David Sanford Scherer: Takbir yang Menggetarkan

david-schererKisahMuallaf.com – Gema takbir di malam Idul Fitri 20 tahun silam, menggetarkan hati David Sanford Scherer. Kalimat yang mengagungkan sang Khalik itu membuatnya merinding.

Cahaya iman pun menyala dalam hatinya. Seketika itu pula, pria kelahiran Yokohama, Jepang itu memutuskan memeluk Islam.

”Langsung saya bilang mau masuk Islam. Alhamdulillah, di malam takbiran itu saya memeluk Islam,” ujar ayah dua anak itu kepada Republika di sela-sela acara pengajian yang digelar Mushala Al-Muhajirin, Denpasar, Bali, beberapa waktu lalu.

Tak hanya gema takbir yang membuatnya memeluk Islam. Suara adzan yang berkumandang lima kali sehari juga menjadi pembuka pintu hidayah. Pengusaha catering terkemuka di Pulau Dewata itu mengaku selalu merinding setiap kali mendengar takbir di malam hari raya.

”Makanya, malam takbiran saya nggak di Bali. Biasanya ke Jakarta. Mertua saya di Ciputat,”papar suami dari Indriani Kuntowati itu menjelaskan.

David hijrah ke Indonesia bersama orang tuanya pada 1980-an. Kedua orang tuanya mencoba berbagai usaha hingga akhirnya menetap di kawasan Menteng Dalam.

Seperti halnya Presiden Amerika Serikat Barack Obama, David pun mulai mengenal puasa, shalat, serta takbir dari lingkungan masyarakat Menteng Dalam.

Ia amat bersyukur menjadi seorang Muslim. Menurut David, umumnya orang Indonesia terlahir sebagai seorang Muslim. Namun, kata dia, mualaf umumnya lebih cepat memahami, menjiwai serta mengamalkan ajaran Islam.

”Itu, karena para mualaf menyadari Islam agama terbaik,” ungkap aktivis tadabbur Al-Quran bersama Ar-Rahman Quranic Learning Center Bali. Ia mengatakan untuk dapat menjalankan ajaran Islam dengan baik, para orang tua harus menjadi contoh dan teladan bagi anak-anaknya.

Seringkali, kata dia, orang tua menyuruh anak-anaknya mengaji, sementara mereka tidak melakukannya. Padahal, contoh terbaik dimulai dari orang tua di rumah.

Kebaikan apa saja, kata David, bila dicontohkan orang tua dengan baik, akan diikuti anak. Kalau cuma perintah dan orang tua tidak melakukannya, sulit dilaksanakan dengan baik.

Sebagai seorang Muslim, David berupaya menjadi imam bagi istri dan anak-anaknya. David tak pernah henti bersyukur. Semangat menjalankan ajaran Islam yang dilakukannya diikuti kedua anaknya.

Bersama putranya waktu itu, ia berhasil mewujudkan mushala di sekolah anaknya waktu itu. ”Alhamdulillah, ini semua berkat rahmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sehingga memudahkan siapa pun melaksanapakan ibadah,” ungkap David penuh syukur.

Apa kesan David tentang umat Islam Indonesia? Secara jujur ia mengungkapkan, sebagian besar umat Islam Indonesia masih memandang seseorang dari materi dan penampilan.

”Contohnya, saya pakai gamis, orang pikir saya ustadz. Besoknya, saya pakai celana jeans bolong-bolong, saya ucapkan Assalamu’alaikum, mereka nggak mau menjawab.”

David juga menyayangkan masih banyak umat Islam di Indonesia yang belum memahami dan mengamalkan tuntunan Al-Quran. ”Maaf-maaf kata, berangkat haji dengan uang nggak bersih, nggak malu,” ujarnya.

Ia merasa optimistis, Bali bisa menjadi jendela bagi Islam Indonesia ke dunia. Salah satu contoh, kata David, jamaah shalat Subuh Masjid Baitul Makmur di Denpasar seperti shalat Jumat.

