam. Suara adzan yang berkumandang lima kali sehari juga menjadi pembuka pintu hidayah. Pengusaha catering terkemuka di Pulau Dewata itu mengaku selalu merinding setiap kali mendengar takbir di malam hari raya.

”Makanya, malam takbiran saya nggak di Bali. Biasanya ke Jakarta. Mertua saya di Ciputat,”papar suami dari Indriani Kuntowati itu menjelaskan.

David hijrah ke Indonesia bersama orang tuanya pada 1980-an. Kedua orang tuanya mencoba berbagai usaha hingga akhirnya menetap di kawasan Menteng Dalam.

Seperti halnya Presiden Amerika Serikat Barack Obama, David pun mulai mengenal puasa, shalat, serta takbir dari lingkungan masyarakat Menteng Dalam.

Ia amat bersyukur menjadi seorang Muslim. Menurut David, umumnya orang Indonesia terlahir sebagai seorang Muslim. Namun, kata dia, mualaf umumnya lebih cepat memahami, menjiwai serta mengamalkan ajaran Islam.

”Itu, karena para mualaf menyadari Islam agama terbaik,” ungkap aktivis tadabbur Al-Quran bersama Ar-Rahman Quranic Learning Center Bali. Ia mengatakan untuk dapat menjalankan ajaran Islam dengan baik, para orang tua harus menjadi contoh dan teladan bagi anak-anaknya.

Seringkali, kata dia, orang tua menyuruh anak-anaknya mengaji, sementara mereka tidak melakukannya. Padahal, contoh terbaik dimulai dari orang tua di rumah.

Kebaikan apa saja, kata David, bila dicontohkan orang tua dengan baik, akan diikuti anak. Kalau cuma perintah dan orang tua tidak melakukannya, sulit dilaksanakan dengan baik.

Sebagai seorang Muslim, David berupaya menjadi imam bagi istri dan anak-anaknya. David tak pernah henti bersyukur. Semangat menjalankan ajaran Islam yang dilakukannya diikuti kedua anaknya.

Bersama putranya waktu itu, ia berhasil mewujudkan mushala di sekolah anaknya waktu itu. ”Alhamdulillah, ini semua berkat rahmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sehingga memudahkan siapa pun melaksanapakan ibadah,” ungkap David penuh syukur.

Apa kesan David tentang umat Islam Indonesia? Secara jujur ia mengungkapkan, sebagian besar umat Islam Indonesia masih memandang seseorang dari materi dan penampilan.

”Contohnya, saya pakai gamis, orang pikir saya ustadz. Besoknya, saya pakai celana jeans bolong-bolong, saya ucapkan Assalamu’alaikum, mereka nggak mau menjawab.”

David juga menyayangkan masih banyak umat Islam di Indonesia yang belum memahami dan mengamalkan tuntunan Al-Quran. ”Maaf-maaf kata, berangkat haji dengan uang nggak bersih, nggak malu,” ujarnya.

Ia merasa optimistis, Bali bisa menjadi jendela bagi Islam Indonesia ke dunia. Salah satu contoh, kata David, jamaah shalat Subuh Masjid Baitul Makmur di Denpasar seperti shalat Jumat.

”Bisa jadi, karena Muslim di Bali masih minoritas,” ujar David yang aktif mengikuti pengajian di berbagai masjid dan majelis taklim.

Menurut dia, bukanlah suatu yang mustahil, kelak Bali menjadi jendela Islam Indonesia bagi dunia. Asalkan, setiap Muslim mengamalkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari, tanpa menimbulkan ketersinggungan di kalangan orang-orang di sekitarnya.

Lantas, apa pendapatnya terhadap peristiwa Bom Bali beberapa waktu lalu yang menewaskan banyak orang? David mengaku merasakan sedih yang luar biasa.

”Empat hari saya di kamar jenazah. Sampai mobil pendingin saya pinjamkan untuk menyimpan jenazah. Orang waktu itu bilang, ‘Wah Pak, nanti mobilnya bawa sial!’ Wallahu a’lam. Saya bilang, yang penting saya ingin menolong.”

Dalam pandangannya, peristiwa Bom Bali merupakan kejadian yang sangat berat. Kejadian itu benar-benar sangat berat. Tapi, berkat gotong royong masyarakat di Bali, Alhamdulillah lancar.

Ada kebiasaan menarik yang dilakukan David Scherer dan teman-temannya di Bali. David yang sejak 20 tahun lalu memeluk Islam itu saban Jumat mengunjungi sejumlah masjid yang ada di Denpasar secara bergantian. Tak hanya bersilaturahim dan melaksanakan shalat Jumat, bersama rekan-rekannya yang aktif di pengajian Ar-Rahman Quranic Learning (AQL) Center Bali, pria kelahiran 9 Februari 1972 ini membagikan nasi bungkus.

”Alhamdulillah, secara rutin saya dan kawan-kawan bersilaturahim ke masjid-masjid di Denpasar. Tak hanya itu, dalam setiap kali kunjungan, saya selalu membawa dan membagikan ratusan nasi bungkus buat jamaah shalat Jumat,” papar David penuh syukur.

Apa yang mendorong David dan teman-temannya di Denpasar penuh semangat berbagi usai shalat Jumat? Berdasarkan pengalamannya, kata dia, usai Jumatan banyak orang yang terburu-buru meninggalkan masjid untuk mendapatkan makan siang.

Alasannya, jam istirahat baik dari kantor swasta maupun negeri, tidak terlalu panjang. Akibatnya, banyak jamaah salat Jumat terburu-buru keluar masjid untuk makan siang dan tidak sempat lagi bersilaturahim sesama jamaah.

Dengan kegiatan itu, ia dan kawan-kawannya berusaha mengajak jamaah shalat Jumat untuk tetap di masjid usai shalat, bersilaturahim sekaligus makan siang.

Caranya? ”Nasinya saya bawa ke masjid. Akhirnya, mereka nggak usah buru-buru lagi meninggalkan masjid. Kita bisa silaturahim sambil menikmati makan siang,” ungkap ayah dari Adam Arthur Scherer dan Andrea Kirana Scherer bahagia.

