Vera Mawengkang, Ajaran Islam Jelas dan Lengkap

Kisah Muallaf
kisahmuallaf.com – Nama saya Vera Mawengkang. Saya lahir dari orang tua yang asli Manado, Sulawesi Utara. Keluarga saya adalah penganut agama Kristen Katolik yang taat. Sejak kecil saya sudah diajak aktif mengikuti kegiatan ritual di gereja. Ini karena orang tua menginginkan agar saya menjadi pengikut Kristus yang taat.
Selain pendidikan di gereja, saya juga belajar melantunkan lagu-lagu Mazmur, yakni puji-pujian pada Tuhan. Kegiatan yang dilakukan di gereja ini harus dilakukan secara khusyu. Selain itu, saya juga sering mengikuti upacara sakramen, yaitu pesta minum anggur dan makan roti (hosti) yang diyakini umat kristiani sebagai pengejewantahan darah dan daging Yesus Kristus. Untuk lebih memantapkan iman, kedua orang tua sepakat untuk mengirimkan saya ke asrama Katolik yang khusus menampung pelajar putri. Dari bekal pendidikan gereja yang saya jalani sejak kecil, lalu dikirim ke asrama Katolik, kedua orang tua saya sangat berharap saya menjadi seorang biarawati.
Saya berusaha untuk mewujudkan impian orang tua saya itu. Saya terus belajar dan bergaul. Lambat laun, pergaulan saya kini luas. Saya tidak hanya bergaul dengan teman-teman seagama saja, tetapi juga bergaul dengan teman-teman yang beragama lain. Pergaulan yang kian luas ini, temyata memberikan pemahaman baru tentang agama, selain agama Kristen. Dari pergaulan dengan anak seorang menteri yang beragama Islam itulah, saya mulai mengenal ajaran Islam. Dari sana pulalah, awal simpati saya kepada ajaran Nabi Muhammad saw. Tanpa sadar, saya mulai tertarik dengan ajaran-ajaran Islam.
Saya tidak saja bergaul dengan teman saya itu, tapi juga bergaul dengan ayahnya yang menjadi menteri. Ayah teman saya itu, yang belakangan menjadi mertua saya, adalah seorang laki-laki yang sangat taat pada agamanya. Perilaku dan sikap calon mertua saya itulah yang mengembalikan pemikiran saya tentang agama. lewat beliau, saya bagai menemukan sesuatu yang sangat berharga yang selama ini belum pernah saya peroleh. Kalau dulu, saya mengenal agama lewat penampilan figur orang tua saya dan ibu asrama, kini, lewat figur dan perilaku calon mertua saya.
Beliau tidak pernah memaksa saya untuk masuk agama Islam. Beliau hanya mengatakan bahwa agama Islam itu sunatullah, dan sunatullah itu identik dengan hukum alam. Islam itu realistis. “Kelak kamu akan mengerti bahwa dunia ini hakikatnya adalah Islam,” jelasnya suatu ketika.
Selain pergaulan dengan keluarga calon suami, saya juga banyak mendapatkan pengetahuan tentang Islam dari lingkungan sekitar rumah. Saya sering mendengar azan, menyaksikan orang shalat, dan mendengar ayat ayat Al-Qur’an dilantunkan orang. Secara sembunyi-sembunyi, saya sering memperhatikan teman-teman saya sedang shalat.
Mereka sangat khusyu dan tampak tenteram dalam shalatnya. Hati kecil saya tergerak untuk memperoleh kedamaian seperti itu. Dan situlah saya mulai tergerak untuk mengetaai lebih jauh tentang Islam. Terkadang timbul pertanyaan terutama tentang ibadah shalat. Apa yang terkandung di dalamnya? Mengapa wajah mereka makin segar seusai bersujud ke kiblat? Saya berpikir bahwa Islam adalah agama yang benar-benar masuk akal. Setiap umatnya selalu diingatkan untuk selalu sujud kepada Yang Maha Pencipta, lima kali dalam sehari.
Akhirnya, saya berkesimpulan bahwa shalat lima waktu ternyata menimbulkan kegundahan dalam batin. Saya mengalami pergulatan batin yang hebat. Sebab, Islam memiliki segala macam ketentuan hidup yang lengkap. Ketentuan untuk mencintai Tuhan Yang Maha Pengasih Aturan aturan dalam Islam tampak jelas, tidak kontradiktif antara ajaran atau aturan yang satu dan aturan yang lainnya.
Pergulatan batin ini, akhimya saya tutup dengan menyatakan diri untuk segera memeluk agama Islam. Saya mulai meninggalkan agama yang saya anut sejak kecil. Saya mulai membaca buku buku agama Islam dan menelaah terjemahan Al-Qur’an. Saya menelaah Al-Qur’an dari segi logika dan alam. Saya yakin bahwa sumber kehidupan berada di dalam makna Al-Quran.
Setelah menyatakan diri untuk memeluk Islam, saya kembali dihadapkan pada keraguan untuk menyatakan itu di hadapan orang tua saya, terutama mama. Saya belum berani bicara pada beliau. Namun, hati kecil saya menyuruh untuk segera berbicara. Akhirnya, saya bulatkan tekad untuk segera berbicara kepada mama. Betapa pun pahitnya kenyataan yang akan terjadi. Dengan membaca bismillah, saya segera menghadap mama.
Niat tersebut segera saya sampaikan dengan terlebih dulu meminta maaf, karena telah keluar dari agama Kristen yang menjadi aturan keluarga. Di luar dugaan, tangan mama mengusap kepala saya dengan lembut. Mama berkata, “Kau putri mama. Apa pun keputusanmu, kau tetap anak mama. Kalau sudah menjadi keputusanmu dan bisa membawa kebahagiaan,jalanilah dengan sepenuh hati. Jangan setengah setengah. Jadilah orang Islam yang baik.”
Setelah mendapat restu mama, saya segera merealisasikan keislaman saya. Saya segera mengucapkan dua kalimat syahadat dalam sebuah upacara yang sangat syahdu. Saya bahagia dapat mewujudkan keinginan saya kepada Islam dan segera pula diikuti oleh adik saya.
Kemudian, saya segera menikah dengan anak menteri itu. Saya bersama keluarga terus belajar agama dengan bimbingan seorang ustadz. Saya bercita-vita menanamkan nilai-nilai keagamaan pada anak-anak saya, agar mereka menjadi muslim dan muslimat yang taat.
Manusia punya rencana, tapi Allah punya rencana lain. Akhirnya, saya berpisah dengan suami. Kami bercerai. Saya harus mengasuh dan membesarkan anak-anak untuk mewujudkan cita-cita saya itu. Setelah lama mengasuh anak sendiri, kemudian saya menikah kembali untuk melengkapi keutuhan rumah tangga. Saya bersyukur kepada Allah yang telah menguji rumah tangga hamba-Nya.

Speak Your Mind

*