”Bisa jadi, karena Muslim di Bali masih minoritas,” ujar David yang aktif mengikuti pengajian di berbagai masjid dan majelis taklim.

Menurut dia, bukanlah suatu yang mustahil, kelak Bali menjadi jendela Islam Indonesia bagi dunia. Asalkan, setiap Muslim mengamalkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari, tanpa menimbulkan ketersinggungan di kalangan orang-orang di sekitarnya.

Lantas, apa pendapatnya terhadap peristiwa Bom Bali beberapa waktu lalu yang menewaskan banyak orang? David mengaku merasakan sedih yang luar biasa.

”Empat hari saya di kamar jenazah. Sampai mobil pendingin saya pinjamkan untuk menyimpan jenazah. Orang waktu itu bilang, ‘Wah Pak, nanti mobilnya bawa sial!’ Wallahu a’lam. Saya bilang, yang penting saya ingin menolong.”

Dalam pandangannya, peristiwa Bom Bali merupakan kejadian yang sangat berat. Kejadian itu benar-benar sangat berat. Tapi, berkat gotong royong masyarakat di Bali, Alhamdulillah lancar.

Ada kebiasaan menarik yang dilakukan David Scherer dan teman-temannya di Bali. David yang sejak 20 tahun lalu memeluk Islam itu saban Jumat mengunjungi sejumlah masjid yang ada di Denpasar secara bergantian. Tak hanya bersilaturahim dan melaksanakan shalat Jumat, bersama rekan-rekannya yang aktif di pengajian Ar-Rahman Quranic Learning (AQL) Center Bali, pria kelahiran 9 Februari 1972 ini membagikan nasi bungkus.

”Alhamdulillah, secara rutin saya dan kawan-kawan bersilaturahim ke masjid-masjid di Denpasar. Tak hanya itu, dalam setiap kali kunjungan, saya selalu membawa dan membagikan ratusan nasi bungkus buat jamaah shalat Jumat,” papar David penuh syukur.

Apa yang mendorong David dan teman-temannya di Denpasar penuh semangat berbagi usai shalat Jumat? Berdasarkan pengalamannya, kata dia, usai Jumatan banyak orang yang terburu-buru meninggalkan masjid untuk mendapatkan makan siang.

Alasannya, jam istirahat baik dari kantor swasta maupun negeri, tidak terlalu panjang. Akibatnya, banyak jamaah salat Jumat terburu-buru keluar masjid untuk makan siang dan tidak sempat lagi bersilaturahim sesama jamaah.

Dengan kegiatan itu, ia dan kawan-kawannya berusaha mengajak jamaah shalat Jumat untuk tetap di masjid usai shalat, bersilaturahim sekaligus makan siang.

Caranya? ”Nasinya saya bawa ke masjid. Akhirnya, mereka nggak usah buru-buru lagi meninggalkan masjid. Kita bisa silaturahim sambil menikmati makan siang,” ungkap ayah dari Adam Arthur Scherer dan Andrea Kirana Scherer bahagia.

Untuk bisa bersilaturahim ke 200 masjid yang ada di Denpasar, David membutuhkan waktu selama empat tahun. ”Itu pun dengan syarat setiap Jumat saya harus terus keliling. Sedangkan untuk bisa berkeliling ke seluruh masjid di Bali, saya membutuhkan waktu selama delapan tahun.”

David merasakan kenikmatan yang sangat luar biasa bisa bersilaturahim sekaligus makan siang bersama jamaah shalat Jumat di berbagai masjid yang dikunjunginya.

Chika Nakamura, Mantan Petinju Profesional Yang Memeluk Islam

Chika Nakamurakisahmuallaf.com – Sehelai pashmina berwarna ungu terang tampak menghiasi dan menutup seluruh bagian rambut di kepalanya. Jika dilihat sepintas, sosoknya sama seperti kebanyakan perempuan Muslimah lainnya.

Namun, siapa yang bisa menduga kalau perempuan berwajah oriental ini sejatinya adalah seorang atlet tinju profesional di negeri Paman Sam.