Untuk bisa bersilaturahim ke 200 masjid yang ada di Denpasar, David membutuhkan waktu selama empat tahun. ”Itu pun dengan syarat setiap Jumat saya harus terus keliling. Sedangkan untuk bisa berkeliling ke seluruh masjid di Bali, saya membutuhkan waktu selama delapan tahun.”

David merasakan kenikmatan yang sangat luar biasa bisa bersilaturahim sekaligus makan siang bersama jamaah shalat Jumat di berbagai masjid yang dikunjunginya.

Phoa Nyok Sen: Temukan Islam Setelah Tertipu Ratusan Juta

KisahMuallaf.com – Phoa Nyok Sen alias Alex adalah pedagang Sembako di Pasar Purworejo, Jawa Tengah. Tahun 2000-an, usahanya cukup sukses dengan omzet antara Rp 70-80 juta setiap hari. Namun kejayaan ini lambat laun redup dan akhirnya bangkrut, serta masih harus menanggung utang ratusan juta rupiah.

Kebangkrutan ini akibat ulah karyawan kepercayaannya. Uang hasil berdagangnya seharusnya untuk membayar dagangan, ternyata dikantongi karyawannya tersebut. Akibatnya, Alex yang harus menanggung hutangnya.

Puncaknya, awal tahun 2004, Alex terlilit hutang hingga Rp 800 juta. “Bagi saya hutang ini sangat banyak dan saya merasa tidak sanggup untuk mengembalikan meskipun harus menjual tanah dan rumah,” kata Alex kepada Republika di Purworejo, Jawa Tengah, Ahad (20/1).

Banyaknya utang yang harus ditanggung ini membuat Alex tidak bisa hidup tenteram.

Setiap hari dirinya mendapat teror baik melalui telepon maupun didatangi debt collector yang menagih utang.

Bahkan ada pemberi pinjaman yang menempuh jalur hukum dengan mengajukan gugatan ke pengadilan. Kondisi ini membuat Alex sangat kalut. Dengan kondisi ini, Ia tidak berani keluar rumah pada siang hari karena takut pada penagih utang.

“Saya berusaha untuk mengurung diri. Saya merasa tenteram itu pada malam hari. Ketika semua pintu saya kunci dan lampu saya matikan. Itu baru tenteram. Namun ketika matahari terbit lagi, perasaan menjadi sangat terancam dan tidak tenang,”
kata bapak dua anak ini.

Di dalam kekalutan ini, Alex dan isterinya Robiyatul Koriah pernah mempunyai ide untuk mengakhiri hidup saja bersama anak-anaknya. Ia mengusulkan pada isterinya untuk minum obat nyamuk.

Namun ide itu urung dilakukan karena ada teman yang memberi nasehat jika ide itu bukan jalan yang terbaik. Kemudian temannya itu menyarankan untuk menemui seorang ustad yang juga guru di sekolah Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Purworejo. Ustad tersebut bernama Widadi. Tepatnya, 17 Agustus 2004.

Ketika disarankan menemui ustad, Alex pun tidak merasa yakin permasalahannya dapat segera teratasi. “Ketika diajak ke rumah ustad, saya ya ikut saja dan pikiran masih kalut,” katanya.

Di rumah ustad, Alex menceritakan permasalahan yang sedang dialami. “Ya, intinya Curhat,” kata Alex.

Kemudian oleh ustad, Alex tidak langsung membaca syahadat. Namun ia diminta untuk tidur di rumah ustad dan melupakan segala permasalahan yang dihadapi.

Setelah bangun, Alex merasakan ada ketenangan. Kemudian meminta diri untuk pulang ke rumahnya. Ia berusaha untuk menjalani hidup seperti biasanya.

Namun dalam beberapa malam tidur di rumahnya, Alex bermimpi ditemui orang tinggi, besar mengenakan pakaian jubah putih dari kepala hingga ujung kakinya. Namun wajahnya transparan dan memancarkan sinar terang sehingga Alex tidak bisa melihat wajah sosok tersebut.

Setelah mimpi, Alex penasaran. Apa maksud dari mimpi ini. Kemudian ia kembali menemui ustadnya dan menceritakan mimpinya. “Mendengar cerita mimpi saya, ustad mengatakan sudah dekat. Saya tanya, sudah dekat apanya?” kata Alex.

Kemudian dijawab ustad, sudah dekat dengan petunjuk Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Setelah itu, Alex baru mengucapkan kalimat syahadat.

Setelah masuk Islam, Alex diminta untuk melaksanakan shalat lima waktu. Bagi Alex tugas shalat fardhu ini dirasakan sangat berat. Sebab dirinya hanya bisa membaca Surat Al Fatihah saja. Demikian juga agama yang dianut sebelumnya, Katolik dan Kong Hu Cu tidak ada tuntunan untuk shalat.

“Rasanya, saya tidak mungkin bisa menjalankan shalat lima waktu. Tetapi karena terbentur pada satu permasalahan yang berat dan supaya memiliki iman yang kuat serta permasalahan dapat teratasi, akhirnya saya jalani,”
kata pria kelahiran 2 Juli 1960 ini.

Selain shalat lima waktu, Alex juga diminta untuk melaksanakan amalan-amalan sunah. Di antaranya, puasa Senin dan Kamis, shalat hajad di malam hari.

Adanya dorongan untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi, Alex bisa melaksanakan apa yang dianjurkan ustadnya. “Alhamdulillah setelah masuk Islam dan mengamalkan ajarannya, satu per satu permasalahan dapat teratasi. Di antaranya, tuntutan di pengadilan dicabut, suplaier mempercayai lagi dan memberikan dagangannya,” kata Alex.

Kini Alex bisa bernafas lega usaha yang digeluti terus berkembang. Sebelumnya, hanya memiliki satu kios di Pasar Purworejo, kini sudah menjadi dua dengan omzet yang lebih besar dari yang diperoleh sebelumnya.

Alex yang hanya menempuh pendidikan sampai SMP ini sudah bisa hidup lebih sejahtera ketimbang sebelumnya. Bahkan anak keduanya dimasukkan ke pondok pesantren agar memiliki pendidikan agama Islam yang lebih bagus.

Ke depan, jika sudah merasa ada panggilan berencana akan menunaikan ibadah haji. “Saya memang belum mendaftar, tetapi saya yakin suatu ketika jika Allah Subhanahu Wa Ta’ala memanggil, pasti bisa naik haji,” ujarnya.

