Abdullah Drury, Menjadi Manusia yang Lebih Baik karena Islam

Abdullah Drury

Abdullah Drury

kisahmuallaf.com – Sebelum mengenal Islam, Abdullah Drury hidup di tengah keluarga dengan beragam agama. Ibunya menganut aliran Saksi Yehovah, ayahnya ia sebut sebagai “mantan Katolik”, seorang pamannya penganut apostolik dan beberapa anggota keluarganya memeluk agama Kristen Anglikan. Meski demikian, lelaki asal Selandia Baru itu, dibesarkan dengan atmosfir toleransi yang kental.

Minat Drury pada segala hal yang berkaitan dengan Islam mulai muncul saat ia kuliah di jurusan sejarah pada era 1990-an.

“Begitu kami mulai menyentuh apa saja yang ada kaitannya dengan Islam, atau agama Islam, atau sejarah Islam, apakah itu di Uni Soviet, Soviet Rusia atau atau dalam Religious Studies 101 (buku pengantar tentang agama-agama di dunia), kemana pun saya pergi, saya selalu menemukan Islam, dan saya makin tertarik dan tertarik dengan Islam,” ujar Drury.

Ia lalu membaca banyak buku-buku tentang Islam dan pelan-pelan mulai muncul keyakinan yang kuat dalam hati Drury bahwa Islam adalah agama yang benar. “Maka bersyahadat sepertinya menjadi langkah selanjutnya yang logis,” tukas Drury.

Pada bulan Agustus 1996, bersama beberapa tokoh Muslim di Hamilton seperti Dr. Mustafa Farouq dan Dr. Anis Al-Rahman serta disaksikan dengan sejumlah orang, Drury mengucapkan dua kalimat syahadat. Hari itu, ia resmi menjadi seorang muslim.

Karena Drury sudah sering menunjukkan ketertarikannya pada Islam pada banyak orang termasuk keluarganya, ia tidak mengalami reaksi yang negatif dari lingkungannya begitu ia menyatakan diri sebagai muslim.

“Saya pikir tidak ada orang yang kaget lagi, dan saya tidak menerima penentangan dari siapa pun,” ungkap Drury.

Mengingat banyak mualaf yang menerima reaksi negatif dan penolakan yang buruk dari keluarga atau teman-temannya, Drury merasa sangat beruntung karena keluarganya justru memberikan dukungan dan banyak membantunya.

“Ibu saya selalu membelikan makanan halal, setiap saya pulang ke rumah. Saya sama sekali tidak menemukan masalah apapun,” sambung Drury.

Ia mengakui Islam telah membantunya menjadi orang yang lebih baik, tentang konsepsi bahwa dunia ini bukan segalanya.

“Ayah saya selalu bilang bahwa kita ini cuma bagian dari siklus nitrogen! Manusia hidup, lalu mati, kemudian dikubur, selesai. Tapi Islam memberikan keyakinan yang lebih dari itu, yang lebih baik dari itu. Islam mengajarkan kita untuk melakukan sesuatu di dunia ini, yang bukan hanya untuk tujuan materi saja. Tapi kita juga bisa melakukan hal-hal yang lebih baik untuk menghadapi kehidupan selanjutnya dalam makna spiritual, ” ujar Drury.

“Jadi, daripada memusatkan keinginan hanya untuk mengumpulkan uang dan benda-benda berharga dan jadi terobsesi untuk menjadi orang yang kaya harta, kita selayaknya memfokuskan pada hal-hal yang bersifat spiritual, misalnya melakukan kegiatan bermanfaat dengan sesama muslim di masjid, menolong orang, atau banyak meluangkan waktu bersama keluarga. Dan saya selalu menekankan hal ini, bahwa Islam menempatkan keluarga sebagai hal yang sangat penting,” papar Drury yang selalu berusaha meluangkan banyak waktunya buat keluarga dan anak-anaknya.

Bagi Drury, Islam menawarkan begitu banyak kebaikan dalam semua aspke kehidupan. Mulai dari masalah etika sampai masalah makanan, apa yang dibolehkan dan diharamkan.

Sesuai dengan pesan pertama dalam Islam, “Bacalah”, Drury mengajak setiap muslim maupun non-muslim untuk gemar membaca. “Sekarang banyak orang yang lebih senang nonton tivi. Saya benar-benar menghimbau untuk banyak membaca, terutama kaum Muslimin. Karena ayat pertama Al-Quran yang turun berisi pesan ‘Bacalah dengan nama Tuhan’. Jadi, bacalah buku-buku sejarah, buku biografi Nabi Muhammad Saw. Bacalah tentang umat Islam yang begitu beragam, bacalah tentang kaum non-muslim, perluasa wawasan kita,” pesan Drury.

Menurutnya, banyak orang yang salah dalam menilai Islam dan Muslim karena mereka tidak banyak membaca, khususnya isi Al-Quran. Ini juga berlaku bagi kebanyakan orang Islam yang kadang malas membuka Al-Quran.

Sebagai seorang muslim yang tinggal di Negeri Kiwi, Drury mengaku agak bosan, meski banyak orang yang menilai Selandia Baru sebagai negeri yang eksotis. Ia menjalani kehidupannya seperti kebanyakan masyarakat Selandia Baru lainnya, bekerja, membaca, piknik atau melakukan kegiatan bersama keluarga. Kebiasaan yang ia tinggalkan setelah masuk Islam adalah tidak lagi minum mimunan beralkohol yang sudah menjadi minuman biasa bagi masyarakat Selandia Baru pada umumnya.

Sejauh ini, Drury tidak merasa ada pertentangan antara dirinya sebagai muslim dan sebagai orang Selandia Baru. Meskipun, ia masih sering ditanya banyak orang tentang keislamannya, karena ia lebih sering menggunakan nama islami Abdullah ketimbang nama aslinya. Orang sering menanyakan ia berasal darimana karena namanya itu.

“Saya hanya menjawab bahwa saya orang Selandia Baru. Abdullah cuma nama muslimnya, seperti Cat Steven yang menjadi Yusuf Islam atau Cassins Clay yang namanya menjadi Muhammad Ali,” tutur Drury.

[Eramuslim]