Chika Nakamura, demikian nama lengkap pem berian kedua orang tuanya. Ia bukanlah orang Amerika asli ataupun Amerika keturunan.

Kedua orang tuanya adalah orang Jepang asli. Ia lahir dan tumbuh hingga remaja di Nara, Jepang. Tiga belas tahun yang lalu, dia memutuskan pindah ke Amerika Serikat untuk mengejar kariernya sebagai petinju. Saat itu, usianya terbilang masih belia, 19 tahun.

Bagi kebanyakan kaum perempuan, tinju bukanlah sebuah profesi yang menarik. Selain sarat dengan kekerasan, profesi ini juga tidak cukup menjanjikan dari segi pendapatan. Saat ini, memang hanya ada sedikit petinju wanita yang memiliki penghasilan tinggi, salah satunya adalah Laila Ali, yang tak lain adalah putri petinju legendaris dunia, Muhammad Ali.

Karena alasan itu pula, keluarga Chika di Jepang tidak pernah memberikan dukungan kepada wanita bertubuh kekar itu untuk menekuni karier di dunia tinju. Kendati tidak mendapat restu dari orang tuanya, hal ini tidak menyurutkan langkah Chika untuk terus menekuni profesi ini.

Bahkan, dia menjadikan tinju sebagai sebuah pekerjaan penuh waktu. Di saat sedang tidak ada tawaran bertanding, Chika mengisi harinya dengan melatih para calon petinju wanita.

Karier di dunia tinju mulai ditekuni Chika secara serius setelah bergabung dengan sasana tinju Gleason’s Boxing Gym yang berada di Brooklyn, New York. Sejak 2003, ia lalu mulai terjun ke dunia tinju profesional untuk kategori kelas ringan.

Di dunia pukul-memukul itu, Chika pernah menempati peringkat ke-10 petinju wanita dunia versi WIBA. Dengan rekor tanpa terkalahkan dari lima kali tanding, pada 2007, ia memperoleh gelar New York State Golden Gloves.

Di atas ring, perempuan kelahiran 32 tahun silam ini sangat ditakuti lawan-lawannya. Hal itu terlihat ketika pada 29 Juni 2007 silam, lawan Chika yang sedianya akan melakoni sebuah petarungan, hari itu urung tampil di atas ring.

Menurut pihak panitia, petinju yang akan menjadi lawan Chika tiba-tiba menyatakan mundur dari pertarungan itu pada menit terakhir untuk alasan yang tidak diketahui. Kadang-kadang lawan akan terintimidasi. Kadang-kadang mereka tidak serius dalam bisnis ini.

“Tinju memang begitu menakutkan karena hasil yang diperoleh sangat sedikit dan kita mendapatkan pukulan bertubi-tubi. Itu sebabnya mengapa saya berlatih dengan sangat keras dan selalu berusaha tampil dalam keadaan prima,” ujar Chika.

Meski para rekannya sesama atlet tinju kerap menghadiri pesta yang menyuguhkan minuman beralkohol, tidak demikian dengan Chika. Kehidupannya di Amerika bisa dikatakan sebagai sebuah pengorbanan.

“Saya hidup seperti layaknya seorang biarawan. Saya tidak minum, tidak berpesta, dan tidak merokok. Sebaliknya, saya mengonsumsi makanan sehat, pergi tidur tepat waktu, dan berlatih setiap hari. Jadi, kapan pun ada pertandingan, mental saya selalu siap,” ungkapnya seperti dikutip dari laman Women’s Sports Foundation.

Sejak memutuskan untuk pindah ke Amerika, hubungan Chika dan orang tuanya di Jepang bisa dikatakan renggang. Mereka tidak pernah saling menghubungi satu sama lain.

Untuk mengisi kekosongan peran kedua orang tuanya, Chika telah menganggap sang pelatih Carlos Ortiz dan istrinya, Maria, sebagai keluarga barunya. Dalam kehidupan tinjunya, Ortiz merupakan orang kelima yang pernah melatih Chika.