Yohanna Anisa Indriyani Islamkan Ayah dan Tiga Adiknya

KisahMuallaf.com – Lahir dan dibesarkan di keluarga non-Muslim tak membuat Yohanna Anisa Indriyani kehilangan kesempatan mengenal Islam. Lingkungan sekolah dan sosialnya ternyata berpengaruh besar dalam membentuk jiwa gadis yang kini berusia 23 tahun ini.

Dari sekolah pula ia mengenal Islam, agama yang tak pernah ada di keluarganya. Dari sekolah pula, keinginannya untuk mengetahui lebih dalam tentang Islam terus tumbuh dari hari ke hari.

Belum lekang dari ingatan Anisa bagaimana ia selalu mengikuti pelajaran agama di sekolah. Namun, bukan pelajaran agama yang saat itu ia anut, melainkan pelajaran agama Islam. Pelajaran agama Islam? Ya, begitulah adanya.

“Saat SD, guru agama membolehkan muid-murid non-Muslim untuk ikut belajar. Waktu itu dibebaskan untuk ikut atau tidak, dan saya pilih tetap di kelas dan ikut belajar. Saya nggak bisa baca Al-Quran waktu itu, jadi ya saya mendengarkan saja,” tutur Anisa mengenang.

Bagi kita yang lahir dalam kondisi Muslim, boleh jadi pelajaran agama Islam terasa biasa-biasa saja, tak ada sesuatu yang menantang. Tapi, tidak bagi Anisa. Bagi dia yang non-Muslim, mengikuti pelajaran agama Islam saja adalah hal yang menarik sekaligus menantang. Karena itu, ia tak jemu melakukannya. Mulai dari bangku sekolah dasar hingga sekolah menengah, Anisa tak pernah absen mengikuti dan menyimak pelajaran agama Islam.

Kala itu, meski setia dengan pelajaran agama Islam, Anisa juga rajin ke gereja setiap Ahad. Ibundanya selalu mendorong dan menyemangatinya untuk taat beribadah Minggu. Anisa tidak menolak, namun ada pertanyaan besar yang memenuhi rongga kepalanya waktu itu. Ia merasa aneh karena ibadahnya tak sama dengan teman-temannya di sekolah. Ia terus bertanya-tanya, namun tak pernah ditanggapi serius oleh keluarganya karena dianggap masih bocah.

Suatu kali, ketika sedang mengikuti pelajaran agama Islam, ia sangat terkesan dengan ucapan sang guru. Sebuah ucapan yang menuntunnya ke arah jalan yang haq. “Ia mengatakan, seorang hamba ketika berdoa langsung saja kepada Tuhan, tanpa ada perantara, tanpa ada di depan kita patung dan sebagainya,” kata perempuan muda yang tinggal di Yogyakarta ini.

Walau begitu, Anisa tak langsung masuk Islam. Usianya masih terlalu kecil meski cahaya Islam telah terang-benderang menyinari lubuk hatinya. Ketika duduk di bangku SMP, ia selalu menyelinap masuk ke kelas pelajaran agama Islam.

Bahkan, ia berani mengaku sebagai Muslim saat guru agama menanyakan kelas agama mana yang akan ia masuki. Di usia remaja ini, pertanyaan-pertanyaan terkait Tuhan dan agama kian merasuki batin dan pikirannya. Barulah setelah duduk di bangku SMA, Anisa berani untuk menentukan sikap dan jalan hidupnya.

“Baru saat SMA benar-benar yakin Islamlah agama yang benar. Waktu itu, saya lebih pada keyakinan bahwa ketika kita berdoa nggak oleh ada perantara,” ujar Anisa yang bersyahadat pada 2005.

Keluarga pun berislam
Di keluarganya, Anisa adalah orang pertama yang masuk Islam. Bahkan, ketika ia sudah menjadi Muslim pun, ibundanya masih setia mengajak ke gereja setiap pekan. Menolak ajakan sang ibu, Anisa mengatakan bahwa Muslim cuma beribadah ke masjid, bukan di gereja, bukan pula di keduanya.

Kala itu, ibunya menganggap, keputusan Anisa untuk pindah agama hanya ikut-ikutan tanpa keyakinan yang nyata. Namun, lambat laun, hidayah yang diperoleh Anisa justru berdampak besar bagi keluarga. Ia tak pernah meminta apalagi mendesak keluarganya untuk memeluk satu-satunya agama yang diridhai Allah Subhanahu Wa Ta’ala tersebut. Namun, tak disangka, ayah dan ketiga adiknya kemudian menyusulnya dan merasakan nikmatnya berislam.

Tentu, Anisa sangat bahagia dengan hidayah yang meliputi keluarganya. Kebahagiaan itu akan bertambah lengkap jika sang ibu juga berikrar menjadi Muslimah. Tapi rupanya, hingga saat ini wanita yang melahirkan Anisa ke dunia itu belum membuka hatinya untuk Islam.

“Ibu saya belum, ayah justru memeluk Islam setelah melihat saya mantap di agama ini. Adik-adik juga ternyata tertarik. Saya nggak ngajak mereka, tapi mereka mencari sendiri. Ternyata mereka juga tertarik Islam, alhamdulillah.”

Muhammad Yusuf Seran, Hidayah Melalui Mimpi

KisahMuallaf.com – Sejak kecil ia sangat suka mendengar lantunan azan. Gotfridus Goris Seran. Begitulah nama asli pria calon pastor asal Kupang tersebut. Ia mengubah namanya dengan mengambil dua nama Nabi dan Rasul sekitar 20 tahun silam, saat ia memeluk agama Islam.

Saya ingat betul saat itu 29 November 1992, saat saya sedang kuliah pascasarjana di UI Salemba. Teman-teman saya sudah menjadi pastor di Amerika Latin, Afrika, Australia, Jepang, banyak,” ungkap Seran memulai kisahnya menemukan Islam.

Sejak kecil, Seran rupanya telah dipersiapkan oleh orang tuanya untuk menjadi pastor Katolik. Tak heran, ia yang kini merupakan salah seorang pejabat di Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Bogor menempuh pendidikan sekolah dasar hingga menengah atas di seminarium, sekolah pencetak para pastor. “Seminarium itu dalam bahasa familiar mungkin disebut kaderisasi. Kalau di Islam, mungkin seperti pesantren, madrasah,” jelas Seran.