Namun, bagi Chika, Ortiz adalah sosok pelatih yang selama ini dicarinya. “Itu takdir. Saya sangat beruntung bisa memiliki dia (sebagai pelatih). Dia seperti pahlawan bagi saya. Bukan Oscar De La Hoya, bukan Mayweather, ataupun Muhammad Ali,” kata Chika.

David Sanford Scherer, Gema Takbir & Adzan Menuntunku kepada Islam

David Sanford Schererkisahmuallaf.com – Gema takbir yang menggema di malam Idul Fitri — sekitar 17 tahun silam — telah menggetarkan hati David Sanford Scherer. Kalimah yang mengagungkan Sang Khalik itu membuatnya merinding. Cahaya iman pun menyala dalam hatinya. Seketika itu pula, pria kelahiran Yokohama, Jepang itu memutuskan untuk memeluk Islam.

‘’Langsung saya bilang mau masuk Islam. Alhamdulillah, di malam takbiran itu, saya memeluk Islam,’’ ujar ayah dua anak itu berkisah kepada wartawan Republika, Damanhuri Zuhri.

Tak hanya gema takbir yang membuat David memeluk Islam. Suara azan yang berkumandang setiap lima kali dalam sehari juga telah menjadi pembuka pintu hidayah. Pengusaha makanan di Pulau Dewata itu mengaku selalu merinding setiap kali mendengar takbir di malam hari raya.

’’Makanya, kalau malam takbiran saya nggak di Bali. Karena di sini (Bali, red) kita nggak mendengar suara takbir. Biasanya saya ke Jakarta, mertua saya di Ciputat,’’ papar suami dari Indriani Kuntowati itu.

David hijrah ke Indonesia bersama orangtuanya pada tahun 1980-an. Kedua orangtuanya mencoba berbagai usaha, hingga akhirnya menetap di kawasan Menteng Dalam. Seperti halnya, Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, David pun mulai mengenal puasa, shalat, serta takbir dari lingkungan Menteng Dalam.

Ia sungguh amat bersyukur. Betapa tidak. Ia telah menjadi seorang Muslim. Menurut David, umumnya orang Indonesia terlahir dalam keadaan sebagai seorang Muslim. Namun, kata dia, muallaf umumnya lebih cepat memahami, menjiwai, serta 100 persen mengamalkan ajaran Islam.

‘’Itu, karena mereka (muallaf, red) mengetahui bahwa Islam adalah agama terbaik,’’ ungkap mantan pengurus Yayasan Dyatmika Sekar Bawana itu. Menurut David, untuk dapat menjalankan ajaran Islam dengan baik, para orangtua Muslim harus menjadi contoh dan teladan bagi anak-anaknya.

Seringkali, papar David, orangtua menyuruh anak-anaknya mengaji, sementara mereka tak melakukannya. Padahal, kata dia, contoh terbaik itu harus dimulai dari setiap orangtua di rumah. ‘’Apa saja kebaikan, harus dicontohkan orangtua, baru anak mengikutinya dengan baik.Tapi kalau cuma perintah, sedang orang tuanya tidak melakukan, itu akan sulit dilaksanakan dengan baik.’’

Sebagai seorang Muslim, David berupaya menjadi imam bagi istri dan anak-anaknya. David tak pernah henti bersyukur. Semangat menjalankan ajaran Islam yang dilakukannya telah diikuti kedua anaknya. Bahkan, anaknya telah menjadi imam shalat di mushala sekolahnya.

David bersama putranya berhasil memperjuangkan hadirnya mushala di sebuah sekolah nasional plus campuran. ‘’Alhamdulillah, sekarang di sekolah anak saya sudah ada mushala. Itu saya perjuangkan selama satu tahun,’’ tuturnya sumringah.

Pihak sekolah memberi ruangan bekas gudang untuk digunakan sebagai mushala. David pun membersihkan gudang itu dan menyulapnya menjadi tempat untuk beribadah kepada Allah SWT. ‘’Anak saya sekarang sudah menjadi imam di mushala. ‘Alhamdulillah, Allahu akbar,’’ ujar David.