Layaknya pesantren yang mencetak para dai atau ustadz, pendidikan di seminarium membutuhkan waktu empat tahun dengan setahun persiapan. Mata pelajaran umum tetap diajarkan di sekolah khusus ini.

Setiap tahun harus melalui ujian, baik ujian umum maupun ujian agama. Jika lulus dalam ujian agama, lulusannya dianggap faqih dalam agama dan dapat menjadi juru dakwah. Bagi Seran, ujian umum bukanlah perkara sulit. Tetapi, entah mengapa ia tak lulus ujian agama atau yang disebut ujian seminari.

Seran kecil juga sangat menyukai lantunan azan yang disiarkan di radio ataupun televisi. Di daerah asalnya, Timor Timur, atau tempat tinggalnya, Kupang, azan bukanlah sesuatu yang dapat didengar setiap saat.

Hal itu lantaran tak ada masjid di sana. Maka, lantunan azan hanya bisa ia dengar lewat siaran radio ataupun televisi. Ia merasa ada “sesuatu” di balik panggilan shalat itu.

Di sekolah Katolik, Seran mengambil pelajaran Islamologi. Meski saat itu belum berislam, Seran sudah mengenal Islam dari sisi ilmu budaya. Bisa jadi, inilah langkah kecilnya untuk memulai perjalanan panjangnya menuju agama rahmatan lil alamin tersebut.

Meski tak lulus ujian seminari, yayasan Katolik pemilik sekolah seminari memberikan beasiswa sarjana karena melihat kecerdasan Seran. Ia pun melanjutkan pendidikan, tetapi bukan untuk mendalami teologi, melainkan ilmu pemerintahan.

Meraih gelar sarjana, Seran kembali mendapat beasiswa untuk menempuh pendidikan jenjang magister.

“Saya mendaftar S-2 di UI dan UGM. Dua-duanya diterima, tapi saya memilih UI. Padahal, kebanyakan pemuda dari tempat kita memilih UGM. Entah mengapa saya memilih UI. Jika tidak memilih ke Jakarta, mungkin cerita saya akan berbeda,” kata dia.

Sebuah mimpi
Pindah ke Ibukota membentangkan jalan kehidupan baru bagi Seran. Satu hal yang membuatnya girang, ia dapat mendengar azan, lima kali sehari, secara langsung tanpa melalui radio atau televisi.

“Tak tahu mengapa, saya merasa terhanyut sedih setiap mendengar azan. Bahkan, saya sering kali menangis tersedu-sedu sendiri di kamar kos di Salemba saat mendengar azan,” ujarnya tersipu.

Hingga suatu hari, lewat tengah malam, Seran bermimpi. Ia seakan dibawa ke suatu tempat yang sangat gelap, benar-benar gelap hingga tak mampu melihat apa pun. Kemudian, tiba-tiba muncul sebuah titik cahaya dari sebuah tempat.

Cahaya tersebut lambat laun makin besar. Dari cahaya itu, muncul sesosok tubuh berjubah, tetapi tak terlihat rupa wajahnya. Sosok tersebut kemudian berjalan menghampirinya. Sesaat kemudian, Seran terbangun. Ia terdiam dengan perasaan penuh tanya. Mimpi itu terasa sangat nyata bagi Seran. Pagi harinya, Seran menemui ibu kos dan menceritakan mimpinya. Ibu kos yang beragama Islam itu pun menjawab, “Kamu sudah dekat, Nak.”

Seran makin bertanya-tanya, pertanda apakah ini? Apanya yang sudah dekat? Sejak itu, Seran terus memikirkan mimpinya. Ia pun mencoba bertanya kepada sejumlah orang terkait mimpi itu. Akhirnya, Seran meyakini, lokasi munculnya cahaya dalam mimpinya adalah Ka’bah, kiblat umat Islam.

Sebulan setelah mimpi itu, ia pun merasa mantap untuk menjadi Muslim. “Pengalaman mimpi itu, entah apa itu hidayah atau apa, tapi dari situ akhirnya masuk Islam. Hari Minggu tanggal 29, pagi-pagi saya ke Masjid Agung Sunda Kelapa, kemudian membaca syahadat,” ungkapnya.

Seran juga mendapatkan sertifikat, sajadah, Al-Quran, dan buku tuntunan shalat. “Saya ingat betul, warna buku itu putih-ungu. Tapi, saat itu saya nggak bisa baca sama sekali. Setelah itu, saya belajar,” tutur pria murah senyum itu.

Setelah menjadi Muslim, Seran giat mempelajari Islam, cara beribadah, dan mengimani seluruh sendi rukun iman. Pada Maret mendatang, ia berniat mengajak keluarganya beribadah umrah.

Ia ingin melihat langsung Ka’bah yang ada dalam mimpinya. Seperti dalam mimpinya, ia pun ingin melihat Ka’bah dari sebuah bukit. “Saya ingin membuktikan mimpi saya.”

Lapang Dada Hadapi Tantangan
Seusai menempuh pendidikan magister, Seran pulang ke Kupang. Ia berkewajiban mengajar sebagai dosen di kampus Katolik yang telah memberinya beasiswa. Betapa tak enak hatinya saat itu. Keluarga dan pemberi beasiswa tentu berharap banyak darinya, tetapi ia justru pulang sebagai Muslim.

Sejak awal, Seran sudah menyadari bakal menghadapi risiko dan tantangan itu. Maka, ia pun tak merasa gamang. Ia siap menghadapi tantangan demi tantangan dengan lapang dada. Tekadnya semakin bulat kala sebuah mimpi kembali mengisi tidur malamnya. Kali ini, Seran melihat bumi terbelah dua.

Ia berada di satu sisi sementara keluarganya berada di sisi lain. Dari mimpi itu, pahamlah ia bahwa jalannya telah berbeda dengan keluarganya.

Sehari, dua hari, Seran merasa terasing di kampung halamannya. Dalam berkarier, ia pun tak mendapat hak ataupun kesempatan yang sama. Tak jarang orang menganggap Seran memeluk Islam hanya karena sang istri yang ia nikahi tak lama setelah berislam.

Seran membantah tudingan itu. Sebab, ia memeluk Islam dengan tulus, sepenuh jiwa dan raga. “Saya bukan karena mau menikah dengan Muslimah. Kalau masuk Islam karena wanita, itu agama jadi bernilai sangat rendah,” ujarnya.

Bertahan beberapa tahun, ia kemudian merasa jalannya semakin berat. Lagi-lagi, Seran mendapat petunjuk dari mimpi. Ia bermimpi berada dalam kondisi yang menakutkan, gelap, hujan lebat, dan petir yang sambar-menyambar.

Bumi seakan sedang mengalami masa akhirnya, Kiamat. Dalam kondisi yang sangat mencekam itu, Seran melihat asma Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang bercahaya terang.

Ia pun lalu memutuskan untuk meninggalkan Kupang dan kembali ke Jakarta pada 2001. Ia ingin hijrah ke tempat yang lebih baik. Padahal, saat itu, Seran tak memiliki apa pun, baik pekerjaan maupun tempat tinggal di Ibukota.

Ia akhirnya memilih tinggal di Bogor, kota kelahiran sang istri. Berkat pertolongan Allah Subhanahu Wa Ta’ala , Seran segera mendapat pekerjaan. Sekali melamar menjadi dosen di Universitas Djuanda (Unida) Bogor, ia langsung diterima.

Hingga kini, ia masih mengajar di kampus tersebut, selain menjadi kepala sosialisasi di KPU Kabupaten Bogor. Kini, ia hidup bahagia bersama istri dan ketiga anaknya: Ridho Islam Seran, Ilham Islam Seran, dan Riskia Islam Seran.

Mengenai nama anak-anaknya, Seran memang sengaja membubuhkan kata ‘Islam’, lalu diikuti nama keluarga, Seran. “Saya dan istri ingin mereka dikenal sebagai Seran Muslim. Jadi, kalau pergi ke Kupang biar diidentifikasi Islam. Ada Seran yang Muslim,” pungkasnya.

Yohanna Anisa Indriyani, Tertarik Islam Sejak SD

KisahMuallaf.com – Ayah dan ketiga adiknya mengikuti jejaknya menjadi Muslim. Lahir dan dibesarkan di keluarga non-Muslim tak membuat Yohanna Anisa Indriyani kehilangan kesempatan mengenal Islam.

Lingkungan sekolah dan sosialnya ternyata berpengaruh besar dalam membentuk jiwa gadis yang kini berusia 23 tahun ini. Dari sekolah pula ia mengenal Islam, agama yang tak pernah ada di keluarganya. Dari sekolah pula, keinginannya untuk mengetahui lebih dalam tentang Islam terus tumbuh dari hari ke hari.

Belum lekang dari ingatan Anisa bagaimana ia selalu mengikuti pelajaran agama di sekolah. Namun, bukan pelajaran agama yang saat itu ia anut, melainkan pelajaran agama Islam. Pelajaran agama Islam? Ya, begitulah adanya.

“Saat SD, guru agama membolehkan muid-murid non-Muslim untuk ikut belajar. Waktu itu dibebaskan untuk ikut atau tidak, dan saya pilih tetap di kelas dan ikut belajar. Saya nggak bisa baca Alquran waktu itu, jadi ya saya mendengarkan saja,” kenang Anisa.

Bagi kita yang lahir dalam kondisi Muslim, boleh jadi pelajaran agama Islam terasa biasa-biasa saja, tak ada sesuatu yang menantang. Tapi, tidak bagi Anisa. Bagi dia yang non-Muslim, mengikuti pelajaran agama Islam saja adalah hal yang menarik sekaligus menantang.

Karena itu, ia tak jemu melakukannya. Mulai dari bangku sekolah dasar hingga sekolah menengah, Anisa tak pernah absen mengikuti dan menyimak pelajaran agama Islam.

“Waktu itu, saya lebih pada keyakinan bahwa ketika kita berdoa nggak oleh ada perantara.”

Suatu kali, ketika sedang mengikuti pelajaran agama Islam, Anisa sangat terkesan dengan ucapan sang guru. Sebuah ucapan yang menuntunnya ke arah jalan yang haq.

Ia mengatakan, seorang hamba ketika berdoa langsung saja kepada Tuhan, tanpa ada perantara, tanpa ada di depan kita patung dan sebagainya,” kata Anisa menyitir kata-kata sang guru.

Walau begitu, Anisa tak langsung masuk Islam. Usianya masih terlalu kecil meski cahaya Islam telah terang-benderang menyinari lubuk hatinya. Ketika duduk di bangku SMP, ia selalu menyelinap masuk ke kelas pelajaran agama Islam.

Bahkan, ia berani mengaku sebagai Muslim saat guru agama menanyakan kelas agama mana yang akan ia masuki. Di usia remaja ini, pertanyaan-pertanyaan terkait Tuhan dan agama kian merasuki batin dan pikirannya.

Barulah setelah duduk di bangku SMA, Anisa berani untuk menentukan sikap dan jalan hidupnya. “Waktu itu, saya lebih pada keyakinan bahwa ketika kita berdoa nggak oleh ada perantara,” ujar Muslimah yang bersyahadat pada 2005 ini.

Keluarga pun berislam
Di keluarganya, Anisa adalah orang pertama yang masuk Islam. Bahkan, ketika ia sudah menjadi Muslim pun, ibundanya masih setia mengajak ke gereja setiap pekan.

Menolak ajakan sang ibu, Anisa mengatakan bahwa Muslim cuma beribadah ke masjid, bukan di gereja, bukan pula di keduanya.

Kala itu, ibunya menganggap, keputusan Anisa untuk pindah agama hanya ikut-ikutan tanpa keyakinan yang nyata. Namun, lambat laun, hidayah yang diperoleh Anisa justru berdampak besar bagi keluarga.

Ia tak pernah meminta apalagi mendesak keluarganya untuk memeluk satu-satunya agama yang diridhai Allah tersebut. Namun, tak disangka, ayah dan ketiga adiknya kemudian menyusulnya dan merasakan nikmatnya berislam.

Tentu, Anisa sangat bahagia dengan hidayah yang meliputi keluarganya. Kebahagiaan itu akan bertambah lengkap jika sang ibu juga berikrar menjadi Muslimah.