Apa pendapat David tentang umat Islam di Indonesia? Secara jujur, ia mengungkapkan, sebagian besar umat Islam masih memandang seseorang dari materi dan kekuasaan. ‘’Contohnya, saya berseragam dengan memakai baju gamis, orang pikir saya ustadz. Besoknya, saya pakai celana jeans bolong-bolong, saya ucapkan Assalamu’alaikum, mereka nggak mau jawab. Naif sekali.’’

Selain itu, David juga menyayangkan masih banyak umat Islam di Indonesia yang belum mampu memahami dan mengamalkan tuntunan Alquran. ‘’Maaf-maaf kata, berangkat haji dengan uang nggak bersih saja, tak malu,’’ cetusnya.

Ia merasa optimistis, Bali bisa menjadi jendela bagi Islam Indonesia ke dunia. Salah satu contoh, kata David, jamaah shalat subuh Masjid Baitul Makmur di Denpasar seperti shalat Jumat. Bisa jadi, papar dia, itu karena muslim di Bali masih minoritas.

‘’Kalau suatu hari kita jadi mayoritas. Apakah itu akan kendur? Mengapa rumah ibadah di Jawa banyak? Orang berlomba-lomba untuk membuat rumah ibadah, subuh ada jamaahnya tidak? atau hanya takmir masjid saja dua sampai tiga orang?,’’ ucap David.

Menurut dia, bukanlah sesuatu yang mustahil, kelak Bali akan menjadi jendela Islam Indonesia bagi dunia. Asalkan, papar dia, setiap Muslim mengamalkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari, tanpa menimbulkan ketersinggungan di kalangan orang-orang di sekitarnya.

Lantas, apa kesannya terhadap peristiwa Bom Bali? Ketika peristiwa Bom Bali terjadi, David mengaku merasakan sedih luar biasa. ‘’Empat hari saya di kamar jenazah. Sampai mobil pendingin saya pinjamkan untuk menyimpan jenazah. Orang pada waktu itu bilang, ‘Wah pak, nanti mobilnya bawa sial!’ Wallahu ‘alam saya bilang waktu itu. Yang penting saya ingin menolong.”

Dalam pandangannya, peristiwa Bom Bali merupakan kejadian yang sangat berat. ‘’Kejadian itu benar-benar sangat berat. Tapi berkat gotong royong di Bali, Alhamdulillah lancar. kalau saya pribadi tidak seratus persen berkeyakinan bahwa itu dikerjakan kelompok Islam yang fanatik atau radikal. Tapi itu lebih pada upaya menggoyang ekonomi di sini yang cukup mapan,’’ ungkap David.

Ada kebiasaan menarik yang dilakukan David Scherer dan teman-temannya di Bali. Warga asal Amerika Serikat (AS) yang sejak 17 tahun lalu memeluk Islam itu, saban Jumat mengunjungi sejumlah masjid yang ada di Denpasar secara bergantian. Tak hanya bersilaturahim, ia berbagi dengan para jamaah shalat Jumat dengan membagikan nasi bungkus.

’’Alhamdulillah, sejak satu tahun lalu secara rutin saya dan kawan-kawan mengunjungi dan bersilaturahim ke masjid-masjid di Denpasar. Tak hanya itu, dalam setiap kali kunjungan, saya selalu membawa dan membagikan ratusan nasi bungkus buat jamaah shalat Jumat,’’ papar David.

Apa yang mendorong David dan teman-temannya di Denpasar sangat semangat berbagi makanan usai shalat Jumat? Menurut David, berdasarkan pengalamannya, seusai Jumatan banyak orang yang terburu-buru meninggalkan masjid untuk mendapatkan makan siang.

Alasannya, kata dia, jam istirahatnya baik dari kantor swasta maupun negeri, tidak terlalu panjang. Akibatnya, lanjut David, banyak jamaah salat Jumat yang terburu-buru keluar masjid untuk makan siang, dan tidak sempat lagi bersilaturahim sesama jamaah.