Tapi rupanya, hingga saat ini wanita yang melahirkan Anisa ke dunia itu belum membuka hatinya untuk Islam.

“Ibu saya belum, ayah justru memeluk Islam setelah melihat saya mantap di agama ini. Adik-adik juga ternyata tertarik. Saya nggak ngajak mereka, tapi mereka mencari sendiri. Ternyata mereka juga tertarik Islam, alhamdulillah,” ungkap Anisa.

Semua Pertanyaan itu Pun Terjawab
Sejak kecil, begitu banyak pertanyaan yang menari-nari di benak dan pikiran Anisa. Pertanyaan mendasar tentang Islam telah terjawab sebelum Anisa memutuskan memeluk agama Allah ini.

Bagaimana dengan pertanyaan-pertanyaan lainnya? Jawaban pertanyaan-pertanyaan itu ternyata muncul tak bersamaan, namun satu per satu.

Beberapa di antaranya ia dapatkan ketika sudah menjadi mahasiswa. Kebetulan, ia berkawan dengan seorang aktivis Muslimah di kampus. Dari dialah Anisa mendapat jawaban-jawaban itu.

Sekadar contoh, sejak kecil, Anisa selalu bertanya, mengapa pakaian biarawati mirip busana Muslim karena ada penutup kepala mirip kerudung.

“Nah, teman saya itu menjelaskannya mulai dari sejarah Islam, Yahudi, Romawi, dan lain-lain yang kemudian menjawab pertanyaan saya. Padahal, pertanyaan ini nggak pernah terjawab sejak dulu.”

Saat ini, Anisa mengaku sangat mantap dengan keislamannya. Tak ada sedikit pun keraguan. Satu hal yang diidamkannya kini adalah dapat menjalankan ajaran Islam secara kafah atau sempurna.

Kala itu, meski setia dengan pelajaran agama Islam, Anisa juga rajin ke gereja setiap Ahad. Ibundanya selalu mendorong dan menyemangatinya untuk taat beribadah Minggu.

Anisa tidak menolak, namun ada pertanyaan besar yang memenuhi rongga kepalanya waktu itu. Ia merasa aneh karena ibadahnya tak sama dengan teman-temannya di sekolah. Ia terus bertanya-tanya, namun tak pernah ditanggapi serius oleh keluarganya karena dianggap masih bocah.

Yeanny Suryadi, Mengenal Islam dari Balik Pagar

KisahMuallaf.com – Ajaran bagi Muslimah untuk menutup aurat membuatnya sadar betapa Allah Subhanahu Wa Ta’ala sangat adil.

Dari balik pagar rumahnya yang tinggi, Yeanny Suryadi mengenal Islam. Ketika itu, Yeanny kecil tinggal di tengah perkampungan Muslim di Bandung. Ia dan keluarganya tinggal di sebuah rumah besar yang mengambil “jarak” dengan masyarakat sekitar.

Dari balik pagar rumahnya, Yeanny yang lahir sebagai Tionghoa dan beragama Buddha bisa melihat bahwa masyarakat Muslim beradaptasi dengan sangat hangat. Mereka mengasihi satu sama lain dan saling menghargai.

“Dari balik pagar, saya melihat banyak anak sedang bebas bermain dan orang-orang dewasa bersilaturahim. Terasa hangat,” ujar perempuan yang kini tinggal di Semarang bersama suami dan kedua putrinya itu.

Semakin dewasa, Yeanny semakin ingin mengenal Islam. Ajaran bagi para perempuan Muslim untuk menutup aurat membuat Yeanny sadar betapa Tuhan yang mereka sembah sangat adil, tidak membedakan umatnya dari status sosial yang mereka miliki atau kesempurnaan fisiknya.

“Mereka menutup seluruh tubuh mereka hingga hanya terlihat wajah mereka. Tidak tampak hartanya, tidak tampak miskinnya, tidak tampak pula sempurna dan cacatnya,” katanya.

Adzan juga kerap kali membius kesadarannya. Bagi perempuan kelahiran 2 September 1980 ini, panggilan shalat bagi para Muslim tersebut mampu menenangkan hatinya, terutama saat Maghrib. Saat pindah ke Jakarta, Yeanny semakin aktif mempelajari Islam. “Saya membeli banyak buku tentang Tuhan yang adil itu,” kisahnya.

Dia pun mulai belajar melaksanakan shalat dan bersikap seperti seorang Muslim. “Masih salah-salah ketika shalat. Saya hanya berpanduan pada buku yang saya punya,” ujarnya.

Pelan-pelan Yeanny mengikrarkan diri sebagai seorang Muslim. Hingga akhirnya, perempuan yang gemar menulis cerita pendek dan puisi ini memutuskan untuk membaca syahadat pada 2005.

Ia mengaku sangat damai setelah menganut Islam. Hidupnya menjadi lebih terarah karena ada tujuan yang pasti, yakni kehidupan di dunia dan akhirat. Dia pun merasa lebih tenang dan tenteram. Sebab, Islam menuntunnya dalam menjalani hidup di dunia.

Bagi Yeanny, ajaran Islam mengatur umatnya dari segala sisi kehidupan. Tak ada yang membingungkan.

Melaksanakan shalat untuk pertama kalinya sangat berkesan bagi Yeanny. Awalnya, ia masih sering khawatir apakah gerakan dan bacaan shalatnya sudah benar atau belum. “Saat itu saya masih pakai bahasa Indonesia ketika shalat,” kisahnya.

Hal berkesan lainnya, ketika dia melaksanakan puasa untuk pertama kalinya. “Menyenangkan, berpuasa itu menahan emosi, itu terasa sekali,” katanya. Meski pertama kali melakukannya, ia bisa berpuasa sebulan penuh saat itu.

Namun, mengubah kebiasaan hidup sebagai seorang Muslim bukan perkara mudah. “Perubahan tidak kayak bunglon. Bentuk hidup yang dibuat sejak kecil tidak mudah diganti begitu saja. Perjalanan menuju Muslim hakiki masih jauh. Saya terus belajar,” ungkapnya.

Beruntung, sang suami banyak membantunya untuk mempelajari Islam lebih jauh. Walau tak berlatar belakang pendidikan filsafat atau keislaman, tetapi suaminya memiliki fondasi Islam yang kuat.

Kepada sang istri yang mualaf, ia memberikan contoh-contoh yang baik. Sang suami pula yang mengajarinya membaca Al-Quran. “Ia tidak menggurui.”

Diakui Yeanny, tak semua orang terdekatnya mendukung keputusannya menjadi Muslim. Sang ibunda, misalnya, sangat menentang keislamannya. Ia adalah anak bungsu dan diharapkan bisa mengurus kuburan ibunya. Ia pun menjadi harapan sang mami. Sebab, kedua kokonya (kakak) juga masuk Islam walau mereka berjauhan.

Kecaman juga datang dari keluarga ibu Yeanny. Ia ditentang dan diejek oleh keluarga ibunya. “Mereka bilang banyak orang Muslim yang jahat, teroris, atau menjadi gembel,”katanya.

Tetapi, Yeanny berusaha sabar dalam melalui semua cobaan tersebut. “Alhamdulillah, saya bisa melaluinya. Ini berkat kekuatan doa, sabar, dan ikhlas berserah diri.”

Ajarkan Nilai Islam pada Anak
Sebagai seorang ibu, Yeanny berusaha mendorong dan membimbing anak-anaknya agar dapat mengenal Islam dengan baik.

Sejak kecil, kedua putrinya telah dikenalkan dengan nilai-nilai Islam. Kaylsa, putrinya yang kini berumur tujuh tahun pun, dimasukkan ke sekolah Islam agar mendapat pendidikan di lingkungan yang Islami.

“Saya juga sudah membiasakan dia berjilbab sejak kecil. Satu sekolah hanya dia yang berjilbab,” ujarnya.

Menurut dia, tidak sulit untuk membuat sang putri paham tentang pentingnya berjilbab bagi seorang Muslimah. “Alhamdulillah, karena sudah disekolahkan di taman kanak-kanak Islam, jadi fondasi keislamannya cukup bagus. Jadi, gampang membuat dia paham,” katanya.

Yeanny juga mengajarkan pentingnya berpuasa dan berdoa. Ia pun mengajak anak-anaknya untuk mengoleksi buku-buku Islam. Yeanny memang mencurahkan semua waktu dan energinya bagi tumbuh kembang sang anak.

Menurutnya, ia ingin meniru ibundanya yang benar-benar mencurahkan kasih dan sayang dalam membesarkan anak-anaknya. Meski ia dan almarhum sang ibu berbeda agama, tetapi Yeanny selalu mendoakan ibunya. Dia yakin Islam memuliakan seorang ibu dan doa anak saleh bisa membantu ibunya di akhirat.

Selain mengajarkan nilai-nilai Islam kepada anak-anaknya, Yeanny juga terus mencurahkan nilai yang sama dalam setiap cerita pendek dan puisi yang ditulisnya.

Baginya, menulis adalah pekerjaan dengan tanggung jawab besar. Dalam karya-karyanya yang telah dimuat di sejumlah media cetak, Yeanny menunjukkan bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala Mahakaya dan pemegang takdir.

Melalui karyanya, Yeanny juga berharap bisa menginpirasi para Muslim untuk meningkatkan keimanan. “ Muslim harus konsisten. Kalau sudah ikrar jadi Muslim maka bersunguh-sungguhlah. Mendalami ilmunya dengan baik dan menjalaninya dengan ikhlas,” ujarnya.

Ida Bagus Mayura, Menjadi Brahmana Muslim

ida bagus mayura (kiri) dan ketua kispa ustaz ferry

ida bagus mayura (kiri) dan ketua kispa ustaz ferry

KisahMuallaf.com – Menjadi bagian dari kasta Brahmana dalam sistem sosial masyarakat Bali adalah sesuatu yang istimewa.

Namun, bagi Ida Bagus Mayura, kasta tidak berarti apa-apa. Tidak membuatnya bahagia.

Sebaliknya, Islam bisa memberikan cara pandang yang lain dalam hidup Mayura. Sesuatu yang menjawab rasa penasarannya akan Tuhan dan pertanyaan-pertanyaan sulit tentang hidup.

Mayura merasakan ketertarikan akan Islam sejak kecil. “Itu karena sekolah saya dekat masjid. Saya perhatikan pola penyembahan Tuhan dalam Islam sangat mudah. Tidak perlu repot-repot menyediakan bunga atau membakar dupa. Di Islam tinggal pakai sajadah, tanpa ada perantara apa pun lagi,” katanya.

Dia juga menyukai suara azan. “Saya merinding setiap kali mendengar azan,” kata pria kelahiran 4 Desember 1964 tersebut.

Kesederhanaan ibadah dalam Islam juga tampak dari proses penguburan jenazah. “Kalau meninggal cukup pakai kafan lalu langsung dimakamkan. Tidak perlu tunggu hari baik untuk menguburkan jenazah. Kalau hari baik baru ada tiga bulan ke depan, bagaimana ruhnya. Sudah jadi mayat saja masih repot. Namun, Islam berbeda,” jelasnya.

Begitu tertariknya dia akan Islam, Mayura bahkan pernah diam-diam mengikuti acara sunatan massal yang diadakan di kampungnya saat itu. “Tapi, ketahuan oleh keluarga, saya diusir,” tuturnya.

Mayura kemudian pindah dari satu mushala ke mushala yang lain untuk istirahat setiap malam hari. Namun tak berapa lama, keluarga menemukannya dan mengajaknya pulang. Sesampai di rumah ia dinasihati panjang lebar, ia tetap bergeming.

Meski sudah diceramahi macam-macam, Mayura tetap teguh dalam pendirian. Dia tetap secara diam-diam mempelajari Islam.

Ia belajar tata cara shalat dari sebuah buku tuntutan shalat. Sampai sekarang, buku itu masih ia simpan.

Meski demikian, dia menahan keinginannya untuk pindah agama karena masih tinggal dengan orang tua. Mayura baru mendeklarasikan keislamannya ketika duduk di kelas tiga SMA.

Tentu saja, keluarga Mayura kaget. Bagi mereka, ini adalah masalah serius. Ia adalah anak laki-laki pertama dari keluarga berkasta Brahmana, tak aneh bila keluarganya marah besar.

Sebagai seorang dari kasta Brahmana, seharusnya Mayura tetap pada keyakinan lamanya. Berpegang pada tradisi yang telah turun temurun diajarkan dalam keluarganya.