Nah, David dan kawan-kawannya berusaha memotong alasan untuk segera mendapatkan makan siang itu dengan cara mengantarkan nasi ke masjid. ”Sekarang nasinya saya bawa ke masjid. Akhirnya, mereka nggak usah buru-buru lagi meninggalkan masjid. Kita bisa silaturahim sambil menikmati makan siang,” ungkap David penuh bahagia.

Berapa lama David dan kawan-kawan bisa mengelilingi seluruh masjid di Denpasar yang jumlahnya tak kurang dari 200 masjid? ”Kira-kira saya membutuhkan waktu selama empat tahu barun untuk bisa mengunjungi seluruh masjid di Denpasar, itu pun dengan syarat setiap Jumat saya harus terus keliling. Sedangkan untuk bisa mengeliling seluruh masjid di Bali, saya membutuhkan waktu selama delapan tahun.”

Ia merasakan kenikmatan yang sangat luar biasa atas apa yang ia lakukan bersama-sama temannya itu.

Sunaku, Mempelajari Islam Setelah Berwisata ke Yordania

Yordania Muslimkisahmuallaf.com - Meski dibesarkan oleh orang tua tunggal, kehidupan Sunaku bisa dibilang nyaman dan serba kecukupan. Sejak ayahnya meninggal, ibunyalah yang membesarkan dan mendidik Sunaku. Ibunya yang selalu berusaha memberikan rasa aman dan memastikan putri satu-satunya bahagia dan terpenuhi kebutuhannya.

“Tapi sejak kecil, saya sebenarnya tidak pernah betul-betul merasa bahagia. Saya malah sering diserang rasa gelisah yang berlebihan,” ujar perempuan asal Jepang itu, “saya berusaha mengatasi rasa itu dengan memusatkan perhatian pada studi saya dan jalan-jalan keliling dunia sebagai turis. Tapi rasa gelisah itu tetap sering muncul saya sampai saya lulus sekolah menengah dan berangkat ke Inggris untuk kuliah jurusan Bahasa Inggris.”

Suatu ketika saat liburan, Sunaku bersama teman-temannya yang juga dari Jepang berwisata ke Yordania. Seorang temannya yang sudah pernah ke Yordania, mengatur agar Sunaku bisa tinggal dengan warga lokal, sebuah keluar Muslim Yordania. Keluarga muslim itulah yang menimbulkan rasa kagum Sunaku pada Islam, sekaligus membuyarkan penilaiannya yang selama ini negatif terhadap Islam dan Muslim.

“Saya melihat kehidupan mereka sangat praktis dan teratur. Rumah mereka selalu bersih. Saya terkesan dengan kuatnya hubungan antar anggota keluarga mereka dan rasa tanggung jawab yang mereka tunjukkan pada lingkungan sekitar. Ada ketulusan dan rasa saling mempercayai diantara mereka, yang tidak pernah saya saksikan di manapun,” kata Sunaku.

“Suami di keluarga itu bekerja untuk menafkahi keluarganya, sedangkan istrinya mengatur rumah dan terlihat senang dan puas dengan pekerjaannya sebagai ibu rumah tangga. Saya merasa inilah kebahagiaan yang saya impikan. Pada saat yang sama, saya menyadari bahwa gambaran saya selama ini tentang Islam ternyata salah besar …”

“Saya tidak tahu realita Islam yang sebenarnya karena tidak pernah bergaul dengan orang Islam. Gambaran saya tentang muslim semata-mata hanya berdasarkan pada apa yang saya lihat di berita-berita tv, dan saya sudah semena-mena menganggap orang-orang Islam sebagai orang yang menyukai kekerasan,” papar Sunaku.

Setelah melakukan perjalanan ke Yordania, ia memutuskan untuk mempelajari Islam dan mencari tahu pesan-pesan apa sebenarnya yang diajarkan Islam. Sunaku lalu mengunjungi Islamic Center di Tokyo dan meminta satu buah Al-Quran dengan terjemahan bahasa Jepang. Ia juga mendapat sebuah buku tentang kehidupan Nabi Muhammad Saw. Selanjutnya, secara rutin Sunaku belajar Islam di Islamic Center tersebut dengan bimbingan para ulama asal Jepang, Pakistan dan negara-negara Arab, hingga ia benar-benar menyadari bahwa Islam adalah agama kebenaran.