Menurut Mayura, jarang sekali seorang Brahmana keluar dari agamanya. Karena itu, keislaman Mayura ditakutkan akan berpengaruh buruk bagi keluarga besarnya.

Akhirnya, Mayura memutuskan untuk meninggalkan rumah. “Saya menghidupi diri saya sendiri. Untungnya, dari dulu saya senang usaha,” tutur alumnus SMA 17 Agustus 1945, Jakarta, ini.

Menikahi Muslimah pada usia 28 tahun, Mayura menikahi perempuan yang dicintainya. Saat itu, sang calon mertua belum yakin apakah calon menantunya sudah masuk Islam atau belum. Akhirnya, mereka meminta Mayura untuk membaca syahadat lagi.

Setelah menikah, Mayura dan istrinya harus menanti cukup lama untuk memiliki anak. Hingga delapan tahun usia perkawinan, buah hati yang ditunggu-tunggu tak kunjung hadir.

Kabar itu pun sampai ke keluarganya. “Mereka langsung berkata bahwa itu adalah karma bagi saya karena telah pindah agama,” ujar Mayura.

Namun, Mayura tak memedulikan ucapan itu. Dia terus bersabar dan berikhtiar untuk memperoleh keturunan. Hingga pada satu titik, Mayura merasa ingin menyerah. Dia telah melakukan segala cara untuk memperoleh keturunan, baik dengan cara medis maupun nonmedis.

“Saya lelah fisik dan juga uang. Saya mulai pasrah dan berniat mengangkat seorang anak. Namun pada saat itulah, Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan saya seorang anak perempuan,” katanya.

Dua tahun kemudian, Mayura mendapatkan seorang anak lagi. Kali ini berjenis kelamin laki-laki. “Lengkaplah rasanya hidup saya.”

Memiliki anak membuat Mayura semakin dewasa dan semakin taat beribadah. Kehidupannya mulai berubah.

Rezeki tambah lancar dan anak-anaknya tumbuh dengan baik. ”Mereka saya ajarkan hidup secara Islam,” kata pria yang kini menjabat sebagai direktur di PT Sentra Hima Putra (SHP) ini.

Selain di PT SHP, Mayura juga mengelola sejumlah perusahaan dan yayasan lain. Kini, ia pun hidup dengan kondisi yang sangat baik.

Secara tak langsung, hal ini mematahkan prediksi keluarganya bahwa Mayura tak akan bisa hidup dengan baik setelah keluar dari agama lamanya.

“Saya bisa menunjukkan bahwa seorang Ida Bagus bisa tetap hidup dengan sangat baik meskipun dia Islam,” ujarnya mantap.

Sampaikan Walau Satu Ayat sebagai seorang Muslim, Mayura begitu ingin memberikan sesuatu bagi agamanya. Ia tak mau berdiam diri dan ingin berkontribusi untuk Islam.

Untuk itu, ia memulai dari diri dan keluarganya. Mayura mengerti betul bahwa hal utama yang harus dilakukan seorang Muslim bagi agamanya adalah dengan menjadi Muslim yang baik. Baru kemudian turut mendakwahkan Islam. “Sampaikan walau satu ayat,” tegas Mayura.

Maka, kepada kedua anaknya, Hima Kania (13) dan Tohpati Putra (10), Mayura berusaha untuk memberikan contoh yang baik. Sejak kecil, Mayura memberi mereka pemahaman bahwa mereka harus hidup sesuai dengan perintah agama.

“Untungnya tidak sulit untuk membuat mereka paham. Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberi saya anak-anak yang cerdas dan pengertian,” kata Mayura penuh syukur.

Pada umur lima tahun, anaknya telah melaksanakan puasa Ramadhan selama sebulan tanpa ‘bolong’. Saat ini, mereka juga telah khatam Al-Quran. Sedangkan anaknya yang perempuan, mengenakan jilbab sejak kecil.

Anak laki-lakinya pun, menurut Mayura, telah paham buruknya merokok. “Saya membuat dia paham lewat contoh yang saya berikan. Saya tidak pernah merokok,” katanya.

Menurutnya, rokok tidak cocok dengan kehidupan seorang Muslim. Karena, lebih banyak membawa pengaruh buruk terhadap kesehatan dan kantong. Islam tidak mengajarkan umatnya untuk menjadi seorang yang boros.

Selain pada anak-anaknya, Mayura pun berusaha mendakwahkan Islam ke teman-teman sekerjanya.

Ia berusaha mengingatkan mereka untuk mengenakan jilbab dan berhenti merokok.

Selain itu, ia pun mengajak teman-teman sekantornya dan kantor-kantor lainnya yang berada di gedung yang sama untuk mengumpulkan zakat.

Dia bahkan membentuk Yayasan Al-Baroqah gedung Cyber untuk mengelola dana zakat yang terkumpul. “Dana yang terkumpul akan disalurkan kembali kepada mereka yang membutuhkan di internal gedung dan masyarakat sekitar tanpa pandang bulu,” ujarnya.

Tak hanya di kantor, Mayura pun berusaha mendakwahkan Islam di kampung halamannya, Bali. “Ini tidak mudah karena masih ada orang yang kadang menjauhi saya, takut ‘terkontaminasi’,” ujarnya.

Mayura masuk dari bisnis pertanian yang dibangunnya di Negara, Bali. Negara dikenal sebagai daerah kantong Muslim di Pulau Dewata.

“Hal yang utama saya lakukan memang bukan berdakwah namun berbisnis. Namun, ujung-ujungnya juga dakwah. Saya terlebih dahulu ingin mengubah wacana pertanian di sana agar produksi padi semakin meningkat. Keuntungan yang diperoleh akan disisihkan untuk membangun yayasan sosial,” prinsip Mayura.

Kini, Mayura mulai merintis usaha perjalanan umrah. Dalam hal ini, ia berniat membuat perjalanan umrah yang terjangkau bagi masyarakat. Tak masalah bila nanti margin keuntungan yang diperoleh kecil.

Sebab, niatnya adalah membantu lebih banyak Muslim agar bisa beribadah ke Tanah Suci, bukan mencari keuntungan. ”Jangan dibalik. Ini salah satu bentuk ibadah saya,” tandasnya.