Sunaku merasa keyakinannya bahwa Allah adalah satu-satunya Pencipta dan Pemelihara alam semesta, semakin teguh. “Makin banyak saya membaca tentang Islam, keyakinan dan pemahaman saya pada Islam makin kuat. Saya menemukan bahwa Islam-lah yang mengangkat derajat kaum perempuan dan membebaskan kaum perempuan secara intelektual,” tukas Sunaku.

Setelah enam bulan belajar Islam, Sunaku memutuskan untuk menjadi seorang muslimah dan mendeklarasikan dua kalimat syahadat. Ia mulai menunaikan salat lima waktu dan berpuasa di bulan Ramadan. Sunaku juga mulai menghapal surat-surat dalam Al-Quran.

“Allah memberikan kemampuan pada saya untuk menghapal surat-surat pendek dalam Al-Quran. Saya tertarik pada bahasa Arab, sejak pertama kali saya mendengar bahasa itu. Makanya saya memutuskan untuk mempelajari bahasa yang indah itu. Saya mengambil kursus di bahasa Arab di Islamic Center di Tokyo, dan nanti saya ingin melanjutkannya ke Mesir dengan mengambil studi Islam …”

“Saya berdoa semoga Allah Swt. menjadikan saya dan kisah saya ini sebagai petunjuk bagi yang lainnya untuk menemukan cahaya Islam, karunia terbesar bagi orang yang menerimanya,” tandas Sunaku.

source:EraMuslim

Monica, Apapun Tantangannya Saya Akan Tetap Menjadi Muslim

Monica japanese muslim Kisahmuallaf.com – Monica tumbuh di tengah keluarga yang harmonis, yang memberinya peluang untuk sukses baik dalam pendidikan maupun dunia kerja. Sebagai orang Jepang, Monica juga sudah terbiasa dengan kehidupan yang serba berteknologi tinggi. Hampir tak ada masalah dalam hidup Monica, ia benar-benar menikmati kemudahan hidupnya.

Keluarga Monica adalah keluarga Jepang yang menganut agama Budha. Tapi sejak kecil ia tidak diberi bekal pendidikan agama yang dianut keluarganya, dan kedua orangtuanya pun tidak terlalu mempermasalahkan soal agama pada anak-anaknya.

“Kendati demikian, sejak kecil saya sering bertanya-tanya tentang alam semesta, keberadaannya dan tentang kehidupan. Pertanyaan-pertanyaan itu masih sering menghantui pikiran saya hingga saya berusia 20 tahun, saat saya menyelesaikan kuliah dan mulai bekerja sebagai pramugari di sebuah maskapai penerbangan Jepang,” tutur Monica.

“Saya berharap menemukan kedaiaman dan sesuatu yang bermakna lewat pekerjaan saya, tapi saya tetap merasa hidup saya sangat kosong. Seperti ada sesuatu yang hilang, dan saya hampir putus asa untuk menemukan apa yang hilang itu,” sambung Monica.

Tapi Allah Maha Pengatur segalanya. Tahun 1981 Monica ditakdirkan untuk bekerja sebagai penerjemah untuk delegasi negara Jepang di sebuah badan pariwisata di Mesir. Ia bekerja sebagai penerjemah selama satu tahun. Lewat perkenalan dengan teman-teman barunya selama di Mesir, Monica mulai mengenal dan mempelajari agama Islam. Setelah masa kerjanya selesai dan kembali ke tanah airnya, Jepang, Monica bertekad untuk terus mempelajari Islam dengan harapan mendapat jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang sejak lama menggantung di pikirannya.

Setelah mempelajari Islam, ia menyadari bahwa informasi yang ia dapatkan tentang Islam selama ini dari sekolah dan televisi, sangat terbatas dan sudah terdistorsi. “Sama dengan kebanyakan orang Jepang lainnya yang membaca dan mendengar berita tentang dunia Islam, tidak lebih hanya berita-berita tentang kekerasan,” ujar Monica.

Begitu tiba kembali di Jepang, Monica berkunjung ke Islamic Center di Tokyo dan meminta Al-Quran yang terjemahannya dalam bahasa Jepang. Selama tiga tahun, Monica berkunjung ke Islamc Center secara rutin, dan belajar agama Islam dengan para ulama di Islamic Center itu.

“Seiring dengan berjalannya waktu, pemahaman dan penghargaan saya terhadap agama Islam makin bertambah. Saya menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan folosofis saya selama bertahun-tahun, pada agama yang indah ini,” imbuhnya.

Monica menyatakan sangat terkesan dengan bagaimana Islam menempatkan kaum perempuan pada posisi yang mulia. “Bagaimana Islam melindungi dan menghormati kaum perempuan, baik perasaannya, pemikiran serta persoalan susila, lebih dari apa yang saya bayangkan selama ini,” tukas Monica, “saya mulai merenung sendiri dan berdoa pada Allah agar memberi petunjuk pada saya sebuah jalan kebenaran.”

Untuk menghayati keberadaan dan kebesaran Allah Swt. Monica kerap melakukan meditasi, mentadaburi ciptaan-ciptaan Allah mulai dar pohon, bunga-bunga, hewan, dan bagaimana Allah Swt. dengan sempurna menciptakan disain kehidupan yang seimbang di bumi ini.

“Dan saya melihat Allah dalam ciptaan-ciptaanya, hati dan kekaguman saya menuntun saya pada Islam. Saya merasakan cahaya Allah menerangi hati saya. Kebahagiaan saya membuncah, seiring dengan tumbuhnya rasa keimanan ini. Saya merasa Allah selalu bersama saya di setiap waktu,” tukas Monica.

Lagi-lagi Allah membuka jalan bagi Monica untuk lebih mengenal Islam. Ia kembali bekerja sebagai pramugari maskapai penerbangan yang melayani rute penerbangan dari dan ke Indonesia selama satu tahun. “Saya terkesan dengan Muslim Indonesia yang taat dan selalu berusaha menerapkan apa yang ada dalam Al-Quran dalam kehidupan sehari-hari mereka. Teman-teman Indonesia juga banyak membantu saya memahami Islam lebih baik, sehingga kecintaan saya pada Islam makin besar,” ungkap Monica.

Ia mengaku menghadapi kesulitan dengan keluarganya saat mengetahui ketertarikan Monica pada Islam. Namun Monica bertekad untuk menjadi seorang muslimah apapun tantangan yang akan dihadapinya. Ia mulai menunaikan salat lima waktu dan belajar menghapal Al-Quran agar bisa menunaikan salat dengan baik dan benar.

Tahun 1991, Monica berkunjung ke Mesir dan mengucapkan dua kalimat syahadat di Universitas Al-Azhar, Kairo. Di Mesir, ia mendapatkan pekerjaan, lalu menikah dengan seorang lelaki Mesir. Sekarang, Monica menetap di Mesir dengan suami dan seorang anak perempuannya bernama Maryam.

“Alhamdulillah, saya bahagia menjalani kehidupan saya yang sekarang, dengan agama baru dan keluarga baru yang muslim. Saya tetap menghapal Al-Quran dan kalau ada waktu senggang, saya dan suami belajar dan membaca Quran bersama-ssama …”

“Saya berharap bisa mengajak keluarga saya yang lain untuk masuk Islam, Insya Allah. Terus terang, pada umumnya, masyarakat Jepang kehilangan satu komponen penting untuk mencapai kehidupan yang bahagia, meski secara peradaban mereka adalah masyarakat yang hidup dengan teknologi serba maju. Saya yakin, banyak diantara mereka yang akan masuk Islam, jika mereka mendapatkan informasi dan pemahaman yang benar tentang Islam,” tandas Monica.